• Info Terkini

    Saturday, May 25, 2013

    Ulasan Cerpen “Terima Kasih Emak” Karya Niki Cahyani (FAMili Malang)

    Cerpen yang berjudul “Terima Kasih Emak” adalah cerita yang diangkat dari kisah kehidupan anak pemulung. Rahma, menjalani kehidupan yang sulit di kolong jembatan bersama ibunya yang janda. Sehari-hari, ia berkubang dengan sampah untuk memulung, memilah sampah dan memungut benda yang bisa dijual kembali.

    Rahma juga tidak mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Uang yang mereka hasilkan hanya cukup untuk mengisi perut Rahma dan Emak. Rahma ingin belajar, maka ia sering mengintip dari jendela sekolah. Tapi sayang, itu hanya bertahan lima belas sampai dua puluh menit, karena ia segera diusir petugas keamanan. Tapi, Rahma selalu bersyukur dan menikmati semua, karena Emak selalu mengajarkannya untuk selalu bersyukur dan menikmati hidup. Dan, mereka menjalani hidup tanpa beban, dan selalu bahagia.

    Ketika Rahma menemukan sebuah tas berisi uang dan surat berharga, Emak tetap mempertahankan prinsipnya agar tidak mengambil sesuatu yang bukan hak mereka. Rahma bersikeras, walau akhirnya mengalah untuk mengembalikan tas tersebut kepada pemiliknya. Sikap yang diajarkan Emak akhirnya berbuah manis, untuk Rahma dan masa depannya.

    Cerpen yang ditulis Niki Cahyani adalah cerita “biasa” yang sering ditulis dan diangkat menjadi sebuah tema. Namun, kali ini penulis mampu meraciknya menjadi lebih baik, memasukkan nilai-nilai pembelajaran. Bahwa kejujuran, keikhlasan dan rasa syukur suatu saat akan berbuah manis. Buah yang tidak saja dipetik di akhirat, tapi juga di dunia. Seperti yang dialami Rahma, si gadis pemulung yang akhirnya hidup berkecukupan karena ajaran Emak atas sebuah kejujuran dan keikhlasan. Seperti judul yang tepat pada cerpen ini “Terima Kasih Emak”.

    Namun, kesalahan masih ditemukan di beberapa penulisan (dapat dibaca di naskah asli tanpa editing). Selain itu, penulis seharusnya menggunakan cetak miring untuk kata asing seperti “Subhanallah”, “Astaghfirullah”, “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun”, “Nduk”,  dll.

    Untuk penulis, teruslah menulis dengan semangat. Cobalah angkat ide-ide baru yang lebih segar dan tidak terkesan ikut-ikutan. Ide, banyak bertebar di sekitar kita. Bacalah buku, alam dan lingkungan. Maka, setiap hari kita akan menemukan ide-ide baru yang sederhana tapi menarik untuk ditulis. Semangat, ya?

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]


    TERIMA KASIH EMAK
    Oleh: Niki cahyani

    Udara yang menyesakkan dada, suara bising, sengat sang surya dan bau busuk tumpukan sampah seakan sudah menjadi teman dalam kehidupanku. Namaku Rahma, aku tinggal di sebuah gubuk reyot di bawah jembatan bersama emak. Dalam hidupku aku tidak punya apa-apa, bagiku emak adalah harta satu-satunya yang kumiliki. Kata emak, bapak sudah meniggal dunia ketika aku masih berada dalam kandungan emak. Kini usiaku beranjak 16 tahun, bagi remaja-remaja lain di usia ini sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke tingkat atas, sedangkan aku? Sejak kecil aku tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, uang untuk makan saja susah, apalagi untuk biaya sekolah.

    Aku dan emak mengais rejeki dari tumpukan sampah yang kami lewati sepanjang jalan. Aku tidak pernah menyesal dan mengeluh dengan keadaanku yang seperti ini. Emak selalu berpesan kepadaku “jalan kehidupan manusia sudah diatur oleh Allah, kaya atau miskin tidaklah jadi masalah, karena yang menjadi pembeda di sisi-Nya adalah iman dan taqwa. Syukuri apa yang ada, karena kebahagiaan haqiqi ada ketika kita mensyukuri segalanya.” Pesan emak selalu tertanam dalam qolbuku, aku selalu menikmati hidupku meski terkadang perut perih menahan lapar, meski dahaga tak tertahankan. Aku tetap tersenyum menikmati semuanya, karena aku yakin di kehidupan yang lebih kekal nanti aku akan menjadi orang yang bahagia.

    Setiap pagi sebelum aku menemani emak memulung sampah, aku menyempatkan diri untuk pergi ke sekolah terdekat, aku ingin bisa menulis dan membaca seperti anak-aak pada umumnya. Aku hanya bisa mengintip kegiatan belajar mengajar dari jendela kelas, dengan berbekal buku bekas dan pensil kecil yang aku temukan di tempat sampah. Biasanya aku bertahan di sekolah tersebut sekitar 15-20 menit, bukannya aku tak mau berlama-lama di sekolah tersebut, tapi karena aku selalu diusir oleh petugas keamanan sekolah karena dianggap mengganggu kenyamanan, namun hal itu tidak membuatku jera untuk menuntut ilmu. Terkadang aku bertanya dalam hatiku, kekacauan seperti apakah yang aku timbulkan, sehingga aku dituduh mengganggu kenyamanan sekolah, padahal aku hanya ingin belajar, apakah karena penampilanku yang menjijikkan bagi mereka? Pakaianku memang lusuh, aku hanya memiliki dua baju, yang satu aku kenakan untuk keseharianku, dan satunya aku kenakan ketika beribadah. Kata emak ketika seorang hamba menghadap Allah, ia harus dalam keadaan suci.

    Siang ini mentari seakan ragu menyinari jagad raya dengan cahayanya, awan-awanpun terlihat mendung, semendung hatiku sekarang. Sudah satu minggu ini emak sakit, aku harus kerja sendiri dan lebih ekstra agar bisa membelikan obat untuk emak. Aku merasa hari-hariku menjadi sulit, di sepanjang perjalanan aku selalu terbayang wajah emak yang lunglai menahan sakit. Kakiku terasa berat untuk melangkah dan tanganku terasa enggan untuk memilah sampah, tapi semuanya harus aku lakukan demi emak.

    Aku mulai mengais sampah di tempat penampungan sampah. Saat asyik memilah sampah, tiba-tiba aku melihat tas hitam yang terlihat masih bagus dan menurutku tas seperti ini tidak pantas untuk dibuang. Aku mengambil tas tersebut dan membukanya.

    “Subhanallah ada banyak uang di sini, 1,2,3,4,5,6,7, 1,2,3. tujuh lembar uang seratus ribuan, 100x7=700 ditambah tiga lembar uang lima puluh ribuan, 50x3=150, berarti total semuanya ada delapan ratus lima puluh ribu rupiah. Uang ini bayak sekali, aku belum pernah memegang uang sebanyak ini sebelumnya, terimakasih Ya Allah.” Aku menghitung uang dan sangat senang menemukan uang sebanyak ini.

    “Kertas apa ini?” aku juga menemukan kertas yang tertata rapi di dalam tas tersebut.

    “Ser-ti-fi-kat ru-mah dan ta-nah a-tas na-ma Wi-dya Ma-ha-ra-ni.” Aku mencoba mengeja isi surat tersebut.

     “Dilihat sekilas sepertinya surat ini berharga bagi pemiliknya, tapi kenapa dibuang? Sudahlah sebaiknya aku segera pulang, hari juga sudah sore” Akupun pulang ke gubuk kecilku.

    Setelah sholat ashar aku segera menceritakan perihal tas hitam yang aku temukan kepada emak. Kata emak aku harus mengembalikan tas beserta isinya tersebut kepada pemiliknya. Awalnya aku menolak, karena menurutku tas tersebut sudah dibuang oleh pemiliknya dan aku yang menemukan berarti akulah pemiliknya sekarang, lagipula aku juga sangat membutuhkan uang ini untuk biaya pengobatan emak.

    “Nduk sekaya apapun sesorang, pasti ia tidak ungkindengan sengaja embuang uangnya apalagi sertifikat rumah dan tanahnya ke tempat sampah. Sudahlah nduk kita cari rejeki yang pasti halal saja, rejeki itu sudah ada yang ngatur kan.” Mendengar nasehat emak, akupun tersadar kalau apa yang aku pikirkan itu salah.

    Keesokan harinya aku menuju alamat rumah yang tertera pada kertas sertifikat tersebut.

    “Subhanallah, ini rumah atau istana” gumamku dalam hati

    “Maaf  ada perlu apa?” sosok laki-laki bertubuh kekar berdiri di balik pagar rumah menyapaku. Aku membaca sekilas di pakaian yang dikenakannya “SE-CU-RI-TY”.

    “Maaf  apakah ada perlu disini?” ia bertanya lagi.

    “I-i-itu pak, a-apa benar ini rumahnya ibu Widya Maharani? Tanyaku gugup.

    “Iya benar, kebetulan beliau juga ada di rumah, mari silahkan masuk!” security tersebut membuka pagar rumah dan membawaku ke dalam rumah.

    Aku kira orang sepertiku tidak akan diterima di rumah seperti ini, tapi ternyata aku malah diperbolehkan masuk. Ketika memasuki pintu rumah, aku benar-benar terkesima oleh keindahan rumah megah ini. Perabotan rumah terlihat megah, hiasan dinding terpajang rapi, bunga-bunga hias tersusun rapi, kaligrafi terpasang di setiap sudut ruangan, benar-benar menunjukkan suasana yang nyaman dan islami.

    “Saya panggilkan Ibu Widya dulu dek.”

    “Owh iya terimakasih Pak.”

    Saat aku masih mengamati sekitar rumah, tiba-tiba ada suara yang mngejutkanku.

    “Maaf, anda mencari saya? Saya Ibu Widya.”sosok wanita paruh baya berkeudung lebar dan berwajah teduh berdiri di belakangku.

    “I-i-iya Bu.” Jawabku gugup

    “Silahkan duduk Nak!” Ibu Widya mempersilahkan aku duduk dengan wajah berseri-serinya.

    “Maaf Bu, pakaian saya kotor, anti malah mengotori sofa Ibu.” Aku enggan jika harus duduk di sofa bermerk itu.

    “Astagfirullah, jangan berpikiran seperti itu Nak, lagipula ruangan disini selalu dibersihkan setiap hari, ayo silahkan duduk!”

    “Ini Bu, saya hanya ingin mengembalikan tas yang saya temukan di tempat penampungan sampah kampung ini.” Terangku sembari mengeluarkan tas hitam dari karung putih yang selalu kubawa saat mengais sampah.

    “Subhanallah, tas ini. Bagaimana bisa berada di tempat sampah? Isi tas ini sangat berharga bagi saya, terimakasih Nak.” Ibu Widya antusias mengambil tas dari tanganku dan terlihat sangat bahagia. Akupun menjawab dengan anggukan kepala.

    “Kamu tinggal dimana Nak? Dan sekarang kelas berapa?”

    “Saya tinggal di bawah jembatan ujung kampung ini Bu, dan saya tidak pernah sekolah.” Jawabku malu.

    “Maaf Nak, saya tidak bermaksud menyinggung. Hmmm sebagai ucapan terimakasih, ibu akan membantu kamu untuk mewujudkan salah satu  keinginan kamu yang belum tercapai, sekarang apa keinginan kamu?” Ibu Widya kini duduk tepat di sebelahku dan membelai kerudung lusuhku.

    “Tidak usah Bu, sudah kewajiban saya mengembalikan barang kepada pemiliknya. Saya juga ikhlas Bu, tidak mengharapkan imbalan apapun.” Jawabku sambil menundukkan kepala. Aku tidak menyangka sosok yang kaya, anggun dan berwibawa mau bersanding dengan anak kotor, dekil dan lusuh sepertiku.

    “Tidak apa-apa Nak, izinkan ibu membalas kebaikanmu. Kamu benar-benar anak yang sholehah, orang tuamu pasti membanggakanmu.” Ibu Widya kali ini malah memelukku.

    “Saya tidak ada permintaan apa-apa Bu, saya sudah bersyukur dengan hidup saya yang seperti ini.” Jawabku masih dengan menundukkan kepala.

    “Hmmm apa kamu tidak ingin sekolah Nak? Pendidikan sangat penting bagi kehidupan kita, kalau kamu bersedia, Ibu akan memanggil guru privat untuk kamu.” Ibu Widya menawarkan bantuannya.

    “Saya dari dulu ingin sekolah Bu, tapi ada keinginan saya yang lebih utama Bu.” Jawabku malu-malu

    “Apa itu Nak? Katakan saja, Insya Allah ibu akan berusaha membantu.”

    “Sa-saya ingin e-e-e-emak saya berangkat ke tanah suci Bu.” Terangku gugup

    “Subhanallah Nak, kamu benar-benar anak yag sholehah. Baiklah ibu akan mengurus keberangkatan emak kamu ke tanah suci.”

    “Benar Bu? Alhamdulillah, terimakasih Bu, terimakasih Ya Allah.” Aku bersujud mengucap syukur kepada-Nya.

    “Saya pamit pulang dulu Bu, sayatidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada emak.” Aku bergegas hendak meninggalkan rumah

    “Ibu antar Nak! Ibu juga ingin bersilaturahim dengan emak kamu yang sangat luar biasa mendidik kamu seperti ini.”

    Akupun pulang ke gubuk bersama Ibu Widya dan sopirnya. Ini pertama kalinya ada orang yang ingin berkunjung ke gubuk reyotku.

    “Assalamu’alaikum, Emak, Rahma pulang” Aku mengucapkan salam dengan lantang dan semangat.

    “Astagfirullah Emaaaaaak, Emak kenapa? Bangun Mak, bangun. Jangan tingalkan Rahma sendirian Mak.” Aku terkejut melihat keadaan Emak yang terbujur kaku dengan segaris senyum di bibirnya.

    “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Emak sudah meninggal Nak, ikhlaskan kepergiannya!” Ibu Widya memeriksa jangtung emak yang tidak berdetak lagi.

    “Emaaaak, tidak mungkin, emak bangun mak, Ibu Widya hendak mmberangkatkan emak ke tanah suci, bukankah itu keinginan emak sejak dulu. Rahma mohon bangun Mak!” Aku menangis sejadi-jadinya dan menggoya-goyangkan tubuh emak.

    “Sabar Nak, semua ini kehendak Allah. Ayo bangun Nak, sebaiknya kita segera mengurus jenazah emak.” Ibu Widya memelukku. “Pak tolong urus segala prosesi pemakaman emak ya!” Ibu Widya meminta kepada sopirnya

    “Baik Bu.”

    ***

    Emak, terimakasih atas segala kasih sayang dan pengajara yang engkau berikan. Kini aku membuktikan balasan Allah kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur. Aku sekarang tinggal di rmah Ibu Widya, aku dianggap seperti anak kandung beliau. Ibu Widya juga memanggil guru privat sekolah dan guru privat agama untukku. Aku sekarang juga tidak pernah memunguti sampah lagi Mak, pakaianku juga banyak, aku juga punya mukena dan Al Qur’an yang bagus disini. Kebahagiaanku ini tidaklah lengkap tanpa kehadiran Emak, seandainya Emak ada disisiku. Tapi aku yakin, pasti sarang emak bahagia di alam sana.TERIMAKASIH EMAK

    Sumber Gambar: Google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Terima Kasih Emak” Karya Niki Cahyani (FAMili Malang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top