• Info Terkini

    Saturday, June 15, 2013

    Ulasan Cerpen “Astaka Keinginan” Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau)

    Cerpen “Astaka Keinginan” ini bercerita tentang keinginan yang kuat tokoh “aku”, untuk mencapai suatu impiannya. Impian yang tak pernah bisa dipahami orang-orang sekitar dan lingkungan. Orang-orang yang memandangnya sebelah mata, menganggapnya aneh dan disepelekan. Tapi, “aku” tak pernah putus asa dan sangat meyakini segenap langkah yang diayunnya akan membuahkan hasil. Langkah yang dibiarkannya normal saja, bergerak secara alami dan naluriah karena cepat atau lambat akan mencapai tujuannya.

    Guy Le Fleur mampu menuliskan keinginan dan suasana hati tokoh cerita dengan apik dan baik. Suasana hati yang tergambar dengan jelas, sehingga pembaca ikut hanyut pada sebuah langkah perjuangan. Tokoh cerita (aku) yang sendirian, berjalan berjuang tak berteman. Tapi, tulisan ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori cerpen. Tulisan ini sebuah curhatan (curahan hati) atas keinginan tokoh untuk mencapai tujuan. Tidak ada tokoh lain dalam cerita, dialog maupun konflik.

    Baiklah, Guy Le Fleur, teruslah menulis dan menghadirkan ide-ide cerita yang baru. Pemilihan kalimat yang cukup baik, bahasa yang apik alangkah indah bila dibaur dalam sebuah cerita. Jangan lupa untuk terus mengirim tulisan ke media, ya? Tetap semangat!

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT TULISAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ASTAKA KEINGINAN

    Oleh: Guy Le Fleur  

    Ketika aku melampaui kekuatan, maka fisik menandaskan kelemahannya. Setiap langkah mempersempit jarak. Membikin  tujuan jadi samar. Angan-angan melukis hayalan jadi tak bermakna. Sehingga, ada sesuatu yang hilang  dalam keseharianku.

    Ketika  aku hanya mampu mendiskusikan beberapa hal. Tak ada waktu bagiku lagi mengatakan  semuanya. Meski pada orang lain. Walau sekilas, mereka tak bisa menangkap makna. Apalagi  menarik sebuah kesimpulan. Kelihatannya,  aku  seperti  arogan menafsirkan  ini. Tapi kenyataannya memang seperti itulah. Aku merasa seolah-olah telah mati  lebih awal  akibat  dangkalnya  kesimpulan  mereka memutuskan makna hidup. Sesungguhnya, keyakinan  akulah  yang membuat semua itu masih bertahan.  

    Apa yang kucari, serta apa yang kumiliki kini sangat dominan mengambarkan kekuatanku tentang sebuah idealisme. Sebuah bentuk keyakinan diri yang membedakan aku   dengan orang-orang sekitar.  Space dunia yang luas memaksakan diriku untuk melakukan hal-hal aneh. Sebatas ia masih masuk akal. Tidak melampaui absurditas yang ada. Agar aku bisa  menciptakan sebuah dunia baru. Dunia yang penuh keajaiaban buat diriku. Niat itu sebenarnya tak pernah aku rasakan  putus  oleh  waktu. Meskipun arah pencapaian menuju ke sana belum memberi hasil. Hingga kini, aku hanya bisa mempertahankan sebuah semangat. Berjuang dengan caraku sendiri. Agar tujuanku tidak hilang ke arah yang salah. 

    Malam memang semakin larut. Kegelapan di luar menyerang batin yang sepi. Suara katak mengancam hari. Memanggil hujan agar segera cepat datang. Aku masih lelap menahan nafas, menjaga mata dari rasa kantuk. Mengukir kata-kata pada tuts-tuts laptop. Untuk melahirkan kehidupan baru lewat rangkaian kalimat-kalimat surealis yang padat. Bunyi yang lahir dari ketukan jari-jemariku  pada  keyboard, terkadang menjeritkan berbagai ilham yang ingin keluar dan tak bisa ditahan-tahan. Terkadang, ada juga yang  terlahir liar  di sana. Menampakkan keganjilan dalam alam pikiran bawah sadarku. Dengan itu, aku jadi gamblang melahirkan perasaan. Padahal, sebenarnya tidak seperti  itu. Menyuarakan  perasaan pada  kalimat sederhana, sambil memilah kata-kata baru ternyata tak mudah. Tidak ada yang bisa dianggap enteng dalam dunia aksara hari ini. Karena wacana tulisan membutuhkan kemutlakan  pikiran.  Logis maupun tidak. Jadi sebenarnya, tak banyak  kesempatan buat mereka yang sekedar main-main.  Tapi, aku tak mau tahu.  Karena  bagiku, orang lain pun tak akan pernah peduli.  Kata-kata bagi mereka hanyalah wacana lisan, yang mesti digarap dalam obrolan  dan debat kusir  di depan tangga rumah. Yang  jelas, aku ingin mengapai sesuatu. Sesuatu yang membuat diriku berbeda. Hal ini sebagai indikasi bahwa faktanya, aku memang sedang mencari  keinginan itu. Angan-angan yang melampaui batas cita-citaku yang telah lama sekali aku tinggalkan.  

    Setiap keinginan atau apa pun namanya seyogyanya punya cara atau jalannya sendiri. Keinginan mengambarkan sebuah kehidupan. Tanpa keinginan, sebuah kehidupan seolah-olah telah mati. Tiada manuver atau kegelisahan yang diarahkan membuat keinginan menjadi gersang dan retak. Kehidupan menjadi tidah sempurna. Aku menyakini hal itu sebatas kemampuanku menafsirkan makna hidupku sendiri. Dunia yang lahir dari rusuk keindahannya sendiri, mampu memberikan sebuah renungan terhadap keinginanku itu. Bayangan dari sebuah cita-cita. Dunia yang terbentang oleh berbagai perubahan, membuat diriku takut jikalau nanti seluruh keinginanku itu tercemar oleh nilai-nilai keserakahan.     Kalau hal demikan terjadi, maka aku tak sanggup melakukannya sendiri.

    Terkadang aku jadi larut dalam waktu. Sebuah kekuasaan yang tak sempurna. Mampu membuat keyakinan menjadi ragu. Melangkahi keinginan untuk  berputar sejauh mungkin. Sehingga, menciptakan  kesepakatan  mencari  jalan keluarnya sendiri-sendiri. Meski waktu selalu bisa  mengukir  banyak  kebosanan, tapi kekuasaanya mampu  mengalihkan seluruh perhatian  pada  hal-hal kecil. Merangkainya menjadi sebuah kesimpulan  akan sesuatu.   Keinginan untuk lari dari lingkaran waktu itu, bahkan membuat kehidupan menjadi lebih buruk. Keinginan terasa hambar olehnya.

    Untung! waktu selalu memanjakanku. Membiarkan diriku untuk menilainya. Serta menganalisanya demi sebuah pencapaian yang abadi. Bayangan masa lalu yang sifatnya negatif,  aku yakini  hasil dari berbagai aplikasi waktu  yang salah. Kerugian yang tak layak untuk diulang kembali pada masa akan datang.

    Perjalanan panjang kini telah aku jalani. Mungkin tanpa bekal aku melakukannya. Tanpa aku sadari, semuanya menjadi tetap tak berubah.  Aku  seperti  umurku  yang  kemaren. Saat indah menerpa keremajaanku. Ketika rasa cinta datang mengebu dalam ombak  kegalauan  masa  sekolah.  Walau tak salah, ianya memberi kesan bahwa beginilah caraku menilai arti hidupku sebenarnya.itu  Karena aku yakin, aku memang seperti itu. Mereka yang sebagian besar telah  pun  hanyut  dalam lautan usia. Telah jauh menganggap aku sebagai orang aneh. Seseorang  yang  berbeda  dari  kepribadian mereka. Terkadang  mereka  pun tak segan-segan  menganggap aku umpama   seorang bayi yang baru lahir. Polos dan enerjik.  Setia merangkum  alam  dalam kemampuan dan tenaga yang masih bersih.

    Untuk masa kini, sulit bagiku untuk menuai keinginanku itu secepat mungkin. Ada-ada saja penghalangnya.  Ini sebuah kesulitan tersendiri. Umur yang setia melekat pada diriku  setidaknya secara tak langsung  menghambat pergerakkan untuk mengapai keinginanku  itu. Menurutku  sesuatu yang lumrah.   Tapi aku yakin, keinginan yang  tulus dapat membongkar semua penghalang itu. Tak ada hal yang tak bisa dilakukan, jikalau kita mau berusaha.   Motto ini tampak mudah, meski kenyataannya sulit untuk membuktikan keabsahan maknanya secara terperinci.  Harus ada kekuatan penuh untuk memecahkannya. Sekalipun hal ini belum juga menjamin akan berhasil. 

    Hujan sering memberikan simponi. Tanda kehidupan. Rintiknya yang jatuh, menimbulkan  kedamaian  hati. Melunakkan kemarahan jadi sebuah ketenangan. Hujan dapat membuat keinginan terpaku. Memberi nuansa bagi lahirnya ide-ide baru. Fresh dalam ingatan untuk  menyusuri  sudut  keinginanku  jadi  satu.  Aku  menghargai  peristiwa  ini. Kejadian  alam  yang  sempurna.  Menumpas  segala kelemahan yang aku milikki. Menyerang kesombongan diri manusia. Hujan adalah anugerah, tanda kebesaran Ilahi. 

    Minggu-minggu  terakhir ini, aku memang fokus pada coretan-coretan perasaanku. Lewat media dan simbol-simbol aku melakukannya. Tiada paksaan maupun keinginan yang berlebih. Tiada juga harapan  euforia. Semua berjalan secara alamiah. Secara jujur aku katakan, ini adalah  pelajaran  bagiku untuk mengapresiasikan keinginan itu secepat mungkin. Agar aku bisa mengukur kemampuanku itu. Aku mengharapkan, narasi-narasi  yang  aku  ciptakan  dapat melahirkan sebuah keajaiban baru. Keajaiban dalam kacamta sebuah keinginanku  itu.  Aku yakin, orang lain tak akan pernah mampu menyelami keinginanku. Sejauh  mereka  masih  bersandar  pada  penilaian mereka secara subjektif itu.   

    Aku tahu, mereka  hanya  bisa  melihat  keberhasilan  di atas permukaan saja.  Sedang, kedalaman  isi  tidak menjadi perhatian mereka secara serius. Buat mereka, keinginanku  mungkin  hanyalah  hayalan.  Angan-angan  yang  sulit  diraih.  Bagi mereka, aku  merasa telah  dianggap sebagai seekor katak yang berlindung di bawah tempurung, terlalu menginginkan sesuatu. Tapi! untuk beratus kali kukatakan, aku tak ambil peduli.   Biarlah  mereka  menilai  dengan   cara  mereka, sementara aku bekerja dengan caraku sendiri.  Dengan sebuah prinsip, aku temukan cara untuk menggapai  keinginanku  itu menjadi nyata.  Pedoman  yang mampu   mengukur kemampuanku. Yang  jelas, untuk saat ini  aku  harus  melakukan  hal-hal  termudah  bagi keinginanku itu.  Karena buat masa ini, “aku belum sanggup  untuk  beradu kekuatan  dengan gumpulan  ombak di tengah badai topan yang melanda hari-hariku ke depan......!”. 

    Bengkalis,23 April 2013
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Astaka Keinginan” Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top