• Info Terkini

    Saturday, October 26, 2013

    Ulasan Cerpen "Aku Ingin Sukses MengenalMu" karya Puji Dandelion (FAMili Banten)

    Cerpen ini menceritakan kehidupan seorang anak jalanan yang setiap hari bergumul dengan tumpukan sampah demi menyambung hidup. Bocah sembilan tahun ini tinggal berdua dengan ibunya yang lumpuh. Yang menarik dari kisah ini adalah bagaimana bocah itu rajin mendirikan salat di sebuah musala, sampai-sampai selembar sajadah tempat di mana bocah itu bersimpuh, tersentuh melihat betapa hebatnya sosok kecil tersebut.

    Ide yang diambil memang cukup sederhana namun tak biasa. Di akhir cerita, barulah diketahui bahwa sepanjang cerita berlangsung, itu tak lain adalah ungkapan hati selembar sajadah. Sayangnya penulis kurang dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang lebih menyentuh dan mengejutkan. Semestinya ide unik ini dapat diolah menjadi lebih baik lagi. Pemilihan judul juga dirasa kurang tepat. Namun demikian, dibutuhkan sebuah proses panjang untuk itu. Kelebihannya, penulis berhasil menyisipkan nilai-nilai dakwah dalam tulisan ini.

    Ada beberapa koreksi dari kami. Pertama dari segi EYD. "Takkan" baiknya ditulis "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof). "Dari pada" yang benar adalah "daripada" (tergabung).  Kata "menegadahkan" mengalami kesalahan ketik, yang benar semestinya "menengadahkan". "Nafas" dan "adzan", yang benar "napas" dan "azan". Kemudian "ditempat", "disetiap", "dimana", dan "dikala", yang benar adalah "di tempat", "di setiap", "di mana", dan "di kala". Sedangkan "akupun", "apapun", dan "sedikitpun", seharusnya tertulis "aku pun", "apa pun", dan "sedikit pun".

    Kata "Mushala", benarnya diawali bukan dengan huruf kapital (huruf besar), karena merupakan kata keterangan tempat, seperti halnya terminal, stasiun, rumah, dan sebagainya.

    Banyak sekali kalimat yang seharusnya diakhiri dengan tanda titik, justru dibubuhi tanda koma. Sehingga beberapa kalimat yang seharusnya berdiri sendiri, menjadi satu. Diharapkan kepada penulis agar memerhatikan penggunaan tanda baca yang baik dan benar, terutama tanda titik dan koma. Pada beberapa bagian juga ada kalimat-kalimat tanya yang tidak diberi tanda tanya.

    Hal yang juga perlu diperhatikan adalah adanya paragraf-paragraf yang terlalu panjang. Ada beberapa bagian yang seharusnya bisa menjadi pembuka paragraf baru, malah ikut menjadi bagian dari paragraf tersebut. Hendaknya penulis dapat membagi tulisannya ke dalam beberapa paragraf dengan tidak mengabaikan pokok pikiran di setiap paragrafnya. Agar tulisan Anda menjadi lebih nyaman untuk dibaca dan tidak terkesan ambigu.

    Pesan dari FAM Indonesia untuk penulis agar terus menulis. Selingi kegiatan menulis Anda dengan banyak membaca. Olah ide-ide unik di sekitar Anda menjadi sesuatu yang tak biasa, tentu dengan tidak lupa menyelipkan nilai-nilai positif di dalamnya.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    AKU INGIN SUKSES MENGENALMU

    Karya: Puji Dandelion

    Kehidupan seperti lentera yang dapat terang dan meredup, seperti lilin yang dapat menyala dan padam, seperti air yang dapat mengalir dan terhenti, seperti burung yang dapat terbang dan bertengger. Seperti itulah kehidupan, roda yang selalu berputar dan tak pernah berhenti pada satu titik, namun selalu berputar dan berhenti pada porosnya.

    ***

    Apa yang membuat hidupmu lebih berarti? Masa depan yang cemerlangkah? Jabatan yang sukses atau karir yang gemilang? Namun semua itu takkan berarti apa-apa tanpa kita pernah berlutut di hadapanNya. Bergerak… Kejarlah… Raihlah mentari… Dan terduduklah di hadapanNya.

    ***

    Pagi itu di tengah pagi buta, seorang anak kecil telah keluar dari peradabannya, kakinya tengah melangkah ke suatu tempat, suara adzan yang berkumandang itu telah membangunkan tidurnya, walaupun dia hanya sempat tertidur selama tiga jam saja, namun suara adzan itu lebih diagungkannya, dari pada tidurnya yang berlama-lama. Sambil masih menahan kantuk, ia berjalan dengan langkah mantap dan badan yang tegak, rasa kantuknya harus ia lawan. Kalau tidak ia akan menjadi orang yang gagal untuk melawan kemalasannya sendiri. Dan ‘selalu semangat’ itulah mottonya.

    ***

    Setiap hari pekerjaannya selalu bergemul dengan sampah-sampah yang sudah usang, syukur-syukur sampah itu masih belum berjamur atau berkumpul dengan binatang-binatang melata yang membuat kulit jadi merinding melihatnya, dengan melihatnya bergerak-gerak saja sudah merinding apalagi kalau tersentuh oleh tangan, aah.. anak kecil itu pasti terloncat-loncat sambil berteriak di dalam hatinya, tak bisakah ia berteriak sambil mengeluarkan suara? Tidak, karena tentu saja itu akan membuat terkejut orang-orang di sekelilingnya, pikirnya “Buat apa jadi pemulung dan mengaduk-aduk sampah kalau dengan binatang-binatang melata itu saja dia takut bahkan berteriak-teriak, menganggu orang saja.” Tentu, mereka akan selalu memandang dan berkata seperti itu, namun mereka tak menyadari, bahwa hidup miskin tanpa ada sanak dan saudara mengharuskan kita berjuang dengan susah payah tanpa adanya bantuan yang bisa diharapkan, hanya ibunya lah yang masih ia punya namun kedua kakinya telah lumpuh, membuat ibunya tak bisa berbuat banyak hanya bisa terbaring ditempat tidur dan berada di rumah saja. Dan lihatlah, anak itu masih kecil umurnya barulah sembilan tahun, wajar saja kalau ia masih takut terhadap binatang-binatang melata itu, yang tentu jumlahnya sangatlah banyak bukan hanya satu atau dua ekor saja.

    ***

    Pancaran terik sinar mentari membuat tubuhnya merasakan panas yang teramat sangat, perut lapar dan tenggorokkan yang haus, membuatnya harus terhenti dahulu untuk sejenak, ia membayangkan saat itu minuman jus dingin sudah berada di depannya, lalu ia ambil dan ia nikmati disetiap tegukkannya. Aah.. khayalan yang selalu sama pada setiap orang yang tengah lelah dan keringat telah mengucur deras di setiap tubuhnya. Namun baginya, dengan membayangkannya saja itu sudah cukup, tak perlu pergi ke tukang jus, nanti ketika waktu telah berganti dengan sore yang sejuk, lama-kelamaan rasa hausnya juga akan segera hilang, ia tidak boleh manja demi mencari sesuap nasi untuk diri dan ibunya. Bukan jus dingin yang menyegarkan, hanya air putih yang bersih saja, itu sudah cukup baginya.

    ***

    Selalu bersyukurlah apapun yang terjadi, karena itulah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Dan bukan harta yang ‘menghebatkan kehidupan’ tetapi ‘sikap yang tepat’ lah yang membuat orang itu menjadi hebat.

    ***

    Di depan Mushala, sudah ada yang menunggunya. Laki-laki itu tahu kalau anak kecil itu pasti akan datang lagi. Sudah sebulan ini ia selalu rajin berkunjung ke Mushala ini. Entah untuk apa. Tak ada yang tahu. Hanya dirinya dan Sang Ilahi lah yang mengetahuinya. Begitu polosnya paras wajah anak itu, takkan ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang anak miskin dan seorang pemulung jalanan. Setidaknya itulah penilaian dari orang-orang yang telah melihatnya. Padahal tahukah kalian, bahwa pepatah mengatakan janganlah kalian memandang seseorang dari luarnya tapi lihatlah dari dalam hatinya. Namun itu hanyalah pepatah yang dianggap sebagai angin sekilas. Takkan ada yang peduli. Lihatlah, saat pagi menjelang pancaran cahaya terpancar dari wajah mungilnya itu, seorang anak yang berumur sembilan tahun itu sangatlah gigih memperjuangkan hak dan kehidupannya. Banggakah ia dengan predikat pengemis? Pengemis yang hanya bisa duduk bermalas-malasan, lalu menengadahkan tangannya dan meminta-minta kepada siapa saja yang lewat di hadapannya, atau walaupun ia beranjak dari tempat duduknya dan ia berkeliling-keliling, namun tetap dengan tujuan yang sama yaitu meminta-minta sambil menegadahkan tangannya kepada saja yang lewat, tentu itu sama saja dengan sebuah kemalasan yang dirinya tak pernah mau berusaha sendiri, hanya mau mengharapkan dan selalu mengharapkan belas kasihan dari seseorang, dan apakah ia akan seperti itu? Tidak, tentu saja tidak. Tidak akan pernah terpikirkan sedikitpun untuk mengemis di dalam hidupnya, apalagi harus melakukannya, berpikir tentang itu saja ia sudah bergidik. Walaupun dia harus tidak makan selama seminggu, itu lebih baik dari pada harus menjatuhkan harga dirinya di hadapan orang lain, terlebih lagi di hadapan Tuhannya, dan ia pun selalu mengingat kata-kata bundanya bahwa “tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah”. Ya, hingga ia lebih baik berjuang dan berusaha meskipun tak ada hasil, itu lebih baik dari pada harus meminta-minta dan menjatuhkan harga dirinya. Yang penting dia sudah berusaha dan mencoba, karena ia masih punya Allah. Allah yang selalu bersamanya, dia percaya dan yakin, semakin dia mengenal Allah maka Allah pun akan dekat dan mengenalnya, karena Allah bukanlah manusia yang hanya menilai seseorang dari penampilannya, tetapi Allah melihat kita dari hati, meskipun ia berwajah kumal dan tak sedap dipandang oleh mata, namun Allah tak pernah membeda-bedakannya. Sehingga ia pun lebih bangga dengan predikat pemulung, yang dapat berjuang sendiri dengan keringat hasil jerih payahnya, lalu menengadahkan tangannya dan pasrah hanya kepada Sang Khalik.

    ***

    Aku bukanlah aku, tapi aku adalah milikmu, dan izinkanlah aku untuk sukses mengenalMu.

    ***
    Lihatlah, yang saat ini sedang ia lakukan, ketika shubuh menjelang, ketika adzan berkumandang ditiap-tiap helaan nafasnya, ditiap keringat yang mengalir deras di dahi dan tubuhnya. Ia takkan lupa untuk selalu mengunjungi rumah Tuhannya, ia akan selalu menghadapkan diri dan hati kepadaNya. Takkan pernah ia ragukan itu, dan di sini ia telah berkomunikasi dengan Rabbinya. Takkan ada yang bisa mengusiknya, takkan ada yang bisa mengganggunya, terlalu khusyuk bagi seorang anak kecil sepertinya. Pernahkah kita melakukan hal seperti itu? bahkan mungkin aku pun masih kalah dengannya. Lihatlah, ia menangis dalam kegelapan. Mushala ini terlalu temaram untuknya. Terpaan lampu yang tak terlalu bercahaya itu dapat sedikit menyoroti wajah sendunya. Ia menangis hanya untuk Rabbinya. Aku tersentuh melihatnya. Tidakkah ia dapat menyadari kehadiranku dan kehadiran laki-laki itu, orang yang selalu melihat dirinya dengan penuh kekaguman sama seperti diriku. Entahlah, yang aku tahu laki-laki itu selalu menunggu dan melihatnya, namun tak ada pendekatan yang dilakukannya. Tak apa asalkan anak itu bisa rajin ke Mushala ini saja, ia sudah merasa senang. Setidaknya ia tak menyangka kalau masih ada anak sekecil itu yang mau melangkahkan kakinya ke Mushala ini, pada waktu dimana masih banyak anak-anak kecil lainnya yang tengah tertidur pulas di kasurnya yang empuk. Aaahh… sungguh, betapa engkau seolah-olah sudah banyak sekali mengetahui kepribadian tentang anak ini, siapakah sebenarnya dirimu? Aku? Ah... aku malu menyebutkan diriku, aku hanyalah sebuah sajadah yang menjadi saksi dari seorang anak kecil yang selalu menangis dikala ia berkomunikasi dengan RabbiNya, dan aku menjadi saksi dari tumpahan tetesan-tetesan air matanya yang murni, tulus dari hatinya yang terdalam, aku bisa merasakan itu. Ya.. dan akupun terharu ketika ia selalu berucap, “Ya Rabb, walaupun aku tidak sukses di dunia ini, namun hanya satu yang aku pinta. Izinkanlah aku untuk sukses mengenalMu.”

    Sumber gambar: arrosyadi.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Aku Ingin Sukses MengenalMu" karya Puji Dandelion (FAMili Banten) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top