• Info Terkini

    Sunday, November 24, 2013

    Ulasan Cerpen "Cerita dari Mushaf" Erna Susilowati (FAMili Kudus)

    Cerpen ini menarik karena mengambil tema bahasan sebuah mushaf (kitab suci) terjemahan. Dikisahkan bahwa sebuah mushaf tengah berharap seseorang datang menjemputnya yang telah lama berada di dalam sebuah toko buku. Bahkan saking lamanya, ia sampai berdebu.

    Mushaf itu memiliki seorang teman, sesama buku (tidak disebutkan lebih rinci buku apa). Mereka saling menguatkan satu sama lain seiring berjalannya hari. Sebabnya adalah karena tidak adanya satu pun pengunjung toko yang tertarik membeli. Jangankan membeli, menyentuh atau meliriknya pun hampir tidak pernah.

    Hingga sampailah suatu ketika mushaf yang berperan sebagai tokoh utama "aku" ini melihat seorang gadis mendatangi toko itu dan membawanya pulang. Sesampai di rumah, ia mendapati sebuah lemari yang penuh dengan buku-buku lain yang menangis. Buku-buku itu menangis karena merasa diabaikan--hanya saat baru saja mereka dipedulikan. Mereka khawatir hal yang sama akan menimpa mushaf tersebut.

    Namun kesedihan ini lantas patah ketika usai salat maghrib gadis yang membelinya tadi mengambil tokoh "aku". Keinginan sang gadis untuk memahami isi mushaf, ayat-ayatNya, membuat "aku" tersenyum bahagia. Ternyata ia jatuh ke tangan orang yang tepat, yang benar-benar bersungguh-sungguh demi mencari hidayahNya.

    Ada beberapa koreksi, di antaranya "bukupun", "akupun", "kemanapun", "temankupun", dan "kaupun", yang benar adalah "buku pun", "aku pun", "ke mana pun", "temanku pun" dan "kau pun". Kemudian aktifititasnya yang benar adalah "aktivitasnya". "Mempesona" dan "mempedulikan" yang benar adalah "memesona" dan "memedulikan". "Dimana" dan "kemana", semestinya "di mana" dan "ke mana". Lalu "kantong" seharusnya "kantung". "Di bacalah" yang benar adalah "dibacalah".

    Kata "rajukku" yang benar "bujukku"--karena lebih sesuai dengan kalimat yang diucapkan sebelumnya ("rajuk" bermakna menunjukkan kekesalan, tidak suka, marah, dan sejenisnya, sedangkan "bujuk" lebih kepada pembicaraan secara halus), panggilan "bun" atau "bunda" dalam perbincangan baiknya diawali dengan huruf kapital menjadi "Bun" atau "Bunda". Juga "taka sing" yang benar adalah "tak asing" (mungkin ini terjadi karena proses editing yang kurang teliti).

    Dalam sebuah kalimat tanya hendaknya diakhiri dengan tanda tanya, seperti pada kalimat: "Kenapa ya orang-orang pengunjung tempat ini tak ada yang memperhatikan kita." Terakhir penulisan kalimat percakapan seperti: "Maafkan aku nona", yang benar adalah "Maafkan aku, Nona." Dalam cerpen ditemukan banyak yang seperti ini.

    Namun demikian, secara keseluruhan cerpen ini mengandung dua pesan yang baik untuk pembaca. Pertama, bagaimanapun bentuk dan jenis buku, adalah sesuatu yang berharga ketimbang harta, terlebih mushaf seperti yang dikisahkan dalam cerpen ini. Yang kedua, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalanNya.

    Saran dari FAM Indonesia untuk penulis agar terus menulis dan berlatih. Jangan berhenti menebar nilai kebaikan dalam setiap untian aksaramu.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA

    Cerita dari Mushaf

    Karya: Erna Susilowati IDFAM1927M

    Di luar pintu kaca besar sebuah toko buku terlaris dan terkenal di kota ini, aku memandang ada seorang gadis berjilbab coklat sedang memarkir sepeda motornya. Sebentar lagi sepertinya ia hendak memasuki toko ini. Ia memasukkan kunci motornya ke dalam saku tasnya bagian samping. Lalu didorongnya pintu kaca toko ini. Ia melangkahkan kaki kanannya memasuki ruangan besar yang selama ini aku singgahi.

    Entah mengapa aku menyorot gadis ini di setiap pandanganku. Ada firasat yang mengatakan aku akan mengenal gadis ini lebih jauh. Padahal banyak pengunjung yang beramai-ramai memenuhi toko buku ini. Tetapi pandanganku tetap tertuju pada gadis anggun yang wajahnya bersinar itu.

    Dari tempat singgahku ini kuikuti setiap gerak langkahnya menyusuri barisan rak-rak buku yang terjejer rapi di aula besar toko ini. Mulai dari bagian umum, anak-anak, keterampilan, kamus, sejarah, filsafat, agama, kitab-kitab, dan semua bagian yang ada, hingga akhirnya pun mampir ke tempat persinggahanku selama setelah aku dikirim dari penerbitan ke tempat ini dan di atas rak ini.

    Setelah menyusuri semua bagian kulihat tak ada satu bukupun yang ia bawa. Tapi kini ia hendak mendekati aku. Akupun merasa gembira. Entah mengapa. Padahal raut wajahnya tak meyakinkanku kalau ia tertarik padaku. Tetap saja aku senang. Ia berdiri tepat di depanku. Sekali lagi aku merasa sangat bahagia. Ia adalah orang pertama yang datang dan berdiri di depanku selama lima bulan aku singgah di sini. Meskipun aku masih ragu jika ia bakal tertarik padaku. Setidaknya aku senang ia mau memandangku. Benar sekali kini ia menatapku. Kuharap ia akan memperlakukanku lebih. Menyentuh tubuhku, membaca apa yang ada dalam diriku, membayar dan memilikiku. Lebih bahagia lagi jika ia mau membawaku kemanapun ia pergi.

    Tidak lama kemudian, akupun disentuhnya. Aku malu terkena tangan halusnya. Kemudian ditiupnya debu yang melumuri tubuhku.

    “Maafkan aku nona, debu ini mengotori tanganmu” seruku.

    Aktifitasnya yang terfokus padaku dilanjutkannya. Dibuka pembungkus tubuhku, lalu dibelainya tiap bagian tubuhku dengan lembutnya.

    Pandanganku mengarah pada temanku. Sepertinya temankupun iri melihat perlakuan gadis ini padaku. Sudah lama ia diacuhkan. Lebih lama dari waktuku ketika aku ditempatkan di tempat ini. Ia sudah bertahun-tahun di sini. Hingga tubuhnya terlihat kering dan lusuh terlumuri debu yang menumpuk.

    Bersamanya aku mengadu. Berbagi cerita. Bercengkerama bersama.

    “Kenapa ya orang-orang pengunjung tempat ini tak ada yang memperhatikan kita. Tak ada yang membutuhkan kita. Dilihat saja pun tidak. Mereka hanya berjalan membelakangi kita. Ketika jalan lain sesak, jalan kita menjadi alternatifnya. Entahlah. Di sini kita hanya bisa diam terpaku menunggu seseorang yang menjemput kita. Dan membawa ke suasana yang berbeda. Kadang kita merasa, mengapa kita dicetak banyak, tetapi nyatanya tak banyak yang membutuhkan kita. Lagi-lagi kita hanya bisa merutuki diri. Tak ada yang mendengar percakapan kita.”

    Kulihat temanku meneteskan air mata. Tak tega aku melihatnya. Meskipun ada perasaan bahagia yang menyelimutiku. Tetapi aku tak bisa melihatnya bersedih, sedang aku bahagia.

    Kemudian gadis ini melepaskanku dan menempatkanku kembali ke tempat semula. Akupun terkaget. Ia pergi meninggalkanku dan kembali melakukan pencarian di tempat lain.

    Ternyata persangkaanku salah pada gadis yang mempesona itu. Ia benar tak tertarik padaku. Kualihkan anganku pada temanku yang meneteskan air matanya melihat kebahagiaanku yang ternyata kini sirna.

    “Sudahlah jangan bersedih teman. Aku lihat tadi engkau menitikkan air matamu. Tak usah kau buang sia-sia air matamu untuk orang yang tak mempedulikan kita. Air mata kita hanya untuk menetes karena bahagia. Mendoakan orang yang mempedulikan kita.” rajukku.

    “Aku sangka gadis itu akan memisahkan kita dari tempat ini nantinya. Tetapi ia malah meninggalkanmu. Sebenarnya aku menangis karena bahagia. Meskipun kita akan berpisah, tetapi aku senang masih ada orang yang peduli dan butuh pada kita. Meskipun bukan aku pilihannya, melainkan engkau.”

    “Tetapi rupanya itu hanya sementara. Nyatanya ia pergi kan? Kau lihat sendiri”

    “Iya sih” temanku lemas

    Tiba-tiba dalam diam sejenak percakapan kita, gadis itu menghampiriku lagi. Kulihat ia membawa sebuah buku di tangan kanannya. Dan kini ia membawaku pergi.

    Diambilnya aku dari tempat singgahku. Aku bertemu dengan buku yang dibawanya dan diletakkan di atas meja kasir pembayaran. Dari jauh temanku berteriak.

    “Oh kawan jangan tinggalkan aku!” teriaknya padaku.

    Aku sendiri sebenarnya tak ingin berpisah dengannya begitu mendadak seperti ini. Tetapi ini adalah saat yang selama ini kita tunggu. Menunggu seseorang untuk menjemput kita dan membawa ke suasana yang berbeda dari tempat ini. Aku tahu engkau pasti kecewa teman. Karena hanya aku yang dipilih gadis ini. Akupun ingin kau juga akan dijemput seseorang. Mungkin bukan saat ini.

    Sebelum kasir ini memperlakukanku. Aku berusaha bercakap-cakap dengan temanku sebelum kita benar-benar dipisahkan. Meskipun jarak kita berjauhan.

    “Iya maafkan aku teman, aku tak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang kita tunggu selama ini. Berbahagialah teman masih ada orang yang membutuhkan kita.”

    “Aku harap ia benar-benar membutuhkan kau di setiap waktu. Tidak ketika awal kedatanganmu saja. Lalu membiarkanmu seperti teman-teman yang lain. Semoga ia memperlakukanmu dengan baik kawan” tetes air matanya.

    “Aku juga berharap demikian teman. Hapuslah air matamu. Sepertinya gadis ini berbeda.”

    “Semoga saja”

    “Kawan, aku yakin tidak lama lagi kau yang akan dijemput seseorang yang membutuhkan kau. Dan memperlakukan kau dengan baik”

    “Kutunggu kedatangan orang itu kawan”

    Tiba-tiba saja penjaga kasir memegangku dan memasukkan ke kantong plastik bersablon nama toko ini. Sebelum aku benar-benar masuk aku mengucapkan salam perpisahan pada temanku.

    “Aku yakin tak akan lama teman. Selamat tinggal! Assalamualaikum” teriakku.

    Aku benar-benar tenggelam dalam kantong plastik yang tebal ini hingga tak bisa kulihat wajah temanku. Tetapi lamat-lamat masih kudengar jawaban salamnya.

    “Waalaikumsalam”

    Dalam perjalanan yang entah akan dibawa ke mana diriku oleh gadis ini. Aku mendengar suara gadis ini bercakap-cakap dengan seseorang. Meskipun sedari tadi tak kudengar angin yang keluar dari mulutnya, hanya ketika menanyakan harga diriku dan produk satunya yang ada di sampingku ini pada penjaga kasir. Tetapi aku yakin yang kudengar kali ini memang gadis anggun itu.

    “Kau beli apa saja tadi nak?” tanya seseorang yang entah itu siapa.

    “Ini bun, mushaf terjemah sama buku Islami” sambil menggerakkan diriku di kantong plastik. Sepertinya kantong plastik beserta isinya, aku dan yang ada di sampingku ini berpindah haluan ke tangan orang lain.

    Tiba-tiba kegelapan yang ada sedikit ternoda dengan semburat sinar yang memancar dari atas. Kulihat ke atas. Tempat masuk sinar itu. Terang saja aku terkaget ketika mendongak ke atas. Ada seseorang yang mengintip kita berdua. Ia tak berjilbab. Kemudian sinar itu redup kembali. Dan kegelapanlah yang menyelimuti. Kunikmati perjalananku kali ini.

    Entah akan tiba dimana diriku ini nantinya. Kuikuti saja kemana arah gadis ini berjalan.

    “Alhamdulillah kita sampai di rumah Ziz” kata seseorang. Sepertinya yang mengintipku tadi.

    Dari perkataannya yang kusimak. Mereka sampai di rumah mereka. Aku sendiri tak tahu bagaimana suasana dan keadaan rumahnya.

    Di balik tirai kantong plastik yang membungkusku ini kumendengar suara rintihan. Tangisan. Dari suaranya taka sing lagi kumendengarnya. Tangisnya mengingatkanku pada kawanku di toko.

    Aku yakin suara ini adalah suara teman-temanku yang bernasib sama dengan kawanku di toko. Keadaan yang benar-benar tak kami inginkan.

    Benar saja, kemudian aku dikeluarkan dari kantong plastik, dan suara tangisan itu semakin terdengar kencang di telingaku. Ketika diriku benar-benar pada suasana yang berbeda. Tangis itu pun semakin pecah memenuhi almari itu. Tetapi hanya aku dan mereka yang mendengarnya. Tak ada yang tahu suara hati kami. Hanya orang-orang yang peka hatinya yang bisa menyadari, tetap saja ia tak bisa mendengarkan kita.

    Akupun disandarkan di samping mereka yang berleleran air mata.

    “Kenapa bersedih kawan?”

    “Aku harap nasibmu tak sama denganku teman”

    “Memangnya apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?”

    “Kami di sini tidak dipedulikan lagi, kami dibiarkan ternoda di tempat ini dan terlumuri debu-debu. Aku harap tak terjadi denganmu” narasinya.

    “Apa yang kalian takutkan dariku?”

    “Kami takut kaupun bernasib sama dengan kami. Ketika barumu saja kau diperhatikan dan dibutuhkan. Tetapi ketika lamamu kau diacuhkan dan tak dibutuhkan lagi”

    Ruangan besar untuk bersantai itu nona Zizah sedang berbincang dengan ibunya.

    “Kok beli mushaf baru lagi? Bukannya di rumah sudah ada banyak mushaf?” tanya bundanya.

    “Iya bun, tetapi yang ada semuanya itu sekadar dibaca lafalnya saja. Tak bisa dipahami maknanya. Sekarang yang saya beli berbeda bun. Ini mushaf terjemahan. Dan saya membelinya dengan uang saya sendiri, sedangkan sebelumnya mushaf-mushaf tersebut inventaris dari abang-abang kan bun.”

    Dari percakapan itu terlihat ada kesungguhan dari seorang gadis yang tadi membawaku keluar dari toko buku. Ia ingin memahami isi yang ada di dalam diriku. Aku berharap semua itu nyata adanya.

    Tiba saatnya adzan Maghrib berkumandang. Terdengar gemericik air kran. Sepertinya ada seseorang yang sedang berwudhu.

    Selang beberapa menit kemudian, aku yang sedari siang singgah di almari ini belum beranjak tiba-tiba diambilnya diriku ini oleh si nona.

    Dibawanya aku ke kamarnya. Ia masih mengenakan mukena pertanda usai melakukan salat Maghrib. Kemudian dibukanya diriku. Disimaknya lembaran pertama. Kemudian terlontar dari mulutnya membaca Surat Al-Fatihah. Tilawahnya begitu nyaring dan merdu. Sungguh hatiku berdesir dan bahagia. Sudah lama aku mendambakannya. Di baca oleh orang-orang yang ingin mencari hidayah Tuhanku.

    Setelah usai membaca, tidak segera ia menutupku kembali. Melainkan dipahaminya arti di setiap ayat dari Surat Alfatihah itu.

     “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

    Terlihat ada embun di pipinya. Aku terharu akan kesungguhannya.

    Setelah aku tinggal seminggu di rumah baruku ini aku merasa bahagia sekali. Si nona memperlakukan aku dengan baik. Setiap usai salat ia selalu menyempatkan diri menengokku. Sesekali di sela luangnya waktunya ia pula menengokku. Inilah yang kudamba dari insan yang mengaku meyakini kesucian diriku. Ia peduli tidak acuh.

    Aku jadi teringat temanku di toko. Bagaimana kabarnya? Apakah ia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan sekarang? Atau malah sebaliknya?

    Erna Si Alif Kecil
    Akhirnya mampu diselesaikan pada 12 Sep 2013

    Sumber ilustrasi: www.fiqihwanita.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Cerita dari Mushaf" Erna Susilowati (FAMili Kudus) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top