Skip to main content

Pengumuman 40 Cerpen Terpilih Lomba Cerpen Bertema “TKI”

Telah diumumkan pada Kamis, 3 Oktober 2013 di grup “Forum Aishiteru Menulis. Ini nama nominatornya:

1. Anisah Utari, Jakarta Selatan (Lukisan Perempuan di Victoria Park)
2. Anis Swidiastuti, Malang (Tentang Arti Kemerdekaan oleh Diri Sendiri atau oleh Orang Lain)
3. Arina Nur Permata Ilmi, Banyumas (Suratman Ingin Pulang)
4. Arif Rahman Hakim (Pulang)
5. Anugerah Waty, Makassar (Surat Warisan)
6. Ade Ubaidil, Cilegon (Serigala Berbulu Domba)
7. Amiruddin, Sulawesi Selatan (Jalan Pulang)
8. Acet Asrival, Sumatera Barat (Percikan Hujan)
9. Aidil Zulkhan, Riau (Cinta Biru di Taman Kowloon)
10. Biyah Siti Murbiyyah, Jakarta Timur (Korban di Hari Lebaran)
11. Catur Pujihartono, Yogyakarta (Jenasah di Atas Perahu)
12. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Impian Azizah)
13. Erlangga Setiawan, Surabaya (Tentang Wanita yang Dekat Sekaligus Jauh Dariku)
14. Happy Ratna Astuti, Semarang (Pengakuan Surtini)
15. Irhamun, Pulau Punjung (Hujang Ang Pao di Asia)
16. Intan Umyatur Rahmania, Depok (Keputusan)
17. Kasrizal, Jambi (Cita-citaku Kandas di KL)
18. Muhammad Nur Faqih, Jember (Selama Bunga Shaqayeq Mekar)
19. M. Zaini, Martapura (Azimat)
20. Muhammad Riyan Andrianus, DKI Jakarta (Mayat Wanita di Victoria Park)
21. Muhammad Qadhafi, Salatiga (Tuan Bahaya)
22. M. Syamsul Qulub, Gresik (Janji yang Terlupakan di Fukuoka)
23. Muhammad Fadhli, Padang (Jangan Menangis Ning)
24. M. Fitrah Alfian R. S, Tangerang (Siksaan Itu Dapat Kutahan Demi Adik-adikku)
25. Niken Bayu Argaheni, Pati (Epitaf Suryo)
26. Nazri zuliansyah, Aceh Utara (Jejak Pahlawan Devisa)
27. Nurhidayati (Yayang Widia Ningsih)
28. Novaldi Herman, Pekanbaru (Sekantung)
29. Rieka Mustika, Purwakarta (Shalat Mirah)
30. Rendra Pirani, Tangerang (Anak Pribumi di Negeri Orang)
31. Rizka Amalia Fulinda, Purwokerto (Bunga-Bunga Yang Tergadai)
32. Sindi Violinda, Medan (Sampah Tak Selamanya Jadi Sampah)
33. Santi Sumiati, Cianjur (… Untuk Sepasang Jubah Surgawi)
34. Sukamto Prasetyo, Singkawang (Sepenggal Episode Rumah Merah)
35. Suyati, Pasaman Barat (Aku Telah Dipulangkan)
36. Susiati, Malang (Kubunuh Kepercayaanmu, Suamiku!)
37. Titi Haryati, SulSel (Sepucuk Surat Dari Kampung)
38. Wahyu Prihartini, Pasuruan (Surat Terakhir Untukmu)
39. Yusrina Sri Oktaviani, Padang (Seikat Surat)
40. Yazid Nizar Sopian, Cibinong (The Last from Ratna)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR!!!

Demikian pengumuman ini disampaikan, atas perhatian dan kemaklumannya disampaikan terima kasih.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA

www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…