• Info Terkini

    Friday, May 24, 2013

    Ulasan Puisi “Sekerat Lilin” Karya Dwi Ciplux (FAMili Surabaya)

    Tim FAM Indonesia mengapresiasi puisi ini sebagai puisi yang memiliki kedalaman makna sehingga diperlukan analisa yang mendalam juga untuk bisa melakukan penafsiran. Puisi ini merupakan puisi kontemplatif dan filosofis. Melalui puisi ini, penulis mengajak pembacanya untuk merenung. Dengan analogi lilin, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa tak ada yang abadi dalam kehidupan dunia ini. Semuanya serba fana. Sebagaimana halnya kehidupan, kematian juga adalah suatu kepastian. Akan ada masanya keindahan akan luntur dan memudar, kekuatan akan melemah, dan kehidupan akan berakhir.

    Dari sisi penulisan dan pemilihan kata, Tim FAM Indonesia mengapresiasi kekayaan bahasa dari penulisnya. Ada kosakata yang tentunya masih asing untuk pembaca yaitu “kodanda”. Tetapi, karena kata ini (sepertinya) bukan diambil dari bahasa Indonesia, maka seharusnya dicetak miring dan di bawah puisi diberi keterangan arti dari kata tersebut. Kesalahan penulisan juga terjadi di beberapa bagian, antara lain:

    Bait kedua baris kedua ada kata “teruai”. Mungkin yang dimaksud penulis adalah “terbuai” atau “terurai”.

    Bait kedua baris terakhir ada kata “kegeersangan”, seharusnya “kegersangan”.

    Bait ketiga baris keempat, kata “menjdi” seharus “menjadi”.

    Bait ketiga baris kelima, kata “kubaw” seharusnya “kubawa”.

    Selanjutnya, Tim FAM mendukung sepenuhnya agar penulis terus akif berkarya untuk menyampaikan pesan-pesan moral kehidupan melalui media tulisan.

    Salam Santun, Salam Karya, Salam Pencerahan.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sekerat Lilin

    Dwi Ciplux

    Hanya akan bertahan
    Menatap senja yang sepi berpadu
    Membungkus gurat dalam kelopak wangi nan indah
    Hingga mekar berpadu dengan bunga yang lain
    Dan kan hilang warna indah
     Saat basah terguyur hujan
    Tersisa goret yang tak pudar

    Demikian lapuk akarku untuk menancap
    Teruai keharusan merindu kepada sang bayu
    Siap membawa roboh
    Terhempas hancur oleh kodanda
    Menjadi serpih kegeersangan sang teman

    Buruk hancur mati remuk
    Terseret dalam gigitan yang terserpih
    Mati sekarat dengan sekerat pilu
    Menjdi melodi indah sesaat
    Terbungkam diam dan kubaw mati
    Hingga tak ada pilu bernyanyi untuk esok hari

    Surabaya
    September 2012

    [www.famindonesia.com]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Sekerat Lilin” Karya Dwi Ciplux (FAMili Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top