• Info Terkini

    Thursday, November 28, 2013

    Ulasan Cerpen "Perempuan yang Berhati Malam" Karya Guy Le Fleur (FAMili Bengkalis)

    Cerpen ini berkisah tentang kesendirian seorang wanita tua yang telah berpisah dengan suaminya di saat mereka baru menjalani pernikahan puluhan tahun silam. Cintanya tetap ada meski waktu kian menuakan raganya. Jiwanya tetap terjaga untuk mengingat segala tentang suaminya. Ia tak sanggup melupakan hari di mana para penjajah mendatangi rumah mereka untuk mencari sang suami. Sejak itulah mereka tak lagi berjumpa.

    Cerpen ini mengajarkan kita tentang kesetiaan. Sayangnya dari segi konflik kurang terasa tajam karena lebih banyak mendeskripsikan wujud ketimbang situasi cerita itu sendiri. Namun demikian, penulis sanggup membawa kita pada tragedi cinta yang paling menyakitkan. Perpisahan itu tidak membuat wanita tua ini berpaling. Ia tetap menunggu suaminya kembali meski waktu seolah membuatnya tak mungkin.

    Mengenai EYD ada beberapa koreksi. Di antaranya "sekedar", "memperhatikannya", "nasehat", dan "hayalan", yang benar adalah "sekadar", memerhatikannya", "nasihat", dan "khayalan". Kemudian "diantara", "dipinggir", "diluar", "disekitar", "diawal", "dibawah", "didalam", serta "dimana-mana", yang seharusnya ditulis: "di antara", "di pinggir", "di luat", "di sekitar", "di awal", "di bawah", "di dalam", dan "di mana-mana. Perhatikan beda antara kata kerja pasif dan kata keterangan tempat. Lalu "resiko", "apapun", "sedikitpun", "isteri", "kemana", dan "kearah", yang benar "risiko", "apa pun", "sedikit pun", "istri", "ke mana", dan "ke arah".

    Ada banyak sekali kesalahan ketik, yakni "mengeluarkannnya" (ada tiga huruf N), “disayangakan", kekecwaan", "menyelpnong", "kamarahan", "mengunakan", "sitausi", dan "meliahat" yang semestinya "mengeluarkannya", "disayangkan", "kekecewaan", "menyelonong", "kemarahan", "menggunakan", "situasi", dan "melihat". Serta kata "gomong" yang mungkin maksudnya "omong". Diharapkan kepada penulis agar ke depan melakukan proses editing yang lebih teliti lagi sebelum mempublikasikan tulisan.

    Pesan untuk penulis agar terus berkarya dan tebarkan nilai-nilai pencerahan dalam setiap tulisan Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    PEREMPUAN YANG BERHATI MALAM

    Oleh: Guy Le Fleur IDFAM1300U

    Selepas Magrib, dia beranjak dari tempatnya bersujud. Melangkah pelan menuju salah satu jendela yang terbuka. Tenaganya tercecer hebat oleh usianya itu. Tangannya gemetaran meraih sisi jendela yang terletak di bagian utara. Badannya kemudian dia sandarkan di sudut dinding jendela. Jendela itu sendiri sudah kelihatan agak lapuk. Memandang keluar dengan bola matanya. Penuh harap dan pasrah.

    Sudah lama dia melakukan hal ini. Hampir tiap malam. Terutama selepas waktu bersujud menyembah Allah. Sejak ditinggalkan suami tercinta tanpa bekas, hanya ini yang dia lakukan. Semua cerita masa lalu tumpah di bibir jendela itu. Persaan dukanya berbanding lurus dengan penantian dan rasa penasarannya hingga kini. Tiada kekuatan baginya, selain menunggu dan menunggu. Suami yang menghilang tak pernah memberikan sedikit kabar buatnya. Kesendiriannya dipenuhi oleh berbagai persoalan dan teka-teki yang dia simpan. Tak ada seorang pun memahami akan makna hidupnya lagi. Saat ini, dia bermandikan malam sepanjang sisa hidupnya.

    Dia terus merenung keluar. Melihat bintang-bintang dan bulan yang sedang mulai mengambang. Di sudut hatinya tersimpan rasa rindu yang amat kuat. Perasaan yang tak dapat dia hilangkan walau usia membakar jiwanya yang kalut.

    Sesekali matanya melirik arah jarum jam yang ada di dinding rumah. Sebelah kanan dari tempatnya berdiri. Jarum panjang belum menunjukkan angka dua belas. Dia masih punya banyak waktu untuk melayangkan pikiran dan perasaannya. Mengenang sekelumit cerita indah bersama suami tercinta. Mengharapkan sebuah keberuntungan dari perenungannya itu. Malam baginya menjadi sebuah permainan untuk mengusir kesepian.

    Kebutuhan jasmaninya semakin menurun drastis. Terlebih-lebih nafsu untuk mengisi perutnya. Dia tak peduli tentang makanan dan minumannya lagi. Meski tetangganya tak rela membiarkan ia kelaparan sendiri. Setiap ada kesempatan, para tetangga dekatnya sering berdatangan menemuinya. Bukan sekedar memberikan sedikit makanan, namun juga memperhatikannya secara detail. Mereka tak segan-segan memberikan nasehat serta solusi yang berguna. Bahkan, ada juga diantara mereka ingin membawanya pergi dari rumah itu. Mengajaknya untuk hidup bersama mereka. Mengeluarkannnya secara baik-baik dari keterasingannya itu. Hanya ini yang mampu mereka lakukan untuk membahagiakannya. Tapi, sungguh disayangakan! dia bersikeras menolak semua tawaran tetangganya itu. Dia meyakini dirinya sendiri pada mereka bahwasanya dia masih sanggup menjalani hidup di ujung usia senjanya. Kebutuhan rohani yang dia lakukan setiap waktu menambah kepercayaan baginya untuk tetap sendiri. Dia mengatakan itu di depan mereka. Akhirnya, semua tetangganya mengamini ucapannya meski ada perasaan kecewa di dalam dada. Kini, mereka tidak tahu entah sampai kapan dia masih mau bertahan seperti ini

    Sudah beberapa jam dia berdiri terpaku dipinggir jendela. Angin diluar mulai berembus kencang. Menusuk badanya yang semakin kurus. Dia merasa kedinginan. Mukena yang dia pakai sejak berdiri di pojok jendela itu, diketatkannya sedikit. Agar ia bisa memberikan rasa hangat pada badanya. Bulan diluar sudah hampir penuh menutupi cahayanya sendiri. Sinarnya menerobos masuk ke dinding-dinding rumah lapuknya itu. Merayap pelan dibawah lantai. Sementara suara diluar rumahnya semakin sayup-sayup ia dengar. Daun pohon palma yang dia tanam disekitar jendela, malam ini kelihatan seperti sebuah sosok yang berdiri tegap. Hitam dan terlindung oleh daun-daun yang lain. Semua tanda ini tak sedikit pun membuatnya beranjak dari tempat itu.

    Peristiwa yang terjadi tigapuluh lima tahun lalu tak mudah dia lupakan. Peristiwa tragis yang dialaminya menghancurkan impiannya seumur hidup. Ikatan batin dan janji-janji yang dia tebar bersama suami tercinta hilang begitu saja. Kebahagiaan dan kenikmatan dunia yang ingin mereka raih pada saat awal pernikahannya, juga sirna bersama angin-angin kekecwaan. Semua itu terbentur oleh sebuah peristiwa yang datang tiba-tiba dan mendadak. Sampai kini, dia berusaha mengembalikan angan-angan itu, meski agak susah.

    Kala itu, masih diawal zaman kemerdekaan. Dia baru selesai melaksanakan pesta pernikahannya di rumah orangtua suaminya. Kebahagian mengitari hatinya sepanjang malam. Kenikmatan dunia baru dia tanam bersama suami tercinta. Selepas upacara itu mereka lalu bergegas pergi menuju rumah baru. Letaknhya agak jauh dan sepi dari keramaian. Seperti berada di pojok desa. Rumah yang dibangun oleh suami untuknya. Mereka tak mau berlama-lama untuk menyusahkan orangtuanya masing-masing. Pasangan pengantin ini tak sabar ingin hidup mandiri kala itu.

    Zaman itu, ketergantungan pasangan baru pada orangtua terlalu lama pada awal pernikahan penuh resiko. Tak ada jaminan buat mereka untuk hidup lebih aman. Kecurigaan pihak penjajah bagi penduduk setempat sepertinya merupakan hal biasa. Bagi mereka, sebuah pesta apapun bentuknya adalah upaya pengorganisasian kekuatan dari dalam. Bahaya laten yang harus dibasmi. Dan ini bisa menimbulkan ancaman baru bagi sipenjajah, pihak Belanda itu sendiri. Maka dari itu, dia bersama suami bergegas menghuni rumah baru. Malam selepas acara besar pernikahan usai. Agar dapat menikmati kehidupan seindah yang dibayangkan.

    Tapi, apa mau dikata! Sebuah peristiwa menghanguskan segala impian mereka kala itu. Tiga orang tentara Belanda dengan secara tiba-tiba mendatangi rumah pasangan pengantin ini. Dengan berseragam lengkap dengan senjata laras panjang yang dipegang, Masuk mendobrak pintu depan rumah mereka. Tanpa basa-basi. Menyelpnong dan mencurigai apa-apa saja yang ada didalam rumah itu. Melihat kejadian yang berlangsung cepat secara reflek suaminya berselindung. Meloncati jendela yang masih tertutup. Dia sendiri saat itu tak mampu melakukan apa-apa. Dia bertekuk-lutut di depan tiga tentara Belanda. Kaku seperti batu. Suami yang lari bertekuk diam dibawah jendela dan lantai rumah. Badannya gemetaran saat ia mendengar salah satu dari tentara Belanda menginterogasi isteri yang ditinggalkan sendiri di atas rumah. Tentara yang bertubuh tambun itu berkata sesuatu pada isterinya. Sambil membentak-bentak.

    “Hei, perempuan, kemana suamimu? Kami telah tiga hari mencarinya. Kami yakin ia ada bersamamu tadi......!”

    Isterinya kala itu sangat ketakutan sekali. Ia tak sanggup melihat wajah tentara Belanda yang tambun itu. Dia hanya bisa merunduk dan melihat sepatu hitam yang dipakai olehnya. Sambil gemetaran, isterinya membalas pertanyaan tentara itu.

    “Saya tidak tahu,Tuan! Kalau Tuan tak percaya coba periksa sendiri. Kalau suami saya ada, tentu ia sekarang telah Tuan tangkap sejak tadi!” serunya panjang memancing emosi.

    Wajah tentara Belanda memerah mendengar perkataan isterinya. Ada emosi yang lahir dari dalam dada. Matanya tiba-tiba jadi bulat. Tanda kamarahan. Dengan sigap, ia melancarkan satu pukulan keras kearah pipi isterinya. Mengunakan pangkal senjata. Keras sekali. Serta merta isterinya tak mampu menahan pukulan itu. Dia tersungkur di lantai tanpa sadarkan diri. Rasanya, nyawanya seperti sudah hilang. Melihat ini, tentara Belanda yang tambun itu berkeluh sendiri.

    “Sial! Dasar perempuan banyak gomong! Mampus! kau di sini,.........”

    Dua teman tentara yang tambun itu hanya bisa melihat kejadian ini. Tak begitu peduli. Mereka asyik mengutak-atik seluruh isi rumah. Kini semua barang yang ada sudah seperti onggokan sampah saja. Tak ada yang dapat diatur kembali. Semrawut dimana-mana. Keadaannya begitu mencekam sekali. Tentara tambun itu tiba-tiba melihat ada jendela terkoyak kuat. Melihat sitausi aneh, ia lalu mendekati jendela itu. Lalu,menyuruh anak buahnya keluar memeriksa dibawah jendela. Meliahat situasi yang tidak menguntungkan, suaminya lalu bergerak cepat dari tempat persembunyian. Hari yang gelap membantu menyelamatkan dirinya. Berlari keluar dari bawah kolong rumah. Membiarkan isterinya terkapar sendiri di sana. Tak kuasa mengingat seluruh kejadian yang telah ia alami. Hal yang terpenting baginya kala itu hanya untuk menyelamatkan diri. Mengenai nasib isterinya kala itu, ia meyakini Allah akan tetap setia menjaganya sepanjang hidup.

    Bulan sudah penuh. Cahayanya begitu terang malam ini. Matanya tak berkedip sedikitpun melihat cahaya bulan purnama itu. Ada bayangan istimewa di dalam bulan itu. Dia melihat sebuah image terbentuk di sana. Gambaran seperti orang bersujud mencium bumi. Perasaannya jadi tersentuh dengan apa yang telah dia lihat. Dia jadi sadar tentang usianya kini. Sesekali ia menyentuh kayu daun jendela. Dengan tangannya, ia meraba seluruh permukaan lekuk kayu itu. Secara hati-hati. Kenangan jadi terusik kembali. Seluruh peristiwa terekam jelas di matanya kini. Sayang! Semua ini harus berlangsung dengan akhir yang suram. Penuh kekecewaan dan tragis!

    Kini, dia tak sadar kalau waktu sudah larut tengah malam. Di luar benar-benar jadi sepi. Jam berdetak duabelas kali tak mampu ia dengar dengar jelas. Hayalannya menghamburkan ingatannya pada isi rumah. Lampu yang tergantung di dalam rumah juga telah semakin kusam cahayanya. Dia harus segera mengakhiri petualangan kehidupannya malam ini. Mengusir impian dan penantiannya dalam sebuah tidur malam yang panjang. Serta, menyelesaikan seluruh penantiannya dengan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab olehnya sendiri. Perlu waktupanjang untuk memutuskan seluruh penantiannya itu.

    “Kapan suamiku pulang! Dimana ia berada kini! dan apa sebabnya ia diburu oleh pihak tentara Belanda, kala kebahagian baru akan mereka lahirkan bersama-sama..............!”

    Bengkalis, 2 Nopember 2013

    Sumber ilustrasi: brongotsetankoberketangguhanhati.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Perempuan yang Berhati Malam" Karya Guy Le Fleur (FAMili Bengkalis) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top