• Info Terkini

    Monday, June 24, 2013

    Ulasan Puisi "Ode untuk Kemanusiaan" Karya Muhammad Fadhly (FAM Padang)

    Puisi ini berisi sebuah gambaran tentang fenomena hukum di Indonesia. Tak hanya itu, hati nurani yang seolah buta ketika harta menjadi ukuran layak-tidaknya hidup seseorang, turut diangkat. Ibarat kata, siapa yang miskin, dia yang kalah. Artinya, hukum seolah dapat dibeli dengan uang. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan, menjadikan jarak antara kaya dan miskin itu kian kentara. Sayangnya, garis mencolok antara keduanya jarang sekali menjadi bahan renungan untuk memperbaiki kesenjangan. Termasuk mereka yang acapkali menegaskan bahwa "Hukum itu tidak pandang bulu."

    Penulis cukup baik menyampaikan sindiran atas hal ini. Lewat bait-bait puisinya, penulis seolah bercerita. Sosok "nenek tua" dan "bocah" yang kelaparan sebagai gambaran dari kemiskinan. Ini nampak pada bait pertama.

    Kemudian pada bait kedua, kita mulai melihat sebuah nasib, di mana nenek itu secara tak sadar memasuki jebakan hukum. Ya, ia benar-benar masuk ketika dengan terpaksa mengambil "sesuatu yang bukan miliknya". Berikut bunyi bait kedua:

    Nenek tua tak tahan
    Dengar tangisannya
    Nekad menyusupi ladang
    Menggali umbi bukan miliknya

    Pada bait keempat, kita akan bertemu tentang keadilan yang palsu. Hukuman berat lalu menimpa sang nenek ketika kekayaan—yang tergambar lewat sosok "si tuan ladang"—menuntut atas umbinya yang hilang. Sementara itu, "umbi" adalah metafora dari sesuatu yang tak berarti atau dapat dikatakan sesuatu yang sepele bagi kebanyakan orang. Sesuatu yang tak berarti inilah yang memaksa sosok nenek untuk melakukan kesalahan kecil. Alasannya sederhana: karena "bocah" tengah kelaparan.

    Lalu, ke manakah hati nurani ketika sesuatu yang tanpa arti di mata kebanyakan manusia itu menjadi sesuatu yang patut diperdebatkan? Akan dapat dimaklumi jika dua belah pihak ini sama-sama menderita. Namun akan sangat memperihatinkan ketika salah satunya hidup dengan harta serba melimpah.

    Penulis cukup dalam memaknai keadaan yang sering kita jumpai. Hukum bagaikan meja transaksi yang saling menguntungkan bagi semua pihak, kecuali mereka yang "tak punya uang". Maka, hukum seolah memihak pada yang kaya. Keadilan menjadi suatu hal yang mustahil bagi yang tidak kaya.

    Secara keseluruhan puisi ini sarat pesan membangun dan mengandung nilai-nilai pencerahan lewat diksi yang tersusun nyaman. Ide yang diambil pun sangat baik. Hanya saja dalam penyampaian perlu lebih diperdalam lagi dengan banyak berlatih.

    Sedikit koreksi dari Tim FAM Indonesia, yakni dari segi EYD, pada bait kelima baris pertama. "Hadirinpun" seharusnya ditulis terpisah menjadi "hadirin pun". Kemudian "di denda" seharusnya digabung menjadi "didenda", karena dalam hal ini, denda berperan sebagai kata kerja pasif. Juga kata "Untuk" pada judul, baiknya ditulis "untuk" (huruf kecil). Selebihnya tak ada.

    Saran dari FAM agar penulis terus menggoreskan tintanya. Jangan berhenti menulis dan terus berlatih. Temukan ide-ide hebat yang ada di sekitar, lalu jadikan semua itu sebuah nilai yang berarti bagi para pembaca.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH PUISI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Ode Untuk Kemanusiaan


    Muhammad Fadhly

    Malam mendendangkan
    lagu pengantar tidurnya
    bocah tak jua diam
    meratapi laparnya

    Nenek tua tak tahan
    dengar tangisannya nekad menyusupi ladang
    menggali umbi bukan miliknya

    Malang menimpa
    naas si nenek tua
    ketahuan si tuan ladang dan keras mendakwanya

    Tiga setengah tahun penjara
    palu vonis menggema
    Jatuh air mata sang Hakim
    tersentuh nuraninya

    Hadirinpun di denda
    untuk bebaskan nenek tua
    hakim berhati mulia
    tegakkan sila lima

    Malu si tuan ladang
    yang miskin nuraninya
    tega menindas si lemah tak berdaya

    Hakim berhati mulia
    buka mata hati manusia
    pedulilah pada si lemah
    agar keadilan
    bukan hanya untuk Si kaya.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Ode untuk Kemanusiaan" Karya Muhammad Fadhly (FAM Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top