• Info Terkini

    Monday, June 3, 2013

    Ulasan Puisi "Akhir Hidup di Sebuah Mimpi" Karya Arini Ulfa Rahmawati (FAMili Lampung)

    Kematian adalah suatu hal yang pasti akan dialami setiap jiwa. Dunia yang begitu singkat ini, hanyalah sebuah persinggahan sejenak bagi seluruh makhluk. Kematian laiknya jembatan yang mengantar pada kehidupan sebenarnya, yakni antara surga atau neraka. Tak ada yang dapat menolak kepastian ini. Kematian pun tak dapat ditebak kapan datangnya, hanya Tuhan saja yang tahu.

    Dalam puisi berjudul "Akhir Hidup di Sebuah Mimpi", penulis cukup dalam memaknai episode perjalanan seorang anak manusia yang menemui titik akhir, tempat napas tak lagi menjadi sesuatu yang dapat dirasa. Tempat napas bukan lagi menjadi wujud, melainkan lenyap tanpa sisa. Dalam keadaan yang demikianlah, jiwa yang tadinya berkelana di muka bumi menemui ajalnya.

    Penulis mencoba memberi gambaran tentang dunia fana lewat metafora sebuah mimpi. Mimpi dalam terlelapnya raga, atau yang biasa kita kenal dengan "bunga tidur", adalah sebuah kondisi yang membawa alam pikiran menjelajah "kehidupan di luar kenyataan". Ketika seseorang tengah bermimpi, ia tak sadar, bahwa apa yang dilihat, dijalani, serta dirasakannya dalam mimpi tersebut hanyalah sebuah keabstrakan. Ini menunjukkan adanya perenungan yang baik dari seorang penulis, bahwa sejatinya "bunga tidur", seperti halnya dunia fana, tak akan mengurung kita terlalu lama. Karena ia bukanlah sebuah "kenyataan". Dunia fana akan mempunyai akhir, yang tak lain adalah kematian itu sendiri.

    Dalam puisi berdiksi sederhana ini, penulis mengisahkan tentang sebuah kematian yang indah dari seorang hamba Tuhan yang taat. Ini terlihat dari baris pertama dan kedua pada bait terakhir yang berbunyi: "Ku tatap kembali langit-langit surauku yang teduh". Seolah menunjukkan ketika kematian itu datang, ia tengah berada di sebuah surau. Atau mungkin lebih tepatnya tidak hanya seperti itu saja, melainkan tersirat makna bahwa tokoh dalam puisi ini menyimpan begitu banyak amal baik dalam hidupnya. Kata "teduh" mewakili situasi damai yang terjadi. Hingga saat ajal menghampiri, tak ada sedikit pun rasa sakit.

    Pada baris ketiga di bait pertama yang berbunyi: "Akhir yang berdiri di sebuah pintu renta", sangat kentara bahwa penulis hendak membawa kita pada pesan kematian yang dapat sewaktu-waktu menjemput. Ide semacam ini sudah sering dipakai, namun sama sekali tidak mengurangi kecerdasan penyampaian pesan yang terselip pada puisi. Seseorang akan merenung kembali, membayangkan, meresapi, serta mengintrospeksi diri. Benak pun bertanya-tanya, "Apakah sisa hidupku di dunia ini akan segera tuntas?"

    Namun ada beberapa bagian yang membuka kemungkinan baru dan lebih luas dari kisah kematian ini, yakni "ayah", "ibu", dan "sebongkah anggur merah". Apakah mungkin ia seorang ibu yang tengah berjuang keras melahirkan anaknya, lalu mati syahid? Apakah mungkin sosok tercinta, yang tak lain adalah sang suami (ayah), kemudian berusaha menyadarkannya akan tetapi takdir terlanjur memutuskan? Apakah sebongkah anggur merah itu perlambang darah atau kegembiraan? Atau mungkin ada sebuah alur lain yang penulis coba angkat? Perlu pendalaman yang lebih dengan tingkat penalaran tinggi dari seorang pembaca untuk memahami isi puisi ini dengan lebih terang. Baiknya penulis lebih mempertajam arah dan asal muasal dari cerita kematian yang diangkatnya dalam puisi.

    Ada beberapa kekurangan dari puisi ini. Pertama dari segi pemilihan diksi. Penulis cukup baik dalam penuturan alur dan emosi dalam puisinya, namun kurang kaya diksi. Ini membuat puisi terasa kurang bisa dinikmati dari sudut keindahan. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam menulis puisi seperti ini, karena pada dasarnya puisi adalah sebuah ungkapan hati yang bebas diterjemahkan dengan cara apa pun dan oleh siapa pun. Menurut Tim FAM Indonesia, pendalaman makna, sudut pandang, serta pengembangan ide biasa lalu menjadi tak biasa—cukup menjadi bekal bagi penulis untuk menghasilkan banyak karya yang lebih baik di masa mendatang. Tinggal berlatih dan terus berlatih dengan banyak membaca dan tak berhenti mengasah pena.

    Dari segi EYD, Tim FAM menemukan sedikit kesalahan, yaitu pada baris ketiga bait terakhir. "Ku tatap", baiknya ditulis "kutatap", tidak terpisah. Selebihnya, tidak ada.

    Secara keseluruhan, penulis cukup cerdas menyampaikan apa yang ia renungkan menjadi sebuah pelajaran bagi manusia, agar selalu mengingat kematian. Kematian itu pasti akan datang dan mempunyai wujud serupa bayangan. Kita tak tahu kapan ia akan berubah bentuk atau kapan ia akan menghilang. Kematian adalah rahasia Tuhan.

    Pesan untuk penulis, jangan berhenti menorehkan pena. Terus berkarya dan berlatih. Perdalam penggalian ide-ide yang tak biasa dari alam sekitar, agar tidak membuat pembaca dapat dengan mudah menebak apa yang kita sajikan. Tebarkan nilai kebaikan dalam setiap lembar jejak. Tetap semangat!

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Akhir Hidup di Sebuah Mimpi

    Karya: Arini Ulfa Rahmawati (FAMili Lampung)

    Malam tiba di sebuah mimpi
    Menatap sebuah alur hidup yang menanti akhir
    Akhir yang berdiri di sebuah pintu renta
    Yang sekejap lagi akan kubuka
    Ketika akhir hidup mengetuk pintu
    Kudengarkan alunan melodi yang memanggil
    Berharap ayah datang membawa sebongkah anggur merah
    Kubuka pintu..
    Akhir hidup menjemputku
    Mengakhiri hidupku tanpa rasa sakit
    Kutatap kembali
    Langit-langit surauku yang teduh
    Ku terbangun dalam buaian mimpi
    Yang berlaku bagai seorang ibu
    Kusadari, hanyalah mimpi...

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Akhir Hidup di Sebuah Mimpi" Karya Arini Ulfa Rahmawati (FAMili Lampung) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top