• Info Terkini

    Wednesday, October 16, 2013

    Ulasan Cerpen "Sesalku di Pembaringan" karya Ratih Febrian K (FAMili Probolinggo)

    Cerpen ini berkisah tentang seorang gadis yang terperdaya oleh cinta yang tidak didasari iman. Ia merajut kasih dengan pemuda bernama Mas Tora. Awalnya hubungan mereka berjalan sebagaimana hubungan percintaan remaja pada umumnya, namun lama-lama sesuatu membuat mereka ingin berbuat lebih dari sekadar berpegangan tangan.

    Konflik dalam diri tokoh utama muncul setelah pasangan tanpa ikatan nikah ini melakukan perbuatan selayaknya suami istri. Namun sayang, ketika sebuah kejelasan itu ia rindukan, sang kekasih tak jua ingin menikahinya karena alasan ekonomi.

    Sadar akan dosa yang telah mereka perbuat, tokoh utama pada akhirnya meminta ketegasan dari lelaki yang sebenarnya ia cintai itu. Akan tetapi mereka harus berpisah karena tiada lagi yang dapat diharapkan dari kata-kata manis rayuan. Nasi sudah menjadi bubur, janji tinggallah janji.

    Cerpen ini memberi kita pelajaran berharga tentang bagaimana menjalin sebuah hubungan yang benar dengan lawan jenis. Bukankah lebih indah bila cinta itu bersemi dengan restu orangtua? Bukankah lebih indah bila cinta itu berada di jalan Ilahi?

    Dari segi tema cerpen ini bagus, tetapi ada beberapa koreksi mengenai EYD dari Tim FAM Indonesia. "Kiparah" mungkin maksud penulis "kiprah". "Kesekian" yang benar "ke sekian". "Dibibirku" yang benar "di bibirku", "diujung" yang benar "di ujung", "disinilah" semestinya "di sinilah", "diantara" seharusnya tertulis "di antara", "disepertiga" seharusnya "di sepertiga", serta "disaat" yang benar tertulis "di saat".

    Kemudian "sholat" yang benar "salat", "lostmen" semestinya "losmen", "nafasku" yang benar "napasku", "naungan-Nya" sebaiknya ditulis "naunganNya" (perhatikan tanda strip), "ku palingkan", harusnya "kupalingkan", sedangkan "berterimakasih" yang benar adalah "berterima kasih" (terpisah).

    Untuk kata "syarat" (pada paragraf pertama cerpen ini) lebih tepatnya menggunakan kata "sarat". Karena "syarat" mempunyai makna sebuah janji yang mengandung semacam tuntutan. Sedangkan "sarat" bermakna penuh atau padat. "Refresing", yang benar "refreshing" (dalam bahasa Inggris) dan mestinya diketik dengan huruf miring karena tidak termasuk dalam bahasa Indonesia sebagai keseluruhan bagian dari cerpen ini.

    Pada penulisan "ayah" dan "bunda", sebaiknya ditulis "Ayah" dan "Bunda" (perhatikan huruf depan kedua kata tersebut yang menggunakan huruf kapital, karena merupakan kata panggilan untuk seseorang). Terakhir, penulisan judul sebaiknya tidak diberi tanda petik.

    Pesan dari kami untuk penulis: teruslah mengasah pena, jangan berhenti menulis, dan tetap tebarkan nilai pencerahan lewat tulisan. Karena dengan begitu akan ada banyak manfaat yang dapat kita bagi pada para pembaca. Bukankah berbagi itu menyenangkan?

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    “Sesalku di Pembaringan”

    Cerpen Ratih (IDFAM1830U)

    Takdir membawaku dalam kiparah seorang insan. Memaknai hidup dengan segala kebisingan moral. “Pacaran”, suatu proses panjang dalam keseharianku, meninggikan rasa untuk sang terkasih tercinta sejak semula. Dia yang memandangku dengan jiwa iba sepeninggal bunda. “Ra, bolehkah aku mencintaimu?” ujarnya waktu itu dengan tersipu. Tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal, menawarkan kisah cinta dengan kalimat yang sederhana tanpa ikatan khusus. “Maksudnya apa? Kita jadian? Pacaran ?” jawabku mengartikan tutur katanya yang menurutku masih syarat makna. Dan bermula dari kalimat itulah hidupku dulu merajut kelam.

    Seiring waktu kisah demi kisah kulewatin bersamanya, Mas Tora, kekasihku. Sempat pula kurasakan getir. “Subhanallah, apakah rasa nyaman itu seperti ini? Hangat dan sungguh,” ujarku dalam hati. Melewati kesekian masa, perjalanan cinta sederhana semakin meningkatkan adrenalin-adrenalin kuat. Jemari polos itu mendekapku, merengguk leher serta pundakku, dan…ah dia mencumbuku dengan sangat lembut. Tersentak hatiku, barulah pertama kali ini aku mau terlena oleh seorang insan dan membiarkan kecupannya mendarat sangat mulus dibibirku. Entah seperti apa mulanya, yang ada hanyalah akhir. Waktu berikutnya saling terdiam menikmati rasa. Dia lelaki pertamaku dan aku pun wanita pertama yang pertamakali ia jamah. Malu! Ya, aku sungguh malu namun tak mampu kuingkari bahwa ada hasrat yang lebih jauh ingin kugapai. Aku ingin memilikinya secara utuh, dan kuberanikan mengungkap isi hati kepada lelakiku yang tampan.

    “Mas, kita nikah yuk!” lontarku manja.

    “Aku belum siap, tahu sendiri ekonomi keluarga kita seperti ini, pas-pas’an sayang. Seandainya umurku 28 tahun, tak perlu sampai engkau meminta seperti itu. Kau wanitaku dan hanya kau, sayang!” jawabnya sembari menggenggam jemariku. Air mataku tak kuasa berderai.  Hening hariku. Egoku tak pernah mampu dikendalikan hanya dengan janji-janji semu.

    Dan suatu malam itulah perbudakan cintaku dimulai.

    “Besok liburan mau? Kita ke pantai saja buat refresing hati,” ajaknya meyakinkanku. Mengingat aku selalu menolak akhir-akhir ini untuk bercumbu rayu. “Hmm, ayuk, ajarin aku renang juga ya?” pintaku tanpa malu. “Iya sayang, pasti.” jawabnya.

    Sabtu sore sekitar pukul 15.00 WIB, kuayunkan langkahku ke sebuah tikungan kecil, melintasi petak sawah dan rel kereta api untuk menemuinya di sebuah gang tak jauh dari istana mungilku. “Ayah, aku berangkat ya,” pamitku kepada seorang  lelaki paruh baya di teras rumah sambil mencium tangan renta itu. “Iya Nduk, hati-hati dan lekas pulang, berdoalah agar langkahmu membawa berkah,” doa ayah menyertaiku waktu itu. Kulihat dikejauhan wajah ayahku tersenyum merekah, merona di lesung pipinya yang dimakan usia. Dengan langkah yang agak tergesa-gesa takut Mas Tora lama menunggu, aku mengingat obrolan semalam tentang alasanku untuk menuntut ilmu ke luar kota kepada  ayah dan ayah mengijinkanku meski tak sepenuhnya rela. Hatiku kecilku miris, “Ayah, maafkan Rara ya, kali ini saja aku berbohong”. Kupercepat ayunan langkah kaki dan diujung sana sudah kulihat wajah Mas Tora serasa menyuruhku untuk bergegas.

    “Alhamdulillah Mas, bisa kencan seperti ini ya! Pasti seru deh, perjalanan yang jauh. Aku sudah persiapkan baju renang dan camilan buat kita nanti di sana,” kataku. “Makasih ya sayang, kau memang wanita yang penuh perhatian,”balasnya.

    Tak terasa hampir 3 jam perjalanan, hembusan pantai membuatku tersadar. “Wah, pantai yang indah ditelan senja,” ujarku kepada Mas Tora yang sibuk memarkir motornya di depan sebuah lostmen dekat pantai. Ia merogoh kocek untuk menyewa lostmen untuk kita menginap semalam. “Ya, dan disinilah kita akan memadu kasih sayang,” balasnya sembari merangkulku masuk ke sebuah kamar tertata rapi dengan hiasannya yang serba berwarna putih.

    Malam merajut hampa, desahan itu semakin menjadi-jadi. Aku tak kuasa dibelai, dimanja dengan sempurna. Jemari yang polos kini mampu melumatkan seluruh tubuhku. Mas Tora perlahan mengecup bibirku, jemarinya mendekap tubuhku untuk makin mendekat. Kurasa kita bukan lagi sedekat dulu tapi lebih dekat dan sangat dekat. Bulu romaku mengembang tak karuan, kini belahan dada kita saling bersentuhan tanpa seulas benang. Hangat menyergap. Pembaringan itu menjadi saksi bisu cerita cintaku. Dan benar adanya, aku meletakkan cinta utuh tanpa elakkan saat kekasihku meremas dan mencumbui setiap lekuk tubuhku. Masih kuingat jelas, desahan nafasnya di telingaku yang memintaku untuk diam dan menikmati ribuan rasa yang berada diantara kita, “Aku mencintaimu sayang,” bisik Mas Tora. Lelap tak kurasa, mungkin karena terlalu asyik dibuat nyaman, senyaman mungkin.

    Namun entahlah, disepertiga malam itu ada yang seolah membangunkanku. Air mataku pun  ikut menetes, membasahi bantal tempat kumerebahkan diri seharian tadi bersama kekasihku. Ada hasrat yang meronta kuat dan ingin menghujat. Nuraniku serasa diketuk untuk mengerti. Ya, aku melihat bunda menangis. “Ah Bunda? Mana mungkin? Bunda telah lama meninggalkanku sendiri bersama ayah. Kenapa Bunda? Kenapa harus saat aku bersama Mas Tora? Dan kenapa bunda memintaku untuk menjauhi kekasihku?” batinku makin menyiksa dengan berbagai pertanyaan yang tak akan menemukan jawab.

    Mentari menjelang, terik itu makin memanaskan hatiku disaaat Mas Tora masih tertidur pulas. Dengan lembut kubangunkan kekasihku. Seolah ada yang ingin kutegaskan. “Sayang, kita nikah saja, kita tak boleh seperti ini, melampaui batas,” ujarku sambil terisak. “Maaf sayang, mas khilaf tapi untuk saat ini aku tak bisa menikahimu. Nikah buan hanya butuh persiapan lahir dan batin, kelak jika punya anak maka segala kebutuhan makin menjeratku. Tundalah dulu hanya beberapa tahun lagi. Usia kita masih muda, kau masih berhak menggeluti duniamu dan berkarir,” penjelasannya membuat hatiku merintih namun tetap kuanggukkan wajahku.

    “Ayo kita bergegas pulang, Umi menyuruhku mengantarkannya ke rumah saudara,” lanjutnya tanpa mengerti batinku yang masih penuh kegelisahan tentang pola tingkah kita semalam. Dan aku tetaplah menurutinya. Sepanjang perjalanan, aku tak menegurnya, saling diam. Kurasa dia juga penuh rasa bersalah.

    Tahun demi tahun terlewati sudah dan masih tak ada tanda-tanda akan lingkaran pengikat pada jemari manisku. Ah, sudahlah, cukup sampai disini saja. Cukup! Nurani memaksaku menemuinya pada suatu siang untuk memutuskan sesuatu, tentang harga diri seorang wanita dan makna cinta kasih. “Mas, tolong jangan hubungi aku lagi dan ketika ingin menghubungiku kembali, aku harap kabar yang baik itu ada, waktu untuk mengikat janji bersama dalam naungan-Nya!” tegasku. “Jika tidak?” ujarnya. “Berdoalah semoga ada wanita lain yang tidak sepertiku.  Aku yang salah Mas, aku tergoda oleh pancaranmu yang sungguh terlalu memikat hati untuk merasa sama. Dan sekarang aku sadar, aku bukanlah wanita terbaik untukmu. Cintaku terlalu kuusung dengan manja hingga menjadikanmu insan liar, dan aku tak mau kau seperti itu lagi Mas.” terangku.

    Ku palingkan wajahku, tak mampu memandang wajah kekasihku yang mengisyaratkan sesal mendalam tapi itu cukup membuatku mengerti bahwa dia sepaham denganku. Kini, aku tanpanya dan aku sangat berterimakasih kepada Tuhanku, Rabbku Yang Maha Bijak, dengan hidayahNya-lah aku bertemu bunda waktu itu, tak pernah kurasakan bahwa ternyata aku sangat merindukan bunda, perhatian beliau yang serentak hilang mengalihkan duniaku, memaksaku mengenal sosok lain. Namun sayangnya, hati itu tak mampu dibagi. “Ibu, maafkan aku, anakmu yang lalai tentang sesuatu yang sangat berharga dan wajib kujaga. Cintamu ada dalam tiap darah dan tubuhku. Kau tak pernah mengajarkan keburukan dan selalu menjagaku ketika rentan,” lirihku memecah lamunan.  Serasa tercabik tapi aku tak mau mengulang kisah yang sama. Sadarku ketika kudengar ayah juga melantunkan sebuah makna terindah seusai sholat magrib dibarisan kalamNya, surat An-Nur ayat 31-40, sebuah pencerahanku.  Sedikit simpul senyum aku torehkan buat sosok yang sangat berarti “Ibu, Ayah, terimakasih, aku mencintai kalian,” isakku dipenghabisan nurani.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Sesalku di Pembaringan" karya Ratih Febrian K (FAMili Probolinggo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top