• Info Terkini

    Monday, July 8, 2013

    Ulasan Puisi "Denting Hujan" Karya Istiqomah (FAMili Tangerang)

    Dalam hidup, tentu kita tidak pernah lepas dari permasalahan. Hidup akan selalu diiringi masalah, baik besar maupun kecil. Tidak ada hidup yang berjalan tanpa masalah. Semua masalah itu adalah bagian dari waktu yang tak terelakkan. Nah, puisi ini membawa kita pada sebuah proses pemecahan masalah. Penulis menjadikan hujan layaknya sebuah masalah.

    Dapat kita rasakan hilangnya sebuah harapan, setelah hujan turun dengan deras membasahi bumi. Kata "riuh" sama artinya dengan keras atau deras, bak suatu keadaan di mana masalah mulai datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Lalu, harapan itu pun perlahan memudar. Pudarnya harapan ini tergambar jelas oleh "asa yang melebur" bersama dengan "mentari yang hilang" pada bait kedua.

    Sementara itu, "hari yang kelam" dan isak tangis menjadi puncak dari masalah yang seolah tak mempunyai jalan keluar alias buntu. Ini merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada manusia yang lemah iman. "Luka dan tangis" menjadi bentuk penyesalan. Padahal, bukankah telah diketahui, bahwa tingkat kesulitan dari permasalahan itu tak melampaui keadaan seorang manusia? Itu artinya, akan ada jalan keluar meski lewat jalan tak terduga.

    Pada bait berikutnya kita dibawa pada sebuah kesadaran. Kesadaran inilah yang akan membuka jalan menuju penyelesaian. "Nyanyian mesra katak yang merindu" pada baris keduanya, seolah berperan penting dalam penolakan atas terpuruknya diri pada masalah yang tak kunjung reda. Rindu ini adalah rindu pada kedamaian. Rindu ini adalah rindu pada keberpihakan hidup pada diri. Rindu inilah yang kemudian mengajak diri untuk bangkit.

    Perlahan seiring dengan meredanya hujan/masalah, segalanya pun kian membaik. Bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu banyak hal yang patut disyukuri setelah segala masalah itu tuntas dan tak sedikit pun menyisakan luka/kebencian pada hidup. Semua serba menyenangkan.

    Penulis cukup cerdas mengambil hujan sebagai metafora dari sebuah masalah hidup. Betapa tidak? Hujan yang deras, kadang tak pernah terasa indah. Petir sambar menyambar, langit serasa tumpah ke bumi, hingga membuat siapa pun takut pada hujan. Tentu ini berhubungan erat dengan permasalahan hidup. Siapa yang senang bertemu masalah? Atau mungkin gemar menanti masalah? Jawabnya tak ada. Masalah memang selalu ada dan "tidak disukai". Namun manusia hendaknya tidak takut pada masalah, sebesar apa pun itu, karena tidak selamanya hujan deras membawa petaka.

    Puisi ini mengandung nilai pencerahan tentang betapa manusia harus bersikap bijak ketika menghadapi masalah. Setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Begitulah intisari dari bait-bait yang coba penulis ungkapkan.

    Sedikit koreksi dari Tim FAM, yakni pada bait pertama baris ketiga. "Nankuyup" harusnya terpisah menjadi "nan kuyup", karena masing-masing adalah kata yang berdiri sendiri. Mungkin pada proses editing kurang teliti. Selebihnya dari segi EYD sudah benar.

    Lalu dari segi isi, perlu lebih dipertajam lagi dengan terus menerus berlatih. Perkaya perbendaharaan kata untuk menambah variasi diksi yang unik, indah, dan menyentuh. Kembangkan ide sederhana menjadi sebuah tulisan penuh makna. Dengan demikian, pembaca akan dapat memetik banyak pelajaran dari barisan aksara yang kita torehkan.

    Tetap semangat dan jangan berhenti berkarya.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Denting Hujan

    Oleh Istiqomah

    Denting hujan terdengar riuh
    Menari di atas atap rumahku
    Gemericiknya membasahi dedaunan nankuyup
    Menghapus hawa bumi nan gersang

    Denting hujan terdengar riuh
    Meleburkan semua asa
    Bersama hilangnya mentari pagi
    Melelehkan sejuta harap
    Bersama kelamnya hari
    Menyisakan genangan luka
    Bersama isak dan tangis

    Denting hujan terdengar riuh
    Bersambut mesra nyanyian katak yang merindu
    Menumbuhkan kuncup bunga yang layu
    Menebarkan aroma basah yang padu
    Membawa sejuta mimpi baru
    Denting hujan
    Kini kau terdengar merdu

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Denting Hujan" Karya Istiqomah (FAMili Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top