• Info Terkini

    Friday, July 19, 2013

    Ulasan Cerpen "Dahan Pinus" Karya Amika An (FAMili Sumatera Barat)

    Cerpen ini mencoba menyampaikan sebuah harapan yang mulia. Harapan itu berawal dari isi hati seorang perempuan bernama Minari atau Kak Min. Kak Min adalah guru bagi anak-anak yang hidup dalam segala keterbatasan. Namun tempat mereka saling belajar bukanlah ruang kelas pada umumnya, melainkan sebuah bukit yang indah.

    Kak Min mengajak bocah-bocah yang tinggal di sekitar tempat itu untuk berkumpul bersama, layaknya seorang guru yang merangkul murid-muridnya dengan ikhlas, untuk kemudian belajar tentang bagaimana berusaha mengejar mimpi dengan benar. Tidak ada gambaran yang jelas dalam cerpen ini bahwa tokoh Kak Min adalah seorang guru dalam arti yang sebenarnya. Namun segala kelembutannya dalam menghadapi kepolosan anak-anak itu, cukuplah menjadi bukti bahwa kemuliaan hati Kak Min laksana pahlawan tanpa tanda jasa dan patut untuk kita teladani.

    Perubahan. Itulah yang hendak disampaikan olehnya pada hari-hari yang mereka lalui. Tentunya perubahan menuju waktu dan tempat yang lebih baik, dengan tidak mengabaikan kejujuran dan kebenaran sebagai dasar dalam hati dan pikiran. Maka, bocah-bocah itu bak berlian yang terbenam dalam lumpur, lalu Minari berusaha sekuat tenaga untuk mencari, membersihkan, dan membuatnya berarti di mata dunia.

    Secara keseluruhan, cerpen ini sangat indah. Membacanya, membuat kita serasa menjalani peran sebagai salah satu atau seluruh tokoh di dalamnya. Kita akan belajar bahwa hidup tidak selamanya buruk. Tak peduli meski berdiri di balik segala keterbatasan, seseorang berhak untuk bermimpi. Gaya bahasa sehari-hari namun puitis dan kadang lucu, menambah nilai tersendiri pada cerpen ini.

    Namun untuk sebuah cerpen, agaknya tulisan ini terlalu panjang (11 halaman), sehingga kurang terfokus pada satu akar permasalahan. Meski begitu, Tim FAM menilai bahwa penulis sudah cukup mahir bermain kata, terutama pada pendeskripsian tempat dan suasana hati.

    Sedikit koreksi mengenai EYD. "Kemana", "kesitu", dan "kesini" seharusnya ditulis "kemana", "kesitu", dan "kesini". Kemudian "ku bilang", "ku kembangkan", "ku rasa", "ku tanya", dan "ku simpan" seharunya ditulis "kubilang", "kukembangkan", "kurasa", "kutanya", dan "kusimpan".

    Kata "shalat" dan "Al-Qur'an" yang sesuai dengan aturan Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah "salat" dan "Alquran". "Berfikiran", "kemaren", dan "melunjak", yang benar adalah "berpikiran", "kemarin", dan "melonjak". "Dimana", "disana", dan beberapa kata sejenis yang benar ditulis "di mana", "di sana", dan seterusnya, karena merupakan sebuah kata keterangan tempat. Sedangkan untuk "sedikitpun", "siapapun", dan "kapanpun", harusnya "sedikit pun", "siapa pun", dan "kapan pun".

    Kata yang bukan bahasa baku seperti "orange" dan "ndak", baiknya diketik dengan huruf miring.  Lalu "mengkerut" seharusnya "mengerut". Serta "orang tua" dalam hal ini adalah mereka yang berperan mendidik, merawat dan membesarkan anak, maka yang benar penulisannya harus digabung menjadi "orangtua".

    Terakhir, untuk penulisan nama panggilan "Ayah", "Ibu", "Dik", dan "Kakak" harus diawali dengan huruf besar.

    Sementara pada tanda baca ditemui banyak sekali kekeliruan. Berikut sebagian contohnya:

    “Assalamu’alaikum, kak.” Sapa seseorang dari arah belakang.

    Yang benar adalah: "Assalamu'alaikum, Kak," sapa seseorang dari arah belakang.

    Perhatikan perbedaan tanda baca dan huruf pada dua kalimat itu. Huruf depan pada kata "kak" harus menggunakan huruf kapital. Sementara apabila dialog berbentuk sebuah pernyataan, maka diakhiri dengan tanda koma, untuk kemudian ditutup dengan tanda petik. Nah, kata "sapa" setelah tanda petik tetap diketik dengan huruf kecil karena masih berupa satu kesatuan dengan kalimat dialog tersebut.

    “Aisha cari apa?” Tanyaku.
    Yang benar adalah: "Aisha, cari apa?" tanyaku.
    Seperti penjelasan sebelumnya, kata "tanyaku" berawal dengan huruf kecil karena satu kesatuan dengan kalimat dialog sebelumnya.

    Pesan dari Tim FAM untuk penulis agar lebih giat berlatih, terutama pada penggunaan tanda baca dan EYD. Sedangkan dari segi isi cerita, penulis sudah cukup baik. Hanya tinggal mengasahnya agar torehan pena Anda dapat menjadikan karya-karya yang lebih bermakna di kemudian hari.

    Tetap semangat dan jangan berhenti menulis.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Dahan Pinus

    Karya Amika An (FAMili Sumbar)

    Seperti sebatang pinus, yang  terus tumbuh dari waktu ke waktu,
    Dahannya gemulai, kemana angin, kesitu mereka meliuk bisu,
    Dahan pinus polos, lugu, dengan cerita hidup penuh liku,
    Aku bersama mereka, dahan-dahan pinusku.

    Selepas shalat ashar, aku  bergegas menuju bukit cantik yang biasa digunakan orang sebagai tempat santai keluarga. Dari sini tampak begitu moleknya alam kami. Petakan-petakan sawah berwarna hijau kuning, jalan-jalan yang saling menyambung dari satu  kampung ke kampung lain bak selembar kertas yang sering kami gunakan untuk bermain ludo, main dadu. Kecil sekali jika dipatut dari ketinggian. Danau Singkarak juga begitu, tak jauh beda dengan genangan air di pinggir jalan saat hujan mengguyur deras. Asap-asap yang membumbung itu pertanda heler sedang membakar jerami. Memang banyak tempat penggilingan padi di sana, karena dimana-mana kecupan bareh solok itu mahsyur, enak, manis, putih, gurih rasanya. Semua orang tahu itu, kualitasnya sudah dipercaya sejak ribuan tahun yang lalu.

    Aku sengaja datang lebih awal, setengah jam lagi sebenarnya janji berkumpul itu kami sepakati. Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk mereka. Seminggu yang lalu kami sepakat bahwa hari ini temanya adalah pahlawan. Sebenarnya aku yang mengusulkan tema itu, alasannya sederhana, karena bagiku  di jiwa mereka ada darah  juang yang tak henti mengalir. Tapi aku  menyembunyikannya, ku bilang karena di bulan November nanti akan diperingati hari pahlawan pada tanggal sepuluh, maka dari jauh-jauh hari kita mesti persiapkan diri. Persiapan kita harus matang, dalihku. Dan mereka sama sekali tak curiga, percaya.

    “Assalamu’alaikum, kak.” Sapa seseorang dari arah belakang.
    “Waalaikum salam. Hei, Aisha rupanya.” Dia mencium tanganku.
    “Silahkan duduk, dik.”
    “Iya, kakak sewa tikar ya?”
    “Tidak. Kakak bawa sendiri dari rumah.”
    “Kenapa tidak pinjam di rumah Aisha saja, kak?”
    “Ndak apa-apa. Bisa dilipat  kok. Tadi juga kakak taruhnya di jok motor. Jadi ndak terlalu berat, dik.”
    “Ooh, minggu besok kita pakai tikar lagi, kak?”
    “Insyaallah ya.”
    “Biar Aisha saja kak, yang bawa.”
    “Hmm, ndak usah. Aisha cukup bawa senyum saja kesini.” Aku mengelus kepalanya yang dibalut kerudung orange.
    “Yang lain kok belum datang ya, kak?”
    “Barangkali masih di jalan. Kita tunggu saja ya?”
    “Iya, kak.”

    Aisha sibuk memeriksa tas winnie the poohnya yang hampir penuh tumpahan tinta. Selain dibawa untuk santai, dia juga menggunakan tas itu untuk sekolah. Wajar, jika bekas tinta dimana-mana. Aku mengamatinya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. Keningnya mulai mengkerut.

    “Aisha cari apa?” Tanyaku.
    “Barang penting kak.” Jawabnya panik.
    “Apa? Uang jajan?”
    “Tidak kak.”
    “Terus?”
    “Ini pasti ketinggalan.” Gumamnya tanpa menjawab pertanyaanku.
    “Apanya yang ketinggalan, dik?”
    “Foto kak.”
    “Foto siapa?”
    “Pahlawan Aisha, kak.” Jawabnya murung.
    “Boleh Aisha jemput pulang, kak?” sambungnya.
    “Boleh. Kakak tunggu disini ya? Hati-hati di jalan.”
    “Iya, kak.”

    Bocah kecil itu berlari menuju  rumahnya. Aku memberinya izin karena jarak rumah Aisha tidak terlalu jauh. Biasanya dia juga sering izin pulang. Kebiasaan Aisha memang seperti itu. Ada-ada saja barangnya yang ketinggalan. Masing-masing manusia punya sifat berbeda, rambut boleh sama hitam tapi isi kepala? Rupa-tupa warnanya. Semacam pelangi, begitupun dengan mereka. Sudah dua bulan aku menjalankan realisasi benang kerut di benakku, aku ingin mereka tumbuh cerdas. Membentuk karakter mereka menjadi calon-calon pengusaha yang tidak mengeruk uang negara. Jika mereka besar nanti, aku  ingin mereka menjadi tonggak bangsa yang menggerakkan roda perekonomian. Makanya aku latih mereka berdagang. Tak hanya jiwa dagang saja yang ku kembangkan, satu jam pertama aku mengajak mereka bercerita lepas mengenai apa saja, dunia kanak-kanak dan hal-hal lain yang ku rasa perlu mereka pahami. Layaknya hari ini, tentang pahlawan. Aku yakin mereka sudah menyiapkan diri. Antusiasme yang mereka perlihatkan minggu kemarin, mencirikan bahwa mereka cinta tema ini.

    “Kakak, Assalamu’alaikum.”
    ‘Waalaikum salam. Sultan.” Seperti Aisha, Sultan juga mencium tanganku.
    ‘Kakak, kakak...” dua suara berbeda dari kejauhan. Tampak Dimas dan Raya melambaikan tangan ke arahku. Tingkah mereka yang menggemaskan itu membuatku tersenyum simpul. Mereka kakak beradik yang sejak lama ditinggalkan orang tuanya. Orang kampung bilang ayahnya sudah berisitri lagi dan ibunya kerja ke Padang, di warung nasi. Pulang hanya setahun sekali. Mereka tinggal dengan Tek Ana, ibu dari ibunya yang usianya mulai senja. Tidak disini saja, jika bertemu denganku di pasar pun, mereka akan bertingkah semacam itu. Dari jauh sudah berteriak. Mereka berlari menuju aku dan Sultan.

    “Aisha mana, kak?” Gerutu Raya.
    “Ke rumahnya, ada yang ketinggalan.”
    “Hiih, itu saja kerjaannya. Macam  nenek aku saja kak, hobinya lupa.” Sungut Dimas.
    ‘Dimas ndak boleh bicara seperti itu. Ndak baik.”
    “Tuh, dia.” Pungkas Sultan.
    “Assalamu’alaikum semuanyaa...” sapa Aisha.
    “Hhaha. Kau ini mau konser? Nada semuanya itu lo, semalam aku nonton di tv, vokalis bandnya pakai kata-kata itu.” Ejek Dimas.
    “Aku juga nonton Uda. Ndak gitu dia. Kata semuanya itu dia gunakan untuk mengajak penontonnya bernyanyi bersama.” Cela Raya.
    “Ya apalah itu gunanya, intinya tetap seperti mau konser. Rhoma Irama tau? Ha, ndak beda jauh kedengarannya.”
    “Hhhahha...” Mereka tertawa serentak.
    “Sudah becanda nya ya?  Sultan, buka acaranya.” Aku menengahi.

    ‘Iya, kak.” Sultan memulainya. Seperti biasa, diawali dengan pembacaan Al-Qur’an secara bergiliran. Usai pembacaan Alqur’an aku mendiktekan sepucuk sejarah tentang pahlawan. Pahlawan yang diilhami banyak orang. Tentang mereka yang dikenal dengan pejuang-pejuang di medan perang dan mereka, yang menjahit benang bernama Indonesia ini dengan kucuran darah-darah segar di pagi buta, tengah malam. Mengibarkan merah putih tak seenteng sekarang, tak seperti hari Senin, dimana dua orang siswa laki-laki menariknya dari dua arah berbeda. Kemudian jika ada yang tersangkut atau bendera itu tak berkibar seperti mana mestinya, peserta upacara tertawa, tak semurah itu. Debur ombak di dada enam puluh delapan tahun yang lalu menghempas kuat, sekarang mungkin sudah menjadi riak-riak kecil. Dan hanya dijadikan seremonial belaka.

    “Kepada, Sang Merah Putih, hormaaat grak!” semuanya hormat. Tapi dalam hormat ada buih kehormatan yang hilang. Hanya sebatas gerakan menempelkan  sisi telunjuk di dahi, dengan ibu jari tertindih dan jari-jari lain merapat ke udara. Setelah itu, dalam siku yang menggantung, ada yang mencolek-colek teman, bicara, senyum-senyum sendiri dan menghitung kancing baju. Mereka menghargai pahlawan? Barangkali dalam hal ini tidak.”

    “Apa hanya ketika upacara bendera saja, kita menghargai pahlawan bangsa, Kak Min?” Tanya Aisha.
    “Hmmm... siapa yang bisa jawab?” aku memandang mereka satu-satu.
    “Raya, kak.”
    “Coba, kemukakan pendapatnya, sayang.”
    “Mmm... menurut Raya tidak. Nenek bilang, dengan belajar sungguh-sungguh juga bisa. Dengan itu kita bisa mencapai cita-cita dan berbakti pada negara.”
    “Bagus sekali pendapat Raya. Ada pendapat lain?”
    “Bapak pernah katakan, manfaatkan waktumu baik-baik, jika hendak menghargai pahlawan.” Sambut Sultan.
    “Aih, apa pula hubungannya? Pungkas Dimas.
    “Ada lah. Waktu itu bagaikan pedang, jika tidak pandai-pandai nanti dia bisa tebas leher kita sendiri. Menghargai pahlawan pun mesti begitu. Nanti pahlawan akan tanya kau: Hei Dimas, aku  sudah berjuang untukmu, sekarang apa yang telah kau perjuangkan untukku? Ha, kau mau jawab apa kalau kau buang waktumu sia-sia? Lain hal, kalau kau belajar tekun, kau bisa jawab: Aku berjuang melawan rasa malas, pahlawan.”
    “Hhahaha...” Tawa mereka meledak lagi, kecuali Dimas.

    “Benar begitu, Kak Min?  Dimas merasa tidak sependapat.
    “Ya. Makanya, Dimas ndak boleh malas-malas lagi. Dimas harus belajar. Bikin PR ndak boleh di sekolah, kerjakan di rumah. Begitupun kalian. Mengerti?”
    “Mengerti, Kak Min.” Anggukan mereka semangat.

    “Nah, sekarang Kak Min mau tanya, selain pahlwan bangsa yang diidolakan banyak orang, siapa pahwalan bagi hidup kalian?”
    “Pipi  Mimi, Kak Min.” Ungkap Raya.
    “Sejak kapan panggilan mereka kau ganti, Ray?”
    “Sejak aku dengar Aurel panggil Anang-Krisdayanti seperti itu. Lebih enak menyebutnya, dari pada ayah  ibu.”
    “Sembarangan saja. Ndak, ndak boleh. Kita harus penggil ayah  ibu sampai kapanpun. Tega nian kau, Ray.”
    “Ih, Uda ni. Boleh kan, Kak Min?”
    “Boleh, tapi sebaiknya tidak. Ayah ibu lebih senang jika kita memanggil mereka dengan panggilan yang mereka ajarkan. Mereka memilih panggilan itu, karena menurut mereka itulah yang terbaik. Tidak asal pilh. Begitupun dengan memberi nama. Raya, nama itu mungkin mendapatkannya butuh usaha dan waktu yang cukup lama. Apa jadinya jika setelah dia tumbuh, gadis cantik mereka mengganti namanya? Menurut Raya, apakah mereka sedih?”
    “Sedih, Kak Min.”
    “Nah, makanya, jangan diganti-ganti, Raya paham maksud Kak Min?”
    “Paham, Kak Min.”
    “Bagus. Kalau bagi Dimas, pahalawan itu siapa?”
    “Nenek, Kak Min. Ayah ibu tidak patut jadi pahlawan.”
    “Hei, kenapa Dimas berkata seperti itu?”

    “Buktinya mereka titipkan Dimas dan Raya dengan  nenek. Tak pernah rindu, tak pernah jumpa, tak pernah segalanya, Kak Min. Dimas juga ingin dipeluk ayah, dicium ibu. Pagi-pagi dibangunkan mereka, malamnya ditidurkan, dinyanyikan, dibacakan dongeng. Hhaha.. mimpi Dimas terlalu tinggi ya, Kak Min?” Sambil tersenyum, aku lihat Dimas menyeka butiran bening di sudut matanya.

    “Dimas ndak boleh berfikiran buruk. Ayah ibu sedang mempersiapkan kejutan istimewa untuk Dimas dan Raya. Mereka tahu cita-cita anaknya. Sekarang mereka sedang berjuang untuk mempersembahkan itu. Modal awal untuk membangun perusahan itu tidak sedikit. Siapa menurut Dimas yang akan memberi modal? Ya mereka, ayah ibu. Kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perusahaan Dimas bangkrut misalnya, siapa yang bantu? Ya ayah ibu. Jadi Dimas mesti banyak-banyak sabar. Tidak ada orang tua seperti yang Dimas bayangkan. Mengerti?”

    “Mengerti, Kak Min. Tapi nenek juga pahlawan. Kak Min pernah dengar lagunya?”
    “Ada lagunya? Coba Dimas nyanyikan, Kak Min mau dengar.”

    “Nenekku pahlawanku, pantang mundur nasehatiku, bahwa bila gugur satu, akan tumbuh sepuluh ribu. Aku tak menangisimu hu hu hu.”
    “Ku masih bisa tertawa ha ha ha.”
    “Walau kau terus lukai aaku.”
    “Nenek bilang kuat kuaat.”

    Sambung menyambung mereka bernyayi. Wajah-wajah sendu itu seketika berubah ceria. Aku bahagia jika melihat mereka tertawa lepas di depanku. Bagiku, ini semua telah lebih dari kebahagiaan berwisata keliling dunia. Pasangan mata mereka, bagai cermin ajaib, yang setiap kali ku tanya: “Cermin, siapakah yang paling beruntung di dunia ini?” maka cermin itu menjawab: “Kau, Minari. Dikelilingi mereka, itu keberuntungan yang tidak dirasakan manusia lain di bumi ini.”

    Aku mengeluarkan kue-kue kecil dan minuman botol dari tas ku.
    “Yuk, dimakan. Diminum juga bagi yang haus.”
    Mereka berebut mengambilnya.

    “Nyanyi siapa yang barusan, Dim?” Tanyaku sambil mengunyah kacang.
    “Ah, masa Kak Min ndak tau?”   
    “Itu yang nyanyi cari jodoh.” Kilah Sultan.
    “Jodoh itu apa, Kak Min? Kak Min sudah punya jodoh?” Selidik Aisha. Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
    “Hus, itu urusan orang dewasa.” Aku berdalih.
    “Ah Kak Miiiin. Aku tau jodoh Kak Min. Bang Dirham kan?” Aku tesipu. Cepat-cepat ku netralkan suasana.
    “Lain kali kita bicarakan itu ya. Belum waktunya.” Pungkasku.
    “Haaa, Kak Min malu ya? Hhahaha. Kak Min mesti dapatkan jodoh yang baik-baik. Jangan sampai Kak Min berjodoh dengan orang yang jahat.” Dimas menasehatiku.
    “Jodoh itu ditangan tuhan. Tidak ada yang tahu  kapan dan dimananya. Rahasia.”

    Aku beralih.
    “Sekarang Aisha. Siapa pahlawan menurutmu, dik?”
    “Ini Kak Min.” Dia memperlihatkan selembar foto.
    “Siapa ini?”
    “Ni Dang, Kak Min.”
    “Kakak Aisha?”
    “Ya. Tapi tidak kakak kandung.”
    “Kak Min ndak pernah lihat rasanya.”
    “Memang ndak lah Kak Min. Aisha saja baru  sekali bertemu Ni Dang ini.”
    “Dimana itu?” Tanyaku penasaran.

    “Waktu itu Aisha diajak Mak ke pasar. Hampir lebaran  ramainya ndak tahan kan Kak Min? Di los ikan, Mak sibuk menawar, Aisha sibuk main air. Taunya Mak menghilang. Aisha sudah kelilingi los tapi ndak ketemu-ketemu Mak. Aisha nangis, Kak Min. Ingat cerita anak yang sengaja dibuang orang tuanya ke hutan, jangan-jangan Mak sengaja buang Aisha ke pasar. Aisha ndak tau jalan pulang Kak Min. Tiba-tiba ada perempuan cantik. Dia tanya banyak hal. Dia baiiiik sekali Kak Min. Sebelum diantar pulang, Aisha dibelikannya makanan. Mirip Sulis kan Kak Min? Makanya Aisha minta fotonya. Sampai sekarang Aisha simpan. Coba kalau waktu itu tidak ada Ni Dang, entah bagaimana nasib Aisha sekarang, Kak Min.”

    “Waah, menarik sekalicerita tentang pahlawan Aisha. Boleh Kak Min lihat fotonya lebih dekat?”

    “Boleh, ini Kak Min.” Aisha menyerahkannya ke tanganku. Seorang perempuan berjilbab hijau muda, berlesung pipi, mancung hidungnya. Sekilas memang mirip dengan Sulis.

    Angin bukit mengajak tudung pinus berdansa. Melenggak-lenggok di udara. Asap-asap pembakaran jerami masih begitu. Sultan belum ku tanyai perihal sosok pahlawannya. Aku sulit memulainya. Takut jika kejadian terhadap Dimas terulang lagi. Aku khawatir jika pahlawannya juga sosok yang sudah berlalu. Ayah ibunya tertimbun longsor saat dia masih berusia tiga tahun. Mereka pendatang dari Jawa. Hingga kini, tak ada sanak saudara yang menjemputnya. Sultan dirawat Pak Kasri, yang sehari-harinya bekerja menerima upah mengolah  ladang orang. Tapi mudah-mudahan saja pahlawannya adalah Pak Kasri, supaya air matanya tak menggenang seperti Dimas ketika ingat ayah  ibunya.

    “Ok. Terakhir, Sultan. Siapa pahlawan yang akan terus kau kenang, dik?”
    Lama dia terdiam. Kemudian menggeleng.
    “Aku tidak ingin menceritakannya pada siapapun, Kak Min.”
    “Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat untuk saling berbagi cerita?”
    “Iya. Tapi aku merasa tidak enak, Kak Min. Dia lebih tepat disebut malaikat, bukan pahlawan.”
    “Hah, kau  melenceng terus. Kita itu membicarakan pahlawan, bukan  malaikat.” Dimas menyanggah.
    “Suka-suka aku lah. Tadi kan aku sudah bicara tentang pahlawan, tidak ada salahnya sekarang aku bicara yang lain.”
    “Begini saja, bagaimana kalau  minggu depan kita bicara malaikat? Setuju?”
    “Setuju, Kak Min.”
    “Baiklah, kita tutup pembahasan mengenai pahlawan. Kita bahas bisnis sekarang!”

    Mereka mulai sibuk mengeluarkan buku catatan berisi rentetan pendapatan, juga kantong kresek kecil yang isinya adalah hasil penjualan. Aku sudah menyediakan celengan bambu untuk menaruh laba dari hasil kerja keras mereka. Jika sudah penuh, rencananya akan digunakan sebagai pembeli kebutuhan sekolah. Aku bercerita tentang kelangkaan solar yang akhir-akhir ini terjadi, juga kemaren, tentang bawang yang harganya melunjak. Tentang Aburizal Bakrie, pengusaha yang ingin menjadi presiden, Andre Rosiade, pengusaha terkenal yang fotonya banyak di sepanjang jalan Kota Padang. Bill Gates, sang pengusaha Microsoft yang hartanya sudah tak terbilang.

    “Kak Min, langit mulai gelap. Sepertinya mau hujan.” Raya cemas.
    “Ya ampun, Kak Min sampai ndak lihat langit. Ya sudah, kita cukupkan dulu pertemuan hari ini.”
    Dimas memimpin do’a penutup.
    “Alhamdulillah. Sudah selesai. Ingat, tetap semangat dan?”
    “Salam pengusaha!” pungkas mereka.
    “Pamit ya, Kak Min. Assalamu’alaikum.”
    “Waalaikum salam. Hati-hati di jalan ya?”
    “Iya Kak Min.” Mereka mengayun langkah. Aroma awan hitam mulai tercium. Aku buru-buru melipat tikar santai. Berlari menuju parkir motor.

    “Lo, Sultan, kenapa belum pulang?”
    “Nunggu Kak Min. Mau  ngasih surat.”
    “Surat tentang apa?”
    “Malaikat.”
    “Nanti Kak Min baca ya? Lalu komentari tulisan Sultan bagus atau tidak. Sultan mau ikut lomba, Kak Min.”
    “Waah, hebat. Ya sudah. Nanti sampai rumah Kak Min baca ya? Sekarang Sultan pulang. Keburu hujan.”
    “Iya Kak Min.”

    ***

    Malaikat itu cantik, baik. Terima kasih tuhan, telah menghadirkan malaikat itu dalam hidupku. Malaikat itu dari cahaya, yang membuatku merasa terang, selalu.
    Malaikat itu,
    Kak Min.

    Kak Min, terima kasih telah menyayangi Sultan. Sultan merasa bangga bisa mengenal Kak Min. Kak Min, Sultan mau ikut lomba. Tapi bukan lomba menulis. Sultan ingin berlomba mengejar cita-cita, lebih tinggi dari  pucuk pohon pinus. Besok Sultan berangkat Kak Min. Bersama paman yang kemarin datang dari Kediri. Ternyata Sultan masih punya paman. Kak Min jaga diri baik-baik ya. Kalau Sultan sudah besar nanti, Sultan jemput Kak Min. Kita bangun perusahaan ya Kak Min? Kak Min tolong jaga Dimas, Raya dan Aisha  ya?

    Sultan sayang Kak Min.

    Air mataku mengucur deras. Seiring kucuran hujan yang memantul atap malam ini. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Besok Sultan pergi. Itu berarti, aku akan kehilangan setangkai dahan pinusku. Tapi mudah-mudahan dia akan lebih baik jika bersama pamannya. Sultan, Kak Min juga sayang kamu. Kak Min doakan kamu disana tak lagi menjadi dahan pinus, tapi pohon yang punya banyak dahan. Aku mengikuti bekas lipatan suratnya. Ku simpan baik-baik. Sebaik takdir yang telah mempertemukan ku dengannya, dengan mereka.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Dahan Pinus" Karya Amika An (FAMili Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top