• Info Terkini

    Monday, January 6, 2014

    Ulasan Cerpen "Letupan Jiwa" Karya Ade Ubaidil (FAMili Cilegon)

    Kakek Leman adalah tukang cerita yang menjadil 'idola' bagi semua anak kecil di kampungnya. Setiap sore, beliau selalu membunyikan lonceng untuk mengumpulkan anak-anak di teras rumahnya. Dari sanalah kemudian dongeng-dongeng dikisahkannya dari waktu ke waktu, hingga mengundang kerinduan bagi siapa pun yang mendengarnya, untuk kembali menjumpainya di senja berikutnya.

    Suatu saat Kakek Leman tidak ingin berdongeng. Beliau lebih memilih mengisahkan pengalaman masa lalunya sebagai seorang tentara yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kala itu, perbedaan agama membuat hubungannya dengan seorang teman merenggang. Entah apa yang merasukinya, Leman muda menembak Ahmad, temannya itu—yang selama ini sering mengumbar kebenciannya pada mereka mereka yang beragama lain. Leman muda yang belum memeluk Islam, merasa tersinggung. Kematian Ahmad pun membuatnya menyesal.

    Sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dalam cerpen ini baik, yakni perbedaan bukanlah alasan untuk enggan bersatu. Menghargai perbedaan itu penting, karena pada dasarnya keyakinan setiap diri kita adalah pilihan. Namun sayang, penyajiannya dirasa kurang pas dengan adanya kisah penembakan berbalut dendam (walau pada akhirnya cerita diakhiri dengan hal yang positif), sementara para pendengar setia Kakek Leman ini tak lebih dari bocah-bocah yang masih kecil. Alangkah baiknya jika pesan itu disampaikan secara tidak langsung. Misalnya kisah masa lalu kakek itu diadaptasi menjadi dongeng. Mungkin akan lebih "aman" bagi anak-anak, karena mereka belum dapat sepenuhnya menyaring mana hal-hal yang baik dan buruk. Meski demikian, ini adalah sebuah cerpen dan penulis berhak untuk membentuk jalan ceritanya sendiri.

    Sedikit catatan untuk penulis. Untuk EYD, "kecoklatan" yang benar ditulis "kecokelatan". Lalu "diusia" dan "di pandu", yang benar "di usia" dan "dipandu". "Antrian", "rapih", "begitu pun", dan "siapapun", seharusnya tertulis "antrean", "rapi", "begitupun", dan "siapa pun". "Memperbaiki", "merubah", dan "mengantongi", yang benar "memerbaiki", "mengubah", dan "mengantungi". Sedangkan "nara pidana", semestinya tertulis "narapidana".

    Kemudian penulisan "kampung rambutan", yang benar "Kampung Rambutan". Penulisan nama tempat yang benar diawali huruf kapital. Djakarta, sebenarnya cukup ditulis Jakarta. Sebab penulisan nama tersebut bukan sebagai bagian dari obyek dalam cerita (semisal katakanlah terdapat semacam surat kuno bertuliskan nama kota tersebut), melainkan sebagai bagian dari tubuh cerpen yang penulis buat.

    Penggunaan tanda koma (,) dan titik (.) yang kurang tepat terdapat pada beberapa kalimat yang semestinya bisa berdiri sendiri. Salah satu contoh pada penggalan paragraf kedua yang berbunyi: "Tubuh tinggi tegap, dadanya yang masih terlihat bidang, kumis lebat bersila di bawah hidung dan atas mulutnya, semua ciri khas seorang tentara saat itu masih melekat dalam dirinya, diusia beliau yang sudah berkepala delapan lebih tiga ratus enam puluh lima hari."

    Perhatikan beberapa kalimat tersebut. Terasa janggal, bukan? Jika disusun secara benar, semua tanda koma tersebut mestinya diganti dengan tanda titik, kecuali tanda koma terakhir.

    Ada beberapa paragraf yang terlalu panjang, yang semestinya bisa dipenggal menjadi lebih dari satu paragraf. Kepada penulis diharapkan untuk memerhatikan hal ini. Karena keefektifan penulisan paragraf akan berpengaruh kepada pembaca ketika menikmati tulisan kita.

    Saran dari Tim FAM untuk penulis agar terus berlatih. Jangan berhenti menulis, serta selingi dengan membaca. Karena dengan begitu akan dapat menambah penguasaan kita dalam menyuguhkan tulisan, dari ide biasa menjadi sesuatu yang luar biasa.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    LETUPAN JIWA

    Ade Ubaidil (IDFAM1198M)

    SUARANYA masih terdengar nyaring di sela-sela memori kepalaku. Tentu saja, karena kisah yang selalu disuguhkan olehnya begitu inspiratif, membuat alam khayalku mengebiri batasan kehidupan nyata. Kakek Sulaiman namanya. Si ahli dongeng, begitu julukan dari warga sekampung. Tahi lalat kecoklatan yang menjadi ciri khasnya melekat di sudut kantung mata kanannya yang keriput, bak bayi tikus yang baru lahir— terlihat benyai. Kacamata besar yang sulurnya bergelayut di kedua telinga— yang juga sama keriputnya, menampakkan usia senja si Kakek.

    Alam bawah sadarku kembali mengulik akan kisah-kisah dongeng darinya, tetapi ada sebuah cerita yang beliau katakan bahwa cerita kali ini adalah kisah nyata, pengalaman ia saat masih mengabdi untuk negara. Ya, beliau adalah pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tubuh tinggi tegap, dadanya yang masih terlihat bidang, kumis lebat bersila di bawah hidung dan atas mulutnya, semua ciri khas seorang tentara saat itu masih melekat dalam dirinya, diusia beliau yang sudah berkepala delapan lebih tiga ratus enam puluh lima hari. Lonceng yang katanya hasil rampasan dari rumah milik serdadu Belanda, ia simpan di depan pelataran tempat singgah pemberian pemerintah kala itu atas jasa-jasanya. Tiap senja, lonceng itu ia goyang-goyangkan sampai menghasilkan suara khasnya untuk memanggil warga sekitar, khususnya anak-anak seusiaku saat itu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku, bersama ketiga sahabatku: Roy, Wawan dan Ani, tidak pernah terlewat sehari pun untuk mendengarkan dongeng darinya, begitu pula dengan teman-teman sebayaku lainnya. Kami, selalu datang ke rumahnya bukan hanya untuk mendengarkan dongengnya saja, tetapi karena beliau selalu menyediakan permen, biskuit Belanda— katanya, dan jajanan kesukaan kami ia berikan secara cuma-cuma.  Eits..., tetapi bukan berarti Kakek Leman—sapaan akrab kami— tidak galak, ya. Mungkin bawaan saat ia masih menjadi seorang panglima TNI dahulu, sifat tegas beliau yang terkesan galak bagi anak ingusan seusia kami, terkadang membuat kami ketakutan, bahkan Ani sampai nangis dibuatnya, hanya karena Ani mengobrol saat beliau sedang membawakan dongeng karangannya. Hal itu, yang sampai sekarang masih kuingat. juga cerita-cerita rakyat yang menginspirasi, kini menjadi santapan anak-anakku sebelum beranjak ke alam mimpi di malam hari.

    ***

    Ada satu kisah yang sampai saat ini masih terekam baik di pikiranku, tidak akan tertumpuk oleh pelbagai tugas-tugas kantor sekalipun. Sampai kapan pun. Cerita ini, Kakek Leman pernah bilang, katanya, kita harus merahasiakannya. Karena hanya akan ia ceritakan kepada kami yang saat itu hadir di rumahnya.

    ***

    Djakarta, Tahun 1976 Masehi...

    “Teng..., teng..., teng...!!!” gema lonceng Kakek Leman nyaring terngiang. Anak-anak riang menyambut suaranya. Mereka yang sedang bermain kelereng, biji karet, jingkrak, lompat tali, petak umpet, bahkan saat salah seorang anak yang sedang bermain dakon, belum sempat ia penuhi lumbung dengan biji-bijian, ia melonjak bersama teman-temannya yang sedari tadi menunggu antrian bermain, meninggalkan semua permainan khas Indonesia itu hanya untuk mendengarkan dongengan Kakek Leman. Pesona serta penyampaiannya yang disukai anak-anak, mampu menghipnotis hampir seluruh bocah di daerah kampung rambutan yang tinggal tidak jauh dari pemukimannya, berdatangan riuh ramai, tidak terkecuali aku. Mungkin saat lonceng itu berbunyi, adalah sebuah ancaman bagi permainan anak kampung di sana. Bisa jadi, mereka bersedih, merasa diasingkan ketika tiba waktunya untuk Kakek Leman berdongeng. Meski setelah usai dongeng, anak-anak itu kembali dengan ‘mereka’, permainan yang sempat diabaikan. Pada masa SD-ku, mungkin hal itu— melupakan permainan khas daerah, wajar-wajar saja, toh cerita Kakek sangat bagus, positif, inspiratif dan memotivasi kita untuk terus menggapai cita-cita. Berbeda dengan masa anak-anakku sekarang. Mereka memilih meninggalkan permainan daerah yang sengaja aku belikan— bermaksud untuk mengenalkannya agar tidak tergerus oleh zaman, diganti dengan bermain internet, game komputer, serta permainan teknologi lainnya yang terkadang kurang mendidik tetapi memberikan kecanduan yang berlebih. Hmm, miris aku melihatnya. Sesekali aku membolehkan Andi dan Toni, kedua anakku untuk bermain dengan ‘robot’, tetapi terkadang aku mencegahnya karena memang kurang baik untuk mereka yang masih berusia lima, kurang edukasi dan komunikasinya permainan masa mereka. Hanya berkutat dengan komputer.

    Suara gaduh sudah memenuhi pelataran rumah Kakek kala itu. Terdengar derap langkah, dengan bunyi tongkat mengayun mendekati bibir pintu depan rumahnya.

    “Wah, sudah ramai. Ayo duduk yang rapih!” sambutnya hangat. Perawakannya yang rigai menggambarkan seorang yang sedang sakit. kain syal berwarna biru andalannya selalu melingkari lehernya, seolah tidak mampu dipisahkan.

    “Uhuk..., uhukkk...!!!” batuknya mulai terdengar. Ia berjalan perlahan di pandu oleh tongkat kayu berwarna coklat tua yang menjadi temannya ke mana pun ia pergi. Kursi goyang yang bersandar dekat pagar besi berwarna hijau pupus di dekat pintu masuk, adalah singgasananya ketika akan memulai bercerita. Anak-anak antusias menyambutnya. Semua berebut posisi di paling depan, dekat Kakek.

    “Wawan, Roy..., tidak usah berselisih, duduklah dengan damai. Kita di sini bersaudara, tak perlu berebut tempat duduk, ‘kan masih luas rumah Kakek ini,” seru Kakek, melerai kedua sahabatku yang berebut tempat duduk bak petinggi negara saat ini.

    “Ya, Kek. Maafkan kami!” Sahut mereka hampir bersamaan.

    “Baiklah, jika semua sudah duduk dengan rapih, Kakek akan mulai bercerita. Kalian sudah siap belum?” tanya kakek memasang muka riang dengan jari telunjuknya mengangkat tinggi.

    “SIAPPP!!!” jawab kami serempak.

    “Kakek senang mendengar sahutan kalian yang kompak. Kakek jadi teringat dengan prajurit-prajurit anak buah kakek dahulu. Sahutan mereka lantang seperti kalian, tetapi masih lebih hebat kalian, sebab suaranya masih seragam,”

    “Seragam? Memang kita pakaian, Kek?” celetuk Wawan jahil.

    “Maksudnya seragam itu hatinya, bukan hanya suara. Kalau zaman Kakek dahulu, mereka prajurit-prajurit itu menyahut ‘SIAP’ padahal terlihat keterpaksaan dari dalam hatinya,” ia menjelaskan.

    “Hati di dalam siapa tahu, Kek? Kakek hebat, bisa baca apa yang tidak terlihat,” Ani nyerocos yang tidak mau kalah dari teman-teman lelakinya.

    “Cerdas kamu!” pujinya seraya melempar senyum, Ani pun membalasnya sambil mendongakkan kepala di hadapan teman-teman yang lain.

    “Di masa perang dahulu, kita bukan hanya belajar tentang teknik perang fisik saja, tetapi kita mengerti dengan sendirinya apa itu perang batin. Zaman penjajahan, kita bisa mengenali mana yang berpihak untuk Bangsanya sendiri, mana si penjilat, dan mana pengkhianat tidak tahu diri, semua Kakek bisa membedakan itu. Jadi kalau kalian ada yang berbohong sama Kakek, pasti Kakek tahu. Mau, kalian Kakek tembak?” gertaknya menakut-nakuti.

    “hiii... tidakkk mauu, Keekk!!!” anak-anak gemeridik ketakutan, begitu pun aku. Kedua kaki kami masing-masing saling menekuk, dirangkul dengan kedua tangan.

    “Hahaha..., Kakek bercanda, kok,” tawanya puas mengerjai kami. “Tunggu sebentar, ya!” ia berdiri, sesaat pergi meninggalkan kami. Beberapa menit berlalu, saat keluar dari pintu masuk, kakek membawa sebuah senjata api berukuran lebih panjang dari lengan orang dewasa, berwarna hitam legam dengan pelatuknya yang terlihat mengkilap. Lubang peluru di ujung depannya, seukuran satu buah kelereng bahkan sepertinya lebih besar. Jikalau untuk menembak kepala, tentu mampu membuatnya berlubang. Apa ia benar dengan ucapannya tadi? Seketika ruangan itu hening. Mata kita saling terpaut, menyimpan satu tanya yang sama,  “Untuk apa pistol itu?”

    “Kalian kenapa? Kok, lihat kakek sinis begitu?” Kakek kebingungan. Tidak ada yang menjawabi tanyanya. Kita hanya memandang pada satu objek yang sedang di genggam Kakek.

    “O, ini?” tebaknya menemukan kesinisan kita. “Tenang saja, Kakek tidak akan menembak siapapun kok, cukup satu korban saja dari peluru timah panasnya,”

    ‘Glekkk!!!’ suara menelan air liur kian kentara. Anak-anak semakin ketakutan. Tetapi aku memaksakan diri untuk bertanya.

    “Satu korban? Siapa itu? Bukan aku ‘kan, Kek?” tanyaku bertubi. Keringat perlahan membasahi dahiku.

    “Hahaha..., ada apa kalian ini? Mungkin karena gertakkan Kakek sebelumnya, ya? Tidak ada yang akan Kakek tembak. Apalagi kamu Rusli. Kamu kan anak Pak Lurah di kampung ini, mana berani Aku...,” tawanya lepas sambil menyindirku.

    “Nah, kali ini, Kakek tidak ingin mendongeng tentang tokoh fiksi lagi, tetapi Kakek akan bercerita tentang tokoh nyata. Seperti sekarang yang ada di hadapan kalian semua,”

    “Kakek?” terka ani melongo.

    “Ya, tepat sekali. Kakek akan bercerita tentang masa Kakek perang dahulu, bersama senapan dan korbannya. Kalian siap?”

    “Siap!” suara kami melemah karena masih menyimpan takut. Sementara Kakek Leman menggeser kursi goyangnya. Ia duduk lesehan, sejajar dengan kita.

    “Sebelumnya kalian harus ingat, kisah ini tidak ada yang tahu, kalian harus bisa merahasiakannya, kalian sanggup?” suaranya berbisik. Ia celingukan, seperti seorang prajurit perang yang sedang bersembunyi dari musuh. Kami hanya mengangguk, menatapnya serius. Rasa takut berangsur melebur. Telinga aku pasang baik-baik, begitu pun dengan yang lainnya. Mata kita saling terbuka lebar, sebagian juga ada yang turut menirukan gerakan yang baru saja dilakukan oleh Kakek.

    Kakek Leman mulai memperbaiki duduknya senyaman mungkin tentunya. Pandangannya mulai terlihat jauh, suara deham dari rongga lehernya keras terdengar. Wajahnya nampak serius. Tangan kanannya menyambut kopi dalam cangkir berwarna putih susu yang ada dihadapannya. Ia menyeruput kopi hitam kesukaannya buatan Kak Salma, anaknya.

    “Kalian percaya tidak, karena kopi seseorang bisa beradu selisih?” tanya Kakek seketika. Kami menggeleng. Dengan rupa polos yang meliputi wajah kami.

    “Ini yang terjadi antara Aku dan sahabatku, Ahmad.” Belum sempat ia melanjutkan, ia menghela napas panjang.

    “Apa itu, Kek?” tanya Rika salah seorang teman perempuan kami yang duduk di baris paling belakang.

    “Ketika kita sedang rehat, saat itu Aku belum diangkat sebagai Panglima, Aku dan Ahmad masih sebagai prajurit. Kami sedang asyik menyeruput kopi di satu cangkir yang sama. Entah apa dalam pikiran Ahmad saat itu, ia nyeletuk tanpa pikir hati dan perasaan,”

    “Nyeletuk apa, Kek?” sergah Wawan penasaran.

    Beliau kembali bercerita, mengisahkan persahabatannya dengan Ahmad, teman satu profesi namun berbeda keyakinan. Binar di matanya menyiratkan kerinduan. Tidak seperti Kakek Leman seperti biasanya saat membawakan dongeng sore itu. Mungkin karena memang kisah ini benar-benar nyata dialaminya; nonfiksi. Bibir besar yang cenderung tebal di bagian bawah itu bergerak tiada henti. Keyakinan yang dianut beliau kala itu adalah ajaran nabi Isa Alaihi Salam— yang kini ajarannya sedikit banyak diselewengkan oleh sebagian oknum pemuka agama yang tidak bertanggungjawab. Berbeda dengan Ahmad Rojali, asal Betawi yang murni beragama Islam. Perbedaan pendapat sering terjadi, begitu pun ketika sedang meneguk secangkir kopi. Ahmad menggenggam bungkus serbuk kopi buatan Belanda itu.

    “Lihatlah, kopi ini, ternyata buatan musuh kita saat ini. Mereka yang membuat kita mempertaruhkan nyawa,” geram Ahmad.

    “Sabar, sahabatku. Tenangkan jiwamu,” Kakek Leman menasihati.

    “Kamu tahu, hampir sebagian besar penyerang bumi pertiwi adalah non muslim, termasuk agamamu,” sentak Ahmad menggetarkan hati Kakek, begitu yang diceritakan olehnya pada kami. kakek Leman tentu marah juga kesal.

    “Untuk apa ia sangkut pautkan masalah agama, toh tidak berpengaruh besar, sebab mereka menyerbu bangsa kita untuk menjajah dan menjarah hasil bumi nan makmur ini,” begitu pendapatnya saat menerangkan dengan ekspresi yang tersungut-sungut. Tetapi saat Ahmad berujar demikian, ia hanya diam, tidak ingin tersulut amarah. Perjuangan belum usai, untuk apa saling menghancurkan sesama rakyat Indonesia, begitu gumamnya.

    Kedekatan keduanya kian merenggang. Langkah demi langkah yang sering menyatu, perlahan menjauh berlalu. Pernah suatu ketika Kakek Leman menangkap panorama yang kurang sedap untuknya. Ahmad sahabatnya itu sedang berbincang dengan teman prajurit lainnya. Tentu kakek Leman pasang telinga dari jarak tidak kurang delapan meter, tepatnya di balik bangunan runtuh ulah penjajah. Ahmad bercerita tentang penjajah Belanda. Lagi-lagi Kakek Leman tidak percaya, hatinya bak terhantam godam raksasa, saat pendengarannya menangkap suara Ahmad yang membicarakan soal keyakinan. Di sana Ahmad bercerita tentang kekesalannya pada Belanda non muslim itu, ia benci dengan mereka yang beragama selain Islam. Pembicaraan melebar, membahas tentang nama Samuel, yang tidak lain adalah nama dari Kakek Sulaiman, saat masih memeluk agama bawaan Yesus Kristus itu.

    Perbincangan saat itu sungguh menggoyahkan hati Kakek Leman untuk menahan sabar, kekesalan telah merajai hatinya. Gema azan zuhur terdegar lantang. Ia mengenalinya, itu suara sahabatnya. Shaf per shaf di dalam masjid terisi penuh, tiga baris berbanjar ke belakang. Di sudut paling akhir berdiri Ahmad yang rupanya baru kembali dari tempat mengambil air wudhu, entahlah mungkin saat itu ia batal karena suatu hal. Di luar masjid, berjaga Kakek Samuel bersama beberapa prajurit lainnya yang beragama non islam.

    Entah apa yang ada dalam benak Kakek Leman saat itu, ia mengendap-endap, menjauhi kerumunan kawannya di pelataran mesjid, ia beralasan ingin buang hajat, tetapi tidak lama saat ia meninggalkan kawan prajurit lainnya terdengar suara letupan senjata berlaras panjang.

    “DAARR!!!” Teriak Kakek Leman mengagetkan kami, saat melanjutkan kisahnya. Sebutir peluru melesat cepat dari senapan miliknya. Di ujung pemberhentian peluru itu, seorang jatuh tergeletak tak berdaya. Peluru itu mendarat pada lekuk di antara perut dan tulang dada dari arah belakang. Tak banyak darah yang keluar. Tepat dipenghujung rakaat salatnya, Ahmad mengembuskan nafas terakhir dari tenggorokan keringnya, pintu surga terbuka lebar baginya, semoga.

    Pun Kakek Leman turut lemah tak berdaya. Dendam yang legam selimuti hati, berganti luka jiwa akan duka yang mendalam melihat ulahnya sendiri. Nasi telah menjadi bubur, sesalnya seolah tak ada arti lagi. Kawanan prajurit yang berjaga di luar masjid mencari pelaku. Kakek Leman kaku, di ujung pintu sebelah kanan masjid. Lontar makian menjadi-jadi, dari teman yang tak percaya menjadi saksi, kebutaan hati diantara salah seorang kedua sahabat sejoli. Hukum ditegakkan, tidak pandang kawan. Jika dia bersalah, tetap disalahkan. Seru Kakek Leman menatap wajah kami yang penuh kabut ketakutan. Bulu kudukku berdiri, kakiku pun turut bergetar mendengar kisahnya.

    “Lalu, Kakek dihukum berapa tahun penjara?” Kembali Rika melontarkan tanya. Wajah Kakek mulai mendung diselimuti rasa bersalah. Air matanya tertahan jatuh, membendung di bagian bawah kacamata besarnya.

    Ia menghela napas panjang. Waktu pun berjalan tak terasa, kala itu senja menyapa dengan pesona jingganya. Sahutan ibu-ibu kampung menggiring anak-anaknya untuk kembali ke rumah. Namun kami yang berada di rumah Kakek Leman, tidak perlu mereka cemaskan. Sebab kepercayaan warga, telah digenggam sang Kakek.

    Kembali aku larut dalam kisahnya. Ia dikenai hukum masa tahanan seumur hidup, namun kehidupan dalam jeruji besi merubah tingkahnya, pun agamanya. Ia menyatakan kesaksiannya bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah, di hadapan puluhan nara pidana yang hadir di sebuah surau kecil di pelataran rumah tahanan yang juga dihadiri Ustaz Abdul Gofur sebagai saksi akan syahadatnya.

    Tanggal 17 bulan Agustus tahun 1946— setahun setelah Indonesia menggaungkan kemerdekaan untuk pertama kalinya, beliau resmi berganti nama dari Samuel menjadi Ahmad Sulaiman. Ya, nama almarhum sahabatnya saat itu disandang resmi melekat di tubuhnya. Dengan mengantongi agama baru untuknya, agama Islam. Kakek tidak bercerita lebih detilnya alasan ia memeluk agama Islam, yang jelas ia berujar bahwa ceramah yang sering ia ikuti saat di rumah tahanan membuka mata hatinya akan kebenaran Islam. Ia tidak turut mengajak kawan seperjuangannya memeluk agama bawaan Muhammad itu, karena ia tahu, memeluk agama adalah pilihan seseorang yang sifatnya personal. Hadir mengetuk jiwa tanpa adanya paksaan.

    Beberapa tahun dari peristiwa itu, Kakek dinyatakan bebas, karena berkelakuan baik selama di bui. Syukur tidak henti-hentinya ia zikirkan kepada “Tuhan Barunya”. Ia merasakan seolah terlahir kembali. Beliau merasakan keajaiban dari agama yang baru beberapa tahun dipeluknya itu. Bertambak ia kembali diterima sebagai prajurit karena sebuah kepercayaan rekan-rekan serta kepala pasukannya, bahkan ia dinaikkan pangkatnya untuk menjadi seorang Panglima. Begitulah beliau mengakhiri kisahnya dengan air mata yang terus ia usap dengan punggung tangannya.

    “Begitulah, Nak. Tajamnya pisau, masih kalah dengan tajamnya lidah, hati-hatilah dalam berkata. Terkadang apa yang kita maksudkan, belum tentu sama dengan orang yang mendengarnya. Ucapkan kata-kata yang baik saja, yang penuh manfaat untuk orang lain. Dan lagi, berpikirlah dahulu sebelum bertindak, sebelum pada akhirnya kamu menyesali dengan apa yang telah kamu perbuat,” Petuah sang Kakek menutup ceritanya sore itu.

    “Lalu, apa yang harus kita rahasiakan, Kek? Tentu cerita ini ‘kan banyak yang tahu sebelum kita!” sahut Husen berkepala plontos yang duduk di barisan tengah.

    “Kalian harus bisa menjaga rahasia dari keburukan teman kalian. Jangan mengumbar-umbar keburukan orang lain, lebih baik membenahi diri sendiri terlebih dahulu, sebab tidak ada manusia yang luput dari salah, khilaf dan dosa.” Nasihatnya terderet rapih. Azan magrib saat itu menggema begitu syahdu. Kami pulang dengan perasaan riang dari rumah Kakek si pendongeng.

    ***

    Perasaan rindu menjelma ketika seseorang mengucapkan kata ‘Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun...’ di menara masjid desa kami. Teringat segala kebaikan, ketulusan, serta kisah-kisah inspiratif yang ia bagi melalui bibirnya. Kakek Samuel alias Kakek Ahmad Sulaiman alias Kakek Leman Si Ahli dongeng, mengembuskan napas terakhirnya di ujung senja sama seperti setiap  ia menyudahi ceritanya, dahulu.

    Takkan ada lagi cerita, takkan lagi ada suara tongkat khas miliknya. Yang jelas, ia meninggal saat dipenghujung usianya yang renta dengan merangkul agama pilihannya, semoga itu baik baginya, di Alam baka.

    ‘DAARR!!!’ bunyi letupan senjata yang sempat mengagetkan kita dari suaranya yang bergetar ketika kita masih SD, kini terdengar jelas mengiringi pemakamannya. Bahkan lebih terdengar ramai dan menggetarkan jiwa. Mudah-mudahan ia bisa kembali dipertemukan dengan sahabatnya, Ahmad, dan diberikan kesempatan untuk saling bertukar kata maaf, layaknya umat muslim menyambut Hari Kemenangan.

    Sumber ilustrasi:
    kutaiku.wordpress.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Letupan Jiwa" Karya Ade Ubaidil (FAMili Cilegon) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top