• Info Terkini

    Saturday, June 1, 2013

    Kebuntuan Ide “Momok” Mayoritas Dihadapi Penulis Pemula

    Padang (2/6) – Kebuntuan ide dan sulitnya mengembangkan tulisan adalah keluhan mayoritas yang dihadapi penulis pemula. Hal itu menjadi “momok” yang menakutkan. Banyak tulisan yang telah ditulis tetapi mentok di tengah jalan, akhirnya tak pernah selesai ditulis.

    Demikian salah satu fokus diskusi dalam Workshop Menulis yang diadakan FKI Tazkiyah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu Alquran (STAI-PIQ) Sumatera Barat, Sabtu (1/6) di aula STAI-PIQ yang menghadirkan pembicara Muhammad Subhan (Penulis dan Ketum Forum Aktif Menulis Indonesia) dan Alizar Tanjung (Penyair dan Direktur Komunitas Rumah Kayu Padang). Workshop yang mengangkat tema “The Power of Writing” ini diikuti 70an peserta dari berbagai perguruan tinggi di Kota Padang.

    Menjawab keluhan beberapa peserta itu, Muhammad Subhan mengatakan, kebutuntuan ide menulis bisa disebabkan beberapa faktor, di antaranya jenuh, kurang membaca, dan enggan melakukan riset. Kejenuhan lumrah dihadapi banyak orang, maka yang dibutuhkan adalah beristirahat sejenak dan melakukan aktivitas yang dapat menyegarkan pikiran, salah satunya berwisata.

    “Begitu pun, penulis yang kurang membaca buku, dia akan kehabisan amunisi kata-kata. Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Muhammad Subhan.

    Walaupun menulis fiksi (puisi, cerpen, novel), papar Muhammad Subhan, penting sekali dilakukan riset. Riset adalah upaya untuk memperdalam fokus tulisan dan memperkuat data-data pendukung bila diperlukan.

    “Sederhananya begini, orang yang tinggal di gunung tidak pernah ke laut, maka dia akan sulit menuliskan keindahan laut dengan suara ombaknya yang berdebur. Begitu pun, orang yang tinggal di laut tidak pernah ke gunung, ia akan sulit menulis keindahan alam di gunung dengan sawah yang terbentang di kakinya, dengan belantara dan satwanya. Jadi, riset ini sangat penting,” jelasnya.

    Senada dengan Muhammad Subhan, menurut Alizar Tanjung ide menulis bisa didapat di mana saja; di  rumah, di pasar, di sekolah/kampus, di lingkungan masyarakat, bahkan pada diri sendiri. Ide berkelebat setiap saat, di mana saja dan kapan saja.

    “Seorang penulis harus menghidupkan kepekaan rasa dan jiwanya sehingga dapat menangkap peluang-peluang ide setiap saat yang dia lihat, dengar, dan merasakan. Melihat tukang ojek atau orang ngerumpi pun, bagi penulis bisa mendatangkan ide,” katanya.

    Kepada peserta Alizar yang mengajukan pertanyaan, sebelum menjadi penulis, harus bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu, apakah benar-benar sudah bertekad menjadi penulis dan tidak sekadar main-main. Penulis sukses harus fokus menulis walau dia bekerja di lapangan pekerjaan apa pun.

    “Fokus dan serius inilah yang membawa seorang penulis pada puncak kesuksesannya,” kata Alizar Tanjung.

    Sementara itu, Rival, Panitia Pelaksana acara mengatakan, dari workshop ini diharapkan akan lahir penulis-penulis muda yang tangguh dan produktif berkarya. Direncanakan pula, atas permintaan beberapa peserta, kegiatan itu akan berlanjut pada pembentukan komunitas menulis yang rutin berkegiatan dan latihan menulis. (RED)

    Keterangan foto:
    KENANG-KENANGAN – Salah seorang narasumber, Muhammad Subhan menerima kenang-kenangan dari panitia dalam dalam Workshop Menulis yang diadakan FKI Tazkiyah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu Alquran (STAI-PIQ) Sumatera Barat, Sabtu (1/6) di aula STAI-PIQ. Workshop yang mengangkat tema “The Power of Writing” ini diikuti 70an peserta dari berbagai perguruan tinggi di Kota Padang. (Foto: Ist.)



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kebuntuan Ide “Momok” Mayoritas Dihadapi Penulis Pemula Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top