• Info Terkini

    Wednesday, May 15, 2013

    Ulasan Cerpen “Sang Penyimak Kisah” Karya Rahmizakia Rifka (FAMili Padang)

    Cerpen “Sang Penyimak Kisah” bercerita tentang suasana senja, yang banyak menyaksikan kisah. Kisah yang dihadirkan oleh manusia penikmat senja. Kisah berbagai rupa manusia, juga kisah persahabatan antara Rifka dan Asha.

    Rifka harus pergi meninggalkan kota kelahirannya, menuju tempat asing yang membuat hatinya gamang. Senja menyaksikan, dua sahabat yang sedari  kecil datang untuk menikmatinya, kini akan berpisah. Rifka tak siap untuk menginjak tempat barunya, tapi Asha justru menguatkannya: “Sekarang dengarkan aku. Ke mana pun kamu menghadap, di sana ada Allah. Di belahan bumi mana pun kamu berpijak, di sana juga buminya Allah. Dan siapa pun yang kamu temui di sana, mereka juga makhluk Allah—sama denganku dan keluargamu di sini. Kami juga makhluk ciptaan Allah.”

    Cerpen yang ditulis Rahmizakia Rifka ini sangat menarik. Penulis mampu menceritakan kisah manusia atas sudut pandang senja yang indah, senja yang menyimak sejuta kisah. Sebenarnya, inti cerita singkat saja, tentang perpisahan Asha dan Rifka. Tapi, senja mampu memberinya lebih berwarna, dengan diksi yang baik pula.

    Namun, sebagai sebuah tulisan, masih ditemukan sedikit keganjilan pada alinea akhir kalimat: “Dari kejauhan, terlihat Rifka terkaget (getaran ponsel itu mengejutkannya). Ia baca dan kemudian tersenyum. Asha melambaikan tangannya dari kejauhan. Namun, Rifka tetap saja duduk dan membaca.

    Apa-apaan ini? Benda-benda yang tinggi dan panjang itu menghalangi pandanganku. Jelas-jelas aku sedang menikmati wajah-wajah lucu para bayi itu.” Kalimat ini membuat pembaca bingung, karena senja sedang menikmati adegan Asha dan Rifka, mengapa tiba-tiba senja menikmati wajah bayi yang lucu? Sebaiknya kisah bayi lucu diputus saja, cukup ada pada alinea sebelumnya.

    Baiklah, penulis tetap semangat, ya? Teruslah menulis dan mengirim tulisanmu ke media, ya? Semakin sering kamu menulis, maka hasil tulisan akan semakin bagus dan akan semakin kaya diksi.

    Tetap semangat, salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sang Penyimak Kisah

    Karya: Rahmizakia Rifka (FAMili Padang)

    Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.

    Kabarnya, banyak sangat yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya. Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah. Istilah kerennya refreshing. Saat mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi, ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.

    Padahal, aku tidak membawa apa-apa. Aku hanya menunaikan perintah Rajaku—datang dan berpindah—itu saja. Serius! tak satu pun yang kubawa. Bukankah kawan-kawanku itu yang bersedia datang bersamaan denganku? Itu saja. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada mereka—titik-titik air, mentari, burung-burung, hamparan air nan luas, tentu juga si jingga kawan baikku. Ups, ralat—semuanya kawan baikku. Berkat mereka ada, aku jadi sangat dinanti dan mungkin bisa saja dirindukan.

    ***

    “Berangkat pukul berapa?”

    “............”, diam.

    “Sudah packing?”

    “............”, masih diam.

    “Diantar atau sendiri?”

    “............”, lagi-lagi tetap diam.

    ***

    Aku suka jika sudah diperintahkan untuk bertugas di sini. Ramai sangat yang menyambut kedatanganku. Ada manusia, kendaraan, aroma makanan yang mengudara, minuman berasap hingga berembun, biduk-biduk itu juga menambah kecantikanku. Kawan-kawanku para nelayan sedang melepas tali ikatannya—ya, mereka mulai membawa biduk itu ke tengah lautan.

    Ombak sore ini sangat cantik. Kuperhatikan, kira-kira sampai menggulung hingga lima gulungan. Buihnya putih seperti susu. Mereka saling berkejaran, walau takkan mungkin terkejar. Gulungan pertama tetap akan sampai lebih dulu di bibir pantai—walau sekeras apa pun gulungan kedua berusaha mengejar—karena begitulah hakikat mereka, para gulungan ombak. Indahnya lagi, saat ombak yang surut bertemu dengan ombak yang datang. Duhai, indah sangat pertemuan itu—air laut menaik beberapa sentimeter karenanya. Cantik.

    Anak para manusia itu juga turun ke pasirnya. Ada yang saling melempar pasir, yang lari karena dikejar ombak, mengukir di pasir, juga ada yang bermain agak ke tengah laut. Ya, apa pun lah itu—itu hak mereka untuk menikmati kedatanganku hari ini. Aku senang menyaksikannya.

    “Ada buku baru?”, sudah mulai bicara.

    “Ini.”, sambil menyodorkan buku yang covernya didominasi oleh warna biru.

    “..........”, menerima buku dengan ukuran 14×21 sentimeter itu sambil tersenyum.

    “Bacalah, nice story. Aku rasa kamu suka.”

    “..........”

    Tatapan mereka beradu dalam diam. Beberapa detik kemudian pecahlah sedikit tawa—ya, percikan air sampai ke wajah mereka. Tampak sangat, mereka begitu menikmati suasana ini. Satu di antaranya membolak-balik halaman demi halaman buku—yang lain meneguk minuman yang botolnya terlihat berembun.

    “Tuliskan namamu di buku itu.”

    “.....??” wajahnya bertanya.

    “Iya, tulis saja. Itu milikmu.”

    “............”

    Diamnya tetap mendominasi. Tidak peduli, masih saja membolak-balik buku bersampul biru itu. Yang lain juga begitu. Terlihat, setengah botol minumannya sudah kosong. Mereka memang keras kepala.

    Aku tidak heran. Kalau cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai berdatangan selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh, ada sesuatu yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin mempererat tali persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu sama lain, saling berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak ragu-ragu untuk turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa yang mereka lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk ditangkap lensa. Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan amat enak dipandang.

    Beralih sedikit, kulihat ada yang membawa anak bayi. Mhmh..lucu-lucu. Memang wajah-wajah surga saja yang datang sore ini. Putih bersih sangat wajah para bayi itu. Baunya pun semerbak mewangi. Lembut yang teramat sangat aroma tubuhnya. Serasa ingin selalu mendekapnya. Masya Allah..memang benar-benar semuanya atas kuasa Allah.

    Tidak semua bayi yang datang akan tersenyum dan tertawa. Ada juga kulihat bayi yang merengek, menangis, dan sebagainya. Apa pun lah itu, aku senang melihat bayi-bayi itu tetap didekap oleh orang tuanya. Terlebih lagi, jika sudah bisa berjalan tiga atau empat langkah. Makin bahagia saja aku memandangnya.

    “Kamu takut?”, botolnya sudah kosong.

    “...........”, masih asyik membolak-balik buku.

    “Itu biasa. Namanya juga pergi meninggalkan, tentu akan menemui kondisi yang berbeda.”

    “Iya, terlalu banyak yang harus ditinggalkan. Rasanya tidak siap.”, akhirnya bicara juga.

    “Wajarlah itu. Siapa yang tidak akan gamang? Tapi yakinlah, ini keputusan terbaik dari Allah untukmu.”

    “Ya, aku tahu—inilah yang terbaik.”

    Satu di antaranya terlihat berdiri, kemudian berjalan dari satu batu ke batu lainnya. Yang lain tetap asyik membolak-balik buku bersampul biru itu. Asha dan Rifka memang tidak banyak bicara. Kalau pun bersua, akan bercerita secukupnya. Sore ini mereka dipertemukan oleh Allah. Tentu, mereka menuju tepi laut—tempat yang sangat dicinta. Dari kecil mereka sudah berkawan—hingga usia mereka dewasa.

    Asha mencoba turun ke batu-batu yang tiap sebentar dihempas ombak. Ia hendak menghirup aroma laut dengan lebih dekat. Seketika, Asha meraba saku bajunya. Terlihat ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sms.

    “Aku tahu kamu sebentar lagi pergi. Tidak rindukah kamu bermain agak ke tengah laut?”

    Dari kejauhan, terlihat Rifka terkaget (getaran ponsel itu mengejutkannya). Ia baca dan kemudian tersenyum. Asha melambaikan tangannya dari kejauhan. Namun, Rifka tetap saja duduk dan membaca.

    Apa-apaan ini? Benda-benda yang tinggi dan panjang itu menghalangi pandanganku. Jelas-jelas aku sedang menikmati wajah-wajah lucu para bayi itu. Aduh aduh, menyebalkan juga ternyata. Eiitttss..tunggu dulu. Ada yang turun dari benda itu—orang-orangnya tinggi besar. Kalau aku tidak salah, mereka itu para wisatawan. Oohhh..mau main ke laut tho? Okelah, silakan turis-turis—nikmatilah.

    ***

    Dari tengah laut, Asha mengirimi Rifka sms lagi.

    “Kemarilah..”

    Rifka pun dengan agak terpaksa memenuhi panggilan Asha.

    “Duduklah!”, Asha berkata dengan suara pelan. “Katakan padaku, apa yang kamu rasakan.”

    “Haruskah aku memberitahumu?”

    “Ya, harus.”

    “Baiklah. Sangat berat bagiku untuk meninggalkan kota ini. Terlalu banyak yang harus kutinggalkan. Aku lahir dan besar di sini. Dan, dengan harus hijrah ke kota lain—yang aku tak tahu bagaimana kondisi di sana, rasanya aku tidak siap.”

     “Semoga saja aku bisa.”

    “Tentu kawan, kamu pasti bisa (insyaAllah).”

    ***

    Ya, Asha dan Rifka sangat sering mengunjungiku. Mereka sudah dari kecil menjadi teman baikku. Masih sangat jelas diingatanku, dulu mereka selalu menyempatkan diri untuk melihatku saat pulang mengaji. Tidak kusangka mereka harus berpisah di sini—tempat yang menyimpan banyak memori. Karena, aku cukup mengikuti ikatan persaudaraan mereka ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat kondisi ini. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan sembari menyimak setiap untaian kisah yang kelak akan jadi saksi perjuangan mereka, Asha dan Rifka.

    “Optimis dan selalulah tersenyum.” Asha tersenyum sembari merangkul saudara seimannya itu menuju tepi laut.

    Perlahan mentari membenam dan hilang di batas antara langit dan laut. Terlihat rangkulan itu semakin erat, dilepas oleh langit jingga yang perlahan menghitam. Indah...

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sang Penyimak Kisah” Karya Rahmizakia Rifka (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top