• Info Terkini

    Friday, August 16, 2013

    "Berhala" Baru Itu Bernama Rokok

    FAMili, siapa di antara Anda yang merokok? Berapa orang yang membakar uang lewat sebatang rokok setiap hari? Hmm, merokok memang hak azasi manusia, tapi FAM Indonesia berpesan, sebaiknya menjauhi rokok karena penelitian menunjukkan, bahwa asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, termasuk bermacam-macam racun yang dapat membunuh manusia.

    Salah seorang sastrawan Indonesia, Taufiq Ismail, menulis keprihatinan beliau terhadap “berhala” baru yang “dituhankan” sebagian masyarakat kita, terutama kaum laki-laki. Puisi itu berjudul “Tuhan Sembilan Senti”. Mari kita simak bersama:

    Taufiq Ismail

    TUHAN SEMBILAN SENTI


    Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa
    tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

    Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai
    merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR
    merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
    hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi
    merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan
    pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,
    tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

    Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala
    sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah
    dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan
    kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

    Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang
    duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok,
    di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan
    antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai
    kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

    Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi
    tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

    Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

    Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di
    toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

    Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
    bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
    ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

    Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
    menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
    Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di
    kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat
    penularannya ketimbang HIV-AIDS,

    Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
    dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
    bisa ketularan kena,

    Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
    merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu
    dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

    Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang
    merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI
    sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan
    bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
    perusahaan rokok,

    Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di
    dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di
    ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
    merokok,

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang
    perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

    Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

    Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
    merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli
    hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi
    ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip
    berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke
    mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99
    butirnya,

    Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
    memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan
    tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul
    yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

    Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut
    tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan
    ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
    Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

    Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15
    penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000
    zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

    Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
    Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
    sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

    Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
    lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

    Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
    diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
    ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
    rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
    terbatuk-batuk,

    Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
    orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
    dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
    bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
    narkoba,

    Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
    di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
    celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan
    indah dan cerdasnya,

    Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan
    sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
    fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap
    tuhan-tuhan ini,

    Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

    ***

    Foto: Pegiat FAM Indonesia Muhammad Subhan bersama Penyair Taufiq Ismail dalam sebuah kegiatan sastra di Rumah Puisi, Sumatera Barat.



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: "Berhala" Baru Itu Bernama Rokok Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top