• Info Terkini

    Thursday, June 20, 2013

    Ulasan Puisi "Kita Adalah Pondasi" Karya Andik Chefasa

    Indonesia adalah negara kepulauan dengan penduduk yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan ras. Maka, tidaklah heran jika 'perbedaan' akan selalu menjadi hal yang paling kentara di mata kita. Melalui puisi ini, penulis mencoba menyampaikan pesan positif kepada kita, bahwa sejatinya persatuan adalah modal utama dalam membangun kekuatan sebuah bangsa.

    Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa pondasi mewakili sebuah kekuatan. Akan tetapi kekuatan itu tak hanya dilukiskan dalam bentuk fisik semata, melainkan juga keteguhan dan kesadaran hati. Seperti yang ada pada bait terakhir baris ketiga dan keempat yang berbunyi:

    Marilah bertekad
    Menjadi pondasi yang kuat

    Kemudian juga dapat kita temui beberapa teguran halus pada mereka yang seolah tak mau peduli pada keadaan bangsanya yang tengah diterpa berbagai permasalahan. Mereka seolah sibuk dengan urusan sendiri, 'memperkaya' diri sendiri, bersenang-senang tanpa sudi mendengar, atau melupakan saudara sebangsa setanah air yang lebih menderita. Sebuah perbedaan seakan menjadi penghalang untuk menjadi satu. Padahal kita semua tinggal di tanah yang sama, Indonesia. Bukankah akan lebih nyata kekuatan itu ketika seluruh manusianya bersatu? Penulis menyuguhkan bentuk keprihatinan semacam ini pada bait pertama dan kedua.

    Pada bait terakhir, kita menemukan solusi sederhana atas jarak yang kian melebar oleh perbedaan. Kata 'rakyat' dalam baris pertama, mempunyai makna bahwa kita adalah saudara. Sedangkan larangan untuk 'melarat' adalah nasihat agar janganlah kita menjadi miskin hati, kemudian buta. Janganlah kita biarkan diri kita berjalan tanpa kawan meski dalam kesenangan sekalipun. Alangkah indah jika persatuan bak pondasi itu membuat segalanya terasa mudah. Ibaratnya, susah maupun senang, sama-sama dirasakan.

    Penulis cukup baik menyampaikan pesannya melalui puisi sepanjang tiga bait ini. Namun ada sedikit koreksi EYD dari Tim FAM Indonesia, yakni pada baris terakhir dari bait kedua. "Didasarnya" seharusnya menjadi "di dasarnya" (terpisah), karena menunjukkan sebuah keterangan tempat. Selebihnya, tak ada kesalahan.

    Sedikit saran untuk penulis adalah pada pemilihan diksi. Diksi dalam puisi ini amat sederhana. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun akan lebih terasa indah jika sebuah puisi dibentuk dari pemilihan dan perpaduan kata yang berwarna. Terus berlatih, jangan berhenti menulis, dan perkaya perbendaharaan kata, agar ide yang dituangkan menjadi tulisan sarat pesan pencerahan yang membangun.

    Tetap semangat.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Kita Adalah Pondasi

    Oleh: Andik Chefasa

    Kita adalah pondasi negeri ini
    Berbaris di bawah naungan bumi pertiwi
    Tanpa peduli yang bersibuk diri menggendutkan ingin
    Dalam ruang-ruang mewah berhawa dingin

    Langit kita sama biru
    Sama-sama punya kalbu
    Tempat kita berhidup sebuah rumah bernama negeri
    Lalu kita saling rekat didasarnya sebagai pondasi

    Karena kita rakyat
    Jangan mau melarat
    Marilah bertekad
    Menjadi pondasi yang kuat

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Kita Adalah Pondasi" Karya Andik Chefasa Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top