• Info Terkini

    Sunday, September 15, 2013

    “Lamaran” Tak Terduga

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Siapa yang melamar? Itu mungkin yang terbetik di benak Anda saat membaca judul di atas. Kalau penasaran, lanjutkan membaca. Pernah terbayang tidak, tanpa pernah “melamar” lalu tiba-tiba “dilamar?” Saya sendiri tak pernah membayangkannya. Tapi kali ini, saya ingin berbagi soal lamar melamar ini.

    Konon, pada suatu hari, zaman dahulu kala he he. Itu dongeng. Kita bercerita soal kisah nyata saja. Setelah sekian tahun saya menulis dan menjadikan kegiatan menulis “santapan” sehari-hari yang mengandung gizi, pada suatu waktu yang tak terduga Allah memberikan musibah sakit hingga terjadi kelumpuhan di kaki selama tiga bulan. Apa yang dilakukan orang yang lumpuh? Kalau mau jujur—dan ini sudah amat jujur—ketika kaki kita yang biasa diajak berlari tak mampu lagi bergerak, air mata menjadi teman setia. Benar-benar setia, melebihi setianya seorang kekasih. Kalau air mata itu dibiarkan, bisa tercipta telaga air mata yang luas. Tapi, apalah artinya berlama-lama menangis, menyesali takdir diri, dan membiarkan diri bak seonggok daging tak berguna.

    Saya menghibur diri sendiri dengan cara lembut dan manis. “Sayang, kamu belum kehilangan semua. Meskipun kakimu lumpuh, tapi kamu masih punya tangan untuk menulis, akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan. Berkaryalah, sebelum kehilangan semua; kehilangan waktu, kesempatan dan usia.”

    Untaian kalimat itu selalu saya ulang-ulang. Sebab, mengharapkan untaian kalimat manis setiap saat dari orang lain belum tentu ada yang sukarela. Diri sendirilah yang harus berada di garda terdepan mendobrak keterpurukan. Diri sendiri pula yang harus bangkit di tengah keterpurukan. Kalimat itu cukup ampuh. Setiap hari saya menulis di tempat tidur. Buku-buku berserak menjadi bahan bacaan dan tulisan. Selama sakit itulah satu naskah buku dihasilkan. Allah Maha Baik, menyembuhkanku dari sakit berat itu. Hingga bisa kembali berjalan bahkan berlari. Dari buku yang saya baca, saya menemukan nomor kontak seorang penulis. Saya hubungi penulis tersebut dan meminta bantuan padanya untuk menilai, apakah naskah yang saya miliki itu layak terbit?

    Singkat cerita, saya yang masih gaptek belum kenal yang namanya “Mas Email” atau “Mas Facebook” dikirimlah naskah itu dalam bentuk print out lewat jasa pos. Saat naskah itu diterima, si penulis berteriak di telepon, “Ow, bisa dua tahun saya baca naskah ini.” He he. “Maklum masih gaptek,” jawab saya enteng. Tapi naskah itu dibacanya juga hingga tuntas. Mungkin juga dibacanya sambil terkantuk-kantuk karena tebalnya naskah. Tapi tak apa, toh saya tidak melihatnya. Yang sangat saya butuhkan adalah komentar setelah membaca itu. Komentar yang ditunggu pun datang, “bagus, layak terbit, revisi dulu.” Singkat, padat dan to the point.

    Saya yang waktu itu masih “buta” soal penerbitan, sedikit bingung dan muncul pertanyaan, “lalu kalau naskah kita dinilai bagus dan layak terbit oleh seorang penulis, mau diapakan naskah ini? Siapa yang mau nerbitin? Ditawarkan ke mana? Apakah bisa lolos seleksi, dll?” Pertanyaan yang wajar muncul di benak seorang pemula, apalagi masih belum paham kalau menerbitkan buku itu bisa secara indie juga. Tampaknya posisi saya waktu itu, polos, gaptek dan kuper. Sssst.... rahasia he he.

    Tapi yang namanya kejadian dalam hidup manusia itu tak pernah diduga. Siapa sangka yang kemarin saya menangis, hari ini harus tertawa. Ceritanya, naskah buku itu tertinggal di atas meja kantor si penulis. Nah, si penulis ini tanpa bercerita pada saya, memang bekerja sebagai editor di salah satu penerbit konvensional. Karena satu dan lain hal, ia harus keluar dari kantor itu dan tak bekerja lagi di sana. Naskah saya tertinggal di sana, atau mungkin sengaja ditinggal, karena bikin repot bawanya he he. “Gara-gara” tertinggal itulah, ditemukan oleh sang direktur penerbit konvensional itu dan pasti dibacanya. Buktinya, tiba-tiba beliau menelepon dan berkata, “Assalamualaikum, saya direktur penerbit.... tertarik dengan naskah Anda yang ditemukan di atas meja penulis ‘ini’. Apakah Mbak bersedia jika naskah ini saya ambil alih, lalu diterbitkan?”

    Apa? Saya cukup terkaget. Hampir melonjak gembira tapi tidak jadi, takutnya si penelepon itu seorang penipu tingkat tinggi yang berkedok pemilik sebuah penerbitan. Tapi, Pak Direktur itu seperti mengerti. Beliau jelaskan panjang lebar hal-hal yang sekiranya membuat saya percaya. Ketika saya mulai percaya, beliau berkata, “kalau Mbak bersedia, tolong revisi selama 5 hari. Naskah Mbak ini bergenre remaja. Akan lebih baik sasarannya untuk umum saja, biar luas jangkauannya.” Oh ya? Baiklah. Saya “ngebut” selama 5 hari itu melakukan revisi dari segi gaya bahasa. Wah, rasanya jadi orang penting mendadak. Tanpa menawarkan naskah. Tanpa seleksi. Tanpa antri. Tanpa ini dan itu. Eh, justru ditawari. Benar-benar “dilamar”. Jangan tanya seperti apa bahagianya hati saya waktu itu. Belum pernah menerbitkan buku. Belum pernah bergabung dengan wadah menulis. Eh, tiba-tiba “dirangkul” penerbit konvensional. Buku itu diterbitkan dengan cetakan pertama sebanyak 1000 eksemplar dan tersebar di TB Gramedia seluruh Indonesia. Sangat terharu ketika pertamakali buku itu sampai di tangan. Saya menyebutnya, “ini buah manis dari berpahit-pahit saat berurai air mata.”

    Tak ingin berpanjang lebar lagi_karena tulisan ini pun sudah panjang hehe_di sini saya hanya sekadar berbagi. Siapa tahu Anda memiliki kisah yang sama atau lebih “dahsyat” dari ini. Kisah itu akan menjadi kenangan dan catatan dalam perjalanan menulis kita. Indah jika dikenang. Bagi Anda yang belum pernah merasa “dilamar,” siap-siap besok atau lusa akan berdatangan yang melamar. Tapi, sebaiknya jangan menunggu dilamar, ayo aktif “melamar” dan “melamar.” Salam Santun, salam karya.

    *) Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: “Lamaran” Tak Terduga Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top