• Info Terkini

    Rabu, 12 Juni 2013

    Ulasan Cerpen “Nenekku Pahlawanku” Karya Iwan Setiawan (FAMili Padang)

    Cerpen “Nenekku Pahlawanku” ini menceritakan tentang kesan ‘aku’ pada sang nenek. Nenek yang biasa dipanggil Amak telah berjasa menanamkan nilai-nilai moral yang begitu mendalam dalam jiwanya hingga berbekas hingga ia dewasa.

    Banyak orang yang melupakan sosok seorang nenek yang sebenarnya cukup berjasa. Neneklah yang telah mendidik ibu kita dan membantu mengasuh kita ketika bayi. Karena, biasanya seorang ibu muda sangat membutuhkan sosok ibunya (nenek kita) untuk membimbingnya mengasuh dan mendidik anaknya. Sehingga, sudah selayaknya seorang anak memerhatikan ibu dan juga neneknya.

    Hal inilah yang ingin diangkat penulis dalam cerpennya “Nenekku Pahlawanku”. Sosok ibu sudah biasa diangkat dalam sebuah cerpen, tapi banyak orang yang melupakan sosok seorang nenek. Tapi sebenarnya penulis belum menulis sebuah cerita yang utuh. Alangkah lebih baiknya penulis menceritakan kesan yang lebih dalam tentang nenek, berikut konflik yang ada di dalamnya. Dipermanis pula dengan sosok ibu, kenakalan masa kecil, nenek yang membimbing (ide sepenuhnya ada pada penulis), sehingga memenuhi kaidah sebuah cerpen (tulisan ini hanya berjumlah dua halaman).

    Dalam penulisan juga masih ditemukan kesalahan penulisan yang sesuai kaidah EYD. Kata “Saya”, “Kami”, seharusnya ditulis tidak menggunakan huruf kapital (saya, kami). Begitu pula ibu atau nenek, gunakan huruf kapital pada kata sapaan langsung. Selain itu di akhir kalimat “Engkau” ditulis menggunakan huruf kapital. Seharusnya tidak menggunakan huruf kapital, karena “Engkau” itu sebagai kata ganti Tuhan.

    Teruslah menulis, tetap semangat ya? Sering menulis sama dengan mengasah pena agar semakin tajam.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Nenekku, Pahlawanku

    Karya: Iwan Setiawan (Famili Padang)

    Sosok tubuh tua itu terbaring lemah. Lemah dengan ketuaannya. Kulitnya yang tampak keriput, pucat dan hampir tak terlihat daging di tubuh renta tersebut. Ia tak mampu berdiri, bahkan beranjak duduk pun tak sanggup ia lakukan. Hanya sedikit gerakan yang terbatas dan sesekali satu dua patah kata yang mampu ia ucapkan.

    Enek.. Enek “ Ucapnya pelan.

    Enek (Piak Enek) adalah panggilan almarhumah Ibunda dari Anduang. Panggilan Anduang adalah panggilan yang Saya berikan pada sosok tua tersebut. Anduang dalam bahasa Minang artinya Nenek

    Anduang masih tergolong kerabat dekat dari keluarga Ibu Saya. Keluarga Anduang masih bersuku Jambak (Minang). Usia Anduang telah mencapai 90-an. Di usia nya yang semakin senja, anak-anak nya pun bergegas pulang dari perantauan. Cuma ada 2 orang dari 6 bersaudara yang tidak datang menjenguk Anduang karena sibuk dengan kerja nya atau masalah lain yang membuat mereka tak sanggup pulang kampung. 

    Ada sebuah kesedihan dan keprihatinan yang menyelusup ke dalam hati Saya. Sedih dan prihatin terhadap nasib sosok tua renta Anduang. Hampir-hampir Saya tak sanggup membendung buliran air mata melihat kondisi Anduang yang seperti menunggu ajal. Saya membayangkan setiap manusia akan makin menua atau kalau pun tidak menjadi tua kemungkinan ia mati muda. Tak ada lagi yang perlu dibanggakan, tak ada lagi aktivitas yang sanggup dilakukan, saudara, harta dan jabatan seketika tak punya kuasa menahan usia senja.   

    Kisah Anduang mengingatkan Saya pada sosok Amak atau ibu dari Ibunda Saya. Amak memiliki usia yang hampir sama dengan Anduang. Amak memang telah wafat ketika Saya masih SD. Amak adalah wanita yang baik, sayang kepada anak dan cucu nya. Sampai tua pun sebelum ajal menjelang, beliau masih sempat memperhatikan cucu nya yang banyak. Termasuk memperhatikan Saya.

    Ketika Ibu memasuki masa-masa melahirkan. Melahirkan saudara-saudara yang lebih tua bahkan melahirkan Saya yang terakhir. Maka Amak lah yang selalu membantu merawat Kami di saat Ibu masih lemah. Amak juga lah yang mengajari Ibu bagaimana merawat kami dengan baik. Tanpa campur tangan Amak, tak akan mungkin Kami menjadi seperti sekarang. Dekat dengan nuansa Mushala dan mendapat shibghah (pewarnaan) islam yang baik saat kecil.

    Saya masih teringat ketika usia 4-5 tahun. Amak sering mengajak Saya pergi sholat berjamaah di Mushala. Sebuah Mushala kampung yang telah berdiri sekitar tahun 1930 di atas tanah wakaf Kaum Jambak. Seperti kebanyakan Mushala pada umumnya, dari segi jumlah jamaah hanya di isi oleh para camat (calon mati = orang-orang yang sudah lanjut usia). Di saat sholat zuhur, dengan imam yang juga sudah berusia tua. Sebut saja nama beliau Ungku Labai Djuadi. Ungku Labai hanya melihat satu orang makmum laki-laki ketika itu. Makmum itu adalah Saya yang kecil mungil. Lantas beliau menarik Saya tepat di samping kanan nya.

    “Geser rapat ke samping Ungku, Nak? “Kata Ungku Labai sembari menarik ku.

    Saya menurut saja. Lalu beranjak tepat disampiang kanan Ungku Labai. Amak pun yang sedari tadi melihat dari Shaf belakang terlihat memberikan sebuah ‘isyarat’. Amak memang sering mengajak Saya pergi ke mushala. Beliau membuat Saya terbiasa dengan nuansa Mushala. Sebuah kenangan yang membuat Saya tak pernah lepas dari Mushala/Masjid hingga dewasa.

    Saya telah melihat dan merasakan betapa besar peranan seorang Nenek dalam sebuah keluarga. Tanpa peranan Nenek, tak kan mungkin ada Ibu yang baik. Tanpa peranan Nenek, siapakah yang akan mengurus cucu–cucu yang banyak. Jika Ibu sendirian tentu akan kewalahan. Menghormati Ibu dan berbakti pada Ibu adalah hal yang sangat wajar. Sedangkan menghormati Nenek dan menyayanginya hingga di usia senja adalah suatu hal yang luar biasa. Maka sudah sepantasnya seorang Nenek mendapat perhatian dari cucu nya. Rasulullah SAW pernah bersabda “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271).

    Amak, kini dirimu telah tiada. Cuma ucapan terima kasih dan untaian doa yang bisa kuberikan sekarang. Terima kasih Amak. Semoga Allah melapangkan Kubur mu di sana dan membalas setiap jerih payah serta amalan mu dengan Jannah Nya kelak, amin.

    Terima kasih Nenek ku, Engkau adalah Pahlawan ku

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Nenekku Pahlawanku” Karya Iwan Setiawan (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top