Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Makhyatul Fikriyah (FAMili Kediri)

Makhyatul Fikriyah, lahir di Kediri pada 7 Desember 1997, dari pasangan Bapak Mahmud Husaini dan Ibu Nur Amimah. Ia mengenyam pendidikan di TK Kusuma Mulia I, SD-SN Gadungan IV dan MTs Hasanuddin, Pare. Selain pendidikan formal ia juga belajar pendidikan nonformal di TPQ Miftahul Ulum metode Qiroaty dan lulus dalam jangka waktu 15 bulan. Sempat mondok selama 6 bulan untuk mempercepat kelulusan di PP Miftahul Ulum. Kini ia melanjutkan pendidikan Al-Qur’annya di PP Tahfidhil Qur’an untuk mengikuti program tahfidz (menghafal Al-Qur’an). Ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di antaranya:

1.    Pramuka sebagai Pratama
2.    Drumband sebagai Mayoret
3.    Tabuh Beduk sebagai Vokalis
4.    OSIS sebagai Ketua
5.    LBB sebagai Komandan

Prestasi yang pernah diraih diantaranya:
Ketika SD:

1.    Ranking III besar selama di SD
2.    Juara I PU(Pengetahuan Umum) se-Kec
3.    Juara II SAINS se-Kec
4.    Juara II Tari se-Kec 2 kali
5.    Juara III Pidato HUT RI se-Desa
6.    Juara IV NEM tertinggi  Th 2009/2010 se-Kab
7.    Juara Harapan III Kaligrafi se-Kab
8.    Juara I Puisi se-Kec
9.    Ketika MTs:
10.    Juara I Pidato HUT RI se-Desa
11.    Juara II Puisi se-Kec
12.    Juara I Fahmil Qu’an se-Kec
13.    Juara III Jambore Pramuka (Tergiat Putri) LT1
14.    Juara I Vokalis Tabuh Beduk bersama Suli(Cinta Rosul) dan Wingsfood
15.    Juara I Fisika BKMS se-Kab

Ketika duduk di kelas 3 ia gemar menulis puisi dan mengarang bebas. Bahkan Sang Guru seringkali menugasinya untuk menciptakan puisi di acara PHBN dan PHBI di sekolahnya, dan karyanya pernah dibacakan saat Pelantikan Siaga Garuda se-Kabupaten di Lapangan Canda Birawa. Karyanya juga pernah dimuat di Blog Sekolahnya. Ia pernah bermimpi untuk dapat menciptakan buku di usia remaja. Namun pupus kiranya mimpi itu, ia vakum selama duduk di bangku MTs. Beruntung ia bertemu teman baru di LBB Pratama dan meperkenalkannya dengan Sanggar FAM (Forum Aktif Menulis) yang kebetulan berpusat di Pare dekat tempat tinggalnya dan resmi menjadi anggota pada 28 Mei 2013. Ia berharap dapat melanjutkan mimpinya di sana.

Sekarang Mahya, sudah tercatat menjadi anggota FAM Indonesia dengan nomor IDFAM1760S dan aktif mengikuti bimbingan menulis di Kantor FAM yang diisi langsung oleh Sekjen FAM, Aliya Nurlela. Sejak mengikuti sanggar menulis ini, Mahya kembali aktif mengikuti event menulis terutama yang diadakan FAM. (*)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…