• Info Terkini

    Wednesday, July 17, 2013

    Ulasan Cerpen "Cermin Maharani" Karya Yori Tanaka (FAMili Tangerang)

    Anna adalah tokoh utama dalam kisah ini. Ia mempunyai seorang sahabat bernama Maharani. Maharani sering nampak murung. Setiap waktu, Anna seolah berperan menjadi sahabat sekaligus pengamat. Maka setiap gerak laku sahabatnya itu tersimpan rapi dalam bingkai ingatannya. Anna adalah orang yang paling peduli pada Maharani, meski terkadang temannya itu tak selalu bersikap terbuka padanya.

    Maharani adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga miskin. Sementara itu, waktu seolah menuntut banyak. Ia tak dapat berbuat apa-apa ketika persoalan ekonomi dalam keluarganya tak kunjung menemui solusi. Itulah sebabnya ia sering menjadi bahan ejekan teman-temannya karena sering diantar-jemput oleh seorang lelaki yang usianya terpaut jauh darinya. Alasannya adalah karena ingin menghemat ongkos.

    Anna dan Maharani berpisah setelah mereka lulus. Mereka bertemu kembali pada suasana yang berbeda. Sejak itu, kehidupan Maharani nampak lebih baik dengan pekerjaannya sebagai seorang kasir. Ia pun tak lagi mendapat ejekan karena kekasih barunya adalah lelaki yang tampan.

    Namun semua kebaikan yang nampak itu buyar seketika setelah mereka tak bersua cukup lama. Maharani hamil oleh kekasih yang ternyata bukan lelaki baik-baik. Anna yang kala itu hendak memberi Maharani kado sebuah cermin—karena sahabatnya ini gemar berdandan—urung melakukan niatnya. Luka penyesalan tak lagi dapat tersembuhkan. Maharani yang salah bergaul, membuat masa depannya hancur secara perlahan. Anna bersedih mendapati kenyataan ini.

    Secara keseluruhan cerpen ini bagus. Dari segi ide, penyampaian, dan pesan sudah baik. Namun ada beberapa koreksi dari Tim FAM mengenai EYD. "Takkan" sebaiknya ditulis "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof). Kemudian kata "kan" baiknya diubah menjadi: akan atau 'kan (perhatikan apostrof).

    Lalu pada kata yang terdapat di bagian dialog, banyak sekali yang semestinya diketik dengan huruf miring karena bukan merupakan bahasa baku. Di antaranya: "gue", "lu", "pengen", "cepet", "ngerebonding", "nyalahin", "ngerayu", "nyangka", "ngeledekin", "ngabisin", "ngangkot", "ngerasain", "ngaca", "temen", "kalo", "nggak", "kesel", "banget", "dianter", "emang", "sebel", "tau", "mending", "simpen", "laen", "ngerti", "aja", "sorry", "abisnya", "udah", "seneng", "sebenernya", dan "ninggalin". Tetapi bagian ini juga masih menjadi polemik di kalangan ahli linguistik. Ada yang mengatakan, kata-kata tidak baku di dalam dialog tidak perlu dimiringkan, tetapi sebagian yang lain harus dimiringkan karena tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun FAM tetap berprinsip kata-kata itu harus dimiringkan.

    Teruslah berkarya dan tetap semangat menulis. Tebarkan inspirasi dan nilai-nilai bermanfaat lewat tulisan.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Cermin Maharani*

    Oleh : Yori Tanaka

    Takdir memumpun kita
    Jadi ingatan yang kekal
    Sejenak kita lupa
    Cara menjadi asing
    -Anna Lestari-

    Aku tak tahu mengapa hari itu wajahmu begitu muram. Semuram langit pagi yang diselimuti gerimis. Gerimis yang turut membasahi rambutmu yang bergelombang. Aku masih ingat sejak dulu kau selalu bilang, “Nanti setelah lulus SMA, gue mau kerja. Gaji pertama buat rebonding rambut.” Untuk apa me-rebonding rambutmu, Ran? Apakah kau masih belum merasa cantik? Seperti biasa kau akan marah bila aku memprotes niatmu itu. Tapi marahmu tak akan bertahan lama. Lalu kau akan memilin-milin ujung rambutmu dan bercerita lagi betapa menyenangkannya memiliki rambut lurus.

    Gerimis masih rintik saat kau masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiriku di meja ketiga. Dan kau lemparkan tas selempang lusuh itu ke meja. Lalu tubuhmu yang kurus dan jangkung beradu dengan kursi kayu yang setia menjadi teman duduk kita. Aku tersenyum. Namun kau tak membalas. Gerimis malah merintik dari matamu. Dan langit di luar masih saja menangis. Ah, kau kenapa, Ran? Aku sudah terbiasa melihatmu murung. Tapi melihatmu menangis? Sungguh itu adalah kali pertama kusaksikan sendiri air bening itu jatuh ke pipimu yang halus.

    “Gue pengen cepet lulus SMA. Pengen kerja.” Kau mengusap ujung matamu yang rembes oleh air mata.

    “Pengen cepet ngerebonding rambut?” Mungkin ekspresi wajahku terlalu serius saat menanyakan hal itu sehingga kau tertawa.

    “An, An.. Lucu banget sih muka lu!” Kau bangkit dari kursi, merogoh cermin kecil dari saku rokmu. Kau berkaca. Melihat matamu yang merah dan celak yang luntur oleh air mata. “Hari ini gue absen ke kantin. Nggak ada duit.” Aku tahu kau serius mengatakan hal itu. Dan kau pun tahu aku takkan membiarkanmu kelaparan sendiri. Maka jam istirahat itu kita ke kantin bersama, memesan roti bakar coklat keju dan segelas teh hangat.

    Di salah satu sudut kantin, ditemani teh hangat dan roti bakar yang harum. Kau membuka cerita. “Tadi pagi gue kesel banget sama emak! Gue nggak punya ongkos buat sekolah, minta ke bapak nggak ada, minta ke emak juga nggak ada. Tadinya gue nggak mau sekolah. Tapi sebentar lagi kan ujian. Emak malah nyalahin gue. Dia bilang, ‘Lu mah payah sih. Nggak bisa ngerayu cowok. Coba kalo lu punya cowok, bisa dianter jemput.’ Emangnya gue cewek apaan!” Kau bercerita dengan bibir bergetar. Ada sedih yang dalam terpancar di wajahmu. Sedetik kemudian, kristal bening kembali jatuh ke pipimu. Gerimis pun setia bersama dukamu. 

    Aku juga masih ingat benar ketika sekuat tenaga kau menghindar dariku. Saat bel pulang sekolah berdering, kau berlari menuju gerbang. Tapi aku keburu mencegatmu. Dengan wajah jutek kau melepaskan peganganku. “Gue buru-buru.” Aku membiarkanmu pergi dengan penasaran yang menghantui. Maka aku berjalan di belakangmu. Dan kulihat kau naik ke boncengan motor Jupiter entah dengan siapa.

    Hari berikutnya, kau juga lebih sering ‘buru-buru’. Hingga suatu hari sengaja aku bergegas menuju gerbang. Duduk di bangku panjang tempat mangkal pedagang batagor kesukaanmu. Kulihat ada Jupiter terparkir di dekat gerbang. Lalu tak lama kau muncul. Lelaki berjaket kulit dan bercelana jeans yang sedari tadi duduk di sebelahku tiba-tiba saja bangkit dan berjalan. Seketika lelaki itu sudah berada di hadapanmu dan menaiki Jupiternya lalu kau naik ke boncengannya. Apakah itu pacarmu, Ran? Tapi mungkinkah gadis secantikmu mau berpacaran dengan om-om botak dan berwajah biasa itu? Bukankah kau selalu mendambakan cowok-cowok tampan? Aku diliputi tanda tanya. Saat baru ingin beranjak, aku mendengar beberapa teman yang sedang memesan batagor berbisik. “Ternyata Maharani seleranya om-om ya!” Kiki berseru dengan nada mengejek. “Iya nggak nyangka.” Riris dan Hana menyambut ejekan Kiki dengan tawa. Aku mendidih mendengar lengkingan tawa mereka. Lalu aku beringsut pergi.

    Aku sengaja tak menanyakan tentang lelaki itu padamu. Karena aku tahu kau tak ingin menceritakannya. Jika kau berkenan, tentu sudah kau ceritakan sejak dulu. Namun ketika lagi-lagi gerimis datang di suatu pagi, kau duduk di sebelahku sambil merapikan rambutmu yang basah oleh gerimis. “Sebel gue, An! Gara-gara gue dijemput sama mas Wawan, gue diledekin sama genknya Kiki.” Oh, rupanya nama pacarmu Wawan? Seakan kau mendengar bisikan hatiku, kau bersuara “Lu juga mau ngeledekin gue? Mau bilang kalau gue pacaran sama om-om?” Aku menggeleng. Kau menjauhkan pandangan dariku. Lalu kau mulai menyusun kata-kata lagi. “Dia itu temen abang gue. Dia emang suka sama gue. Makanya dia anter jemput gue. Lu kan tau, duit gue pas-pasan. Daripada gue ngabisin duit buat ngangkot, mending duitnya gue simpen buat keperluan yang laen. Lu ngerti kan keadaan gue?” Ah, rupanya kau sudah bisa merayu lelaki seperti yang disarankan emakmu, Ran. Ungkapku getir.

    Kau memang sering bercerita tentang kondisi ekonomi keluarga, tentang bapakmu yang pengangguran, emak yang hanya kuli cuci, kakak-kakak yang sudah menikah, adik-adik kecil yang masih sekolah. Dan penghasilan emak biasanya hanya cukup untuk makan. Sungguh, aku sangat bersedih. Itulah alasanku sering menraktirmu makan atau mengantarmu pulang.

    “Terus nanti lu dijemput lagi?” Aku bertanya hati-hati, khawatir kau meledak lagi.

    “Nggak! Malu! Gue jalan kaki aja.” Ternyata kau benar-benar meledak. Lalu tanganmu bermain-main dengan cermin kecil kesayanganmu itu.

    ***

    Aku sedang memilih cermin-cermin cantik yang tergantung di rak sebuah department store. Ada yang berbentuk bulat, persegi, dan oval. Warnanya pun beragam. Setiap melihat cermin, aku selalu megingatmu. Sudah hampir setahun aku tak melihatmu, sejak lulus SMA. Dan hari ini, aku akan membeli cermin kecil untuk hadiah ulang tahunmu. Aku akan mengunjungi rumahmu dan memberikan kado kecil ini. Tentu seperti biasa, kau akan menyambutku dengan ceria. Dan kau akan membuka hadiah kecilku dengan semangat. Aku tersenyum sendiri mengkhayalkannya.

    Setelah lama memilih, akhirnya aku dapatkan cermin persegi coklat muda dengan manik-manik cantik di belakangnya. Lalu aku berjalan menuju kasir. Di meja kasir yang berjarak lima meter dariku, berdiri seorang wanita muda, tinggi, dan berambut lurus. Dia tersenyum ke arahku. Wanita itu mirip sekali denganmu, yang membedakan adalah rambutnya yang lurus dan wajahnya yang dibalut make up tebal. Tapi sungguh, saat berjalan menuju kasir, aku seperti melihat dirimu. Semakin dekat bayanganmu pun semakin merasuk pada raga kasir itu. Berkali-kali aku mengerjapkan mata. Dan yang kulihat masih wajahmu.

    “An!” seru kasir itu. Aku terkejut mendengar suara kasir yang sangat mirip dengan suaramu. “Ini gue Rani! Lu lupa sama gue? Tega lu!” Aku gelagapan. Masih tak percaya dengan pendengaranku. Sudah rebonding rambut, Ran?

    “Sorry, gue nggak ngeh. Abisnya lu beda sih. Hee. Udah lama kerja di sini, Ran?”

    Lalu kau bercerita bahwa selepas SMA kau langsung melamar sebagai kasir, gaji pertama kau gunakan untuk rebonding rambut dan sekarang kau sudah punya pacar tampan yang siap antar jemput. Untungnya meja kasir sedang sepi. Jadi kau bisa bercerita dengan leluasa. Dan aku mendengarkan dengan rasa bahagia. Akhirnya apa yang kau inginkan tercapai, Ran. Lalu kita bertukar nomor handphone.

    “Jadi sekarang lu juga seneng ngaca, An?” Kau menggodaku.

    “Sebenernya ini hadiah buat ulang tahun lu. Niatnya gue mau ke rumah, tapi ternyata ketemu di sini. Met ultah ya! Ini buat lu!” Lalu kau memelukku erat. Dan kita berpisah dengan haru.

    ***

    Setahun sudah sejak pertemuan itu. Aku hanya mengetahui kabarmu lewat SMS. Setiap ingin mampir ke rumahmu, kau bilang kau sedang bekerja. Akhir-akhir ini nomormu tak aktif. Hingga tepat di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh, aku nekat ke rumahmu. Untuk kesekian kalinya aku pun menyiapkan cermin cantik untuk kado ulang tahunmu.

    “Ran!” Kau sedang menggendong bayi mungil di teras rumah. Tak seperti biasanya, tak ada segaris pun senyum yang kau sunggingkan.

    “Masuk, An!” Ekspresimu datar. Ah, apakah aku datang di waktu yang tak tepat, Ran? Aku jadi tak enak hati. Kita hanya mengobrol sekenanya saja. Lalu tak sampai sepuluh menit, aku pamit. Bahkan kado yang sudah kusiapkan, urung kuberikan.

    Di perjalanan pulang. Saat duduk di angkot reyot. Ada pesan singkat dari nomor yang tak dikenal. “An. Maafin atas sikap gue yang dingin. Gue kaget lu dateng ke rumah. Gue nggak siap. Gue malu sama keadaan gue sekarang. Hidup gue terpuruk. Begitu banyak penderitaan yang gue alami setahun belakangan ini. Gue dikucilkan masyarakat karena bayi yang gue lahirkan tanpa suami. Gue hamil dan cowok brengsek itu ninggalin gue. Lu nggak marah kan sama gue? Lu ngerti kan keadaan gue? Dan gue harap lu bisa bercermin dari kehidupan gue. Lu nggak boleh salah bergaul. Lu nggak boleh ngerasain apa yang gue rasain. Kapan-kapan main lagi ya, An! Jenguk ponakan lu nih. Namanya Alfa.”

    Aku bergetar. Gerimis rinai di ujung mataku. Lalu, hari itu jadi muram. Semuram cermin yang kupegang. Cermin yang urung kuberikan padamu. Biarlah itu jadi cerminku dan kunamai cermin Maharani. 

    ***

    *Cerpen Cermin Maharani ini akan dipublikasikan dalam bentuk buku antologi cerpen Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 19 yang diterbitkan oleh 3M. 3M adalah salah satu perusahaan penerbitan indie di Banten.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Cermin Maharani" Karya Yori Tanaka (FAMili Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top