• Info Terkini

    Sunday, November 3, 2013

    Ulasan Cerpen "Kuserahkan Cintaku pada Takdir yang Menungguku" Karya Dewi Wulan Pratiwi (FAMili Sukoharjo)

    Cerpen ini bercerita tentang Leta, seorang gadis SMA yang menyukai idola di sekolahnya, Indra. Namun usahanya mengirim surat cinta kepada Indra, justru membuat gadis ini menjadi bahan ejekan teman-teman mereka. Dengan adanya hal ini, Indra nampak tidak peduli padanya hingga Leta berpikir bahwa cintanya mungkin bertepuk sebelah tangan.

    Waktu berlalu, tiga tahun dalam penantian yang sepi, akhirnya Leta menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Indra selama ini juga menyimpan perasaan padanya. Namun karena dulu ada sosok Bela di antara mereka, pemuda itu tidak ingin menyakitinya. Indra lebih memilih diam meski sebenarnya ia sangat mencintai Leta.

    Tema yang diangkat cerpen ini seperti sudah umum dan banyak kita temui. Konflik yang ditampilkan pun kurang terasa. Mungkin penulis bisa lebih mengembangkannya lagi. Karena pertemuan Leta dan Indra di akhir tidak jelas proses terjadinya seperti apa. Nasib Bela pun juga tidak ditunjukkan. Cerpen ini akan lebih baik jika kronologi kejadian tersambung dalam satu benang merah.

    Ada beberapa koreksi dari kami, mengenai EYD. Banyak sekali ditemukan kesalahan. Seperti "ku raih", "ku pungut", "ku kubur", "ku palingkan", "ku lupakan", "ku ceritakan", "ku lipat", "ku tata", "ku susun", "ku akui", dan "ku anggap", yang semestinya ditulis "kuraih", "kupungut", "kukubur", "kupalingkan", "kulupakan", "kuceritakan", "kulipat", "kutata", "kususun", "kuakui", dan "kuanggap".

    Kemudian "didalam", "didepan", "diposisi", "dihadapanku", dan "di putar", yang benar adalah "di dalam", "di depan", "di posisi", "di hadapanku", dan "diputar". Perhatikan penggunaan "di-" pada masing-masing kata tersebut. Ada satu yang berbeda: "diputar", karena merupakan bentuk kata kerja pasif. Sementara yang lain menunjukkan keterangan tempat.

    Lalu "kan" yang semestinya ditulis "'kan" (perhatikan tanda apostrof ( ' ) sebelum huruf k), "manapun" yang benar "mana pun", "kelaspun" yang benar "kelas pun", dan "tlah" seharusnya ditulis "telah".

    Untuk kata-kata yang tidak baku dan berasal dari bahasa asing, seperti "seneng", "banget", "gak", "care", "nyari", "ngerasain", "ngelepasin", "denger", dan "kalo", baiknya diketik dengan huruf miring. Ada juga beberapa kalimat dalam bahasa Inggris pada cerpen ini. Baiknya kalimat-kalimat tersebut juga ditulis dengan huruf miring.

    Pesan untuk penulis agar terus berkarya. Diharapkan sebelum mempublikasikan/mengirim karya, lakukan editing terlebih dulu kepada tulisan Anda. Bila perlu, editing ini dilakukan berulang kali, untuk meminimalkan kesalahan ketik. Juga perbanyak membaca. Gali dan kembangkan ide menjadi tulisan-tulisan yang tak biasa dan berbeda.

    Tetap semangat.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    Ku serahkan cintaku pada takdir yang menungguku

    Karya: Dewi Wulan (IDFAM1899S)

    Ketika aku sudah lelah mengejarmu, aku lebih memilih untuk berhenti berlari. Ketika aku sudah letih bercerita tentangmu, aku lebih memilih diam dan membisu. Kau hanya ungkapan cinta yang tak bisa ku raih.

    Ketika kau sudah hempaskan anganku, ku pungut dan ku kubur didalam dasar. Ketika aku sudah bosan tersenyum untukmu, kan ku palingkan wajahku darimu. Ku raih anganku agar dapat bersamamu, akan tetapi kau telah membuatku merasakan kekecewaan yang tak bisa ku lupakan. Kau cinta pertamaku. Kau cinta yang ingin ku raih.

    “Leta, aku seneng banget bisa bertemu denganmu kembali.” Ungkapnya ketika kami sedang duduk berduaan di pinggir sawah.

    Aku pun tersenyum. “Kita foto-foto yuk, Ndra? untuk kenang-kenangan  sebelum aku balik ke Solo nih.”

    Kami pun berfoto-foto sambil berjalan di pinggiran sawah. “Bisa turun gak Let? Sini aku bantu.” Dia pun menarik tanganku dan menggendongku ke hadapannya. Yang kurasakan saat itu adalah jantung yang berdebar-debar yang diiringi dengan musik dari MP3 ku.

    Saat itu adalah first date kami. Indra yang mengajakku untuk ketemuan didepan gang depan rumahnya. Dia mengingatkanku dengan memorial ketika masa SMA dulu, dia berubah dan kini lebih tampan dan terlihat maskulin. Dia termasuk anak laki-laki yang banyak digemari oleh kalangan perempuan di sekolahku yang mampu membuatku menunggunya selama 3 tahun, termasuk aku rela tak bercinta dengan lelaki manapun demi menunggunya agar bisa menjadi milikku.

    Setiap melihatnya lewat didepan kelasku, aku selalu bersembunyi. Ku ceritakan rasa suka ini kepada teman sekelasku yang bernama Rico. Di pikiranku saat itu adalah hanya Rico yang mampu mewujudkan misiku untuk menyampaikan surat cintaku kepadanya. Aku pun sedikit tidak yakin terhadapnya, karena Rico juga anak yang suka mengumbar-ngumbar gosip. Ya bisa dikatakan agak bersifat kewanitaan. Walaupun demikian, Rico sangat care terhadapku dan mau menerima curahan isi hatiku.

    Malam yang suntuk ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip, ku lipat dan ku tata rapi surat cinta yang ingin kuberi di keesokan harinya. Ku susun strategi ini dengan tepat dan cermat. Semuapun tlah terlaksana, Rico telah memberikan surat itu kepadanya. Semua anak seangkatanku mengejekku dan tertawa ketika aku lewat di hadapan mereka, terutama geng-gong anak kelasnya Indra yang bernama Joni, Heru, Deny, dan sebagainya.

    “hei Leta, tumben gak nyari Indra? Indra.. Leta lagi nyariin kamu nih!” goda Joni yang membuat pipiku memerah. Aku hanya terdiam dan melanjutkan perjalananku yang ingin jajan ke kantin. Satu kelaspun menyorakku dan menggodaku hendak aku lewat didepan kelasnya.

    Ya ku akui, lambat laun sesuatu yang ditutup-tutupi pasti akan terbongkar. Aku juga gak akan marah pada Rico, ini semua juga kesalahanku yang terlalu norak sehingga menjadi bahan tertawaan oleh anak-anak seangkatanku.

    Aku pun menyerah dan sempat kecewa. Indra juga tidak menanggapku dan tidak menganggapku ada. Tak ada artinya selama ini aku menunggunya, surat cinta yang ku berikan, teman sekelasnya yang selalu mengejekku, hingga guru-gurupun menanyaiku tentang hal ini. Tanggapan yang membuatku merasakan kekecewaan yang amat besar. Aku hanya sebagai bahan pembicaraan dan lelucon bagi mereka.

    @@@

    “Kamu cantik Let, terlihat lebih dewasa.” Indra pun menggenggam tanganku saat second date kami di Alun-alun malam itu. Kami pun bernostalgia mengingat masa SMA kami yang kini meninggalkan sebuah memori yang tersimpan di otak kami.

    “Sebenarnya aku juga suka ma kamu Let. Aku suka dengan sikapmu yang blak-blakan itu. Andai saja waktu dapat di putar kembali, pasti kita akan jalani cinta ini bersama.” Ungkapnya yang menghentikan tertawaanku.

    “Terus, kenapa kamu gak mengungkapkannya, Ndra!? Kamu tahu, sampai saat ini gak ada cowok yang aku suka selain kamu Ndra! Aku menunggumu selama 3 tahun.” Tiba-tiba air mataku menetes perlahan-perlahan membasahi pipiku.

    “Ya andai saja saat kelas sebelas kamu gak pindah sekolah Let, pasti aku akan nembak kamu. Tapi, aku gak bisa, karena saat itu aku sedang pacaran dengan Bela.”

    “Aku benci kamu Ndra! Benci!” Entah pikiranku menjadi kacau dan aku pun berlari pergi meninggalkannya. Dia pun mengejarku.

    “Let, tunggu Let! Aku sayang kamu Let!” sambil berteriak dan aku pun berhenti berlari.

    “Leta, bukan hanya kamu doang yang ngerasain sakit hati saat itu . Andaikan kamu berada diposisiku, pasti kamu akan bingung memilih antara dua wanita yang kucintai dan yang tak ingin kusakiti.” Jelasnya yang membuatku heran.

    “Maksudmu?”

    “Waktu itu aku juga suka ma kamu dan cinta ma kamu Let, tapi aku gak bisa ngelepasin Bela begitu saja. Aku gak tega memutuskan hubunganku dengannya, dan aku juga gak mencintainya. ya itu juga gara-gara kamu Let..”

    “Kok gara-gara aku sih?”

    “Aku sempat cemburu, ya aku denger-denger kalo kamu tuh pacaran sama kak Faisal, Let. Aku juga sempat sakit hati dan ku anggap itu semua sudah berlalu dan aku lebih memilih Bela dan menyatakan cinta kepadanya.”

    Aku pun kaget mendengar ungkapannya. “astaga.. jadi kamu juga suka ma aku, Ndra?”

    “ya, kamu adalah cinta pertamaku, Let. Saat kamu pindah, aku selalu rindu dan ingin menghubungimu, tapi aku gak bisa, Let. Aku hanya bisa menunggu sang waktu, dan takdir Tuhan.” Aku pun tersenyum bahagia dan perasaanku menjadi plong.

    “Kamu juga cinta pertamaku, Ndra. Aku gak bisa melupakanmu. Walaupun aku sempat benci kepadamu, tapi aku gak akan begini terus karena aku masih mencintaimu.”

    Indra pun menggenggam tanganku dan menghapus air mataku yang menipis. “hahah, jangan cengeng gitu dong sayang. Now, are you sure to love me? We begin that from the start.”

    Aku pun tersenyum. “ I’m sure.” Dan kami pun tertawa. Indra menarik tanganku dan mengajakku ke bukit untuk melihat bintang yang berkelap-kelip.

    Aku pun sadar bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan dengan kesetiaan dan kesabaran. Kini, lelaki yang kutunggu kehadirannya selama 3 tahun itu  telah berada tepat dihadapanku dan menjadi miliku.

    Sumber gambar: dewasadewa.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Kuserahkan Cintaku pada Takdir yang Menungguku" Karya Dewi Wulan Pratiwi (FAMili Sukoharjo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top