Skip to main content

Ulasan Puisi "Kita Adalah Pondasi" Karya Andik Chefasa

Indonesia adalah negara kepulauan dengan penduduk yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan ras. Maka, tidaklah heran jika 'perbedaan' akan selalu menjadi hal yang paling kentara di mata kita. Melalui puisi ini, penulis mencoba menyampaikan pesan positif kepada kita, bahwa sejatinya persatuan adalah modal utama dalam membangun kekuatan sebuah bangsa.

Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa pondasi mewakili sebuah kekuatan. Akan tetapi kekuatan itu tak hanya dilukiskan dalam bentuk fisik semata, melainkan juga keteguhan dan kesadaran hati. Seperti yang ada pada bait terakhir baris ketiga dan keempat yang berbunyi:

Marilah bertekad
Menjadi pondasi yang kuat

Kemudian juga dapat kita temui beberapa teguran halus pada mereka yang seolah tak mau peduli pada keadaan bangsanya yang tengah diterpa berbagai permasalahan. Mereka seolah sibuk dengan urusan sendiri, 'memperkaya' diri sendiri, bersenang-senang tanpa sudi mendengar, atau melupakan saudara sebangsa setanah air yang lebih menderita. Sebuah perbedaan seakan menjadi penghalang untuk menjadi satu. Padahal kita semua tinggal di tanah yang sama, Indonesia. Bukankah akan lebih nyata kekuatan itu ketika seluruh manusianya bersatu? Penulis menyuguhkan bentuk keprihatinan semacam ini pada bait pertama dan kedua.

Pada bait terakhir, kita menemukan solusi sederhana atas jarak yang kian melebar oleh perbedaan. Kata 'rakyat' dalam baris pertama, mempunyai makna bahwa kita adalah saudara. Sedangkan larangan untuk 'melarat' adalah nasihat agar janganlah kita menjadi miskin hati, kemudian buta. Janganlah kita biarkan diri kita berjalan tanpa kawan meski dalam kesenangan sekalipun. Alangkah indah jika persatuan bak pondasi itu membuat segalanya terasa mudah. Ibaratnya, susah maupun senang, sama-sama dirasakan.

Penulis cukup baik menyampaikan pesannya melalui puisi sepanjang tiga bait ini. Namun ada sedikit koreksi EYD dari Tim FAM Indonesia, yakni pada baris terakhir dari bait kedua. "Didasarnya" seharusnya menjadi "di dasarnya" (terpisah), karena menunjukkan sebuah keterangan tempat. Selebihnya, tak ada kesalahan.

Sedikit saran untuk penulis adalah pada pemilihan diksi. Diksi dalam puisi ini amat sederhana. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun akan lebih terasa indah jika sebuah puisi dibentuk dari pemilihan dan perpaduan kata yang berwarna. Terus berlatih, jangan berhenti menulis, dan perkaya perbendaharaan kata, agar ide yang dituangkan menjadi tulisan sarat pesan pencerahan yang membangun.

Tetap semangat.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Kita Adalah Pondasi

Oleh: Andik Chefasa

Kita adalah pondasi negeri ini
Berbaris di bawah naungan bumi pertiwi
Tanpa peduli yang bersibuk diri menggendutkan ingin
Dalam ruang-ruang mewah berhawa dingin

Langit kita sama biru
Sama-sama punya kalbu
Tempat kita berhidup sebuah rumah bernama negeri
Lalu kita saling rekat didasarnya sebagai pondasi

Karena kita rakyat
Jangan mau melarat
Marilah bertekad
Menjadi pondasi yang kuat

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…