• Info Terkini

    Sunday, June 23, 2013

    Sastra versus Pop

    Setiap penulis cerpen atau novel (fiksi) yang bernapas panjang, setelah berhasil mentas dari masalah teknik, pastilah mulai berpikir tentang kesastraannya. Ya, pada level tertentu, hal ini kerap menjadikan penulis jadi gamang pada dirinya sendiri, takut untuk menulis lagi, lebih banyak merenung, berpikir, dengan fokus hanya pada: “Karyaku sastra atau pop ya?”

    Saat pertama kali berkenalan dengan dunia kreatif menulis fiksi, Agustus 1995, saya mendengar wacana ini: sastra versus pop. Kian intens saya menulis fiksi, kian rapat saya bergaul dengan komunitas-komunitas seni-sastra, kian deraslah pertarungan dua kutub itu di kepala saya. Bahkan, di sela keduanya, saya juga mengenal istilah yang terasa cukup genit, yakni “pop yang nyastra atau sastra yang ngepop”.

    Tentu saja, sudah khittah-nya, menjadi penulis cerpen atau novel seharusnya berkarya dengan kreatif. Kreatif dalam artian bahwa dari waktu ke waktu, karya-karyanya kian menanjak mutunya. Tidak mengulang. Tidak template. Tidak berhenti sebagai “mesin cerita”. Ya, mesin, lantaran kemampuan teknik yang sudah sangat oke, tapi minim kekuatan ide dan kontemplasi, terjebalklah ia jadi mesin yang selalu mampu berproduksi dengan level mutu yang sama.

    Agar tidak terjebak jadi mesin cerita, strateginya hanya begini: memilih ide yang unik dan olah data yang dalam-detail agar menghasilkan karya yang unik. Ya, unik! Saya kira kreativitas selalu menuntut keunikan. Unik tidak harus selalu fresh, sebab sungguh betapa sangat rumitnya untuk menghadirkan kebaruan itu sendiri. Jika ada yang berhasil melesatkan kebaruan, jelas itu capaian yang luar biasa. Namun tentu juga kurang bijak jika semata demi melahirkan kebaruan lantas menyebabkan kita tidak kunjung berkarya. Karenanya, keunikan saya kira menjadi istilah yang adil untuk dipegang.

    Isu dikotomi sastra dan pop ini terus terwariskan hingga generasi hari ini. Setidaknya, dari pengalaman minimal saya dalam mengampu program menulis di DIVA Press Group, berupa LelangMenulisFiksi, JustWrite, dan KampusFiksi, ketajaman konflik tersebut tetap sangat kuat terasa.

    ***

    Malam tanggal 5 Mei 2013, saya stalk tweeter AS Laksana. Saya termasuk salah satu fansnya memang dalam hal kegigihannya bersastra. Saya menemukan 3 hal yang mengguncang kepala:

    Pertama, seseorang bertanya kepada AS Laksana, “Lalu novel sastra yang baik itu yang bagaimana?” Beliau menjawab, “Yang meraih nobel sastra.” Jawaban ini mencerminkan level idealisme beliau yang sangat luar biasa. Burung-burung Manyar YB Mangunwijaya, Orang-orang Bloomington Budi Darma, Khutbah di atas Bukit Kuntowijoyo, Saman Ayu Utami, Dzikir-dzikir Cinta Habiburrahman el-Shirazy, hingga tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata, jika menggunakan barometer tersebut, menjadi bukanlah novel sastra yang baik. Maaf, jika kesimpulan ini sangat deduktif. 

    Kedua, di tweet lainnya AS Laksana mengabarkan bahwa cerpen yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas tahun ini (saya lupa judulnya) adalah cerpen yang morat-marit.

    Ketiga, ada sebuah link yang diposting AS Laksana (http://t.co/516Lz4l1ja), tulisan beliau, berisi kritik barometer sastra yang menjadikan cerpen koran sebagai ukuran kesastraan sebuah cerpen sastra. Dengan mengutip standar pemuatan cerpen di Kompas, beliau mengkritisi unsur aktualitas sebagai masalah pokok barometer sastra tersebut. Dalam bahasa beliau, kira-kira begini: “Cerpen koran di Kompas, misal, yang sering dijadikan barometer kesastraan sebuah karya bermasalah lantaran tuntutan faktor aktualitasnya yang menjadikan cerpen sejajar dengan berita…”

    Tulisan saya ini tidak dimaksudkan untuk mengkritik AS Laksana. Tidak. Saya hanya menyodorkan “pengalaman minimal saya”, baik selama menulis sendiri untuk koran, blog, untuk diterbitkan di buku, menyeleksi 400-an novel yang masuk ke meja saya di DIVA Press Group setiap bulan, maupun mendampingi anak-anak muda menulis fiksi.

    Mari saya sajikan dengan cara begini:

    Beberapa peserta KampusFiksi dan JustWrite protes, kenapa diminta membuat cerpen romantik-inspiratif sebagai salah satu syaratnya? Ada yang cukup menohok dengan berkirim email: “Jangan-jangan DIVA Press ini punya maksud mengarahkan tema tertentu kepada penulis? Omaigat, plis jangan begitu, biarkan penulis bebas memilih…”

    Saya langsung mojok. What’s wrong with romantic, Guys? Mengapa romantik begitu mudah sering di-judge sebagai “tema pop”? Tema kelas dua? Tema tidak idealis? Tema tidak sastra?

    Romantisme: sebuah aliran filsafat yang berasal dari istilah “romans”, yang dalam dunia literasi dinisbatkan sebagai narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan, yang kemudian dipengaruhi dengan sangat kuat oleh gerakan Revolusi Industri dan Revolusi Prancis. Sastra Romantik. Begitu ia disebut. Ia yang merupakan gerakan penguatan emosi-emosi manusia terhadap alam dan lingkungan dan sesama, mengerdil di kepala kita menjadi hanya “cinta fisik, cinta remaja, dan cinta yang Platonik”. Reduksi epistemologi romantisme ini benar-benar menguasai opini mayoritas penulis kita, sehingga mereka menganggap dengan tanpa ampun bahwa romantisme adalah tema cinta yang “kelas dua, ngepop, bukan sastra”. Mereka sontak alergi padanya bak berjumpa dengan pengidap lepra yang juga manusia berperasaan layaknya kita.

    Saya telah berusaha menetralisir pemahaman general reduksionis itu dengan menambahkan kata “inspiratif”. Bahkan, di tagline deTeens (salah satu lini novel remaja DIVA Press Group), saya mempertegas: “Segala kisah tentang kamu yang tidak cinta melulu.” Tetapi, ternyata itu tidak cukup efektif mencapai tujuan yang saya maksudkan di hadapan sebagian penulis muda.

    Saya membuka catatan-catatan lama saya dan kawan-kawan seangkatan dulu saat berdebat tentang “sastra vs pop”. Ternyata mainstream-nya tetaplah sama. Saya sepakat dengan AS Laksana, bahwa menjadikan cerpen koran sebagai barometer kesastraan jelas tidaklah sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, menjadikan Horison dulu pun yang notabene berstempel sastra sebagai barometernya juga tidaklah lantas mudah dipertanggungjawabkan kesahihannya.

    Saya sendiri yang sangat sering menulis cerpen di koran-koran, termasuk Kompas dan Horison, juga tidak kunjung mendapatkan “pembeda tegas” antarkeduanya. Apa bedanya cerpen yang dimuat di koran dan blog dan buku? Estetika macam apa yang membedakan? Bahasa jenis apa? Bahasa hariankah? Atau bahasa metaforis macam puisi-puisi gelap Afrizal Malna dan novel yang cukup sulit dipahami awam macam Saman Ayu Utami?

    Entahlah, dari dulu sampai kini pun, tak pernah saya menemukan sebuah teori apa pun yang tegas membuat peta epistemologis tentang itu. Gaya tulis saya yang menggunakan bahasa harian, misal komparasi saja, relatif berbeda dengan gaya bahasa Agus Noor, tetapi saya dan Agus Noor telah sama-sama mempublikasikan karya di koran dan Horison, di media yang sama. Saya dan Agus Noor juga cukup sering menerbitkan karya di sebuah buku antologi yang sama, yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga yang dipercaya sebagai pemangku kesusestraan Indonesia.

    Pasti ada yang bermasalah dalam memandang epistemologi romantisme itu. Ya, pasti itu biang keladinya. Saya kira tidaklah fair untuk terus mereduksi romantisme hanya pada ide cinta yang fisik. Bahwa cinta yang begituan merupakan serpihan dari romantisme, saya setuju. Tetapi bahwa romantisme adalah itu, saya tidak sependapat.

    Sangat banyak bahkan novel-novel yang diterbitkan DIVA Press Group yang meraih berbagai penghargaan yang “dipercaya” digawangi tokoh-tokoh sastra kita. Dari Sang Nyai, Semar Mesem, hingga Senja di Alexandria dan Kitab Cinta Yusuf dan Zulaikha. Juga tidak sedikit novel-novel yang diapresiasi oleh mahasiswa-mahasiswa sastra dari berbagai perguruan tinggi nusantara sebagai obyek studi skripsinya.

    Ini baru pengalaman di penerbit saya, belum lagi penerbit-penerbit mayor lainnya. Jadi, andai kita tidak terjebak pada reduksi romantisme sebagai “cinta fisik yang parsial”, saya yakin kita tidak akan antipati terhadap istilah romantisme tersebut.

    Saya (tanggal 4 Mei 2013) sharing ide pada seorang penulis koran yang setahu saya sudah sangat piawai tekniknya, Mauidi D. Dimas, tentang ucapan Raja Priam kepada Akhiles dalam film Troy. “Aku kenal ayahmu, Akhiles, dan ayahmu sangat beruntung tidak menyaksikan kematian putranya, tidak seperti aku yang menyaksikan kematian putraku Hektor…”

    Saya ingin Mauidi D. Dimas menovelkan ide tersebut: tentang (misal) betapa dahsyatnya nyeri hati seorang ayah yang menyaksikan hari-hari jelang kematian anak yang amat dicintainya akibat serangan penyakit yang entah kenapa menimpa anaknya, Leukimia.

    Ya, ide ini bagian dari serpihan romantisme, meski bukan cinta-cintaan melulu, bukan? Ide tersebut jika ditulis dengan level teknik terbaik Mauidi D. Dimas, tanpa perlu menggunakan bahasa yang gelap, yang ironisnya (menurut saya) sering dianggap sebagai barometer mutu kesastraan, cukup dengan bahasa-bahasa harian, yang ngepop sekalipun, yang di dalamnya ada kata-kata yang sangat dialergi oleh orang-orang idealis macam “nggak, emang kenapa, masalah buat lo…”, niscaya akan menjadi sebuah novel yang mengguncang jiwa pembacanya.

    Novel yang ditulis tidak dengan bahasa gelap, yang di dalamnya ada serakan bahasa harian yang diklaim ngepop, karenanya ia di-judge sebagai novel pop, tuna sastra, jika berhasil mengguncang jiwa pembacanya, buat saya sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai novel sastra!

    Jika kita mau lugu-luguan bahwa sastra adalah “karya olah rasa” (dari bahasa, ide, tema, aliran kisah, dll), maka mari ajukan pertanyaan mendasar: “Apakah Anda akan memilih membaca sebuah novel yang terang dengan ide dan aliran kisah yang menginspirasi mengguncang jiwa ataukah novel yang sulit dicerna karena kegelapan bahasanya dengan ide yang sama dan aliran kisah yang rumit?

    Menganggap barometer sastra adalah berbahasa gelap, pekat, hanya bisa dipahami kalangan tertentu, saya kira sama persis dengan menganggap gadis berjubah lebar lebih mulia dari gadis bercelana pendek di keramaian sebuah mall! Tidak ada keadilan apa pun di sana, karena hanya dilandaskan pada satu item (baju) yang itu sangat simplistik, slapstik, alias abu-abu. Bukankah sangat banyak si baju alim yang begitu doyan berkelana seksual? (abaikan ini).

    Begitulah, Kawan...

    Saya kira, terus-menerus membiarkan diri tenggelam dalam banjir dikotomi sastra vs pop hanya akan menguras energi yang tidak berujung, bak memperdebatkan hak milik pada seekor burung yang terbang di angkasa, kemudian burung itu menghilang begitu saja di balik cakrawala yang mulai dipeluk senja.

    Saya lebih bersetuju dengan pandangan bahwa mau menulis cerpen atau novel apa pun, hal pokok yang harus dipegang oleh semua penulis ialah mempertegas segmennya: mau segmen remaja ya tentu harus meremaja atau mau segmen dewasa ya tentu harus mendewasa. Soal di dalam novel bersegmen remaja atau dewasa itu ada kreasi teknik menulis tertentu, mengusung tema cinta atau bukan, penggunaan cita rasa bahasa tertentu, jelas itu adalah bagian dari kreativitas pengarang. Maka tidak perlu heran bila di dalam novel bersegmen remaja atau dewasa, pembaca bisa saja menemukan chemistry of soul yang sama kuatnya, sebagaimana bisa saja pembaca menemukan kegaringan of soul di dalam kedua segmen itu pula.

    Karenanya, sebuah karya bernilai sastra, dalam arti sebagai tulisan yang memiliki kekuatan olah rasa, jika mampu menghadirkan chemistry of soul dalam jiwa pembacanya, tanpa perlu mengaitkan dengan terbit di Kompas atau Horison, DIVA Press atau Gagas Media, atau pun memakai gaya bahasa, jenis ide, pilihan tema, alur apa, setting mana, dan sebagainya. Bukankah semua item pembangun sebuah karya itu merupakan “alat-alat” yang dicapai proses kreatif masing-masing penulis untuk menghasilkan sebuah rumah yang mempesona hati orang-orang yang memandangnya?

    Stempel dikotomis sastra dan pop terhadap sebuah karya sungguh telah sangat usang. Seusang kenakalan memperkosa epistemologi romantisme tanpa rasa iba…

    ~ EDI AKHILES

    Sumber tulisan: http://ediakhiles.blogspot.com

    Sumber gambar: google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sastra versus Pop Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top