• Info Terkini

    Tuesday, May 21, 2013

    Ulasan Puisi “Lukisan Keabadian” Karya Puji Dandelion (FAMili Banten)

    Setelah mencermati puisi ini, Tim FAM Indonesia mengapresiasi kemahiran penulisnya dalam menyentuh setiap jengkal nurani pembaca melalui jalinan kata-katanya. Penulis sepertinya ingin mengajak pembaca untuk tak sekadar membaca dan menikmati puisi karyanya. Lebih dari itu, melalui aliran bait-baitnya, penulis tampak jelas ingin membangun empati pembaca terhadap penderitaan seseorang yang mengalami kelumpuhan. 

    Setelah pembaca disajikan dengan harapan akan adanya keindahan hari esok pada bait pertama, penulis mulai mengaduk-aduk emosi pembaca mulai dari bait kedua hingga klimaksnya di bait keempat. Hingga akhirnya diluruhkan dalam keharuan di bait terakhir.

    Tim FAM Indonesia menilai ada sebuah pesan moral yang ingin disampaikan penulis melalui puisinya ini. Penderitaan orang lain, apa pun bentuknya, tentu sangat tidak layak jika dijadikan obyek celaan atau hinaan yang tentunya akan membuat penderitaannya makin terasa menyakitkan. Sudah seharusnya manusia membangun sikap tenggang rasa, saling memahami, dan saling membangun harapan.

    Meski menilai puisi ini sudah cukup bagus, namun Tim FAM Indonesia  memberikan sedikit catatan:

    Kata “pasir” pada kalimat “Dia berjalan menyusuri pasir jalanan” akan lebih pas jika diganti dengan kata kerikil. Hal ini mengingat “pasir” menimbulkan kesan lembut sedangkan kerikil menimbulkan kesan tajam dan menyakitkan.

    Penulis sebenarnya bisa lebih mengaduk suasana hati pembaca di bait kedua dengan menyisipkan dua baris setelah baris kedua dengan satu kata yang sama yaitu PEDIH, sehingga menjadi:

    Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
    Pedih terasa pasir-pasir menusuk hati
    PEDIH
    PEDIH
    Teringat semua hal-hal pahit itu
    Orang itu telah menghardiknya

    Selanjutnya, Tim FAM Indonesia mennganjurkan agar penulis terus akif berkarya untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui media tulisan dengan mengambil inspirasi dari bentangan realita yang ada.

    Salam Santun, Salam Karya, Salam Pencerahan.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    LUKISAN KEABADIAN

    Oleh: Puji Dandelion (IDFAM1055M)

    Guratan malam tersirat dalam senja
    Kala mentari tak tampak cahaya
    Akankah rona cahaya dapat terlihat dengan nyata
    Bagai lukisan di angkasa surya
    Terlihat indah pada tiap kelopak mata

    Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
    Pedih terasa pasir-pasir menusuk hati
    Teringat semua hal-hal pahit itu
    Orang itu telah menghardiknya

    “Kau anak tak berguna!”
    “Hanya bisa menyusahkan dan merepotkan!”
    “Kau tak ubah seperti anak kecil yang masih merangkak”
    “Tak berguna dalam kondisimu yang lumpuh dan tak berdaya!”

    Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
    Dia sadar dia bukan berjalan
    Tetapi merangkak dengan tangan
    Hanya tangisan yang dapat dia rasakan
    Oleh hatinya yang sangat tertekan
    Dari kekejaman sang paman yang tak berteman

    Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
    Lelah terasa semakin mendalam
    Kedua tangannya sudah tak sanggup untuk menahan
    Kini hanya bisa diam dan tenggelam dalam angan kehidupan
    Kedua kelopak matanya mulai menutup dengan pelan
    Perlahan dan tenggelam
    Kini dia terlihat tenang
    Dirinya telah dipanggil Sang Tuhan
    Dalam lukisan keabadian

    Kamarku, 21 Agustus 12

    Sumber gambar: google.com

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Lukisan Keabadian” Karya Puji Dandelion (FAMili Banten) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top