• Info Terkini

    Saturday, September 14, 2013

    Ulasan Cerpen "Gado-Gado" Karya Arina Nur Permata Ilmi (FAMili Banyumas)

    Cerpen "Gado-Gado" ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Diceritakan, ada seorang bocah kecil bernama Husni yang membenci gado-gado. Padahal dari gado-gadolah, hidup Husni dan ibunya bergantung. Husni memaksa ibunya untuk tidak lagi berjualan gado-gado karena tak tahan menerima ejekan dari teman-temannya di sekolah.

    Sebab kebencian ini karena Husni menginginkan mainan mahal, sementara uang hasil berjualan gado-gado tidaklah cukup untuk membelinya. Maka, Emak—ibu Husni—berusaha untuk terus membujuk anaknya agar bersabar. Husni yang kecil tetap tak terima dan menolak ibunya berjualan gado-gado.

    Pada akhirnya waktu menunjukkan kebenaran kepada Husni. Sebuah kejadian membuatnya mengerti bahwa gado-gado tidaklah seburuk yang teman-temannya katakan. Justru dengan gado-gadolah, nanti ia akan mendapat sesuatu yang paling diimpikannya.

    Cerpen ini ditulis dengan bahasa sehari-hari yang sederhana. Namun begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik darinya. Seperti untuk selalu bersyukur dengan apa pun keadaan yang ada. Bukankah rezeki seseorang telah diatur olehNya? Maka tak ada alasan untuk marah ketika sesuatu nampak buruk di mata kita, padahal boleh jadi Allah memberikan hal tersebut sebagai sesuatu yang terbaik untuk kita.

    Beberapa koreksi dari Tim FAM ada dari segi EYD dan tanda baca. Banyak sekali ditemukan kesalahan. Seperti "dimana" seharusnya ditulis "di mana", "dimulutnya" seharusnya "di mulutnya". "Sekedar" yang benar "sekadar", "hutang" yang benar "utang", "satu persatu" yang benar "satu per satu" (perhatikan spasi), "seringkali" seharusnya "sering kali", "dichek" semestinya "dicek", "lagipula" yang benar "lagi pula", "coklat" yang benar "cokelat", "memperdulikan" seharusnya "mempedulikan" (perhatikan huruf R yang tidak semestinya ada), serta "kesana" yang benar adalah "ke sana".

    Untuk penggunaan kata depan "ke-" yang berfungsi menunjukkan arah tujuan sebuah subyek, yang benar adalah terpisah dengan kata sebelumnya—dengan pengecualian pada beberapa kata tertentu.

    Lalu beberapa penggunaan partikel "pun" yang kurang tepat. "Pun" selalu terpisah dengan kata sebelumnya, kecuali kata-kata berikut ini: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kedatipun, maupun, meskipun, walaupun, sekalipun, dan sungguhpun.

    Kata "le" atau "tole"—yang berarti panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa—sebaiknya diawali dengan huruf kapital. Sama seperti halnya Emak, Bapak, Mbah, dan lain sebagainya.

    Kesalahan juga banyak terdapat pada penggunaan tanda baca. Seperti tanda seru, tanya, titik, dan koma yang tidak pada tempatnya. Dapat dijumpai tanda titik yang berjumlah dua, tiga, empat, bahkan terkadang lebih banyak dari itu. Juga terdapat tanda koma rangkap yang semestinya cukup satu saja. Tentang titik tiga/elipsis ( ... ) lebih tepat digunakan dalam kalimat yang pengucapannya terpotong dengan jeda. Contoh: "Mungkin ... aku harus pulang." (perhatikan spasi/jarak antara dua kata yang berdekatan dengan tanda elipsis tersebut).

    Saran dari Tim FAM untuk penulis agar terus menulis dan perbanyak membaca. Perhatikan juga penggunaan beberapa tanda baca karena ini penting. Pemakaian tanda baca yang kurang tepat dan kesalahan ketik dapat mengurangi kenyamanan pembaca, bahkan dapat mengubah makna dari tulisan kita. Sebelum menerbitkan/mempublikasikan karya kita, ada baiknya kita koreksi terlebih dulu. Lakukan editing sebaik mungkin dan jangan buru-buru agar karya kita cepat selesai.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    GADO – GADO

    Cerpen: Arina Nur Permata Ilmi (IDFAM1850M)

    Buuuukkkkk suara tas yang dibantingkan ke lantai . Tepat pukul 07.00 dimana detak jarum – jarum jam itu seharusnya memaksa bocah kelas 3 SD itu untuk bergegas ke sekolah.

    “Mak, Husni nggak mau berangkat sekolah, sebelum Emak bilang sama teman – teman Husni kalau gado – gado buatan Emak yang Emak jual itu bisa buat beli robot remote seperti teman – teman Husni!!!” bentak suara anak kecil yang lengkingannya tidak lebih keras dari suara sirine sirine pabrik gula.

    “ Memang kenapa toh le??? kan Husni sudah punya banyak mainan, itu .. mainannya juga berantakan.. ndak pernah dimainkan lagi.. terus kalau Husni beli robot – robotan mainannya mau ditaruh mana Nak?” tanya seorang ibu berpakaian daster panjang yang sedang memotong kacang – kacang panjang dan sesekali mengulek bumbu kacang.

    “Tapi Husni pengin Mak.. robot yang bisa jalan, bisa dimainkan jarak jauh.... teman – teman Husni bilang Husni nggak akan bisa beli karena emaknya cuman jual gado – gado.... jadi nggak punya duit buat beli,,,pokoknya Husni nggak mau berangkat!”.

    Begitulah sikap Husni yang gampang mogok sejak ditinggal ayahnya yang wafat karena kecelakaan 2 tahun yang lalu saat tertabrak mobil. Emaknya membuka warung kecil yang ruangannya tidak lebih dari 2x2 meter persegi. Warung itulah yang menjadi lahan utama Emak Husni untuk membiayai hidup dan sekolah Husni, warung kecil bersama seperangkat ulekan, panci – panci plastik, dan tumpukan – tumpukan sayuran segar seperti tomat, mentimun, wortel, daun kangkung, kacang panjang, labu siam, taoge, serta di sampingnya tertata telur – telur rebus dan tahu yang memang tak hanya gurih untuk dipandang. Bahan – bahan itu berpadu, bersama terhujaninya bumbu kacang hasil ulekan Emak Husni yang tiap hari dinanti pelanggan setianya, pelanggan gado – gado Emak Husni.

    “ Mak.. sebungkus yah... tapi sambelnya nggak perlu sadis..heheheheee” pesan Mas Toha, tetangga tunggal RW Husni yang menjadi pelanggan setia gado – gado Emak Husni.

    “Nah... hayooo ini anak ganteng koh ndak masuk sekolah? Ndak mungkin sakit toh? sibuk main begitu.....” Ledek Mas Toha kepada Husni

    “ Ya itu Ha... sedang ngambek minta robot remote..” tukas Emak Husni

    “ Hahahahahhahaaaaa minta robot remote kok sampe ndak masuk sekolah Hus... memang kalo belum punya robot remote bikin Husni jadi pinter ya? mending ndak usah beli saja Hus... kan kalau ndak punya robot ndak perlu sekolah, berarti Husni sudah pintar....” Kembali Mas Toha meledek Husni sambil meraih piring yang penuh dengan sayuran dengan saus kacang itu.

    Emak Husni yang sedang menata gerabah dan bergegas mencuci beberapa sendok bergumam “ Lah iya Ha... aku disuruh bilang sama teman – temannya kalau bakul gado – gado bisa beli robot remote yang harganya bisa buat makan bakso satu bulan berturut – turut...sudah aku bilang besok Emak mau bilang ke teman – temannya, eh.. malah udah terlanjur ngambek.......”

    Husni merasa jengkel dengan perbincangan antara Emaknya dan Mas Toha. “Mbuh ah Mak,,,, Husni sebel sama Emak, kenapa Emak ndak jualan makanan yang lebih enak dari gado – gado? kenapa Emak ndak jualan makanan yang lebih disukai orang? gado – gado Emak ndak laku.... yang beli cuma Mas Toha, Pak Amir, Mbok Inah...Husni ndak mungkin beli robot remote......!!!!

    Memang susah untuk memberi pengertian kepada anak sekecil itu, susah untuk menjelaskan betapa lelahnya Emak Husni bekerja untuknya, betapa sebenarnya beban yang ditanggungnya tidak seremeh keinginan yang belum terwujud untuk sekedar mendapat robot remote. Seandainya Husni sudah mengerti betapa banyak hutang – hutang ibunya, berapa gram juga perhiasan simpanan emas, mulai dari anting, kalung, ditanggalkan satu persatu untuk terus menyambung hidup yang sangat berarti baginya..dan untuk selalu berusaha memenuhi permintaan anak tercintanya... Husni Abdullah.

    Pagi hari , Husni terbiasa dengan dinginnya udara yang melilit nadi, terbiasa mendengar suara ayam jantan berkokok bersahutan, terbiasa bangun lebih awal dari sang fajar, lalu tangan mungilnya terbiasa mengangkut ember demi ember berisikan air untuk mandi, mencuci baju, mencuci gerabah, “Mak.. Husni nanti sekolah..” lirihnya. “ Terus, Emak disuruh ikut ke sekolah Husni?” tanya Emak. “Ndak perlu Mak, Husni yang akan bilang sama teman – teman kalo Emak Husni bisa beli robot remote.....”. Jawabnya cuek. “Yo wes kalau begitu.... Emak bisa jualan gado – gado di rumah”. kata Emak sambil senyum.

    “Emak, Husni sebel sama gado – gado... Gado – gado ndak bisa bantu Husni beli robot remote... Husni sebel..........Emak ndak usah jualan gado – gado lagi.... Husni ndak suka...” bentaknya polos.

    “ Nak, kalau emak ndak jual gado – gado .. Husni ndak bisa sekolah, kita ndak bisa makan.... kita ndak bisa beli beras.... hayoo? Husni ndak boleh begitu sayang...”

    “ Ah... Husni sebel sama gado – gado,,,, “

    Husni melangkahkan kakinya menuju sekolahnya, sekolah yang kemarin dia tinggalkan hanya karena konflik batin tidak bisa membeli robot remote.

    “ Heh.. kenapa kemarin tidak masuk sekolah? hayoo nangis yaaaa tidak beli robot remote? hayoooooooooooo ihiiiiiiiiii Husni cengeng.......” ledek Amri, temannya anak orang kaya dan memiliki berbagai jenis mainan..” yaiyalah,,, Emaknya saja cuman jualan gado – gado,,, mana bisa beli robot??? robot kan mahal?? gado – gado buatan Emakmu kan ndak enak,,, makanya ndak laku,,, makanya kamu ndak bisa beli robot remote,,,,,huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuuhuhuhuhhuhu” kembali Amri melanjutkan cemoohan kepada Husni.

    “ Eh Husni,, emakmu ndak usah suruh jualan gado – gado...itu coba liat Papanya Intan.. jualan kebab Turki, banyak yang beli, enak lagi, laku, dan kalau dapat duit banyak, pasti bisa buat beli mobil – mobilan, robot remote, ..... “ tukas Bahrun yang memang satu komplotan dengan Amri.

    Husni memendam kecewa kepada mereka berdua. Pagi itu terasa menyiksa, awal sekolah pekan ini menjadi hari yang menyakitkan bagi Husni. “Lihat saja nanti, pasti emakku akan beli robot itu buat aku......!” Sahut Husni dengan nada jengkel.

    “ Hahahahahahahahahahaha ibunya saja bakul gado – gado... masa bisa beli robot remote.... Asyik kalau jadi Intan,,, Papanya jualan kebab Turki, laku, enak, hahahahahahahahahaahahaa”

    Siang yang membara, koper – koper sudah siap dimasukkan ke bagasi mobil, terlihat sang sopir kesana kemari membawa berbagai banyak barang. Kebanyakan adalah barang – barang yang bukan makanan, karena takut tidak lulus sortir saat masuk ke bandara internasional.

    Gadis kecil berbando pink juga sibuk sekali dengan koper – koper kecilnya, boneka – boneka barbie dan sejumlah mainan yang seharusnya tidak perlu dibawa seolah menjadi harta penting yang sangat berharga.

    “Pak Burhan, tolong ya Pak, koper Alika jangan sampai hilang, Alika kepengin koper Alika ditaruh di tumpukan paling atas, Alika nggak mau boneka Alika penyot gara- gara tertumpuk koper Mama” Teriak gadis kecil berumur 10 tahun yang bernama Alika, seorang anak dari pasangan bapak Raharjo dan Ibu Elena pejabat di KBRI Singapura yang akan melakukan perjalanan ke Magelang untuk sekedar pulang ke kampung halaman. “Mama... jangan lupa kamera ya Ma... Alika ingin ambil foto, barangkali banyak yang bagus, nanti kan kalau bagus Alika upload ke blog tugas bu Anna”pinta Alika kepada Mamanya memanja. “Siap sayang,,,,,, memangnya Alika yakin bu Anna akan suka sama blog Alika kalau Alika masukkan foto – foto yang Alika ambil? apa malah nggak tambah jelek blognya??? “ gurau Mama Alika sambil mencubitnya. “ Ih, Mama..liat saja nanti kalau Alika dapat gambar bagus, bu Anna pasti suka... “ kata Alika tidak terima dengan gurauan Mamanya.

    Mobil siap melaju menuju bandara Internasional Singapura, perjalanan ini memang bukan yang pertama bagi Alika, Singapura – Indonesia seringkali dia lalui bersama Papa dan Mamanya. Tapi kali ini, Alika lebih antusias untuk ikut bersama Papa Mamanya pulang ke Magelang, karena neneknya rindu. Apalagi, Alika mendapatkan tugas dari Bu Anna, guru TIK di SDnya, untuk memasukkan berbagai catatan yang menarik. Kamera, pensil, kertas, tidak lupa dibawanya dan sesekali dichek takut ada yang ketinggalan. “ Mama, Alika ingin deh, cerita banyak hal tentang kampung halaman kita, bu Anna pasti suka, Bu Anna kan orangnya suka menjelajah, dulu saja pernah bercerita kalau dia suka sekali keliling dunia, Mama pasti nggak percaya? Bu Anna pernah lo..manjat bareng teman – temannya ke gunung Fujiyama, pernah juga keliling Taj Mahal, dan yang lebih seru lagi, berkeliling hutan Amazone Ma... coba Mama bayangkan ada wanita yang berkeliling hutan... hebat kan Ma?? ah..kalau Mama sii pasti penakut, jangankan ke hutan Amazone, nemenin Alika jalan – jalan ke dekat Merlion malam – malam saja Mama takut.....” ledek Alika. “ Hmmm tapi kan? Bu Anna nggak pernah bantu Alika mengerjakan PR, nggak pernah menyiapkan sarapan buat Alika,,, nggak pernah bantu Alika merapikan tempat tidur....” tukas Mama Alika sambil tersenyum.” Ye.... Mama cemburu ya?” ledek Alika. Seraya semua orang yang di dalam mobil tertawa mendengar celotehan gadis kecil itu. Alika memang sangat mengagumi bu Anna, guru TIK di SD Internasional yang dia tempati untuk belajar. Bu Anna Maria Renata adalah sosok yang keibuan, namun berjiwa petualang, hampir setiap hari semua muridnya membuka blog bu Anna, melihat catatan atau foto- fotonya di berbagai negara. Selain itu, Bu Anna memang seorang vegetarian sejati, oleh karena itu Mama Alika sering membujuk Alika untuk memakan sayur seperti Bu Anna. Walau Alika hampir mutah memakannya, tapi kalau mendengar nama Bu Anna, dia langsung antusias menjejalkan sayuran ke mulutnya.

    “ Emak,,, Husni ingin Emak nggak usah jualan gado – gado lagi, Husni nggak mau..... Husni ingin Emak ganti jualan. Biar dapat duit lebih banyak, biar Husni bisa main robot remote” Bentak Husni.

    “ Nak... Kok Husni bisa bilang begitu? apa Husni malu, kalau Emak cuma sebagai pebjual gado – gado? Husni malu? Nak.. gado – gado ini sudah banyak pelanggannya, nanti kalau Emak ganti jualannya, kasihan mereka yang sudah jadi pelanggan gado – gado kita.... Emak nggak pengin membuat mereka kecewa Nak..” tegas Emak Husni lemah lembut.

    “ Mak.... tapi kata teman Husni, kalau Emak jualan gado – gado, Husni nggak akan bisa beli robot remote Mak... Husni benci gado – gado Emak....” bentak Husni, tangannya meraih sayauran dan membantingkannya ke lantai.. sayuran itu berhamburan, sekacau hati Husni yang tidak bisa menerima ibunya sebagai penjual gado – gado.

    “Mak... Husni ingin Emak kerja saja di rumah Papanya Intan, Husni ingin Emak ikut jualan Kebab Turki, biar laku banyak, biar banyak yang beli, biar Husni bisa beli robot remote” Paksa Husni kepada Emaknya. “ Nak.. jangan begitu ... Husni lupa ya? pak Ustadz bilang kan rejeki sudah ada yang mengatur, Allah sudah membagi rezeki kepada Papa Intan, melalui dagangnya sebagai penjual Kebab, dan Husni harus tahu, kalau Allah membagi rezeki kepada kita melalui dagangan gado – gado Emak.... Husni harus bersyukur ,,,” kata Emak Husni sambil mengelus kepala Husni dan membereskan sayuran sayuran itu. “Husni benci gado – gado,,,, Husni sebel sama Emak.....Husni ingin Emak jualan kebab Turki! titik” bentaknya seraya keluar rumah sambil berlari.

    Mobil terhenti di sebuah kampung di daerah Magelang, suasanya sejuk. Alika meraih kamera dari tasnya, dan jeprettt! mengambil beberapa gambar pepohonan yang ada di sekitar. Bebarapa anak burung tertangkap kamera, dan sungai kecilpun tak Alika lewatkan untuk diabadikan alirannya di sebuah kamera CLR miliknya. “Pak, hawanya sejuk sekali ya... Pak Burhan memang paling pintar memilih tempat singgah” Kata Pak Raharjo. “Nggih Pak, rasanya sejuk sekali setelah sekian lama melihat keangkuhan kota Singapura, dan sekarang kembali merasakan ramahnya Indonesia” Jawab Pak Burhan bangga. Alika dan Mamanya masih berjalan di belakang, rombongan itu memang sengaja berhenti masuk ke perkampungan karena Pak Raharjo ingin Alika familiar dengan daerah di Indonesia, sekaligus berinisiatif untuk menghadirkan nuansa yang tepat menjadi objek pemotretan Alika untuk melengkapi tugasnya. “Aduuh.. Pak Burhan.... mana sih tempat saudaranya Pak Burhan?? Alika udah capek niii... katanya saudaranya pak Burhan jualan makanan enak,,,,” keluh Alika. Mobilnya memang tidak muat untuk masuk ke gang daerah perkampungan itu, terpaksa dia menusuri jalan dengan melangkahkan kaki bebrapa meter. “Nah itu... atapnya sudah kelihatan Non,.... ayoo jangan putus asa berjalan.... lagipula non Alika bosan kan? setiap hari naik mobil”.

    Sejurus kemudian Pak Burhan dan rombongan Alika sampai ke sebuah rumah kecil, rumah penjual gado – gado, ya.. itulah rumah Emak Husni...

    “Assalamu’alaikum, Mbak Imah......” sapa Pak Burhan.

    “Wa’alaikumsalam.......subhanallah... Mas Burhaan.....jauh sekali.. tak disangka Mas Burhan ingat kampung halaman jugaa...” ucap Emak Husni bahagia bertemu sepupunya. “Alhamdulillah Mbak,,, ini saja cuman singgah, itu saya bawa bos saya dari Singapura, sore ini juga mau lanjut perjalanan Mbak.....hehheee Mbak,,buatkan gado – gado 4 porsi ya mba.....” kata Pak Burhan. Alika dan Mama Papanya dipersilahkan masuk dan mereka duduk sambil bercerita kesana kemari. Husni pulang ke rumah, dan kaget melihat ada tamu. Alika berseru “Ini yang namanya Husni ya Tante ? “tanya Alika kepada Emak Husni yang sebelumnya telah mendengar cerita Husni berikut tragedi mogoknya. Alika mendekat menghampiri Husni “ Aku Alika, kelas 5.. “ Alika menjabat tangan Husni. Alika memang gadis familiar kepada siapapun. Sesaat kemudian Emak Husni membawa enam porsi gado – gado yang disajikan di ruang tamu. “Nah....Alika....kebetulan,,, ayo makan sayur sayang,,, enak lho....” rayu mama Alika. Awalnya Alika enggan mencobanya, begitu melihat papa dan mamanya sibuk menyantap gado – gado itu, sedikit demi sedikit Alika memasukkan sesendok gado – gado dimulutnya, sesekali diam agak pelan mengunyah, lalu perlahan memasukkan gado – gado itu kembali ke mulutnya, sekunyah, dua kunyah, hingga ia dapati tidak ada lagi gado – gado tersisa di piringnya. “ Waaaah.. Alika,,,, habis,,,,Alika makan sayur Pa..” gumam Mama Alika. Alika tersenyum dan meraih segelas air putih. Ternyata di sela – sela makan, dia berhasil menjepret gado – gado, sekaligus semua orang yang ada di ruangan itu. Alika kemudian kembali mendekat ke Husni, Alika mengambil foto Husni yang sedang memegang sepiring gado – gadonya. Husni merasa terhibur dengan kehadiran Alika, seolah lupa kegundahan batinnya tentang robot remote atau kebenciannya kepada gado – gado emaknya. Alika pandai bercerita, memotret, bermain, terhiburlah Husni dengan kehadirannya. Beberapa jam kemudian keluarga Alika pamit untuk meneruskan perjalanan. “Husni, kapan – kapan aku main ke sini lagi,,, Tante Imah, buatkan Alika gado – gado lagi ya Tan..” kata Alika di penghujung kunjungannya ke rumah Husni.

    Mobil melaju, semakin jauh dari rumah Husni. Sebenarnya Husni merasa sedih karena Alika pergi, tapi lumayan murungnya mereda. Dia sudah sanggup sekedar senyum kepada Emaknya.

    Pagi itu Husni meraih tasnya, dia bersiap ke sekolah. Masalah robot remote dan jualan gado – gado emaknya tidak terlalu mengganggunya. “Emak, Husni berangkat yaaaa.. Assalamu’alaikum..” tukas Husni. “Wa’alaikumsalam nak,, hati – hati sayang...” jawab Emak Husni. Belum sempat keluar rumah, ada motor berwarna jingga berhenti di depan rumahnya. “Rumahnya Husni Abdullah? ini ada surat dari jauh,,,,dari Singapura”. Husni kaget bukan kepalang. Singapura? luar negeri? dia masuk dan membawa amplop coklat serta sebuah bingkisan. Mengajak Emaknya membaca dan membuka surat itu.

    “Hai Husni, apa kabar? Alhamdulillah Alika sehat. Husni juga sehat kan? Alika senang berkunjung ke rumah Husni, Alika suka gado – gado buatan Emak Husni. Alika memasukkan beberapa foto Husni di tugas blog Alika. Bahkan, bu Guru Alika terkesan sekali dengan catatan Alika, Bu Anna suka sekali bagian catatan yang membahas gado – gado Husni. Kapan – kapan Alika main lagi ke situ yaaa? Salam”

    Husni membuka bingkisan itu, dan matanya terbelalak melihat robot remote super canggih made in Singapura. Dia bahagia menerima bingkisan itu, beberapa potong kertaspun dia buka berulang kali, yaitu kertas print-out blog Alika yang memuat gambar gado gado dan foto ibunya, serta potongan print-out blog milik Bu Anna, guru Alika yang bertuliskan :“I have inspired by my student. As a vegetarian, i like everything related vegetables. Gado - gado is a cuisine from Indonesia..originally you can call it Salad with spicy peanuts sauce.. I have to go to Indonesia to taste it directly.....Indonesia wait me......”.” Aku terinspirasi oleh siswaku, sebagai seorang vegetarian aku suka segala hal yang berhubungan dengan sayuran. Gado – gado adalah makanan asli Indonesia.Kau bisa menyebutnya sebagai salad dengan saus bumbu kacang. Aku harus pergi ke Indonesia untuk menikmatinya secara langsung..Indonesia tunggu aku..”. Entah Husni mengerti atau tidak bahasa Inggris itu, dia segera berlari ke sekolah membawa semua kiriman dari Alika. Berlari tanpa memperdulikan betapa lelahnya dia... dan sesampainya di kelas, teman yang pertama dia jumpai adalah Amri dan Bahrun. “ Hei Amri,,, lihat fotoku sudah sampai Singapura.....!” teriak Husni. Dia menunjukkan potongan print-out blog itu, beserta gambar – gambarnya, tak lupa dia memarkan robot remote kepada mereka berdua. Temannya terkagum – kagum dengan apa yang dibawa Husni. Kemudian dia berkata kepada Amri “ Amri, aku suka emakku jualan gado – gado... aku nggak suka emakku bekerja di tempat papa Intan, karena gado – gadoku lebih enak...”

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Gado-Gado" Karya Arina Nur Permata Ilmi (FAMili Banyumas) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top