• Info Terkini

    Thursday, May 2, 2013

    Ulasan Cerpen “Secangkir Cinta dan Iman” Karya Farah Uma Mauhibah (FAMili Jepara)

    Syamsul adalah seorang pemuda cacat yang tinggal di sebuah desa. Pemuda baik, yang mengajarkan anak-anak kampung mengaji, yang kemudian kampung tersebut kedatangan mahasiswa KKN. Sikap Syamsul menarik perhatian Lusi dan Rahma, dua mahasiswi yang ikut KKN. Lusi kemudian ingin mempelajari Islam melalui Syamsul, hal ini membuat mereka sering bersama. Kedekatan ini pula yang membuat penduduk kampung marah karena mulai meragukan Syamsul yang dikenal sebagai pemuda baik-baik. 

    Untuk mengembalikan nama baik Syamsul, maka dibuatlah acara perpisahan mahasiswa KKN dengan masyarakat kampung sekaligus acara Lusi memeluk agama Islam. Dan akhirnya penduduk memahami bahwa Syamsul dekat dengan Lusi semata karena belajar agama. Masalah hati, Syamsul lebih memilih Rahma yang baik agamanya.

    Cerpen “Secangkir Cinta dan Iman” yang ditulis Farah Uma memiliki nilai pembelajaran yang cukup baik. Namun penulis menulisnya masih terasa kaku dan kurang mengalir. Dialog-dialog sebaiknya ditulis singkat saja dan tidak berbelit-belit. Dalam cerita juga ada kejanggalan, mengapa Syamsul berdebar-debar dengan Lusi, tapi dengan Rahma juga berdebar-debar? Hal itu menimbulkan kesan Syamsul yang baik namun memiliki hati yang mendua dan tidak tetap pendirian.

    Selain itu, penulis juga harus benar-benar memerhatikan penulisan, perhatikan pula EYD. Edit bila ada kesalahan-kesalahan penulisan saat pengetikan. Penulis juga sebaiknya menceritakan latar sebuah cerita dengan lingkungan pedesaan yang indah. Pedesaan adalah latar yang mudah dijadikan sebuah cerita yang indah. sBagaimana suasana pagi di pedesaan, kabut yang melapisi persawahan ketika Syamsul mencangkul di sawah, dll. Untuk kalimat “Anak-anak KKN” sebaiknya ditulis “Mahasiswa KKN”.  Tapi, untuk mampu menulis dengan baik dan mengalir indah tentu perlu latihan. Teruslah asah pena dengan menulis, pelan tapi pasti tulisan semakin membaik. Jangan lupa iringi dengan membaca, dengan banyak membaca membuat seorang penulis menjadi kaya bahasa, hingga mampu mendapat gaya nahasa sendiri.

    Tetap semangat ya? Salam santun, salam karya, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SECANGKIR CINTA DAN IMAN

    Oleh: Farah Uma

    “Syamsul, nanti malam setelah maghrib ada kumpul remas di masjid. Kamu mau ikut atau tidak?” tanya Badrun yang tengah melihat Syamsul sedang membersihkan rumah kakeknya.

    “Wah, nanti aku usahakan datang terlebih dulu. Soalnya nanti setelah isya’ aku sudah janji akan ikut kakek pengajian di balaikota.”

    “Begitu ya? Ya sudah, tapi kita sangat berharap kamu bisa datang. Soalnya nanti malam anak KKN dari kota akan datang kemari dan penyambutannya sekalian nanti saat kumpul.”

    “Ya, InsyaAllah nanti aku datang. Kamu mau kemana, Run?”

    “Oh ya, sampai lupa. Aku mau beli makan siang di Mbok Jum. Sudah dulu ya, Sul. Sampai jumpa nanti malam. Assalamualaikum.” Badrunpun berlalu dari hadapan Syamsul.

    “Waalaikumsalam.” Syamsul segera menyelesaikan pekerjaannya memotong rumput dan cepat-cepat masuk rumah dengan tongkat jalannya.

    “Syamsul, tadi ada siapa di luar?”

    Ternyata kakek mendengar suara Badrun tadi. “Badrun, Kek. Katanya nanti setelah maghrib ada kumpul remas di kampung sebelah. Aku bilang akan datang, tapi setelah isya’ aku pulang.”

    “Oh, begitu. Memangnya kumpul untuk membahas apa?”

    “Seperti biasalah, Kek. Kajian-kajian dan share ilmu. Oh ya, akan ada penyambutan anak KKN juga, Kek.” setelah mendengar penjelasannya kakek mengangguk dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

    ***

    Setelah Syamsul sebagai ketua remas memberi sambutan, dilanjutkan dengan penerimaan anak KKN oleh Pak Lurah. Lalu gadis dengan rambut panjang terurai, berkulit putih itu mewakili teman-temannya mengucapkan sepatah dua patah kata pada para warga kampung.

    “Sul, cewek itu cantik ya? Cara berbicaranya santun meski dari kota. Terpelajar lagi. Pantas sama kamu itu, Sul.”

    “Apa-apaan kamu, Run? Aku cuma anak desa yang kerjaannya tiap hari mengajar mengaji anak-anak dan pergi ke sawah. Apalagi fisikku cacat, mana mau dia.”

    Bisik-bisik Syamsul dan Badrun segera berakhir karena takut terdengar lainnya. Tanpa diketahui oleh semua yang ada di masjid, Lusi mencuri pandang kearah Syamsul.

    ***

    “Pagi, Syamsul. Tiap hari pergi ke sawah ya? Boleh ikut bantu?”

    “Lusi, kenapa kemari? Tidak usah, kamu di atas saja. Nanti kotor. Ini memang pekerjaan saya sehari-hari.”

    “Kebetulan saja jalan-jalan. Nanti malam baru akan ada pembahasan program kerja kami di balaidesa. Kamu sudah tahu? Oh, ya perkenalkan. Ini Rahma, ini Deni. Ini Umar”

    Syamsul menjabat tangan Deni dan Umar, saat dengan Rahma keduanya saling mengatupkan tangan mereka di depan dada. Rahma tidak secantik dan seramai Lusi. Namun dia terlihat anggun dan manis dengan jilbabnya.

    “Ya, aku di beritahu Sholeh tadi sebelum aku kemari. Rencananya, program apa saja yang akan kalian lakukan?” tanya Syamsul sambil terus bekerja.

    “Kami akan membuat saluran pembuangan air pada semua rumah, tentu saja dengan kerja bakti dengan semua warga kampung. Dimulai lusa.” ujar Lusi.

    “Selain itu kami akan rutin melakukan penyuluhan dan ajar baca tulis. Ada yang untuk lansia dan anak-anak ada juga yang ditujukan pada orang buta.” lanjut Rahma. Suaranya lembut.

    “Kalau penyuluhan dan ajar baca tulis dimulai kapan?” tanya Syamsul yang mulai merapikan diri dan bergabung dengan mereka di atas.

    “Nanti malam akan ada sosialisasi tentang itu dan bisa dimulai besok. Jadwal-jadwalnyapun akan disampaikan nanti malam.” terang Deni.

    “Kami juga akan menyebar pamphlet juga mengenai program kerja kami. Supaya semua warga dapaat terlibat aktif.” sambung Umar

    “Tentu saja. Warga kampung sini akan menyambut program kalian dengan antusias.”

    Saat Syamsul merasa pekerjaannya telah selesai ia mengajak mereka untuk pulang. Selama perjalanan, hati Syamsul berdebar-debar. Ia tak tahu apa sebabnya. Tak disangka, Lusi selalu mencuri pandang pada Syamsul. Sejak awal ia suka pada kesantunan dan kecakapan Syamsul dalam berbagai hal meski dengan keadaan fisik yang terbatas.

    ***

    “Saya harap kegiatan kalian tidak akan mengganggu acara rutin mengaji kami setelah maghrib. Itu saja. Kalau perlu bukan hanya kami yang berantusias, namun kalian juga ikut antusias dalam kegiatan rutin kami tersebut.” ujar Syamsul saat acara pembahasan program kerja anak KKN.

    “Usulan itu sangat bagus, Sul. Kami juga akan ikut antusias dalam acara warga. Anggap saja kami juga bagian dari warga kampung sini juga. Memang sudah seharusnya kita bersinergi dengan baik.” timpal Lusi.

    “Tenang saja, Mas Syamsul. Untuk ajar baca kami dakan pagi hari maksimal sampai jam dua siang dan penyuluhan-penyuluhan akan kami adakan sore hari setelah ashar sampai sebelum maghrib. Jadi kami pastikan tidak akan mengganggu acara warga sehari-hari.” Rahma menerangkan hal tersebut sambil malu-malu menatap Syamsul.

    “Baiklah kalau begitu. Kami ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Untuk Rahma, panggil saja saya Syamsul.” sorak sorai menghiasi acara tersebut karena ucapan Syamsul yang terakhir. Rahma hanya mengangguk dan tersenyum malu. Lusi merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Ada apa dengan Syamsul dan Rahma? Dia cemburu. Namun, siapa dia berani mencintai Syamsul?

    Acara malam itu selesai. Syamsul ditemani tongkat berjalannya segera menuju rumahnya. Ia bingung. Kenapa dia selalu berdebar jika melihat Rahma? Tapi dia juga merasa ada gelagat aneh pada gadis non muslim itu. Lusi. Apa Lusi menyukainya?

    ***

    Sehabis maghrib, Syamsul dan remaja masjid lainnya mengajar mengaji anak-anak kecil di kampungnya. Sekarang bukan hanya anak-anak kecil saja, namun anak KKN yang belum bisa mengaji tak sungkan meminta untuk diajari. Lusi, salah satunya.

    “Kamu yakin, Lus?”

    “Ya, Sul. Memang tidak boleh? Satehuku dari Rahma tadi boleh saja.”

    “Ya, memang boleh. Aku hanya tanya saja. Lalu dengan kitab sucimu?”

    “Tentu aku masih membaca dan mempelajarinya. Kebetulan kata warga sini kamu pintar agama aku ingin mempelajari Islam juga lewat kamu.”

    “Boleh saja.”

    Kini, setiap hari anak-anak KKN juga ikut mengaji di masjid. Setiap hari itu juga, Lusi mempelajari agama Islam dan mengaji bersama Syamsul yang kini semakin memenuhi hatinya. Lusi dan Syamsul semakin dekat.

    “Syamsul, kamu tidak kuliah?” sambil merendam kakinya di air sungai yang jernih.

    “Tidak, Lus. Aku hanya tinggal dengan kakekku. Setiap hari aku harus menggarap sawah. Sempat kakek menawarkan untuk menjual sawahnya untuk kuliahku, tapi aku tidak ingin merepotkannya.” Syamsul membenarkan letak duduknya yang terlalu dekat dengan Lusi.

    “Tapi kenapa kamu sangat cerdas? Kamu sangat cakap di berbagai hal. Belum tentu anak kuliahan bisa secerdas kamu.”

    “Kamu bisa saja. Menurutku kamu dan teman-temanmu jauh lebih cerdas dari aku yang hanya dapat membaca buku-buku di perpustakaan daerah seminggu sekali.”

    “Keren sekali kamu, Sul. Setiap hari menggarap sawah, tapi masih sempat pergi ke perpustakaan yang letaknya tidak dekat dari sini. Aku semakin salut sama kamu.” Mereka saling bertatap muka. Hati Lusi berdebar-debar, begitupun Syamsul. Baru kali ini Syamsul berduaan dengan perempuan. Buru-buru ia mengalihkan pandangan. Namun terlambat, beberapa warga yang tengah melintas terlanjur berprasangka buruk pada keduanya, terutama Syamsul.

    ***

    “Syamsul, sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan anak KKN non muslim itu? warga semakin resah dengan kelakuan kalian berdua!” Kakek bertanya dengan nada sedikit marah.

    “Tidak ada apa-apa, Kek. Lusi hanya ingin lebih mengenal agama Islam lewat Syamsul. Apa salahnya dengan berbagi ilmu, Kek?”

    “Tapi bukan berarti kalian selalu berduaan seperti itu! Kakek tidak pernah mengajarkan itu padamu. Kamu tidak berpikir akibatnya nanti?”

    Syamsul terdiam. Dia tidak bisa memungkiri fakta bahwa kini ia lebih sering berdua dengan Lusi. Namun egonya masih mengatakan bahwa hal itu tidak salah karena untuk belajar agama. Akhirnya ia hanya tertunduk dan tidak menjawab.

    “Sekarang banyak ibu-ibu yang tidak ingin anaknya mengaji lagi di masjid. Para remaja masjid juga sudah mulai menjauhimu, kalau kau bisa merasaakannya. Jamaah masjid berkurang. Kamu tahu kenapa?!” sebelumnya kakek tidak pernah membentak Syamsul. Syamsul mulai membenarkan semua ucapan kakek.

    “Baiklah, Kek. Demi memakmurkan kembali masjid peninggalan ayah dan ibu, aku akan menjauhi Lusi.” Syamsul segera berlari keluar dan menemui Lusi yang tengah bercengkerama dengan teman-temannya.

    “Lusi, aku perlu berbicara padamu.” Lusi mengikutinya. Rahma hanya tertegun melihat tingkah Syamsul yang berbeda dari biasanya. Ia memang sudah mendengar kasak kusuk tentang mereka. Tapi ia percaya pada keduanya.

    “Kau pasti sudah mendengar berita itu ya, Sul? Aku minta maaf. Ini semua gara-gara aku. Kalau kamu memutuskan untuk berhenti mengajariku agama Islam, aku mengerti.” matanya memerah.

    “Bukan begitu, Lus. Aku bersedia untuk tetap belajar agama bersamamu. Tapi untuk sementara ini mungkin kita jangan terlalu dekat.” setelah berkata demikian, Syamsul segera kembali ke rumahnya, sedikit berlari dengan terpincang-pincang.

    ***

    Para warga masih sering membicarakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya. Padahal, Syamsul telah berusaha sekuat mungkin agar para warga mau diajak untuk kembali beribadah. Ia juga telah menjauhi Lusi bahkan Rahma, gadis yang mencuri hatinya.

    “Macam apa itu, Syamsul? Menyuruh kita amar ma’ruf nahi munkar, tapi malah asyik bermaksiat sendiri.” seru seorang warga yang sedang mencangkul di sawah.

    “Betul, Pak. Awalnya saya mengira dia pemuda baik, ternyata tak beda jauh sama anak-anak kota tak tahu agama.” timpal warga lainnya yang tengah menggarap sawah juga.

    “Sekarang saya sudah tidak memperbolehkan anak saya bergaul, mengaji, atau belajar dengan Syamsul itu. Bisa-bisa anak saya juga berkelakuan tidak tahu norma seperti dia. Jangan sampai, Pak.” keluh seorang ibu yang tengah menanam padi.  Ibu lainnya juga membenarkan ucapan ibu tersebut.

    Tak jauh dari tempat mereka berkasak-kusuk, anak-anak KKN yang tengah duduuk-duduk di pinggir sungai merasa kasihan dengan Syamsul.

    “Mar, bagaimana ini? Sebenarnya Syamsul benar-benar pemuda yang baik. Para warga begitu cepat berprasangka buruk padanya. Ada ide tidak untuk membantu dia?”

    “Benar, Den. Tadi malam setelah aku berbincang dengan Badrun dan anak remas lainnya mereka juga gerah dengan kasak-kusuk tak jelas itu.”

    “Bagaimana kalau kita buat sebuah acara yang bisa memperbaiki hubungan Syamsul dengan para warga lainnya?”

    “Begitu juga boleh, Rahma. Tapi apa? Ini salahku juga. Kenapa harus dekat-dekat dengan Syamsul.” keluh Lusi. Dia tertunduk lesu. Rahma tahu betul Lusi menyukai Syamsul. Namun, dirinya juga tak dapat menyangkal bila rasa itu juga tumbuh di hatinya. Semua tampak berpikir.

    “Aku tahu. Warga mengira Syamsul bukan pemuda baik karena dekat denganku. Padahal dia mengajariku tentang islam. Aku sadar selamaa ini ia telah berjuang untuk membimbingku. Perjuangannya justru menimbulkan penafsiran lain di kampung ini. Aku ingin masuk islam.” Semua sontak kaget dengan pernyataan tadi.

    “Kenapa? Karena Syamsul?” tanya Rahma.

    “Tentu saja bukan, Rahma! Aku telah menemukan jalan yang benar. Apa kau tidak senang? Syamsul hanya perantara perjuanganku menemukan jati diri.”

    “Maafkan aku, Lus. Aku senang dengan keputusanmu. Dan aku punya ide bagus untuk menyelesaikan konflik Syamsul dan para warga.”

    Semua mendekat. Mendengarkan dengan seksama tiap kata Rahma. Semua mengangguk yakin dan tersenyum senang.

    ***

    “Baiklah, saya setuju dengan usulan kalian. Saya akan segera beritahu Syamsul dan para warga.” Ujar Pak Lurah berseri-seri karena telah menemukan cara menyelesaikan masalah ini.

    Dari kejauhan, tampak baying-bayang pemuda bertongkat untuk menopang jalannya. Syamsul semakin mendekat.

    “Wah, ada apa ini? Ramai sekali. Tadi akan beli makan tetapi tergoda berkunjung karena ramai.”

    “Begini, Sul. Kami menemukan solusi dari masalah ini. Aku tahu, kamu selama ini telah berjuang menyelesaikan masalah ini dengan menghindariku dan Rahma. Mulai besok kamu tak perlu melakukannya lagi.” terang Lusi bersemangat. Lusi mendekati Syamsul dan berbisik. “Jadi, kalau kau suka pada Rahma katakan saja besok. Hahaha.”

    Syamsul tak mengerti kenapa Lusi mengetahui hal itu. Ia menatap Rahma. Ia rindu akan senyumnya. Di rumah Pak Lurah itu Lusi dan Rahma bergantian menjelaskan acara besok pagi.

    “Kau yakin Lus? Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya. Aku sangat berterima kasih pada kalian semua yang masih care denganku.” Ia tersenyum menahan tangis.

    “Tak masalah, Sul. Kami ikhlas. Lalu dimana kita bisa mencarinya? Nanti malam Umar dan aku akan menghubunginya. Lalu biar anak remas yang mengatur tratak dan sosialisasi ke warga. Kau, Lusi dan Rahma yang mengatur acaranya untuk besok.” ujar Deni optimis.

    “Untuk kehadiran  warga serahkan pada Bapak. Saya usahakan acara besok akan ramai.” timpal Pak Lurah.

    Malam harinya, semua mulai bertindak sesuai jobnya. Pak Lurah dan beberapa anak remas mulai mengajak para warga menghadiri acara pelepasan anak KKN besok pagi. Awalnya mereka enggan hadir. Namun, karena akan ada juga pengajian oleh seorang habib yang terkenal di kota tersebut, mereka jadi sangat antusias. Seakan mereka lupa dengan masalah Syamsul.

    Di balaidesa, Syamsul, Rahma dan Lusi menyusun acara besok pagi. Ada kegembiraan di hati mereka. Namun, tak dapat dipungkiri kesedihan mendalam akan perpisahan yang segera tiba melanda hati mereka. Rahma dan Syamsul saling bertatap muka lalu dengan cepat mengalihkan pandangan. Terlihat jelas, mereka tak ingin berpisah.

    ***

    Pengajian berlangsung khidmat. Semua bershalawat, berdzikir. Larut dalam tangis. Menyadari semua kesalahan mereka. Setelah itu Lusi mendekaat ke arah habib terseebut dan menyatakan diri siap masuk Islam. Tangis haru semakin membanjiri acara tersebut.

    “Alhamdulillah, saya menjadi seperti ini dengan perantara Syamsul. Ia pemuda yang baik. Selama ini ia yang berbagi ilmu agama dengan saya. Jadi saya harap, setelah acara ini berakhir tak ada lagi kesalah pahaman antara kita.”

    Syamsul mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada warga. Paraa warga akhirnya memaafkan Syamsul dan justru meminta maaf pada Syamsul karena telah mencacinya beberapa hari terakhir.

    “Terima kasih atas kedatangan kalian ke kampung kami. Tengoklah kami jika ada waktu. Kami akan merindukan kalian.” ujar Syamsul dengan satu tangan memegang mikrofon dan satunya membenarkan letak tongkatnya.

    Rahma membalas kata-kata peerpisahan Syamsul dengan penuh haru. Ia menangis. Para warga semakin larut dalam keadaan mengharukan ini. Lalu acara ditutup dengan penyerahan plakat oleh Pak Lurah.

    Setelah bubar, para warga bersalaman ddengan Syamsul dan anak KKN. Mereka meminta maaf akan kesalah pahaman yang terjadi. Syamsul tersenyum senang dan haru karena perjuangan untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar telah terwujud. Bahkan sebagai imbalannya, dengan perantara dirinya yang gigih berbagi ilmu agama dengan sesama, Lusi akhirnya memeluk agama Islam.

    “Rahma, sering-seringlah berkunjung kemari.”

    “Tentu Syamsul, aku akan mengunjungi kampung ini. Karena hatiku masih tertinggal disini.” Rahma menunduk. Pipinya bersemu merah.

    “Maksudnya? Apa kau juga menyukaiku, Rahma? Aku menyukaimu sejak pertama kita berjumpa. Aku mencintaimu karena agamamu. Karena Allah, Rahma.”

    “Alhamdulillah. Benar begitu? Akupun menyukaimu, Sul. Kau pemuda sholeh dan cerdas.”

    “Tapi aku cacat fisik, Rahma. Kau tidak keberatan?”

    “Tentu saja tidak, Sul.”

    “tunggu aku, Rahma. Setelah aku dan kamu siap, aku akan segera melamarmu. Bersabarlah menunggu. Bila kita berjodoh, tak akan kemana.”

    Senyum itu terkembang di bibir mereka. Terasa lengkap sudah kebahagian Syamsul kali ini. Semua perjuangan tak akan ada yang sia-sia. Itulah yang ia rasakan kini. Ia akan menunggu Rahma, gadis yang dicintainya itu agar menjadi halal untuknya.

    Sumber gambar: Google.com

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Secangkir Cinta dan Iman” Karya Farah Uma Mauhibah (FAMili Jepara) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top