• Info Terkini

    Sunday, May 5, 2013

    Ulasan Cerpen “Manakala Sebidang Tanah Itu Rumah Kita” Karya Rohie (FAMili Serang)

    Doni tewas dalam keadaan mabuk, sebuah mobil menghantam tubuhnya dan dia mati dengan menggenggam botol minuman. Botol alkohol yang bercampur darah segar yang mengalir dari tubuhnya sendiri. Pemandangan yang disaksikan Aryo dengan mata kepalanya sendiri membuat ia benar-benar menyadari bahwa ada waktunya sebidang tanah itu rumah kita. Aryo menjadi lebih menikmati hidup untuk hal yang berguna.

    Cerita “Manakala Sebidang Tanah itu Rumah Kita” sangat singkat dan tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah cerpen. Sebenarnya, penulis dapat bercerita lebih banyak tentang Doni, konflik hidupnya dan cara kematiannya. Penulis juga tidak menceritakan tentang Aryo, siapa dia sebenarnya (tokoh aku). Teman Doni kah? Atau Aryo adalah pemuda mabuk bersama Doni malam itu? Pembukaan cerita sudah dimulai dengan baik, kata-kata yang indah (leterer). Tapi sayang, penulis tidak mengeksposnya dengan lebih sempurna dan detail. Selain itu, penulis juga harus memerhatikan penggunaan EYD. Gunakan huruf kapital pada awal kalimat dan nama orang, juga jangan menggunakan tanda titik (.) setelah tanda tanya (?).

    Baiklah, tetap menulis dengan semangat, ya? Ide cerita yang baik harus ditulis dengan baik pula. Sehingga cerita terasa lebih hidup dan dapat dipahami dengan jelas. Ayo! Coba tulisannya dikembangkan, pasti lebih keren.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Manakala Sebidang Tanah Itu Rumah Kita
    Oleh: Rohie

    Malam merambat pelan, meraba sisa jenuh yang ditinggalkan senja sehabis hujan tadi sore. lalu mengintai dua pemuda yang sedang mabuk berat disisi jalan raya berjalan sempoyongan dan tertawa atas kepuasan belaka.

    "Doniiiiiiii.... awaaaasssss"

    brakkk,,, tubuh Doni terpental beberapa meter setelah tertabrak mobil sedan. sebotol minuman yang dia genggam telah habis diteguk maut, dan sisanya bercampur darah segar yang mengalir dari tubuhnya. seketika para budak-budak malam yang lalu lalang berkumpul dan memboyong jasad Doni ketepi jalan, aku hanya bisa menangis dan berteriak sekeras-kerasnya.
    aku merasakan air mata mengalir hangat dipipi.

    "Yo,, Aryo" sesorang menepuk pundakku hingga aku tersadar dari lamunan.

    "Semua orang sudah pulang meninggalkan makam, ayo kita pulang" anto menarikku yang masih membayangkan kejadian singkat tentang maut yang membrutal malam tadi. aku pandangi makam doni sejenak, lalu bergumam dalam hati. manakala sebidang tanah itu rumah kita, masihkah kita bisa tertawa?.
    setelah kejadian itu aku lebih menikmati hidup untuk hal yang berguna.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Manakala Sebidang Tanah Itu Rumah Kita” Karya Rohie (FAMili Serang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top