• Info Terkini

    Thursday, December 5, 2013

    Ulasan Puisi “Sada Mematai Peta” Karya Denni Meilizon (FAMili Sumatera Barat)

    Puisi “Sada Mematai Peta” yang ditulis Denni Meilizon ini memiliki kekuatan diksi yang magis. Tidak mudah memaknainya. Penulis sangat lihai menyusun setiap kata yang beruntai menjadi baris-baris indah. Serupa mendongengkan sebuah kisah purba. Dan, membaca puisi naratif ini, pembaca pun dibawa hanyut, hingga ke titik paling akhir.

    Tidak ditemukan makna kata “Sada” di KBBI. Dirujuk pada beberapa sumber, “Sada” berasal dari bahasa Sunda yang arti dan maknanya adalah "Bunyi". Dalam bahasa Batak juga ditemukan kata “Sada” yang artinya "Satu". Bila digabungkan kedua bahasa itu, secara bebas dapat bermakna “bunyi yang disatukan”.

    Sada dalam puisi ini tentulah nama seseorang. Perempuan. Dapat diterka dari baris pembuka puisi: //Tarikan matamu semanis tanah yang dijanjikan/. Juga pada kata: /Kau merabanya seperti dalam rahimmu/. Selain itu pada baris: /Rahimmu bergetar memecahkan selaput bayi yang semakin keras mengowek/.

    Siapa saja dapat menafsirkan puisi ini yang bukan liris/lirik. Sada bisa berupa perwujudan Bilqis, ratu Negeri Saba’ yang ditundukkan Nabi Sulaiman setelah dikabarkan oleh burung Hud-Hud. Seperti penguatan pada baris; /Peganglah gelang tangan Sulaiman dan ikutilah ia merentangkan kerajaan Daud./. Bisa juga muncul interpretasi lainnya, sebab tidak ada tafsir tunggal dalam memaknai karya sastra, terutama puisi.

    Terlepas dari itu, Tim FAM menggarisbawahi beberapa catatan terhadap puisi ini. Di antaranya pemenggalan topografi puisi yang mengganggu, yaitu di alinea pertama baris akhir pada kata “Makanlah” (tanpa titik) dan langsung melompat ke alinea kedua. Alangkah baiknya tidak diputus, tetapi “Makanlah” menjadi satu bagian kalimat pada baris pertama di alinea kedua. Hal yang sama juga terjadi pada alinea ketiga dan keempat.

    Di samping itu, cakupan simbol-simbol puisi ini juga terlalu luas. Semisal kaitan antara Toba, Pompeii, Krakatau, membuat puisi ini menjadi bias. Tetapi walau begitu tetap terlihat permainan rima yang manis, misal: “...dalam mitologi lama, purba...”, “...tarian acak, kecak...”, “...dalam hamparan peta, tanda...”, “...Peluk tangisan-tangisan, magis...”, dan “Atas nama segala kuasa, tunggu saja.”

    Terkait EYD, ditemukan sejumlah kesalahan penulisan, di antaranya:  “membumi hanguskan” seharusnya “membumihanguskan”, “do'a” seharusnya “doa”, “gemerinting” seharusnya “gemerincing” atau “denting”.

    Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Denni Meilizon menyimpan bakat penyair yang harus terus diasah. Selamat dan terus berkarya.

    Salam santun,

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SADA MEMATAI PETA

    Denni Meilizon

    Tarikan matamu semanis tanah yang dijanjikan. Membangun gema dalam ruang, kau ukur tiap jengkal sudut, peta. Di pelipis jendela kau tebar semacam tanda di mana Hud-hud untuk bertengger. Tanah kau jadikan bayi mengowek. Kau merabanya seperti dalam rahimmu. Saat duniamu menakar sunyi, hanya ada malam tentu saja. Sisa suatu hari yang dimakan dalam mitologi lama, purba. Makanlah

    apel itu, menusuk garis ke garis. Meraut nama-nama hilang. Mengirim jarum mengaum membumi hanguskan Toba, Pompeii menanti dalam rahim Krakatau. Kau dengar lengkingan memahat batu-batu. Gelombang menjadi tarian acak, Kecak. Selubung masa lalu kau balurkan dalam hamparan peta, tanda. Penjaga dalam sepi memakan sisa malam. Terpancar do'a-do'a, bisu.

    Palung berpaut dalam matamu. Peluk pula gunung-gunung. Peluk pulau-pulau. Peluk tangisan-tangisan, magis. Langit menjadi busur dalam ruang yang kau ukur. Para penjaga mengayunkan cemeti. Rahimmu bergetar memecahkan selaput bayi yang semakin keras mengowek. Kau cuma perlu menanak larva ketika meminum do'a Luth, Hud dan Nuh. Kaubaca semua yang kembali, Hud-hud datang bertengger memberi kabar dari kawanan Ababil dengan batu berapi di kakinya. Mata

    di dalam tanah petamu saban kali malih-rupa, tanda. Kaudengar auman para bayi yang lahir setelah jarum membumi hanguskan Tsamud dan Aad. Peganglah gelang tangan Sulaiman dan ikutilah ia merentangkan kerajaan Daud. Peluk gunung-gunung di tiang pancang Mezbah-mezbah. Peluk pulau-pulau di atas gemerinting lonceng Jibril. sekarang kau bangun tangga dan kapal. Ajari para Penjaga untuk berlari ke atas bukit. Keluarkan kuda hitam dan putih peranakan apa saja. Bacalah!

    Atas nama segala kuasa, tunggu saja.

    Padang, Des. 2013

    Sumber ilustrasi: dongengpengantartiduranak.wordpress.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Sada Mematai Peta” Karya Denni Meilizon (FAMili Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top