• Info Terkini

    Monday, July 8, 2013

    Kenangan Bersama Sastrawan Sunda Godi Suwarna

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Siapa yang tidak mengenal Sastrawan Sunda, Godi Suwarna? Banyak orang yang mengenalnya, terutama yang berdomisili di Tanah Pasundan. Dia adalah seorang Penyair, Cerpenis, Dramawan dan Novelis. Dua buah novelnya yang berbahasa Sunda berjudul “Sandekala” dan “Deng.” Berbagai penghargaan sastra sudah diperolehnya. Bahkan sudah tiga kali meraih hadiah sastra Rancage untuk Blues Kere Lauk, Serat Sarwasatwa dan Sandekala. Sejak awal kepenulisannya, Godi Suwarna memang konsisten dalam mengembangkan karya sastra Sunda. Hingga Almarhum Ws Rendra memberikan julukan, “Godi adalah kekayaan sastra Sunda.”

    Selama setahun saya menjadi murid binaan Godi Suwarna. Sudah beberapa kali melakukan pementasan bersama di daerah Jawa Barat. Kang Godi memang sangat tegas dan disiplin dalam membina. Secara tidak langsung juga memberikan pesan untuk “ngamumule kabudayaan Sunda.” Melalui karya-karya Sundanya yang tak kehabisan ide, Kang Godi menunjukkan pada murid-murid binaannya agar melestarikan kesusastraan Sunda. Semua pementasan yang saya ikuti waktu itu,  berkaitan dengan sastra Sunda. Ada sutradara muda yang ikut membina akting para pemain, kareografer handal, para musisi pilihan dan para pemain berbakat lainnya. Di sana menjadi tempat belajar menulis, akting, tari, dan tarian yang dipadu setengah ilmu bela diri untuk menunjang keluwesan dalam berakting.

    Sebuah kenangan bersama Kang Godi dan seniman lainnya di Tanah Pasundan, adalah saat harus tampil dalam Pesta Sastra Sunda 1992 di Bandung, Jawa Barat. Malam sebelum acara berlangsung, semua seniman dari Kota Ciamis menginap di rumah Kang Godi. Malam itu kita mengadakan gladi resik hingga pukul 22.00 Wib. Pukul 03.00 Wib, rombongan pun berangkat menyewa sebuah bus ke kota Bandung menuju tempat acara. Dalam rombongan itu, ikut pula sutradara muda kepercayaan Kang Godi, kareografer, para musisi dan para perias khusus. Para seniman yang tergabung dalam rombongan itu, sebagian anggota HIPMI (Himpunan Artis dan Musisi Indonesia). Kita tampil dalam acara tersebut satu jam sebelum adzan dzuhur bergema. Acara yang meriah dihadiri para sastrawan dari berbagai daerah, diliput banyak media dan disiarkan oleh televisi nasional.

    Berkat aktif dalam binaan Kang Godi itulah, akhirnya bisa mengenal beberapa seniman dari Tanah Pasundan. Berkat menjadi pemeran utama wanita dalam “Jante Arkidam,” akhirnya dipertemukan dengan Sastrawan Ajip Rosyidi, yang waktu itu datang langsung dari Jepang untuk menyaksikan pementasan. Namun, kenangan itu hanya tinggal catatan. Pada perjalanan berikutnya, saya yang waktu itu masih belia (16 tahun) harus mengambil langkah untuk jalan hidup saya sendiri. Mengalami banyak kejadian, ujian, hingga keberanian mengambil sebuah keputusan. Hingga kini Godi Suwarna masih tetap aktif berkarya. Rumahnya selalu terbuka menerima kunjungan orang-orang yang ingin belajar. Saya sendiri meskipun tidak lagi berdomisili di daerah Pasundan dan nyaris tidak lagi menulis karya-karya berbahasa Sunda, tetapi kecintaan membaca karya-karya berbahasa Sunda masih terjaga. Beberapa majalah “Mangle” terbitan lama, masih saya simpan. Sesekali dibaca dan disimak kembali. Wilujeng tepang deui, Kang Godi.

    *) Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kenangan Bersama Sastrawan Sunda Godi Suwarna Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top