Skip to main content

Yola Lavenia Juara 1 Lomba Baca “Puisi Oktober”

AGAM – Yola Lavenia E, siswi MTsN Padang Tarab, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berhasil meraih Juara 1 Lomba Baca Puisi Bebas Kreatif bertajuk “Puisi Oktober” yang digelar SMP Negeri 1 Sungai Pua, Agam, Senin (28/10), di kantor Wali Nagari Sungai Pua.

Disusul Juara 2, diraih Alfiyetti Maysa, siswi SMP Negeri 1 Sungai Pua yang berselisih lima angka dari Juara 1. Sementara Juara 3 diraih Khairunnisa, siswi SMP Negeri 2 IV Koto, Agam.

Sementara, di tingkat SMA, Bafinda Putri K, siswi SMA Negeri 1 Tilatang Kamang berhasil merebut Juara 1, disusul Fermando Indraly siswa SMA Negeri 1 IV Angkek yang meraih Juara 2, dan Yeni Wahyuni, siswi SMA Negeri 2 Tilatang Kamang meraih Juara 3.

Nama-nama pemenang diumumkan dewan juri yang terdiri dari Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior Sumatera Barat), Alizar Tanjung (Penyair dan Pengiat Komunitas Rumah Kayu Padang), dan Muhammad Subhan (Penulis dan Pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia). Dewan juri berasal dari Kota Padang dan Kota Padangpanjang, Sumatera Barat.

Atas prestasi itu, para pemenang menerima hadiah berupa trofi, uang tunai, dan piagam penghargaan yang diserahkan langsung Kepala SMP Negeri 1 Sungai Pua, Drs. Fakhrizal seusai pengumuman pemenang di hari yang sama.

Ketua Dewan Juri, Rusli Marzuki Saria menyebutkan, dari 50an siswa tingkat SMP dan SMA yang mengikuti Lomba Baca Puisi Bebas Kreatif itu, sebagian besar peserta memperlihatkan kemampuan mereka membaca puisi dengan baik. “Sebagian di antara peserta adalah siswa-siswa terlatih dan sepertinya sudah terbiasa membaca puisi,” ujar Rusli Marzuki Saria.

Rusli Marzuki Saria memberikan apresiasi kepada SMP Negeri 1 Sungai Pua, Agam, atas inisiatif menggelar lomba puisi yang dinilainya cukup kreatif dan memberi motivasi kepada siswa untuk mencintai sastra, khususnya puisi. “Semoga kegiatan ini bisa menjadi event tahunan di Sungai Pua,” harapnya.

Kepala SMP Negeri 1 Sungai Pua, Drs. Fakhrizal pada kesempatan itu mengatakan, Lomba Baca Puisi Oktober tersebut dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa. Lomba itu digagas oleh sejumlah guru di SMP Negeri 1 Sungai Pua dan didukung Pemda Agam melalui Dinas Pendidikan, Camat Sungai Pua, Wali Nagari Sungai Pua, tokoh masyarakat, dan sejumlah sponsor.

“Kami harapkan juga, dari lomba ini, para siswa dapat menjaga nilai-nilai perjuangan dan persatuan bangsa serta membangun kecintaan mereka terhadap bahasa Indonesia,” katanya.

Ketua Panitia Refdinal Muzan menyampaikan terima kasih kepada seluruh sekolah yang telah mengutus siswa-siswi terbaik dalam lomba yang baru pertama kali digelar di Sungai Pua itu. Dia menyebutkan, seluruh peserta yang didampingi guru sangat antusias mengikuti jalannya lomba hingga acara berakhir.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini dan mudah-mudahan di lain kesempatan kami dapat menyelenggarakan event lainnya,” ujar Refdinal.

Sementara itu, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Muhammad Subhan menyebutkan, Sungai Pua bukanlah daerah yang asing dalam pentas sastra nasional. Di Sungai Pua, ungkapnya, lahir seorang tokoh sastrawan yang karya-karyanya mengawali perjalanan sastra Indonesia. Tokoh itu bernama Abdoel Moeis.

Dipaparkan Muhammad Subhan, Abdoel Moeis lahir di Sungai Pua, Agam pada tanggal 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni 1959. Beliau adalah seorang sastrawan, politikus, wartawan, dan juga pahlawan kemerdekaan yang pertama.

Beberapa karya sastra yang ditulis Abdoel Moeis, di antaranya: Salah Asuhan (novel 1928, difilmkan Asrul Sani 1972), Pertemuan Jodoh (novel 1933), Surapati (novel 1950), dan Robert Anak Surapati (novel 1953).

“Berdasarkan tanggal lahir sastrawan Abdoel Moeis itu pula, sejumlah sastrawan Indonesia yang didukung Pemerintah RI, telah menetapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Nasional,” tambah Muhammad Subhan.

Keterangan Foto:

PEMENANG PUISI OKTOBER -- Kepala SMP Negeri 1 Sungai Pua, Agam, Drs. Fakhrizal menyerahkan hadiah trofi, uang tunai dan piagam penghargaan kepada para Pemenang Lomba Baca Puisi Oktober yang digelar SMP Negeri 1 Sungai Pua di kantor Wali Nagari Sungai Pua, Agam, Senin (28/10). Sebanyak 50an peserta yang terdiri dari tingkat SMP dan SMA mengikuti lomba itu. (Foto: Ist.)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…