• Info Terkini

    Tuesday, July 2, 2013

    Ulasan Cerpen “Gelap” Karya Vivid Habib (FAMili Surabaya)

    Cerpen ini menceritakan hubungan tanpa status (HTS) antara Hasan dan Rini. Hubungan yang rumit, hadirnya perasaan sayang satu sama lain, memiliki panggilan sayang “Mimi” dan “Pipi” namun tak pernah menghadirkan sebuah komitmen. Hasan memiliki yang lain, begitu juga Rini yang menghampirinya ketika sepi melanda. Semua berjalan manis, hubungan tak jelas yang indah namun menyiksa.

    Cerpen yang ditulis Vivid Habib ini lebih memfokuskan pada perasaan pelakon (aku) yang galau karena perasaan yang terombang-ambing. Perasaan yang dia sendiri tidak memahaminya, semuanya gelap. Penulis sudah mampu bercerita dengan baik tentang sisi “gelap” yang menjadi inti tulisan ini. Namun hendaknya penulis jangan terlalu banyak menggunakan kata “ah” karena dapat menghilangkan keindahan kata. Gunakan secukupnya saja, pada bagian-bagian yang dianggap bagian dari puncak perasaan yang galau. Selain itu, penulis belum pada posisi penyampaian pesan moral. Sebenarnya penulis masih bisa megembangkan cerita ini dengan lebih manis dan ada pesan di dalamnya.

    Baiklah, Vivid habib. Teruslah menulis, teruslah membaca untuk mendapatkan ide-ide cerita yang menarik. Jangan lupa untuk mengirim tulisanmu ke media ya? Dengan sering menulis pena akan semakin tajam dan tulisan akan semakin berkualitas.

    Tetap semangat! Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Gelap!

    Oleh: Vivid Habib

    “Hey, Rin, apa kabar?” Sapaku malam ini kepada dia yang disana. “Baik, Miss you ” ah, kau mengingatkanku pada kenangan itu, Manis. Kenangan yang sempat terlupakan dan terabaikan setahun yang lalu. Saat kau baru ditinggal oleh pacarmu, setelah 3 tahun lamanya kau merenda cinta. “Miss you too ” balasku dengan emoticon senyum, layaknya aku senyum padamu dulu. “Nomor hp kamu berapa?” Ah, mencoba untuk menyambung tali silaturahmi yang telah terputus sekian lamanya. Ah, masih ku ingat ketika kita bertemu dulu sebelum unas, kau tunggu aku di taman kota. Saat tak boleh ada pelajar keluyuran. Akupun ditanya oleh pamong praja, berasal darimana. Maklum, rumahku 60 kilometer dari taman kota ini. “Nomor hp kamu aja deh, ntar aku sms.” Ah, tiba-tiba ingatan itu mengalir seperti air. Saat kau pertama sms aku , memanggil namaku. Lalu kau panggil aku dengan sebutan “Pipi” dan kaupun “Mimi”, rasanya sudah sangat membuatku tersenyum lega.

    Pipi. Yah, sebuah nama itu memang membuatku lega. HTS. Sebuah hubungan yang rumit dan aku terjebak didalamnya bersamamu. Kita memang berhubungan, tapi tanpa status. Oh, geli aku mengingatnya.

    “Mimi lagi apa? Eh mi besok aku jemput lagi ya?” Aku, pelampiasan yang empuk untukmu. Dan aku tak menyadarinya kalaupun aku yang menjadi pelampiasanmu dalam hubungan ini. Indah, tapi sakit. Dan aku tak mengetahuinya. Meskipun aku tak mengetahuinya, toh aku tetap tersenyum mengingat semua saat bersamamu. Waktu yang indah memang, jujur aku sangat merindukannya. Meskipun sebuah hubungan tanpa status.

    Hubungan ini gelap, memang bisa dibilang begitu.

    Hubungan ini sebagai pelampiasanmu, memang kuakui begitu. Tapi aku tak secara langsung menyadarinya.

    Aku dan Kamu…

    Ah andai semua ini tak terjadi, andai aku tak menyapamu…

    Semua ini terjadi secara kebetulan, dan aku tak mengira kau akan menghubungiku.

    “Hasan ”

    “Siapa ini” tanyaku penuh heran

    “Rini  maaf yaa ngambil nomormu.” secara sengaja memang aku meletakkan nomerku di jejaring itu, tujuanku hanya untuk mencari teman.

    Kita terus berlarut dalam obrolan sengit ini.

    Sekian waktu berlalu…
    Ah kita semakin dekat
    Waktu semakin membunuh
    Kitapun semakin terjebak dalam kegalauan rasa ini
    Aku tak berani mengakhirinya, dan kaupun juga begitu
    Aku hanya pereda cintamu saat kau butuhkan dia
    Bahkan setelah pertemuan kita

    “Hey, Rin.” sapaku malam itu

    “Iya, Pi? Ciyeee ceweknya baru ,namanya sapa Pi?”

    “Namanya sama kayak kamu , Cuma beda akhiran.” balasku singkat

    Lalu kita pun terdiam, menyadari kegelapan hubungan ini

    Kalbuku berontak, jiwaku melesak. Ah jauh didalamnya yang kuinginkan hanya dirimu. Tapi aku takut melukai hatinya. Aku menyayanginya, begitupun dia. Aku tak sanggup bila aku harus manamaimu “Mimi” ah buyarkan semua mimpi buruk ini.

    Seminggu berlalu, kita masih terjebak, aku masih berperan sebagai “Pipi” sedangkan kau “Mimi” ah, sebuah teater yang hebat dan dalam gelap.

    Hambar
    Tapi aku tetap inginkan kamu, Mi..
    Kau adalah sisi gelap hubunganku dengan dia
    Dan aku…
    Adalah sisi gelap disaat jiwanya pergi dan aku yang menggantikannya, meskipun masih dalam gelap.
    Ya, gelap!
    Gelap hatiku
    Gelap hatimu
    Dan didalam gelapnya hubungan ini, aku memiliki dia.
    Ya, sekali lagi, gelap! (*)

    22 November 2012

    *) penulis adalah mahasiswa semester 4 manajemen keuangan STIE Perbanas Surabaya



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Gelap” Karya Vivid Habib (FAMili Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top