• Info Terkini

    Saturday, July 27, 2013

    Ulasan Cerpen "Sebuah Cerita Cinta" Karya Izzah Hanifah (FAMili Bintan, Kepri)

    Fatia mempunyai seorang sahabat bernama Aliya. Suatu waktu, mereka bertemu dalam keadaan yang berbeda. Fatia mengungkapkan kesedihan hati pada sahabatnya itu. Fatia merasa seolah tak berdaya ketika kedua orangtua memaksanya untuk menikah dengan Rudi, pemuda yang sama sekali tak ia cintai. Sementara itu, cintanya selama ini hanya tertanam untuk Indra, seorang hafizh (penghafal Alquran). Fatia sendiri tak kuasa menolak permintaan ayah-ibunya, karena selain tak mungkin bagi seorang anak untuk membantah perkataan orangtua, usianya pun sudah terlalu jauh untuk ukuran seorang perawan.

    Hingga pada akhirnya pernikahan mereka tetap berlangsung. Segalanya berjalan apa adanya, tidak ada yang aneh dari kedua mempelai, meski keduanya tidak saling bersentuhan sejak hari pertama mereka resmi menjadi sepasang suami istri sampai memasuki bulan ketiga.

    Puncak cerita dimulai ketika pada suatu hari Fatia jatuh sakit. Penyakit lama yang sempat hilang, mendadak kambuh kembali. Aliya yang kebetulan tengah pergi bersamanya, membawanya ke rumah sakit. Mendengar kabar tersebut, jelas Rudi segera pergi melihat kondisi sang istri—yang selama ini tak pernah memberi balasan cinta padanya. Rudi memang lelaki baik dan sabar. Sikap dingin Fatia tak pernah membuatnya menyerah untuk terus meyakinkan ketulusan cintanya.

    Namun, apalah daya. Cinta Fatia yang masih tersimpan untuk Indra yang kini tidak diketahui keberadaannya, membuat Rudi menitikkan air mata ketika penolakan keras ia alami untuk ke sekian kalinya. Bahkan, sang istri yang tak pernah mencintainya itu seolah menganggap dirinya tak ada.

    Dengan penuh rasa sesal akan pernikahan yang ia jalani, Fatia mengutarakan kembali isi hatinya kepada Aliya. Lagi-lagi ia menyinggung soal Indra. Dikatakanlah bahwa ia masih mencintai Indra. Jelaslah perkataan itu ditolak oleh Aliya. Aliya merasa harus berbuat sesuatu untuk sahabatnya ini. Ia berusaha untuk membuat Fatian yakin, bahwa jodoh terbaik bukanlah dari apa yang ia inginkan, melainkan apa yang diberikan Tuhan untuknya.

    Dalam pembicaraan itu, terungkaplah tentang rahasia lama Aliya. Dulu Aliya pernah urung menikah dengan seorang yang sangat baik dan taat beragama dikarenakan suatu hal. Itulah sebabnya Aliya tak kunjung menikah hingga saat ini. Ia mengatakan bahwa betapa sangat beruntungnya wanita yang mendapat lelaki yang dulu hampir menikah dengannya. Satu yang membuat Fatia tersentuh adalah ketika Aliya mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang hafizh. Maka, timbullah pertanyaan: siapa sebenarnya lelaki tersebut?

    Ternyata Rudi adalah lelaki yang tengah mereka bicarakan. Aliya menangis sejenak, untuk kemudian tersenyum penuh ketulusan. Ia kembali meyakinkan Fatia bahwa Rudi adalah lelaki yang baik. Terungkapnya sosok Rudi membuat Fatia sadar, bahwa cinta yang ia pendam untuk Indra adalah sebuah kesalahan besar. Lagi pula Indra tak pernah ada untuknya. Bukankah selama ini Rudi sudah cukup membuktikan segala ketulusannya, meski ia tak pernah mau menerima?

    Kisah ini terasa begitu rumit, namun pada akhirnya menemui jalan keluar tak terduga. Ya, sebuah jalan keluar terang akan nampak, meski ending yang menyakitkan bagi Fatia harus terjadi.

    Dari segi isi, cerpen ini sarat pesan positif. Bahwa segala yang kita kira baik, belum tentu baik untuk kita. Begitupun sebaliknya. Hanya Tuhanlah yang Maha Tahu, mana-mana yang terbaik untuk setiap hambaNya. Penulis juga mampu membawa tiga sudut pandang berbeda pada cerpennya, di mana peran Fatia, Aliya, dan Rudi dibuat semakin jelas.

    Namun untuk ukuran cerita pendek, tulisan ini terlalu panjang, yakni kurang lebih sekitar 15 halaman. Dari segi penulisan juga banyak sekali Tim FAM menemui kesalahan. Yang paling utama adalah dari EYD. Kami ambil sebagian contoh saja, seperti "ku dengar", "ku letakkan", dan beberapa kata sejenis. Yang benar adalah "kudengar" dan "kuletakkan". Kemudian "kepaelaminan", "kewaliamahan", "kekamar", dan beberapa kata sejenis, seharunya menjadi "ke pelaminan", "ke walimahan", "ke kamar", dan lain sebagainya. Serta "diatas", "dikursi", "disampingnya", dan beberapa kata sejenis, harusnya ditulis "di atas", "di kursi", dan "di sampingnya". Ingat, kata depan "di-" hanya menyatu dengan kata sesudahnya apabila penggabungan keduanya membentuk kata kerja pasif. Selain itu--untuk kata keterangan tempat—harus terpisah.

    Lalu untuk partikel "pun". Banyak pula ditemui kesalahan. Sebagai contoh: "iapun", "akupun", "kaupun", dan beberapa kata sejenis yang ada dalam cerpen ini. Penggunaan "pun" yang benar adalah selalu terpisah dengan kata sebelumnya kecuali: "adapun", "andaipun", "ataupun", "bagaimanapun", "biarpun", "kalaupun", "kendatipun", "maupun", "meskipun", "sekalipun", "walaupun", serta "sungguhpun".

    Lalu "tau" yang seharusnya tertulis "tahu". "Begitau" yang seharusnya "begitu". "nafas" seharusnya "napas". "Sholat" atau "shalat" seharusnya "salat". "Sekedar" seharusnya "sekadar". "Menyender" yang benar "bersandar". "Syurga" yang benar adalah "surga". Serta "isteri" yang benar adalah "istri".

    "Orang tua" semestinya ditulis tergabung, menjadi "orangtua". Karena makna dari "orang tua" (terpisah) dan "orangtua" (gabung) sendiri sudah beda. "Orang tua" (terpisah) bermakna sebagai orang yang sudah berusia lanjut. Sedangkan "orangtua" (gabung) bermakna sebagai orang yang melahirkan, mengasuh, merawat, dan menjaga anak-anaknya. Bedakan saja. "Orangtua" (gabung) belum tentu sudah berusia lanjut, karena bisa saja sudah mempunyai anak meski di usia muda. Sementara "orang tua" (terpisah), bagaimanapun itu, sudah pasti menginjak masa-masa senja.

    Kemudian "janji2", "laki2", "kelebihan2", "teman2", dan banyak lagi penulisan serupa pada cerpen ini, baiknya dihilangnya, alias tidak menuliskan angka 2 (dua) setelah kata. Dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kata yang mengalami pengulangan harus tetap ditulis menjadi dua kata dengan sebuah tanda penghubung di tengahnya, menjadi "janji-janji", "laki-laki", dan lain sebagainya.

    Juga pada pemakaian huruf kapital yang tidak sesuai pada nama dan kata pertama setelah tanda titik. Kedua kondisi tersebut, wajib menggunakan huruf kapital. Penulis juga nampak tidak memerhatikan penggunaan tanda baca, mulai dari tanda petik, titik, dan koma.

    Saran kami kepada penulis, bahwa di karya berikutnya hendaknya lebih memerhatikan hal sekecil apa pun pada tulisan, termasuk tanda baca. Karena bagaimanapun, tanda baca merupakan hal penting yang tak dapat lepas dari sebuah tulisan yang indah dan bermakna. Lakukan proses editing serapi mungkin agar tulisan kita nyaman dibaca dan mudah dimengerti.

    Baik, terus berkarya dan jangan berhenti menulis. Tambah kekuatan tintamu dengan membaca dan membaca. Karena dengan begitu akan dapat memperkaya perbendaharaan kata.

    Tetap semangat menulis.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ‘Sebuah Cerita Cinta’

    Oleh : Izzah Hanifah (FAM1155M)

    “Aliya”.

    Hari ini aku berniat untuk menyelesaikan novelku yang tinggal beberapa coretan lagi akan rampung. namun kuurungkan niatku, ketika ku dengar ada tamu yang tengah mengetuk pintu, ku letakkan Laptopku diatas ranjang dan bergegas membuka pintu.

    "Assalamu'alaikum AL...."

    "Wa'alaikum salam..." Jawabku dari dalam rumah. ketika daun pintu terbuka, kulihat wajah sahabatku tengah menunggu. "Fatia.... ayo masuk!!" ajakku sambil menutup daun pintu kembali.  Iapun masuk lalu duduk dikursi tamu.

    "Ada apa Fat..?? kelihatan cemas begitu?" selidiikku sembari duduk disampingnya.

    "Al... aku akan dijodohkan dengan pria yang pernah kuceritakan padamu. Tadi malam keluarga mas Rudy datang menemui keluargaku. aku bingung Al..." Fatia mulai membuka pembicaraan. Awalnya aku hanya diam, namun kulihat Fatiapun diam. terlihat jelas raut wajah kecemasan pada sahabatku ini.

    "Fat....bukankah menurut ceritamu tempo hari bahwa Mas Rudy itu baik?? lantas hal apa yang membuatmu begitu cemas?" aku mulai menanggapi ceritanya.

    "Al... aku mencintai pria lain.. dan kaupun pasti tau siapa yang kumaksud. aku tak bisa begitu saja melupakannya Al,,  aku sudah mencoba mengatakan yang sejujurnya pada ibu dan ayahku, bahwa aku sama sekali tak siap menerima mas Rudi sebagai suamiku... tapi mereka tetap memaksa dan tak menggubrisku sama sekali."

    Fatia terdiam sejenak, air matanya mulai menetes setitik demi setitik hingga membasahi jilbab putih yang dikenakannya. akupun mencoba menenangkan sembari memeluknya.

    "Fat... dengarkan aku..! kau tau bukan, bahwa jodoh, rezeki, maut, semua itu berada dalam genggama-Nya yang telah tertulis dalam Lauh mahfuzh. Jika pun Indra jodoh yang dipilihkan Allah untukmu, maka yakinlah Fat.. bahwa akan ada jalan untuk itu.

    Namun,,, jika Indra bukan yang terpilih untukmu dan Allah ternyata lebih memilih Mas Rudy sebagai pendamping hidupmu dan sebagai imam untuk keluargamu kelak, maka terimalah dengan penuh keikhlasan! Allah selalu memberikan sesuatu yang kita butuhkan Fat, bukan yang kita inginkan."

    Kulihat Fatia semakin tersedu mendengar ucapanku. Akupun melanjutkan kata-kataku sembari menghapus air matanya yang kian mengalir.

    "Fatia sahabatku... jika Mas Rudi pria yang yang baik lagi sholeh,,, tentu tak ada alasan menolaknya. Ingat Fat, 27 tahun bukanlah usia yang muda lagi. kita sudah cukup dewasa untuk memikirkan masa depan yang akan kita lalui kelak. Meskipun orang tua memaksa, kau harus tetap yakin bahwa sesungguhnya tak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup bersama laki-laki yang tidak baik. Percayalah.... Mereka sudah memilihkan yang terbaik untukmu. Kusarankan Istikharohlah fat..! agar semua keputusan mu akan lebih mantab"

    kuakhiri kata-kataku sembari memeluknya. iapun membalas pelukanku dengan erat seraya mengagguk pelan tanda ia setuju dengan ucapan terakhirku. "Alhamdulillah..." aku merasa lega. Raut wajahnya pun mulai cerah.

    Fatia gadis yang memang sangat cantik, dalam keadaan menangis hingga membuat jilbab yang dikenakannya lusuhpun tak membuat aura kecantikannya tertutup.

    ***

    Hari ini, aku tengah duduk di depan meja rias. Kurapikan jilbabku, sembari menatap wajah yang tak muda lagi. Usia 27 tahun seharusnya sudah cukup untuk membawaku kepaelaminan seperti halnya Fatia.

    Yaaaa,,,, hari ini Fatia akan melangsungkan pernikahannya dengan mas Rudy pilihan orang tuanya. Dan hari ini aku tengah bersiap untuk pergi kewaliamahan mereka. Jujur, hati ini terasa berat untuk melangkah, ada segurat kesedihan disana... Apa penyebabnya, kurasa hal ini cukuplah aku yang tahu, kuserahkan semua kepada Rabb yang mencipta dan mengatur hati yang begitau rentan bahkan terkadang lemah. namun aku harus ikhlas melepas semuanya, aku yakin ada janji2 Allah dibalik semua yang aku rasakan saat ini. Fatia,,, dia sangat beruntung mendapatkan sosok laki2 seperti mas rudy, namun entah mengapa mata hatinya masih saja tertutup bahkan tak sedikitpun terlihat dimatanya akan kelebihan2 yang dimiliki calon pendampingnya itu. masih kuingat tempo hari ketika Fatia mengabarkan padaku tentang hari pernikahannya. "ini Undangan untukmu dan sahabat2 lainnya dipengajian, kutitipkan padamu ya Al,,,, meski aku tak mencintainya, namuan ku harap ini sebagai tanda baktiku pada ibu dan  ayah." Ucap Fatia, sembari menyerahkan Undangan berwarna biru muda berbalut pita satin kecil dan dibungkus pelastik putih. wajahnya masih terlihat sayu, tak ada kebahagiaan kutemukan disana.

    Aku tersadar dari lamunan ketika ponselku berdering. "ASslam.. Al, da siap belom?? kami udah di depan rumahmu ni.." Sms dari Ima, kami memang berjanji untuk pergi ke walimahan Fatia bersama dengan teman2  di pengajian.  "Iya,, Aku segera keluar ma,,, maaf yag telat!" ku balas sms Ima dan bergegas mengambil tas lalu  keluar. ku lihat mobil sedan milik Ima sudah parkir didepan rumah, dan lambaian tangan mereka membuatku semakin bergegas. "Assalamu'alaikum... maaf yah,kalian jadi lama menunggu!" ucapku sembari membuka pintu mobil. "Wa'alaikum salam,,, gak apa2 Al, kami juga baru sampai,," jawab mereka.

    ***

    “Fatia”.

    Malam pengantinku,,,,, yaa.. malam ini adalah malam pengantinku, namun aku sama sekali tak merasakan kebahagiaan. aku sama sekali tak mencintai mas Rudy. Saat ini ada sosok laki2 yang tengah mengisi ruang hatiku hingga tak ada sedikitpun tempat untuk mas Rudy.  Indra adalah sosok yang aku dambakan, pria yang taat, sederhana, dan dia seorang hafizh.  Aku selalu berharap dapat menjadi pendamping hidupnya, tapi semua terjadi tak seperti apa yang aku harapkan. Dia memang pernah berjanji untuk segera mengkhitbahku, namun karena kesibukannya sebagai seorang guru, hingga tak ada kabarnya lagi sampai saat ini. bahkan diacara walimahankupun ia tak datang. Kini aku menikah dengan pria yang sama sekali tak aku cintai,

    "Fat,,, kamu di dalam??" ku dengar suara lembut mas Rudy dari balik pintu kamar, cepat kuhapus air mataku. " Iya,,, masuk aja."

    "Fat,, kamu sudah berwudu? sebaiknya kita shalat sunnah dulu..!" Ajak mas Rudy, menatapku lembut,, sungguh diia adalah pria yang begitu tampan, namun hal itu tak mampu meluluhkan hatiku.. akupun menurutinya. Kulepas jilbabku meskipun ada rasa tak rela ketika melepasnya, dia terasa begitu asing bagiku.  Akupun bergegas kekamar mandi, kemudian berwudhu.

    Usai shalat, aku duduk ditepi ranjang, aku bingung  apa yang harus kulakukan? kini aku berada dihadapan mas Rudy dan dia adalah suamiku, dia halal menyentuhku, bahkan semua ganjarannya adalah pahala yang telah disiapkan Allah Azza Wajalla tatkala kami saling memandang, saling menyentuh, bahkan lebih dari itu.. "Ya Allah,,, aku sungguh tak siap melayaninya sebagai seorang isteri" ucapku dalam hati.

    Aku masih tertunduk, tak ada kata2 yang keluar dari mulut kami. Mas Rudi hanya diam, pun saat aku mencium tangannya ketika usai shalat tadi.

    Aku pun bangkit dari tempat tidur lalu membuka lemari dan mengambil baju tidurku, aku tak ingin mengganti di kamar ini, aku sangat merasa asing berada didekatnya bahkan ketika aku membuka jilbab pun ada perasaan tak rela untuk memperlihatkan auratku padanya.

    Aku bergegas kekamar mandi yang memang berada didalam kamar, Alhamdulillah, aku dan mas Rudy kini tinggal dirumah sendiri, ini adalah hadiah pernikahan kami dari orang tuanya. aku merasa lega, karena keluarga tak akan tau tentang pernikahan kami, bahagiakah.. atau bahkan sebaliknya, sama sekali tak bahagia. Yang jelas mereka hanya tahu bahwa kami bahagia.

    Setelah mengganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangku terurai. Mas rudy menatapku sembari tersenyum "kamu cantik Fat.." ujarnya. Dia mendekatiku saat aku duduk ditepi ranjang.

    "Maaf mas, aku belum siap,." ucapku tertunduk saat ia memegang pundakku dan mencium keningku..

    "Apa maksudmu Fat..??" 

    "Aku belum siap melayanimu, maafkan aku mas,,," mas Rudypun melepaskan tangannya dari pundakku.

    "Kenapa?? kamu sudah resmi menjadi isteri ku, apa yang membuatmu belum siap? apa kamu tak mencintaiku fat?? tanya mas Rudy lagi. Aku tak menjawab, aku masih tertunduk, tak sanggup rasanya aku menatap wajahnya.

    "Ya Allah,,, Ampuni aku,,! ampuni aku yang telah menyakiti hati suamiku dimalam pengantinnya,." Doaku dalam hati.

    "Mas,, aku ingin tidur, aku ngantuk dan lelah." Kutarik bantal, serta kuambil guling untuk pembatas antara aku dan dia, sembari mematikan lampu yang ada disamping ranjangku. aku tak lagi menggubrisanya. Kulihat dalam gelap iapun berbaring pula, kami hanya diam dalam posisi membelakangi.

    ***

    “Rudy”.

    Aku terbangun tepat pukul 03.00 dini hari. Kuhidupkan lampu yang ada disamping ranjangku dan segera bangun untuk shalat tahjjud. Kulihat Fatia masih tertidur, aku tak ingin membangunkannya. “ Nanti saja,,,’’ Pikirku.

    Jujur, aku bingung dengan sikapnya, apa dia tidak mencintaiku? Tapi kenapa dia mau menikah denganku. Entahlah… sungguh aku tdk tau mengapa dia bersikap dingin padaku.

    “Ya Allah…. Ada apa dengan isteriku? Ampuni aku dan dia ya mujib,,, aku sama sekali tak marah padanya, aku mohon bukakanlah pintu hatinya agar ia tak bersikap acuh padaku.” Doaku dalam shalat.

    Usai shalat, kulirik ranjang, sudah tak ada Fatia disana. Mungkin dia sedang berwudhu. Aku kembali hanyut dalam zikirku hingga menjelang subuh.

    “Fat, aku ke masjid dulu ya… atau kamu mau ikut?” tanyaku pada fatia ketika azan berkumandang..

    “Ndak mas, aku dirumah saja.” Jawabnya tanpa menatapku. Kulihat wajahnyaa yang teduh membuatku tak ingin melangkah pergi,, “Sunggu jelita isteriku”. Batinku sembari melangkah keluar

    ***

    3 bulan sudah pernikan kami,, namun terasa begitu hambar. Tak ada sedikitpun kebahagiaan kutemukan semenjak malam pengantin hingga saat ini. Fatia memang begitu taat untuk urusan rumah, segala keperluanku selalu disediakan. Tak pernah dia melalaikan tugasnya, dari membereskan rumah, mencuci, menyiapkan makanan, hingga baju kantorku selalu siap plus dasi dan jasnya. Namun begitu, semua disiapkan tanpa ada senyuman,, sikapnya masih saja dingin. Aku betul2 bingung dengan sikapnya, jika kutanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan.

    Aku hanya bisa meluahkan segala isi hatiku dalam buku harian ini. Yaa,, aku tengaH menulis segala isi hatiku dalam buku ini, tentang wanita yang sangat aku cintai bahkan kami hampir saja menikah, namun urung karena penolakan orang tuanya yang secara tiba2, lalu kutemukan sosok penggantinya yang kukira dengannya aku akan merasakan kebahagiaan dan melupakan masa laluku,. Namun semua berbeda dengan yang aku kira, Fatia tak mencintaiku. Ya,,, aku tau pasti dia tidak mencintaiku. Sudah 3 bulan pernikahan kami, namun aku sama sekali belum pernah menyentuhnya karena penolakAnnya dengan berbagai alasan..

    Pagi ini aku masuk kantor, kulihat Fatia sedang bersiap-siap pula untuk berangkat kekampus, kini ia tengah menyiapkan S2 nya disalah satu universitas islam dengan jurusan Ekonomi Islam Syariah. Awalnya ia tak mau, ia ingin berhenti kuliah dan mencari kerja saja, namun berkat dukunganku dan orang tuanya akhirnya ia bersedia melanjutkan studinya. Aku tak mau pernikahan menjadi suatu hambatan untuk nya menuntut ilmu.

    “Fat.. ikut aku saja ya,,, biar ku antar kekampus sekalian aku langsung kekantor.” Ajakku  ketika kami tengah keluar dari rumah dan Fatia tengah mengunci pintu. “Aku naik taksi aja mas,,, kamu langsung saja kekantor, aku sudah terlanjur janji deengan Aliya sahabatku untuk berangkat bersama” jawabnya. Aku tersentak ketika  mendengar nama Aliya yang baru saja disebutnya. iapun menggapai tanganku dan menciumnya lalu pergi. “Mas, aku duluan,,, Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam, “ jawabku sembari menatapnya melangkah semakin jauh. Akupun berangkat dengan hati galau..

    ***

    Aku tersadar dari lamunan ketika ponselku berdering.  Kulihat ada sms masuk, dari Fatia, kuperlambat kelajuan mobil dan segera membacanya “Mas, ini teman nya fatia.. saat ini Fatia ada dirumah sakit DR. Soetomo. Ku mohon cepatlah kemari!” aku tersentak,, “Astaghfirullah,.,, apa yang terjadi dengan isteriku??” akupun membalas sms yang entah dari siapa, tapi yang jelas itu adalah nomor isteriku.. mungkin temannya. “Ya.. saya segera kesana” sms terkirim. Aku pun melaju kearah rumah sakit.

    2 jam kemudian,,

    “Fat,,, kenapa kamu tak pernah cerita mengenaii penyakitmu ini?” tanyaku pada Fatia yangMasih terbaring lemah. Sesekali kulihat ia memejamkan matanya menahan sakit. “udahlah mas,,, aku tak apa2. Ini Cuma sakit kepala biasa, toh sebentar lagi pasti sembuh,,” jawabnya masih dengan sikap dingin. “ Fat,,, aku tau mungkin aku tak berguna bagimu,,, aku tau kau tak mencintaiku, tapi tak adakah sedikit pun rasa simpatimu padaku? Katakan sejujurnya apa yang harus aku lakukan agar dapat menebus semua kesalahan ku padamu? Aku akan mencoba untuk membahagiakanmu Fat,?”

    Aku sama sekali tak sadar mampu mengatakan hal ini, air mata yang tak kuinginkan hadir namun mengalir begitu saja. Sungguh sesak rasanya dadaku ini, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mersakan begitu sakit. Bahkan ketika dulu aku harus membatalkan pernikahanku dengan Aliya, aku tak pernah merasa sesakit ini. “Ya Allah,,, bukakaknlah pintu hati Isteriku..!” Doaku dalam hati. Kulihat Fatia Diam sesaat, ia sama sekali tak menatapku.

    “Mas,,, aku mau istirahat….!” Jawabannya kemudian dengan begitu singkat, sembari membalikkan tubuh. Akupun menghela nafas dan bangkit dari kursi lantas beranjak kemushola rumah sakit, kulirik jam tanganku sudah pukul 2 siang, aku berniat untuk shalat zuhur. Setelah usai sholat, aku melangkah kearah kamar Fatia dirawat, namun beberapa saat ponselku berdering, ternyata dari kantor, “Pak, bisa datang sekarang? Ada rapat mendaadak dan tak bisa ditunda, atasan meminta bapak untuk hadir.” Suara Andi asistenku di kantor. Aku bingung, tiba2 terlintas wajah fatia,, namun aku tak mungkin absen lagi, karena sudah beberapa kali aku tak ikut rapat. “Iya An, InsyAllah bisa. Saat ini aku sedang dirumah sakit,”

    “Siapa yang sakit pak?” tanyanya

    “Isteriku, rapatnya jam berapa?”

    “semoga cepat sembuh ya pak! Kalau ini bukan perintah atasan sebaiknya bapak tak usah hadir, tapi..”

    “Iya, aku akan dattang, jam berapa  rapatnya?”

    “jam setengah tiga siang ini pak,”

    “oke an,, terimakasih ya,, Assalamuaalaikum.” Kutu2p telpon. Kupercepat langkahku menuju kamar Fatia, setidaknya dia harus tau kalau aku akan kekantor dan tak dapat menjaganya siang ini. “Assalamualaikum, bu, pak..apa kabar?” sapaku pada kedua mertuaku sembari mencium kedua tangannya.. mereka duduk dikursi tunggu diluar kamar Fatia dirawat “Wa’alaikum salam nak,, AlhaMdulillah kabar kami baik, yang sabar yo nak, penyakit Fatia memang sering kambuh, dulu pernah diobati lewat pengobatan Alternatif, dan Alhamdulillah tak kambuh lagi, tapi sekarang entah mengapa kok malah kambuh lagi…” cerita ibu mertuaku.

     Aku pun tak bisa berlama-lama, Fatia sedang diperiksa dokter sehingga mertuaku menunggu diluar.  kutitip Fatia pada mereka lantas beranjak pergi. Mertuaku cukup pengertian, mereka sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangga kami, yang jelas mereka hanya tau bahwa kami bahagia.

    “Fatia”.

    Aku terbangun dari tidurku, lalu perlahan membuka mata, kulihat Aliya, ibu dan mertuaku. “kamu sudah baikan ndok…?” Tanya ibu mertuaku. Aku tersenyum, sembari mengangguk. Kulihat Aliya pun tersenyum.

    “bagaimana perasaanmu Fat? Udah baikan?” Tanya Aliya lagi

    “Alhamdulillah sudah kurang AL….”

    “Alhamduliilah,,,” jawab ibu, dan kedua mertuaku. Selang beberapa saat, mertuaku pamit pulang. “Fat, ibu dan bapak pulang dulu ya.. jangan paksakan pulang kerumah kalau belum sehat benar.” Pesan mertuaku lalu beranjak pergi.

    “Fat, Suamimu ada rapat.. tadi dia terpaksa meninggalkanmu dengan begitu terburu-buru.” Ujar ibu. Aku hanya mengangguk pelan, lalu Ibu pamit keluar untuk membeli makanan.

    Kini tinggal aku dan Aliya yang berada dikamar..

    “Bagaimana hubunganmu dengan suamimu Fat? Baik2 ajakan?” Tanya Aliya sembari membantuku bangun untuk menyender degan beralas bantal.

    “Sejujurnya Aku tak sanggup lagi mempertahankan pernikahan ini,,

     sungguh Al,,,apa  sebaiknya aku bercerai saja Al? kurasa ini jalan terbaik, agar aku tak melukai perasaan mas Rudy terus menerus,”

    “hei Fat,,, apa yang ada dipikiranmu? Kamu baru saja menikah,, jangan kau turutin keegoisanmu! Ingat ayah dan ibumu Fat,, ingat keluarga suamimu! Apa yang akan mereka katakana jika kalian bercerai?”

    “Tapi Al,,,, aku sudah tak sanggup lagi,, kini yang ada dipikiran ku hanya indra Al…” tangisku kian menjadi,,, aku sungguh tak dapat menahan perasaanku,karena selama menikah tak pernah sedikitpun bayangan Indra hilang.

    “Astaghfirullah Fat,,,,,,,,Lupakan Indra…! kau sudah menjadi milik orang lain,,, hanya dosa yang akan kau semai tatkala indra masi kau bayangkan. Cobalah berpikir dewasa! Pikirkan semuanya…jangan hanya keegoisanmu yang dibesar2kan. Fat,,, aku hanya ingin kau hidup bahagia, kau sahabat yang kusayang.. ku mohon Fat,,, jangan kau lawan takdir… suamimu sekarang adalah ti2pan Allah… padanyalah ladang pahalamu,, berbaktilah pada suamimu Fat,,,!”

    Aku terdiam mendengar nasehat Aliya sahabtku. Kulihat butiran bening kini mulai mengalir dari mata indahnya,,, sungguh kutemukan raut ketulusan dari wajahnya. Aku benar2 beruntung memiliki sahabat seperti dia.

    “Fat,, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, sudah lama aku memendam, namun aku tak sanggup menyimpannya lg. kamu tahu kan, dulu aku hampir menikah…namun semuanya batal akibat penolakan ibuku yang tak setuju jika aku menikah dengan pria yang lahir dari anak pertama. Akhirnya aku memutuskan untuk  membatalkan pernikahanku dengan pria itu. Aku sudah lama mengenalnya Fat, dia sungguh sholeh, dia taat dan sangat berbakti pada orang tuanya. Sejak aku mengenal dia, aku banyak tau tentangnya,,, dia adalah pria yang sungguh tak mau menyakiti hati siapapun, ia rela berkorban demi kebahagiaan orang lain,,, pernah ketika waktu itu adik dari temannya sakiit, dialah yang mengantarnya berobat keluar negeri, karena pada waktu itu orang tua temannya sudah pasrah dan merasa sudah tak ada jalan keluar lagi untuk menyembuhkan anaknya. Dia nekad Fat, meski harus meninggalkan ujian munaqasahnya.. hingga ia terlambat lulus.”

     Cerita Aliya. Aku memang tak pernah tau tentang cerita ini. Aliya tak pernah menceritaknnya padaku. Yang kutau, Bahwa Aliya pernah gagal menikah tanpa tau sebabnya. Aku tertegun melihat raut wajah sahabatku, kulihat tersimpan kesedihan dan penyesalan disana, dia wanita yang tegar, kenapa tak dari dulu aku mencotoh ketulusan yang begitu agung dalam dirinya. Dia bisa begitu sabar menghadapi ujian yang menimpanya, pasti dia sangat menyayangi calon suaminya itu.

    “Kau tau  Al,,, yang membuat aku semakin mengaguminya, dia tak pernah mengeluh dalam hidup, meski kami saling mencintai, namun penolakan ibuku diterimanya dengan penuh ketulusan dan begitu sabar.. tak ada kata2 yang menykitkan, hanya dia pernaha berkata  ‘Al,,, ku yakin kau bukan jodohku, suatu saat nanti insyaAllah akan ada seorang pria yang lebih baik yang sudah dipersiapkan Allah untukmu..’ itulah kata2 terakhirnya Fat.. dan satu lagi yang membuat aku semakin kagum padanya,,, dia seorang hafidzh fat…” Aliya mengakhiri kata2nya dengan melemparkan senyumannya padaku. Aku pun ikut tersenyum, betapa bahagianya aku jika mendapatkan suami seorang hafizh.. karena dulu aku pernah bercita2 mempunyai suami seorang penghafal Al-Qur’an.

    “Dia benar Al,,, meski saling mencintai, belum tentu kau merupakan jodohnya.” Ujarku menanggapinya.

    “Nah,, kau telah sadar kan…? Meskipun kau mencintai Indra,,, tapi tetap dia bukanlah yang dipilihkan Allah untuk menjadi pendampingmu. Sama hal nya dengan aku Fat. Lihatlah aku Fat,, apakah ada raut wajah ketidak ikhlasan,,,,?  Aku benar2 ikhlas Fat, tak ada niatku untk melawan takdir Allah. Biarlah dia menjadi milik orang lain, dan aku disini tetap mendoakan mereka agar selalu bahagia,.” Aliya mengakhiri ceritanya sembari tetap tersenyum. Aku terdiam,,. ‘‘Calon suami aliya sungguh pria yang luar biasa, Namun baegitu, Aliya bisa setegar itu untuk melepas dan melupakannya. jelas2 indra yang aku cintai tak pernah memberi kabar, atau sekedar memberikan doa lewat sms untukku ketika hari pernikahanku dulu, Aku benar2 baru sadar ya Allah…!’ aku menjerit dalam hati.

    “Al,, kenapa baru sekarang kau ceritakan ini padaku,,, ?” tanyaku pada Aliya. Kulihat wajahnya berubah, tak ada senyuman… seperti ada sesuatu yang disembunyikan padaku.

    “Fat… kau tak pernah tau kan siapa pria yang hampir menikahiku? Pria yang menurutku sangat luar biasa… dan kau sungguh beruntung Fat… karena kau telah mendapatkannya.”

    Aku tersentak.. apa maksud Aliya. Kulihat ia kembali tersenyum.. kini dengan senyuman yang begitu tulus..

    “Dia adalah Rudy Al Faruq Rahman. Pria yang sekarang telah menjadi suamimu… kau bukan tak mengenalnya Fat, tapi kau terlalu angkuh untuk sekedar membuka mata. Aku yakin selama ini kau pasti tak pernah tahu tentang kepribadian dia yang sesungguhnya. Dia pria yang baik Fat… sebelum kau mengambil keputusan untuk bercerai, akan lebih baik jika aku menceritakan ini semua padamu, agar mata hatimu terbuka dan tak lagi mengambil keputusan yang begitu konyol. Bercerai adalah perbuatan yang halal namun sangat dibenci Allah.. kau pasti tahu itu Fat.”

    Sungguh, aku benar2 tak mampu menahan air mataku, aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata pria yang diceritakan Aliya sejak tadi adalah Mas Rudy suamiku. Aku memang tak pernah tau tentang kepribadian mas Rudy, karena selama menikah aku tak pernah berbicara atau mengobrol dengannya, aku selalu meghindar. Aku pun tak pernah sama sekali mengamati tingkah lakunya, tatapanku seolah begitu hampa terhadapnya,tak ada sedikitpun kebaikan yang kutangkap darinya. Namun ku akui bahwa selama menikah mas Rudy tak pernah berkata kasar padaku, akulah yang selalu menyakiti hatinya, bahkan saat ini kami telah tidur dikamar yang berbeda, semua itu atas permintaanku. Dan aku tak tau sama sekali bahwa mas Rudy seorang hafizh Alquran… selama ini dia memang selalu melantunkan ayat2 dengan tanpa membuka mushaf,  dan mushaf itu hanya digenggagam dengan sesekali membukanya, dan aku baru sadar mungkin hal itu dilakukakn untuk selalu menghafal agar tidak lupa. Dan Aliya benar, mas Rudi memang tak mau menyakiti perasaan siapapun, sampai saat ini, tak pernah Ia mengeluarkan kata2 kasar padaku, meski aku selalu menyakitinya, bahkan saat tadi siang dia menanyakan tentang sikapku.

    Aku masih ingat kata2nya tadi siang “ Fat,,, aku tau mungkin aku tak berguna bagimu,,, aku tau kau tak mencintaiku, tapi tak adakah sedikit pun rasa simpatimu padaku? Katakan sejujurnya apa yang harus aku lakukan agar dapat menebus semua kesalahan ku padamu? Aku akan mencoba untuk membahagiakanmu Fat,” saat mas Rudy mengatakn hal itu padaku, sempat kulirik sesaat dia meneteskan air mata. Dan aku sama sekali tak manggubrisnya.

    “astaghfirullah….. aku berdosa ya Allah….. aku harus bersujud di kaki suamiku saat ini juga,,”

    kulihat Aliya tersenyum,,, kenapa dia begitu tegar,,, jelas2 pria yang ia cintai kini menikah dengan sahabatnya sendiri, bahkan ia tk mau jika aku sampai bercerai dengan mas rudy.  “Al… kaulah calon wanita penghuni syurga,, kau sugguh muslimah yang ihksan, begitu sabarr dan kau sangat tulus padaku. Aku berjanji tak akan menyakitimu, dan aku akan menjaga mas Rudy dan barbakti padanya.. tak akan ada lagi kata cerai dari mulutku.

    “Fat,,, kepalamu masih sakit??”

    “tidak Al…. temani aku pulang al.,,, aku mau bersujud dikaki suamiku..” aku pun mencoba bangun namun tiba2 saja semua terlihat gelap.

    Aku tersadar tepat pukul 02.00 dini hari, kini tak kulihat Aliya, hanya ada ibu yang menjagaku, dan mas Rudy pun tak ada. “ya Allah… apa mas Rudy marah? Seharusnya saat ini dia telah hadir disampingku” kulihat ibu terbangun dari tidurnya meski terlihat tak nyenyak. “ndok,,, koe yang sabar yo…!” aku bingung mendengar kata2 ibuku… aku pun mengangguk pelan.

    “suamimu sudah ndak ada ndok, Allah terlalu sayang karo suamimu, kini dia dijemput duluan.”

    Aku tersentak,,, “semoga ini adalah mimpi” doaku. Namun aku sungguh sedang tidak bermimpi. Kepalaku terasa semakin berat. “apa maksud ibu?”

    “tadi sore waktu suamimu pulang dari kantor, dan menuju kesini,  ia mengalami kecelakaan nak,, mobilnya hancur akibat kerasnya truk yang menabaraknya. Kamu sabar ya ndok… ambil hikmah dibalik kejadian ini.” ucapan terakhir ibu mebuatku menangis sejadi2nya.

    “Allah…….. belum sempat aku bersujud dan minta ampun pada suamiku… kenapa engkau tak memberi kesempatan untukku menebus segala dosa2ku pada suamiku… Ya robbi, ampuni aku..! Mas,,, ampuni aku.!”

    Jeritanku dalam tangis yang kian menjadi. Ibupun memelukku sembari terus menenangkanku. Beberapa saat kemudian kepalaku kembali terasa berat, dan akhirnya semua terlihat gelap.

    ***

    1 minngu kemudian, aku telah pulih total, kini aku telah diizinkan pulang oleh dokter. Ibu memaksaku untuk pulang kerumahnya, namun aku menolak. Aku ingin pulang kerumahku dulu, meski sudah tak ada mas Rudy disana, aku akan tetap tinggal disana untuk menjaga dan merawat rumah itu, rumah aku dan almarhum suamiku.

    Akupun membereskan rumah, terlihat kumuh karena sudah beberapa hari kutinggal. Aku betul2 merasa sepi, biasanya mas rudy selalu hadir menemaniku meskipun aku selalu bersikap acuh padanya. Kini dia telah tiada, meninggalkan sejuta penyesalan dalam diriku. Kini air mataku terus mengalir,,, apalagi saat kurapikan kamar mas rudy. Kubersihkan bingkai foto pernikahan kami yang diletakkan dimeja, Kususun buku2 yang ada dimeja kerjanya.. kutemukan sebuah buku tergeletak di atas ranjang. Jelas itu adalah sebuaah buku harian. Kubuka lembaran demi lembaran, dan kurasa air mataku tak mampu berhenti untuk terus mengalir. Ada curahan hatinya dalam tiap lembaran buku itu, ada namaku dan juga nama sahabatku Aliya.

    08-12-2007

    Aku hanyalah manusia biasa yaAllah.. namun aku harus mampu melewati ini semua. Pernikahanku yang gagal dengan Aliya adalah sebuah garis takdir yang tak akan mampu kulawan sedikitpun meski aku sangat sayang padanya. Kini aku telah menikah dengan sosok wanita yang kuyakin dapat menggantikan Aliya di hatiku, aku mencoba untuk mencintainya, dan ternyata aku berhasil. kini aku semakin sayang padanya, walau dia tak pernah membalas rasa sayang dan cintaku untuknya. Namun aku akan tetap sabar menantikan kasih sayangnya meski aku harus menunggu. Jika Engkau berkehendak maka Aku berjanji ya Allah, aku akan berusaha mempertahankan pernikahan kami hingga ajal menjemputku.

    “Untuk mu Fat,,,

    Aku berjanji akan terus menjagamu hingga maut memisahkan kita. Aku akan menunggu rasa cintamu hadir untukku walau sampai kapanpun. Aku tak pernah menyimpan benci sedikitpun padamu. Karena aku mencintaimu karena Rabbku,,, semoga suatu saat nanti cinta kita akan menyatu. Dipersatukan didalam mihrab Cinta Kita.   Aminnn allahumma amin….”

    Tak terbendung lagi,,,, bulir air mata ini terus saja jatuh membasahi pipiku. Sekelebat bayangan Mas Rudy dan terbayang semua hamparan  dosa ku padanya yang tak bertepi.

    "Tuhan,,,, sungguh aku berdosa pada suamiku, Wahai sang pemurah, ampuni Aku…berikan aku cambuk yang tak menyakitiku, jangan biarkan aku terus menerus terluka atas penyesalan ku ini. Maafkan aku mas,,, sungguh aku mencintaimu,,,, aku harap kita dipertemukaan di syurga nanti.”

    Akupun menutup buku harian itu sembari mengahapus air mataku. Aku harus tegar, aku harus ikhlas melepaskan suamiku, dan terus mendoakannya agar ia diberi ketenangan disana.

    [www.famindonesia.com]




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Sebuah Cerita Cinta" Karya Izzah Hanifah (FAMili Bintan, Kepri) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top