• Info Terkini

    Friday, November 29, 2013

    Ulasan Cerpen "Seperti Mualaf" Karya Erna Susilowati (FAMili Kudus)

    Cerpen ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Wati yang berusaha memperdalam keyakinannya dengan memahami Alquran dan sunnah. Dalam perasaan bimbang ia berusaha untuk tetap bertahan pada apa yang diyakininya, dari ilmu agama yang tengah ia selami.

    Wati tidak terpengaruh pada sikap kebanyakan orang yang terkesan hanya ikut-ikutan dalam kegiatan keagamaan tanpa memelajarinya sendiri lebih mendalam. Reaksi kedua orangtuanya pun menjadi keras karena melihat keanehan yang ada dalam diri Wati.

    Cerpen ini ditulis dengan tujuan mengingatkan kepada kita, bahwa sejatinya sebagai seorang muslim, kita hendaknya tidak hanya memakai nama agama itu dalam identitas diri saja, melainkan juga dalam menjalani berbagai segi kehidupan. Tercermin tidak hanya dari fisik semata, melainkan juga dari hati. Sayangnya konflik yang dihadirkan kurang terasa tajam. Namun meski begitu, secara keseluruhan pesan yang disampaikan cukup baik.

    Ada beberapa koreksi untuk EYD. Di antaranya "nafas", yang benar adalah "napas". Kemudian "disamping", "dibenakku", dan "disini", semestinya "di samping", "di benakku", dan "di sini. Kata-kata yang tidak baku seperti "ngomongin", "aja", "nemuin", "gimana", baiknya ditulis dengan huruf miring. "Kesana" dan "kemana", yang benar adalah "ke sana" dan "ke mana".

    Lalu "pada-Nya", "pada-Mu", "dari-Mu", "petunjuk-Mu", dan "rahmat-Mu", yang benar adalah "padaNya", "padaMu", "dariMu", "petunjukMu", dan "rahmatMu". "Sy" mungkin maksudnya "saya". Hendaknya penulis lebih teliti adlam melakukan editing sebelum mempublikasikan tulisannya. "Al-Qur'an" yang benar adalah "Alqur'an", "silahkan" yang benar "silakan", angka "9" dan "11" dalam kalimat dialog baiknya ditulis "sembilan" dan "sebelas", "positiv" mungkin maksudnya "positive", "beliaupun" seharusnya "beliau pun", "nasehat" yang benar ditulis "nasihat", "orang tua" yang benar "orangtua" (digabung), serta "mempelajari" yang benar adalah "memelajari".

    "Assalamualaikum", "alhamdulillah" dan "ukhuwah" baiknya diketik dengan huruf miring. Terakhir, panggilan untuk "bapak" dan "ibu" semestinya diawali dengan huruf kapital "Bapak" dan "Ibu" karena keduanya berperan sebagai subyek, bukan obyek.

    Pesan dari kami untuk penulis adalah teruslah berkarya. Jangan jenuh berlatih dan perbanyak bahan bacaan Anda untuk memperkaya cara bercerita demi kebaikan karya berikutnya. Tetap semangat tebarkan nilai positif dalam tulisan Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Seperti Mualaf

    Erna Susilowati ID FAM1927M

    Dalam diamku mengeja setiap kata di layar laptop tiba-tiba terdengar suara,

    “Akhir-akhir ini kamu kok tak ikut acara yang biasanya selalu kamu ikuti” ujarnya di ruang sebelah sambil menyimak layar Tv, sementara aku masih beradu di layar laptop. Aku tahu kata-kata itu mengarah padaku. Siapa lagi?

    Aku terkejut. Dan sebelumnya sudah pasang telinga. Apalagi suara bapak kini terdengar pedas dan curiga. Aku bingung membalas tanya itu.

    “Gak kenapa-kenapa” jawabku sekenanya agar tak memicu konflik.

    Sejujurnya aku ingin sekali bercerita dan menjelaskan panjang lebar tentang semuanya. Tapi aku masih belum sepenuhnya percaya apakah beliau akan mengerti. Atau malah akan menambah ketegangan.

    Ah biarlah kusimpan dulu ceritaku. Kutahu mereka sedang gusar. Kau kira aku tak begitu? Aku lebih gusar lagi. Tetapi aku berusaha tenang sambil terus mengambil nafas. Aku yakin apa yang menjadi keputusanku ini benar.

    Aku semakin tenggelam dengan lautan kata. Membaca cerpen lewat internet. Cerita-cerita yang memotivasi. Membuka cakrawala hidupku. Dan semakin memberi banyak bukti akan apa yang aku yakini kini. Seolah-olah aku tak mengambil pusing apa yang sempat terceletuk oleh bapak tadi.

    Disamping bapak, kutahu ada ibu yang menemani memandang layar Tv. Pekerjaan rutin yang selalu mereka kerjakan sehabis adzan Maghrib berkumandang. Sebenarnya aku bosan. Tapi aku tak bisa mengubah suasana ini.

    “Kamu tahu, orang-orang pada ngomongin kamu” kini bapak datang dan membentak aku.

    “Memangnya ngomong apa soal aku?” tanyaku sambil menatap wajahnya. Ada rasa takut yang menghinggapi diriku.

    “Kamu tidak tahu? Kau dianggap ikut aliran sesat. Tidak mau lagi ikut kegiatan rutin di mushola. Semua pada bicarakan kamu.” Jelas bapak dengan memojokkan aku.

    Aku diam membisu. Lidah ini serasa kelu. Hati ini remuk. Bagai tercabik-cabik. Tak percaya. Beginikah konsekuensi dari apa yang aku yakini? Benar-benar tidak pernah kubayangkan sebelumnya aku dituduh seperti ini.

    “Sebenarnya kamu ikut aliran apa? Sampai-sampai tidak mau datang lagi di kegiatan malam jum’at, malam senin, malam selasa 2 minggu sekali yang selama ini kamu aktif sekali kesana-kemari untuk kegiatan itu. Kini sama sekali berhenti total. Coba jelaskan ke kita!” Lanjut bapak yang masih penasaran karena aku tak bersuara. Masih bernada tinggi dan semakin membuatku ketakutan. Seolah-olah diadili.

    “Iya kenapa? Ada apa dengan kegiatan itu? Kemarin kutanya katamu bosan. Tidak mungkin kalau itu alasanmu.” Seru ibu yang sedari tadi tidak bersuara. Mungkin sudah tak kuat lagi membendung tanya itu padaku.

    “Aku mendengarkan radio, kajian tentang Qur’an dan Sunnah. Dijelaskan bahwa kegiatan-kegiatan itu sebenarnya tidak ada tuntunannya dalam Islam” kujelaskan dengan terbata-bata. Entah mereka paham apa tidak. Apa itu sunnah.

    “Maksudnya semuanya itu salah?” aku tak berani menatap mata itu. Sangat tajam. Membuat emosiku naik. Ada sesak di dada. Dan kurasa aku tak mampu membendung air mata ini.

    “Kau anggap mereka semua salah? Aneh-aneh saja. Membuat aturan sendiri. Kau tahu kan sudah dari dulu kegiatan itu ada. Buktinya yang melakukan ya banyak orang. Toh baik-baik saja. Tidak ada yang melarang. Kau yang membuat-buat. Radio apa itu? Radio saja didengar. Tokoh agama di sini semua melakukan. Apa mereka semua orang bodoh? Anak baru kemarin sore sudah sok pintar.” Ceracaunya.

    Aku bingung menjawab apa. Ingin kujelaskan soal beda pendapat, tapi apakah mereka paham?

    “Aku kan dulu aktif hanya karena ikut-ikutan saja. Merasa ingin membaur di masyarakat. Dan bermanfaat bagi umat” sebenarnya ingin panjang lebar bersuara, namun tak bisa menahan tangis. Terputus-putus suaraku hingga membuat bapak semakin marah.

    “Berarti sekarang tidak mau membaur di masyarakat? Mau hidup sendirian? Sudah kelewatan. Benar-benar sesat itu.”

    “Bukan itu maksudku”

    “Sudah, pokoknya kamu harus meninggalkan pikiranmu itu dan kembali seperti dulu! Kamu ini masih dalam tanggungan kita. Harus ikut kita.”

    “Tidak bisa”

    “Apa? Sudah berani melawan? Masih mempertahankan keyakinanmu itu? Anak durhaka. Disekolahkan tinggi-tinggi malah seperti ini jadinya.”

    “Dalam beragama tidak boleh ikut-ikutan pak, harus tahu ilmunya. Silahkan kalau mereka melaksanakan kegiatan itu. Mungkin mereka sudah tahu ilmunya, menemukan dalilnya. Tetapi berbeda dengan aku. Aku belum mengetahui ilmu dari kegiatan itu. Jadi aku tidak ikut melakukannya. Meskipun begitu aku menghormati mereka, aku tak ikut dengan baik-baik, dan aku tidak melarangnya. Biarkan mereka dengan amalnya dan aku dengan amalku.” Jelasku dengan menahan tangis agar bisa lancar dan dipahami. Tapi masih membawa emosi, sehingga nadanya terdengar tinggi.

    Agaknya mereka bingung. Aku maklum. Kutahu masalah ini tidaklah beliau mengerti. Yang ia tahu hanya apa yang ada di lingkungan ini. Yang kebanyakan orang lakukan itulah yang dianggapnya baik.

    Kutinggalkan tempat itu, laptop masih menyala segera kushut down. Kulangkahkan kaki ke kamar mandi mengambil air wudhu sambil membersihkan sisa-sisa air mata dan ingus yang masih berleleran di hidung. Semakin bertambah deras ketika terngiang-ngiang suara pemicu konflik tadi. Sungguh tak percaya. Kulihat di cermin, mata memerah. Kubertanya, “Apa aku sesat Ya Allah? Tapi aku yakin ini benar”

    Malam ini terselimuti duka. Duka yang mendalam. Ada luka yang menggores hati. Hati mereka yang melahirkan dan membesarkanku. Aku tak pandai berterima kasih dan berbalas budi. Terus bercucuran dalam iringan doa, dalam munajat pada-Nya, dan dalam muhasabah diri mengingat dosa dan khilaf. Bagaimana esok kan tiba? Kulalui seperti apakah?

    Aku merasa damai dengan pilihanku. Kalbuku merasa nyaman dan tentram. Tapi mengapa orang-orang justru merasa risau dengan keadaan diriku. Inikah ujian dari-Mu Ya Allah. Ujian yang kau berikan untuk orang-orang yang mengaku beriman. Memurnikan ketaatan hanya pada-Mu.

    Apakah aku benar-benar beriman? Tetap bertahan di tengah gelombang. Teguh memegang keyakinan walau dianggap asing di tengah keramaian. Kumohon petunjuk-Mu. Jangan Kau condongkan hatiku pada kesesatan setelah kau berikan aku petunjuk dan rahmat-Mu. Engkau Maha Pemberi.

    ***

    Esok masih memberi kesempatan aku menghirup udara yang selama ini tak pernah kusadari. Bapak ibu masih diam, demikian juga aku. Kelopak mata bengkak karena tangis semalam.

    Hari ini ada kuliah. Tapi aku merasa tak memikirkan itu. Aku tak minat berangkat kuliah.

    Yang ada di pikiranku hanya ingin mencari kekuatan hati. Bagaimana menguatkan hatiku agar tak goyah. Tetap teguh pendirian.

    Kudengarkan radio dakwah itu. Kutahu di kotaku sudah ada perwakilan kajiannya. Padahal baru saja kemarin terbersit dibenakku untuk gabung di kajian itu secara langsung. Berhubung merasa belum mempersiapkan mental, aku urungkan niat itu.

    Tapi pagi ini berbeda. Seolah-olah konflik tadi malam memperlihatkan kekuatan mentalku. Seberaninya itu aku menjawab pertanyaan-pertanyaan bapak. Padahal sebelumnya tak seberani itu. Aku berniat bertemu dengan orang yang ada di kajian itu. Berharap ia menguatkanku.

    “Assalaamualaikum pak, boleh saya bertemu? Sy mengamalkan Al-Qur’an Sunnah ternyata ada tantangannya. Mungkin bertemu istri bapak. Kalau boleh kapan dan dimana?” ku sms salah seorang pengurus yang kontaknya tercantum di web resmi kajian itu.

    Sebelumnya aku sudah mencari kontak kajian di kotaku melalui internet. Dan kemarin sudah menghubungi dan menyampaikan identitas diriku menanyakan persyaratan mengikuti kajian. Hanya membawa alat tulis dan Al-Qur’an terjemah.

    “Boleh, silahkan. Mau bertemu kapan?” dibalasnya langsung.

    “Nanti jam 9an pak. Bisa?”

    Aku menunggu agak lama

    “Iya nanti datang aja ke majelis, bertemu sama Bu Yuli beliau sudah saya kabari. Saya insyaAllah datang jam 11an atau mau Dzuhur.” Jawabnya lengkap beserta alamat. Aku tak kesulitan dengan alamatnya yang ada. Jalan itu aku tahu. Meski tak tahu tepat lokasinya. Aku yakin akan nemuin.

    Seyakin itu aku ingin bertemu orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Aku positiv thinking. Aku percaya Islam itu indah. Mengajarkan kebaikan, bukan kekerasan yang tidak memanusiakan manusia yang diisukan oleh banyak media. Dan aku yakin orang-orang yang tahu Islam hatinya juga baik.

    Aku masih takut berinteraksi dengan bapak. Takutku bukan berarti tunduk. Hanya saja tak ingin memicu konflik lagi.

    Aku pamit pergi pada ibu. Tidak kusebutkan hendak kemana. Beliau pasti mengira aku ke kampus. Beliaupun tak bertanya. Aku aman dan segera mencium tangannya sambil berucap salam.

    Kutelusuri jalan dan menikmatinya.

    Kutemukan papan penunjuk majelis kajian Al-Qur’an dan Sunnah. Aku dipersilahkan masuk seorang wanita berjilbab seumuranku. Terlihat perutnya berisi, ia hamil. Aku disapanya dengan ramah. Kuperkenalkan diri, “Saya Wati mbak, mau bertemu Bu Yuli”.

    “Saya Enisya, iya tunggu sebentar mbak, saya panggilkan ibuk” aku mengira mbak Enisya tahu perihal kedatanganku ini. Aku ditinggalkan sendiri di ruang tamu. Rumahnya sederhana.

    Kemudian datang seorang ibu paruh baya dengan mengenakan jilbab besar. Ia menyapaku dengan salam. kata-katanya ramah. “Ini dengan siapa?” tanyanya.

    “Mbak Wati bu” jawabku agak kikuk karena baru pertama kali bertemu.

    “Iya saya bu Yuli, gimana? Ada apa?” tanyanya seperti ingin mendengar ceritaku.

    Kuceritakan semua yang kualami. Berkaitan dengan perubahan diriku yang terbilang drastis. Perubahan atas keyakinanku. Serta tantangan yang kualami ketika perubahan itu terlihat jelas. Apalagi tantangan itu datang dari pihak keluarga. Tentang kejadian semalam yang baru saja aku alami. “Aku disini ingin mencari penguatan bu”

    “Alhamdulillah mbak, tidak semua orang beruntung mendapatkan hidayah Allah. Mau menerima nasehat-nasehat yang dikabarkan lewat Al-Qur’an Sunnah. Mbak Wati perlu bersyukur.” Motivasinya padaku dengan kelembutan.

    “Bagaimana seharusnya sikapku terhadap orang tua bu? Apakah aku termasuk anak durhaka karena tidak mau mematuhi perintah mereka?”

    “Memang sebagai anak harus mematuhi orang tua. Tapi tidak semuanya kita patuh. Terlebih apalagi dalam perintah yang justru dilarang oleh Allah. Apabila dalam hal kebaikan dan ketaqwaan kita wajib patuh. Tetapi apabila dalam hal kesyirikan dan kemungkaran, kita harus menolak. Tentunya dengan cara yang baik dan tetap bergaul dengan mereka secara baik.”

    “Berikan mereka penjelasan mengenai Islam yang langsung bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Minimal coba mereka disuruh untuk ikut mendengarkan kajian yang ada di radio. Mungkin nanti bisa mengerti. Kita tidak boleh berburuk sangka dengan mereka, mereka bersikap seperti apa yang mbak ceritakan itu karena mereka belum mengerti. Saya tahu mereka sangat sayang pada mbak Wati. Mereka khawatir jika terjadi apa-apa dengan anaknya. Terlebih dengan maraknya isu yang beredah di media. Televisi contohnya.” Papar bu Yuli membuatku tenang.

    Aku hanya mengangguk menyetujui apa yang bu Yuli nasehatkan.

    “Ibu harap mbak Wati mampu bertahan di tengah banyaknya cobaan. Apa yang mbak lakukan benar dengan tidak melakukan ibadah yang tidak dituntunkan dalam Islam. Ibarat menggenggam bara api. Kita harus bertahan untuk terus menggenggamnya. Jika kita mampu lama-kelamaan akan padam. Demikian dengan kemungkaran, jika dari kita sendiri dulu mampu bertahan melakukan kemakrufan, insyaAllah kemungkaran akan segera hilang.” tambahnya.

    “Tahukah mbak Wati, kita melihat di sekitar kita. Islam sudah menyebar kemana-mana. Bahkan mayoritas penghuni negeri ini adalah seorang muslim. Tetapi disayangkan, dalam beragama kita masih ikut-ikutan, tidak mau mempelajari dengan seksama dan mendalam langsung dari sumbernya. Justru yang berusaha mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah dianggap asing dan berbeda.”

    “Orang yang selamat adalah yang mampu memegang sunnah Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Dan sudah beliau wariskan untuk menggapai keselamatan itu hanya dengan dua hal yaitu melalui Al-Qur’an dan Sunnah”

    Bak mualaf yang baru masuk Islam, aku tercenung. Selama ini aku mengaku Islam, aku iman akan Al-Qur’an sebagai kitab suci, tap aku hanya berinteraksi dengannya lewat kata. Meskipun sering membacanya, namun aku tak mengerti apa-apa. Ketika mencoba belajar memahami dan mendalaminya justru seperti inilah jadinya. Aku kini baru merasa. Merasa baru mengenal Islam. Islam yang merahmati seluruh alam. Semoga aku mampu bertahan menggenggap Islam ini dijiwaku. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘ala dinniq.

    Pertemuanku dengan bu Yuli merasakan indahnya Ukhuwah Islam. Menasehati walau kita awalnya tak pernah bertemu. Dan aku bahagia ada yang mau menasehatiku. Berilah hidayah orang-orang yang kucintai Ya Allah.

    Sumber ilustrasi: alifbraja.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Seperti Mualaf" Karya Erna Susilowati (FAMili Kudus) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top