• Info Terkini

    Saturday, June 22, 2013

    Ulasan Cerpen “Selimut Kebohongan Ibunda” Karya Pertiwi Yuliana (FAMili Jakarta)

    Anna, adalah seorang gadis yatim yang dibesarkan oleh ibunya. Ibu yang merupakan sosok mulia, yang selalu berbohong untuk kebahagiaan anaknya. Mengatakan dia kenyang padahal dia lapar, mengatakan dia belum mengantuk tapi dia lelah dengan mata berkantung, menyatakan dia kuat padahal ia begitu rapuh. Kesedihan yang sempurna pula dihadirkan oleh saudara kandungnya yang berandal dan terlibat pencurian motor. Namun. kasih sayang sayang dari ibu, nenek dan perhatian wali kelasnya membuat Anna bertekad akan membahagiakan mereka sekaligus membuat mereka bangga. Dengan kekuatan cinta ibu, ia akhirnya sukses menjadi seorang penulis terkenal.

    Cerpen yang berjudul “Selimut Kebohongan Ibunda” (Pertiwi Yuliana, FAM 1510U) cukup menyentuh hati dan emosi. Ide cerita sebenarnya biasa saja, tapi penulis cukup apik menceritakan kebohongan-kebohongan ibu yang dilandasi kasih sayang semata untuk kebahagiaan anaknya. Seorang anak yang cukup menyintai ibunya, ibu yang wajib untuk dibahagiakannya. Kesulitan hidup justru memecut dirinya untuk menggapai sukses.

    Namun, kesalahan penulisan masih ditemukan walau tidak banyak. Untuk penulisan “tau” seharusnya ditulis “tahu”. Selain itu, gunakan pula cetak miring untuk penulisan kata asing, seperti “astaghfirullahal’adzim” atau ”assalamau’alaikum”. Untuk penulis, teruslah menulis dan jangan lupa tetap semangat mengirimnya ke media. Bila tulisan belum dimuat, kirim lagi dengan editing yang lebih baik dan jangan menyerah. Tetap semangat ya?

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]


    Selimut Kebohongan Ibunda


    Oleh: Pertiwi Yuliana, IDFAM1510U, Jakarta

    Setahun berlalu setelah kepergian ayah. Aku berdiri menatap langit malam yang terlihat lebih gelap dari biasanya. Menemaniku merintih di tengah keheningan yang menjemukan. Mengingat memori masa lalu yang masih lekat membayangi langkah. Aku berubah, kehidupanku berubah dan keluargaku pun berubah. Ini lebih berat dari yang aku duga. Melewati hari demi hari dan bulan demi bulan tanpa sosok gagah sang kepala keluarga.

    Jam menunjukkan pukul 22.35 saat aku beranjak dari posisiku menuju ruang tengah. Langkahku terhenti tepat di depan sebuah kamar, ku dengar sayup-sayup suara tangis dari seseorang yang sangat ku kenal. Tangis pilu yang menyayat hati dari pahlawan tercantik di seluruh dunia, ibuku. Perlahan aku mendekat dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di sana, ibuku dibalut perlengkapan sholatnya yang berwarna putih sedang duduk bersimpuh di atas sajadah dengan mengangkat kedua tangannya. Samar-samar dapat ku dengar curahan hati ibu kepada Tuhan.

    “Ya Allah, tempatkanlah suami hamba di sisi-Mu. Jauhkanlah dia dari siksa api neraka-Mu. Dia adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu ini. Jangan biarkan keadaan mengalahkan hamba untuk menjalani peran ganda hamba dalam menghidupi buah hati hamba. Jadikanlah mereka pribadi yang tegar agar dapat tetap melewati hari-hari dengan senyuman. Tuntunlah mereka agar selalu ada di jalan-Mu, ya Allah. Amin.” Ibu mengusap lembut wajahnya yang terlihat rapuh. Tampak di sana sisa-sisa air matanya, ibuku menangis.

    Aku tidak takut pada keadaan. Aku tidak takut bila aku kesakitan. Aku pun tidak takut jika aku harus mati saat ini juga. Tapi satu hal yang sangat membuatku takut, melihat ibuku menangis. Perlahan tapi pasti aku menjauh dari celah pintu itu, menghindari pemandangan yang membuat hatiku hancur. Aku tak sanggup. Ibu harus tetap bahagia.

    Ayah... aku si bungsu yang berjanji pada ayah untuk kembali mengukir senyum di wajah ibu. Aku tidak akan mengeluh lagi. Aku yang akan mengalahkan keadaan. Aku berjanji.

    ***

    “Bagaimana, Anna? Sudah tiga bulan kamu belum membayar iuran rutin bulanan. Tidak biasanya kamu seperti  ini. Sepertinya ada masalah berat dengan keluarga kamu, apa kamu bersedia berbagi dengan Ibu?” tanya Bu Henny, wali kelasku, saat aku dipanggilnya menghadap ke ruang guru pada jam istirahat.

    Aku tertunduk di hadapan Bu Henny, hatiku berkecamuk menahan segala rasa yang menyelimuti dada. Ingin menangis namun aku tak boleh menangis. Aku harus kuat! Perlahan aku mengangkat wajahku dan seketika itu pula mataku tertumbuk pada sepasang mata yang menatapku dengan lembut. Aku melihat pancaran ketulusan di sana. Tiba-tiba aku teringat akan ibuku. Mata itu menyuarakan kasih sayang seperti ibuku yang sangat aku cintai. Entah mengapa aku merasa tenang melihat ulasan senyum dan perhatian itu.

    “Setahun yang lalu, ayah meninggalkan kami, Bu. Kini hanya ibu yang berjuang sendiri mencari nafkah dengan keterampilan menjahitnya. Uang yang dihasilkan tidak menentu, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih jauh dari cukup. Maaf, Bu, tapi saat ini saya belum dapat melunasi tunggakan itu.” jelasku, dan aku kembali tertunduk lesu.

    “Bukankah kamu memiliki seorang kakak laki-laki? Apa dia tidak bekerja?” Bu Henny kembali bertanya.

    Sekejap kesedihanku berganti menjadi amarah. Dia selalu membuat ibuku menangis. Wajahku mulai memerah. Dan jantungku... aah! Sesak! Aku mencoba menarik napas sedalam yang aku mampu, menikmati siklus udara yang terjadi dan menghembuskannya perlahan.

    “Percuma berharap kepada orang yang enggan untuk peduli akan nasib keluarganya sendiri.” ucapku lirih.

    “Maksudnya?” Bu Henny mengerutkan keningnya.

    “Saya hanya punya ibu sekarang. Orang itu hanya pulang ke rumah untuk makan dan tidur tanpa peduli ibu dan adiknya kelaparan atau membutuhkan bantuan. Apa kami dapat berharap dari orang seperti itu, Bu?” mataku memerah menahan bendungan air mata.

    Bu Henny kembali tersenyum, sesaat ku lihat beliau menyeka air matanya. Digenggamnya kedua tanganku dengan erat. Aku tau, ini caranya untuk menguatkan hatiku. Hati yang hampir kehilangan cahaya. Hanya untuk ibu. Ibu bukanlah cahaya terang yang menyilaukan, tapi ibu adalah cahaya lilin kecil yang mengagumkan. Yang harus selalu ku jaga agar tak meredup apalagi mati. Aku dan seluruh jiwaku kini hanya untuk ibu.

    “Ibu mengerti, kamu pasti kuat. Tapi ingat, jika kamu tidak melunasi iuran itu, maka ijazahmu terancam ditahan oleh sekolah. Ibu akan coba membantu kamu sebisanya ya.” Bu Henny menepuk pelan pundakku.

    Aku menganggukkan kepalaku dan berkata, “terima kasih, Bu.”

    Bu Henny pun kembali tersenyum. Aku berbalik, menghapus bendungan air mataku dan bergegas meninggalkan ruangan itu.

    Hatiku masih bergemuruh saat aku menyusuri koridor untuk kembali menuju kelasku. Aku tidak ingin menjadi beban untuk ibu, tapi bagaimana caranya aku mendapatkan uang untuk melunasi tunggakan itu? Maafkan aku, ibu. Beasiswa yang aku dapatkan selama ini ternyata belum cukup untuk melunasi semuanya. Maafkan aku, ibu. Aku pasti akan membalas segala perjuanganmu untukku.

    ***

    “Ibu...” aku menangis dalam pelukan ibuku.

    “Tidak apa-apa, sayang. Ini nenekmu yang mengusulkannya. Sebagian dari hasil penjualan rumah nenek dapat kita pergunakan untuk biaya sekolahmu dan kebutuhan sehari-hari. Lagipula nenek masih bisa tinggal dengan pamanmu di sana.” ibu mengusap lembut rambutku yang tergerai sebatas bahu. Kebohongan ibu yang pertama.

    “Apa tidak ada cara lain selain menjual rumah nenek? Maafkan aku, Bu...” tangisku menjadi-jadi, membuat air mataku menganak sungai di pipi.

    Aku melihat dengan ekor mataku, ibu tersenyum dengan sebutir air mata yang meluncur indah dari sudut mata kanannya. Aku tau senyuman itu, senyuman penuh cinta walaupun aku merasakan betapa pedih hati ibu saat harus merelakan ibunya kehilangan rumah kenangan mereka. Kedua ibu yang sangat tegar untuk berjuang demi masa depanku. Semuanya hanya untuk aku. Aku berjanji, kelak aku akan membuat kalian tersenyum bangga padaku. Tanpa air mata dan tanpa kesedihan.

    Tok... Tok... Tok...

    Suara itu memecahkan suasana haru yang sedang berkuasa. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Aku segera bangkit dari pelukan ibu, menghapus sisa-sisa air mataku dan berjalan menuju pintu. Ibu yang merasa penasaran pun turut serta mengekor di belakangku.

    Saat pintu terbuka, aku melihat dua sosok gagah berseragam di muka pintu.

    “Maaf mengganggu, kami dari kepolisian. Apa benar ini kediaman Saudara Adit?” tanya salah satu dari mereka yang berkumis tebal. Dapat ku lihat nama yang tertera di seragam yang beliau kenakan, Heru.

    “Iya, benar. Ada apa ya, Pak?” tanya ibu yang kini mimiknya telah berubah, panik.

    “Begini, Bu, anak Ibu terlibat kasus pencurian motor dan sekarang kami tahan di kepolisian setempat.” jelas polisi yang terlihat lebih muda dari yang sebelumnya. Aku tak dapat melihat dengan jelas nama yang tertera di seragamnya karena cahaya lampu yang sedikit remang.

    “Astagfirullahaladzim...” kontan saja ibu memelukku dan menangis sejadi-jadinya.

    Aku hanya terdiam mematung dengan sesekali mengusap punggung ibu. Ibu yang telah begitu rapuh namun masih terus dilanda cobaan. Aku benci orang itu! Mengapa dia harus selalu membuat masalah? Tanpa dia pun masalah sudah lebih dari cukup menyapa kami. Ya Allah, kuatkanlah ibuku.

    ***

    Pagi ini aku tau hariku akan berjalan dengan penuh kehampaan. Di tanganku ada selembar kwitansi sebagai bukti pelunasan iuran sekolahku yang harus aku perlihatkan pada Bu Henny. Langkah demi langkah aku berjalan diiringi dengan hembusan angin yang seolah mengalunkan melodi sendu. Uang pemberian nenek yang seharusnya hanya dipergunakan untuk melunasi iuran sekolahku dan kehidupan sehari-hari kini berubah fungsi. Orang itu mempersulit segalanya! Dia memakan biaya lebih besar daripada sekolahku dan ibu hanya berkata, “ibu masih sanggup berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari kita.” Kebohongan ibu yang kedua.

    Sesampainya aku di ruang guru, aku langsung menghadap wali kelasku, Bu Henny. Aku serahkan selembar kertas itu padanya dan beliau berkata, “jangan kecewakan ibumu, buatlah dia bangga akan dirimu. Nanti jika kamu sudah sukses dengan hidupmu, hadiahkan pada ibumu untuk pergi haji. Ibumu pasti akan sangat bahagia.” Jelasnya dengan senyum khas yang menenangkan.

    Aku hanya dapat tersenyum, itu cambuk untukku. Aku harus sukses untuk ibuku. “Pasti. Terima kasih, Bu.” ucapku dengan menarik sedikit ujung-ujung bibirku sehingga terbentuk ulasan senyum.

    Bu Henny bangkit dari duduknya dan memelukku sesaat. Aku merasakan kehangatan, seperti saat ibuku memelukku. Wanita-wanita hebat di sekelilingku adalah inspirasiku. Mereka yang nantinya akan aku buat tersenyum bangga atas diriku. Merekalah lilin-lilin kecil yang akan selalu menerangi hatiku dan tiap langkahku menuju jalan yang lebih baik. Ini aku dan tiga cinta di sekelilingku: ibu, nenek dan wali kelasku.

    ***

    “Assalamu’alaikum. Ibu, aku pulang.” ucapku sedikit berteriak riang saat aku menapakkan kembali kakiku di rumah.

    “Wa’alaikumussalam, sayang. Ayo masuk, kamu pasti lapar.” ibu muncul dari arah dapur dengan mengelap jari-jari tangannya dengan serbet.

    Aku mencium tangan ibuku yang kulitnya sudah mulai keriput, menunjukkan umurnya yang semakin menua. Ibu berjalan kembali ke arah dapur, aku pun mengikutinya sambil sedikit menyeret tas sekolahku yang begitu penuh dengan buku-buku.

    Sesampainya di meja makan, aku hanya melihat satu piring berisi makanan di sana. Aku terdiam sejenak.

    “Anna, ayo duduk. Makanlah, sayang, kamu pasti lelah dan lapar kan?” tanya ibu dengan senyumnya yang mengembang.

    “Ibu tidak makan?” tanyaku.

    “Ibu tidak lapar, kamu saja yang makan.” masih dengan senyum andalannya itu, ibu menuntunku untuk duduk. Kebohongan ibu yang ketiga.

    Aku menahan tangan ibu yang hendak menjauh dariku, mengarahkannya untuk duduk di sampingku. Aku manatap wajahnya yang seakan enggan melihatku. Aku mengusap lembut pipinya yang mulai mengendur dan menuntunnya untuk menatapku. Aku dapat melihatnya, ibu berbohong hanya untukku.

    “Aku ingin makan bersama Ibu.” ucapku dengan seulas senyuman yang diiringi bendungan air mata.

    “Ibu tidak lapar, sayang.” ibu menghapus bendungan air mata yang menggantung menghiasi bola mataku.

    Tanpa memedulikan perkataan ibuku, aku mengambil sesendok nasi dan menyodorkannya untuk ibu.

    “Ini untuk Ibuku yang paling cantik.” aku menyuapinya dan mulutnya terbuka.

    Ibu menangis, entah mengapa. Bahagia atau haru, yang jelas pancaran matanya itu tidak menunjukkan kesedihan. Aku bahagia melihat mata ibuku yang cukup lama sinarnya meredup kini kembali cerah, inilah ibuku yang aku kenal. Aku menatap matanya lekat-lekat, wanita inilah yang membuatku terlahir di dunia. Beginilah dahulu ibu menyuapiku, sama seperti yang aku lakukan. Aku memang tidak sempurna, tapi aku akan selalu berusaha menjadi sosok yang sempurna untuk membahagiakan ibu.

    Kelainan pada jantungku tidak sedikitpun membuatku takut akan kematian, aku hanya takut ibuku menangis. Penyakitku tidak membuatku putus asa melainkan sebuah pecutan semangat yang harus selalu ku pacu agar aku tak dikalahkan oleh keadaan. Seandainya ibu tau akan hal tersebut, tapi aku tak mungkin sejahat itu pada wanita di hadapanku ini. Biarlah aku sendiri yang merasakannya, dan untuk ibuku: aku mencintaimu sepanjang masa.

    ***

    Malam yang begitu dingin ketika aku terbangun dari alam bawah sadarku. Aku melirik ke arah jam di atas meja kecil di samping tempat tidurku, pukul 02.13. Suara bising itu mengganggu lelapnya malamku. Aku bangkit untuk mencari sumber suara itu. Dengan kantuk yang masih merajai diriku, aku berjalan keluar kamar dan menemukan sosok ibuku di belakang meja jahitnya.

    “Ibu belum tidur?”

    Ibu kelihatan terkejut saat mengetahui keberadaanku di sana. Aku melihatnya, matanya berkantung dan nampak lelah. Lagi-lagi aku tau, ibu melakukannya hanya untuk aku.

    “Ibu belum mengantuk, sayang. Daripada Ibu diam saja lebih baik ibu mengerjakan jahitan ini.” Ucapnya sembari tersenyum menatapku dengan matanya yang sayu. Kebohongan ibu yang keempat.

    “Aku temani Ibu, ya?”

    “Kamu tidur saja, ibu belum lelah.” Kebohongan ibu yang kelima.

    “Bagaimana aku dapat tidur dengan tenang sementara ibuku di sini berjuang sendiri untuk aku?”

    Ibu menarik ujung-ujung bibirnya lebih lebar lagi, menghampiriku dan merapikan rambutku yang masih terlihat begitu berantakan sebangun tidur. “Baiklah, ayo tidur.”

    Ini aku dan wanita yang sangat berarti bagi hidupku, ibuku. Serenta apapun ibu selalu memperjuangkan segalanya hanya untuk aku, si bungsu yang akan membanggakannya suatu saat nanti.

    ***

    Masih dapat ku lihat dengan jelas bagaimana sosok aku sembilan tahun yang lalu. Saat aku terpuruk kehilangan ayah yang sangat aku banggakan, ada sosok ibu yang tanpa disadarinya selalu membuatku lebih kuat setiap harinya. Saat aku hampir putus sekolah, ada nenek yang rela menjual kediamannya demi masa depan yang aku impikan. Saat aku putus asa karena masalah yang tak kunjung usai, di sanalah ada sosok Bu Henny yang selalu menenangkanku dengan senyum lembut dan petuah-petuahnya.

    Mereka yang aku kagumi, mereka yang aku banggakan dan mereka yang aku cintai. Kini aku yang dahulu hanya pemimpi kecil yang hampir kehilangan mimpi telah berdiri di tengah kerumunan yang semula tak dapat ku bayangkan. Sang pengagum yang kini dikagumi. Semua tak dapat aku raih tanpa wanita-wanita hebat itu: ibu, nenek dan wali kelasku.

    “Mbak Anna, tolong tandatangani bukuku.” pinta seorang anak berseragam putih-biru.

    “Boleh...” aku mengambil buku yang disodorkannya, buku bertuliskan namaku di sampul depannya. Buku yang telah membawa ibu dan nenekku ke tanah suci.

    Aku bangga menjadi diriku, diriku yang tak sempurna dengan lemahnya jantungku. Aku bangga mempunyai ibu, karena hanya ibu yang sejak bertahun-tahun lalu menghidupiku seorang diri. Dengan kerja keras dan kebohongannya. Ya, kebohongan. Ibu berbohong untukku. Kebohongan yang penuh cinta dari sang ibunda tercinta kepada anak terkasihnya. Itulah aku dan ibuku.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Terima kasih ulasannya, saya akan terus memperbaikinya :)

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Selimut Kebohongan Ibunda” Karya Pertiwi Yuliana (FAMili Jakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top