Skip to main content

Ulasan Puisi “Lukisan Keabadian” Karya Puji Dandelion (FAMili Banten)

Setelah mencermati puisi ini, Tim FAM Indonesia mengapresiasi kemahiran penulisnya dalam menyentuh setiap jengkal nurani pembaca melalui jalinan kata-katanya. Penulis sepertinya ingin mengajak pembaca untuk tak sekadar membaca dan menikmati puisi karyanya. Lebih dari itu, melalui aliran bait-baitnya, penulis tampak jelas ingin membangun empati pembaca terhadap penderitaan seseorang yang mengalami kelumpuhan. 

Setelah pembaca disajikan dengan harapan akan adanya keindahan hari esok pada bait pertama, penulis mulai mengaduk-aduk emosi pembaca mulai dari bait kedua hingga klimaksnya di bait keempat. Hingga akhirnya diluruhkan dalam keharuan di bait terakhir.

Tim FAM Indonesia menilai ada sebuah pesan moral yang ingin disampaikan penulis melalui puisinya ini. Penderitaan orang lain, apa pun bentuknya, tentu sangat tidak layak jika dijadikan obyek celaan atau hinaan yang tentunya akan membuat penderitaannya makin terasa menyakitkan. Sudah seharusnya manusia membangun sikap tenggang rasa, saling memahami, dan saling membangun harapan.

Meski menilai puisi ini sudah cukup bagus, namun Tim FAM Indonesia  memberikan sedikit catatan:

Kata “pasir” pada kalimat “Dia berjalan menyusuri pasir jalanan” akan lebih pas jika diganti dengan kata kerikil. Hal ini mengingat “pasir” menimbulkan kesan lembut sedangkan kerikil menimbulkan kesan tajam dan menyakitkan.

Penulis sebenarnya bisa lebih mengaduk suasana hati pembaca di bait kedua dengan menyisipkan dua baris setelah baris kedua dengan satu kata yang sama yaitu PEDIH, sehingga menjadi:

Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
Pedih terasa pasir-pasir menusuk hati
PEDIH
PEDIH
Teringat semua hal-hal pahit itu
Orang itu telah menghardiknya

Selanjutnya, Tim FAM Indonesia mennganjurkan agar penulis terus akif berkarya untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui media tulisan dengan mengambil inspirasi dari bentangan realita yang ada.

Salam Santun, Salam Karya, Salam Pencerahan.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

LUKISAN KEABADIAN

Oleh: Puji Dandelion (IDFAM1055M)

Guratan malam tersirat dalam senja
Kala mentari tak tampak cahaya
Akankah rona cahaya dapat terlihat dengan nyata
Bagai lukisan di angkasa surya
Terlihat indah pada tiap kelopak mata

Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
Pedih terasa pasir-pasir menusuk hati
Teringat semua hal-hal pahit itu
Orang itu telah menghardiknya

“Kau anak tak berguna!”
“Hanya bisa menyusahkan dan merepotkan!”
“Kau tak ubah seperti anak kecil yang masih merangkak”
“Tak berguna dalam kondisimu yang lumpuh dan tak berdaya!”

Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
Dia sadar dia bukan berjalan
Tetapi merangkak dengan tangan
Hanya tangisan yang dapat dia rasakan
Oleh hatinya yang sangat tertekan
Dari kekejaman sang paman yang tak berteman

Dia berjalan menyusuri pasir jalanan
Lelah terasa semakin mendalam
Kedua tangannya sudah tak sanggup untuk menahan
Kini hanya bisa diam dan tenggelam dalam angan kehidupan
Kedua kelopak matanya mulai menutup dengan pelan
Perlahan dan tenggelam
Kini dia terlihat tenang
Dirinya telah dipanggil Sang Tuhan
Dalam lukisan keabadian

Kamarku, 21 Agustus 12

Sumber gambar: google.com

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…