• Info Terkini

    Saturday, January 4, 2014

    Ulasan Cerpen "Peri Teratai" Karya Hayuningtyas (FAMili Bekasi)

    Jasmine adalah perempuan muda pecinta bunga, yang memutuskan untuk mendirikan kebun bunga agar semua orang juga bisa menikmati keindahan salah satu makhluk ciptaan Tuhan ini. Maka, dengan modal seadanya, dibangunlah kebun itu. Di sana Jasmine menjual berbagai jenis dan bibit bunga.

    Tibalah suatu waktu ketika ia bertemu dengan seorang gadis kelas empat SD bernama Padma. Gadis kecil itu nampaknya menyukai bunga teratai, seperti dalam cerita singkatnya soal sekolah dan layang-layang. Namun sesuatu yang aneh Jasmine rasakan ketika ia menanyakan soal adiknya. Padma nampak kesal dan pergi begitu saja.

    Di lain kesempatan, Kartika, seorang ibu penggemar fanatik bunga lotus, rutin mengunjungi kebun bunga milik Jasmine. Bersama dengan Nucifera, anak laki-lakinya yang masih bayi, ia pasti datang untuk sekadar membeli bibit bunga tersebut. Sampai suatu ketika, Padma yang beberapa waktu tidak Jasmine jumpai, datang. Bukan keceriaan yang ada pada gadis itu, melainkan kekesalan yang nampak di wajah ketika didapatinya kereta bayi berisi Nucifera tergeletak di tepi sebuah kolam. Jasmine tak mengerti mengapa tiba-tiba Padma berusaha mencelakai bayi itu. Beruntung Nucifera berhasil diselamatkan.

    Belakangan diketahuilah oleh Jasmine bahwa Padma adalah arwah dari anak perempuan Kartika yang meninggal bersama suaminya dalam kecelakaan setelah kelahiran Nucifera. Menurut Jasmine, Padma tak jauh berbeda dari sosok peri teratai seperti dalam buku dongeng yang dibacanya, jika arwah gadis itu tidak juga menerima kehadiran adiknya di dunia (meski hal itu kemudian membuatnya bersama sang ayah mati). Peri teratai dalam dongeng itu menyimpan dendam pada saudara dan teman-temannya, hingga membuatnya tak dapat kembali ke bintang dan terpaksa harus tinggal di dalam bunga teratai sampai sifat dendam di hatinya luntur.

    Kejanggalan dalam cerpen ini ada pada saat di mana penulis mulai menuturkan bagian terpenting soal dongeng peri teratai tersebut, lalu membandingkannya dengan Padma. Bagaimana kronologis terkuaknya sosok asli Padma di mata Jasmine? Sementara Kartika sekali pun tak menyinggung soal anak perempuannya yang telah mati (walau sempat diungkapkannya tentang kegemarannya pada bunga teratai hingga wajah ibu itu nampak sedih, jalan terungkapnya wujud asli Padma masihlah samar). Bagaimana pula Jasmine mengerti soal kecelakaan itu tanpa ada jembatan penghubung yang menjelaskan peristiwa itu dalam cerita? Memang, di akhir cerita jelas tersirat antara Jasmine maupun Kartika telah sama-sama tahu masalah ini. Namun alangkah baiknya jika kronologi cerita diperjelas meski secara tidak langsung, sehingga tidak terjadi lompatan di tengah cerita.

    Meski demikian, cerpen ini amatlah bagus. Cara berceritanya indah, mengalir, dan enak dibaca. Nama-nama latin pada bunga dapat menambah pengetahuan pembaca. Selain itu, pesan yang disampaikannya pun dapat kita petik bersama. Hanya ada beberapa koreksi untuk penulis, demi perbaikan karya selanjutnya. Kata "diantara", "dimana", "disana", "diatas", "darimana", dan "kesini", seharusnya ditulis: "di antara", "di mana", "di sana", "di atas", dan "dari mana", dan "ke sini". Sedangkan "bergelobang" mungkin maksud penulis "bergelombang".

    Kata panggilan "tante" yang benar diawali dengan huruf kapital, menjadi "Tante", karena bukan merupakan obyek melainkan subyek. Penulisan nama warna, seperti merah, putih, oranye, dan lain sebagainya, sebaiknya tidak diawali dengan huruf kapital. Begitupun nama bunga (terkecuali nama latinnya).

     Kemudian penggunaan tanda koma dan titik yang tidak sesuai. Perhatikan kembali mana kalimat yang bisa berdiri sendiri dan tidak. Penulisan kalimat dalam dialog juga perlu diperhatikan. Contoh sederhananya: di setiap tanda petik yang menutup dialog, kata yang berdiri setelahnya tetap diawali dengan huruf kecil (bukan kapital). Sebab kata tersebut masih dalam satu kesatuan dengan kalimat dialog. Contoh: "Halo, kok sendirian? Teman-temannya mana?" sapa Jasmine. Kata "sapa" tidak diawali dengan huruf 'S' besar. Jangan lupa juga untuk menyertakan tanda titik atau koma di akhir kalimat dialog yang ada dalam tanda petik tersebut.

    Pesan untuk penulis agar terus berlatih, jangan berhenti menulis, dan selingi aktivitas menulismu dengan membaca. Koreksi kembali tulisan sebelum mempublikasikannya, agar meminimalkan kesalahan ketik hingga mengurangi kenyamanan pembaca dalam menikmati karya kita. Terus berkarya dan tebarkan nilai-nilai positif lewat ukiran penamu.

    Salam santun, salam karya!

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    PERI TERATAI
    Cerpen Hayuningtyas
    ID FAM1960U

    Jasmine membuka jendela kamarnya, senyumnya mengembang demi melihat kelopak-kelopak besar berwarna kuning Helianthus Annuus dengan pongahnya menghadap ke matahari pagi. Bunga cantik yang lebih dikenal dengan nama Bunga Matahari itu memang yang terfavorit bagi Jasmine diantara semua jenis bunga yang ada di kebunnya. Setiap pembeli bunga yang datang pun biasanya langsung terpesona melihat Bunga Matahari dan tidak segan-segan untuk membeli biji atau tunasnya yang dijual Jasmine dalam pot-pot kecil.

    Jasmine memang senang dengan bunga, bukan bunga dalam vas, tetapi bunga yang tumbuh di pohonnya yang bebas hidup di tanah. Karena itulah sejak ia lulus dari teknik arsitektur dengan konsentrasi pertamanan, ia memutuskan untuk membuka kebun pohon-pohon bunga. Dengan modal tanah keluarga yang luasnya tidak seberapa, ia membangun kebun itu. Banyak orang-orang mengunjungi kebunnya, sebagian besar akhirnya tertarik untuk membeli pohon-pohon bunga yang dijualnya. Seperti pagi ini, seorang ibu berpakaian rapi tiba-tiba berdecak kagum menatap Lily besar sewarna lipstick Marily Monroe yang tengah berbunga. Tanaman umbi bernama ilmiah Lilium Candidum itu seringkali berwarna Oranye atau Merah Muda dan ukurannya mungil, namun Jasmine juga senang mengoleksi yang berwarna Putih dan Merah lipstick. Lalu ibu tadi langsung tanpa pikir-pikir lagi memborong selusin umbi Lily Merah itu, katanya untuk memagari area kolam ikan di kebun rumahnya. Jasmine tanpa segan juga memberikan bonus berupa pupuk untuk menyuburkan tanaman yang berasal dari Yunani itu. Bagi Jasmine kegembiraan pengunjung mencintai bunga-bunga adalah yang utama. Masalah beli atau tidak itu nomor sekian.

    Baru saja Jasmine mengantar seorang pengunjung yang membeli Sri Gading yang harum di dalam pot, ia melihat seorang anak perempuan berjongkok di tepian kolam ikan dimana tanaman Teratai yang dijualnya tumbuh subur. Anak perempuan itu tengah menjentikkan jari jemarinya di kelopak Yellow Water Lily atau Teratai Kuning yang paling dekat dengan tepian kolam, badannya agak condong ke depan terlihat sangat tertarik dengan bunga air berdaun lebar itu. Terlintas dalam benak Jasmine bahwa ia anak seorang pengunjung yang tertinggal, namun dari sikapnya yang santai akhirnya Jasmine memutuskan bahwa anak itu hanyalah anak-anak kampung yang memang kadang berkunjung juga di kebunnya.

    "Halo, kok sendirian?, teman-temannya mana?" Sapa Jasmine. Anak itu menoleh, tersenyum namun sekejap Jasmine agak rikuh dengan tatapan matanya.

    "Padma tidak punya teman, tante. Boleh tidak Padma menjadi teman tante Jasmine?" Jawab gadis kecil itu.

    "Tentu saja boleh, tapi darimana Padma tahu nama tante?"

    "Itu, dari pagar" Padma menunjuk pagar kebun Jasmine, disana ada papan kayu bertuliskan Jasmine's Garden. Jasmine tersenyum. Padma mengikutinya berjalan ke pot-pot Lotus dengan bunganya yang jangkung.

    "Padma tinggal dimana?" Tanya Jasmine mengambil seekor kepik domino yang tengah bersantai diatas daun Lotus. Padma menunjuk ke arah Selatan. Benar, disana banyak kampung-kampung penduduk asli.

    "Ibu Padma guru IPA, cantik dan pintar, ayah Padma sudah meninggal" tanpa diminta Padma berceloteh. Jasmine mendengarkan. Padma kelas empat sekolah dasar, di sekolah ia pintar main Seruling. Lalu ia juga suka bermain layangan seperti anak laki-laki, tapi layangannya bergambar Bunga Teratai.

    "Adik Padma kelas berapa?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Jasmine. Padma lalu menggeleng kuat dan cemberut.

    "Padma tidak punya adik!!" Sentak Padma nyaring, lalu berlari keluar dari kebun Jasmine. Jasmine berdiri keheranan, gadis kecil yang aneh.

    Nympaea Alba atau yang lebih populer dengan nama Teratai Putih, ada sekitar lima pohon yang hidup dalam komunitas kolam ikan Jasmine. Daun-daunnya yang datar  lebar menjadi tempat bersembunyi ikan-ikan mas kecil atau tidak jarang telur-telur mereka melekat di akar-akarnya. Lalu ada juga Nympaea Mexicana atau Teratai Kuning dan Teratai Pink turut menyemarakkan permukaan kolam ikan. Di sisi-sisinya bergerombol pot-pot yang dihuni oleh kerabat Nympaea dengan daun-daun bergelobang, yaitu si bunga Seroja atau Lotus. Beberapa penggemar fanatik selalu rutin menanyakan jenis-jenis baru dari Sacred Flower ini. Dan meski belum ada koleksi baru di kebun Jasmine, mereka tak jarang membeli lagi tunas-tunasnya. Entah apa yang menjadi pertimbangan mereka, mungkin seorang Ibu yang membawa bayi laki-laki itu juga penggemar Lotus. Karena sejak tadi Jasmine melihatnya, ia berdiri terus di sekitar tanaman air itu. Jasmine mendekatinya.

    "Kebun yang benar-benar indah mbak" komentarnya ketika Jasmine menjabat tangannya.

    "Terima kasih, ibu senang Lotus?"

    "Ya, Lotus pohon yang kuat, usianya panjang dan hidupnya banyak bermanfaat"

    "Juga, bunganya sangat cantik" tambah Jasmine lalu ikut tertawa bersama sang ibu.

    "Saya Kartika, dan ini Nucifera" Kartika mengenalkan diri dan juga anaknya.

    "Anda senang sekali dengan bunga Lotus ya, sampai putra pun dinamai nama latin Lotus"

    "Ah tidak juga, saya juga sangat menyayangi Teratai" Kartika mengerling ke kolam ikan dimana Teratai-teratai hidup. Matanya terlihat meredup ketika menatap Teratai. Tak lama kemudian Kartika pun pamit, Nucifera di dalam kereta dorong tertawa-tawa lucu.

    "Bolehkah saya lebih sering kesini bersama Nu?, terkadang sepulang mengajar hati saya terasa kosong" ujar Kartika.

    "Tentu saja, kapan saja bu Kartika mau" jawab Jasmine. Kartika pun berlalu bersama Nu. Jasmine mengantar Kartika sampai ke pagar, lalu ia mendapati dirinya terkejut karena sekilas melihat Padma, gadis kecil yang kemarin, berlari keluar kebun dari semak Teratai. Setangkai bunga Teratai di genggamannya.

    Jasmine duduk di teras rumahnya, menghadap kebun sore itu, di pangkuannya terbuka sebuah buku yang mengisahkan tentang Peri yang hidup di dalam bunga Teratai ketika Kartika datang bersama Nu di kereta dorong. Jasmine membalas lambaian tangan Kartika dari jauh.

    "Aku ingin membeli bibit Lotus!" teriaknya. Kartika memarkir kereta dorong Nu di tepi kolam lalu memilih bibit Lotus. Jasmine membiarkannya, lalu tiba-tiba ia tersentak melihat Padma tahu-tahu sudah berdiri di belakang kereta Nu, matanya seperti benci dan sikapnya siap mendorong kereta Nu dengan Nu yang tertawa-tawa di dalamnya, langsung menuju kolam ikan!. Jasmine menjerit.

    "Padmaaaa, jangaaaann!!!" Jasmine berlari secepat mungkin mencegah kereta Nu yang meluncur. Kartika pun menjerit, namun berhasil lebih dulu menggenggam pegangan di kereta bayi itu. Jasmine terengah-engah. Kartika sangat terkejut , digendongnya Nu.

    "Maaf bu Kartika, tadi saya melihat seorang anak kampung sekitar mendorong kereta Nu, namanya Padma, tapi mungkin saya berhalusinasi"

    "Tidak apa-apa mbak Jasmine, saya hanya terkejut. Syukurlah Nu tidak tercebur ke kolam" Kartika menciumi anaknya. Jasmine lalu mengajak Kartika duduk di teras sambil mengobrol.

    Jasmine melihat gadis kecil itu tengah duduk di tepi kolam, kedua kakinya sebatas betis di dalam kolam. Jasmine menghampiri dan duduk di sebelahnya. Seperti biasa rambut Padma berkuncir ekor kuda dan poninya berantakan di dahi.

    "Padma, sudah pernah dengar dongeng tentang Peri Teratai?" tanya Jasmine. Padma menggeleng, matanya membulat tertarik.

    Peri Teratai, peri yang sebenarnya tinggal di bintang. Suatu ketika ia dan teman-temannya bermain turun ke bumi. Mereka bermain di kolam Teratai. Karena bunga-bunga Teratai sedang bermekaran di malam hari. Peri Teratai sangat manis, namun hatinya sering mendendam. Jika marah ia bisa melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap saudara maupun teman-temannya. Karena itulah ketika pagi menjelang, teman-temannya kembali ke bintang, ia tidak bisa terbang ke angkasa. Ia bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa kembali. Lalu sebuah jawaban melintas, bahwa ia harus bisa menghilangkan dulu sifat pendendamnya baru dapat bergabung kembali tinggal di bintang. Sejak saat itu peri Teratai tinggal dalam bunga Teratai di bumi, meski belum bisa kembali ke bintang ia tetap berusaha menjadi peri yang sabar dan tidak mendendam lagi.

    "Kalau Padma masih mendendam terhadap adik Nu, Padma akan seperti peri Teratai. Tinggal terus di bunga Teratai. Padma sayang Ibu dan Ayah Padma kan?, mereka berdua pasti ingin Padma tinggal di tempat yang seharusnya" ujar Jasmine.

    "Semua gara-gara adik Nu!" Potong Padma kasar.

    "Itu semua sudah takdir Padma. Adik Nu tidak salah kalau Padma dan Ayah mengalami kecelakaan mobil ketika menjenguk kelahiran adik Nu. Semua sayang Padma, karena itu Padma harus bisa bersabar. Kemarin ibu Padma bilang, kangen sekali dengan Padma tapi ibu Padma sabar dan selalu mendoakan supaya Padma tetap sehat dan tinggal di tempat yang baik" Jasmine menatap gadis kecil yang terisak-isak itu.

    "Tante, apakah ibu bilang bahwa ibu sayang Padma?"

    "Ya, Ibu sangat menyayangi Padma. Kehilangan Padma menjadi luka yang sakit, namun ibu Padma bersabar".

    "Tante, bisakah sampaikan pada ibu, bahwa Padma sayang sekali kepadanya?. Juga adik Nu"

    "Tentu!" Jasmine mengedip jenaka.

    Keesokan sorenya Kartika datang bersama Nu. Jasmine menceritakan semua kepadanya, tentang Padma.

    "Jadi putriku sudah pergi?" Tanya Kartika sambil mengusap airmatanya.  Jasmine mengangguk. Kartika terlihat tabah.

    "Padma mengatakan dia sangat menyayangi ibunya"Jasmine menambahkan. Pandangan Kartika melayang ke kolam Teratai.

    "Padma, ibu juga sayang sekali kepadamu, tabahlah sayang. Ibu dan adik Nu selalu mendoakanmu dan Ayah" bisik Kartika, airmatanya merebak tapi mulutnya tersenyum. Semilir angin menggeremisik, bunga bunga Teratai mengangguk-angguk. Jasmine percaya Peri Teratainya telah kembali ke tempat seharusnya dia berada.

    Ket:
    Padma                  : Sebutan lain untuk bunga Teratai
    Nelumbo Nucifera: Nama Latin bunga Lotus

    Sumber ilustrasi: fajarriadi.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Peri Teratai" Karya Hayuningtyas (FAMili Bekasi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top