• Info Terkini

    Sunday, March 2, 2014

    Dua Tahun FAM Indonesia, Semakin Dekat di Hati

    TAK terasa sudah dua tahun FAM Indonesia berdiri. Rasanya baru kemarin saja wadah kepenulisan nasional ini berdiri. Bermula dari facebook. Kedua pendirinya, Muhammad Subhan (Padangpanjang) dan Aliya Nurlela (Malang) saling bertukar karya, membuat kolaborasi buku cerpen dan akhirnya muncul gagasan yang sama untuk membangun wadah bagi para penulis. Baik yang sudah menghasilkan karya ataupun belum, yang penting memiliki minat menulis.

    Banyak sekali orang yang minat menulis. Sepanjang perjalanannya, pengamatan FAM Indonesia, banyak di antara para peminat tulisan itu kesulitan dalam mewujudkan impiannya. Alasannya bermacam-macam. Ada yang tidak percaya diri alias minder, tidak tahu caranya, tidak tahu prospeknya, takut tidak konsisten dan masih banyak lagi. Akhirnya minat itu tidak pernah terasah, dan hanya terpendam saja. Sayang sekali kalau minat itu tidak dirawat. Melihat fenomena itulah, penggagas FAM Indonesia teringat di awal-awal mereka menekuni dunia tulis-menulis, hingga akhirnya menjadi sebuah kecintaan dan pilihan hidup.

    Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia, memulai ‘karir’ kepenulisannya sejak kelas 2 SMP. Hobi membaca sudah sejak kelas 4 SD. Di SMP, ia memprakarsai terbitnya majalah dinding (mading). Gara-gara jadi ‘bos mading’ itu, ia mendapat promosi jadi pengurus OSIS, walau akhirnya jabatan yang berhasil ia pegang hanya wakil ketua. Tapi, akunya, OSIS telah melatih bakat kepemimpinannya dan membentuk karakter serta kepercayaan diri bahwa tidak selamanya orang susah akan hidup susah.

    Hobi menulis itu berlanjut ketika di SMA dan saat kuliah. Di SMA, lagi-lagi ia diamanahkan menjadi wakil ketua OSIS dan aktif di Palang Merah Remaja (PMR). Kehidupan di masa SMP dan SMA ia habiskan di Kruenggeukueh Aceh Utara, kampung ayahnya. Sewaktu SMA bakat menulis mantan jurnalis beberapa media harian di Padang ini terus terasah, apalagi ia sempat membuat majalah sekolah bersama beberapa kawan. Di kelas 2, ia memberanikan diri mengirim tulisan opini ke koran dan ternyata dimuat. Sejak itu, ia semakin ‘gila’ menulis hingga sekarang.

    Begitupun, hal yang sama dialami Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia. Hobi menulis mulai tumbuh pada dirinya sejak kecil. Ia suka menulis di mana saja, sesuka hatinya. Di atas batu sungai, di bawah pohon cengkih, di atas pohon jambu yang menjorok ke kolam atau di teras halaman. Masa MTs itu, ia menggagas mading sekolah dan mengisinya setiap hari dengan karya-karya fiksi atau info pengetahuan. Ia juga aktif mengirim tulisan di mading komunitas pelajar, hingga suatu hari terpilih sebagai pengirim tulisan terbanyak (52 tulisan) selama kurun waktu sebulan, juara 2 lomba cerpen dan mendapat penghargaan sebagai pelajar teladan pada tahun itu.

    Di usia tersebut, dengan percaya diri ia mengirim karya ke koran daerah melalui jasa pos. Di luar dugaan karyanya itu dimuat. Betapa senangnya karya sederhana dengan ketikan amburadul itu bisa dimuat. Apalagi ada honornya. Ia merasa jadi siswa terkaya di sekolah, karena honor dari tiga tulisan cukup untuk uang sakunya selama sebulan. Sejak itu, ia semakin “membabi-buta” menulis.

    Ya, sebagai orang yang minat menulis saat itu, semangat mereka meningkat berlipat setelah karya yang dihasilkan mendapat apresiasi dari luar. Tentu itu menjadi sebuah kebanggaan dan kebahagiaan yang patut disyukuri. Hingga memacu semangat untuk menuliskan karya berikutnya. Andai, pada saat itu tulisan mereka tidak pernah dipublikasikan dan tidak pernah ada yang tahu karya tulis yang mereka hasilkan, maka semangat itu pun tak pernah ada. Hanya akan menjadi semangat yang kadang menyala dan kadang redup. Semangat itu seperti api unggun, jika kayu yang terkumpul itu banyak, maka kobaran apinya akan semakin besar. Semangat harus dibangun dan saling menguatkan. Ketika bergabung dalam wadah yang sama dengan orang-orang yang memiliki minat sama, maka semangat itu pun akan lebih cepat berkobar. Itulah sebabnya, wadah kepenulisan ini dibentuk sebagai tempat bernaung orang-orang yang memiliki minat yang sama, yaitu minat menulis. Harapannya, bisa saling memotivasi dalam berkarya, menjaga semangat agar tetap stabil, dan menyebarkan kebaikan melalui tulisan yang bermanfaat (dakwah bil qalam).

    Setelah FAM Indonesia berdiri, dan saat ini usianya telah 2 tahun, tidak disangka jika sambutan generasi muda Indonesia sangat positif dan banyak di antara mereka yang ikut bergabung. Selama waktu itu pula, sejumlah cabang FAM Indonesia berdiri di beberapa kota di Indonesia. FAM semakin aktif menebarkan ‘virus menulis’ di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, pesantren, dan kelompok-kelompok menulis pelajar lainnya. Dari kegiatan itu FAM benar-benar meneguk kepuasaan, lantaran dapat berbagi ilmu dan pengalaman serta memiliki banyak teman.

    Selama dua tahun berjuang mengelola wadah kepenulisan FAM Indonesia, sudah pasti suka dan duka itu ada. Tapi disadari bahwa seperti itulah yang namanya merintis, harus banyak berkorban. Apa pun kegiatannya, memerlukan kesungguhan dan keseriusan. Fokus dan serius. Alhamdulillah, FAM Indonesia yang dibangun tanpa modal, kini telah mampu berdiri di kaki sendiri, walau yang dirasakan lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Sebab yang namanya kendala atau kesulitan apa pun, selalu disikapi dengan tetap berhusnudzan pada Allah, dan menganggap hal itu bagian dari indahnya berjuang.

    Tahun ke-2 ini, awalnya Milad FAM direncakan dirayakan di Pare, pada 2 Maret 2014 dengan mengundang sejumlah pengurus dan anggota. Namun, rencana itu terpaksa harus ditunda setelah melalui banyak pertimbangan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa telah terjadi erupsi Gunung Kelud yang letaknya tidak jauh dari kantor FAM. Di mana kantor FAM ikut terdampak letusan tersebut. Sekjen FAM, Aliya Nurlela yang sehari-hari mengurus kantor FAM harus mengungsi beberapa hari, meninggalkan Pare, karyawan pun diliburkan, dan pascaletusan tersebut kantor FAM harus bebenah, memperbaiki kerusakan atap serta membersihkan ruangan. Tempat tinggal Sekjen FAM di Malang juga dalam perbaikan pascaerupsi, dan beberapa saudara/kerabat yang terdampak masih dalam suasana bersih-bersih dan perbaikan tempat tinggal mereka. Sebagian FAMili  ada yang terjun langsung ke lapangan menjadi relawan Kelud. Disusul dengan kabar duka meninggalnya kerabat dari Sekjen FAM dan bapak mertua dari Ketum FAM. Sementara ibu mertua dari Sekjen FAM masih terbaring koma (sudah tiga bulan). Oleh karena itu, FAM membatalkan syukuran (perayaan) milad pada tanggal 2 Maret 2014, untuk menghargai dan ikut peduli terhadap musibah yang sedang menimpa keluarga dan musibah nasional dengan adanya berbagai bencana.

    Sebagai bentuk rasa syukur, FAM Indonesia berbagi dengan masyarakat dan beberapa rumah baca melalui sumbangan buku-buku terbitan FAM Publishing. Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi kami berharap besar manfaatnya untuk ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa melalui membaca. FAM juga menyarankan kepada para koordinator cabang agar mengadakan syukuran milad di tempat masing-masing bersama FAMili yang aktif di daerah tersebut. Insya Allah sebagai pengganti dari pembatalan syukuran milad ini, Ketum FAM Muhammad Subhan dan Sekjen FAM Aliya Nurlela akan mengadakan syukuran sederhana di kantor FAM pada tanggal 26-27 Maret 2014, sekaligus diskusi menulis bersama pelajar di Pare. Usai syukuran tersebut rencananya akan dilanjutkan dengan roadshow literasi di tiga kota. Semoga saja keadaan di wilayah Kediri dan sekitarnya sudah lebih baik.

    FAM Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh FAMili yang telah memberikan konfirmasi atas kehadirannya di Pare, para penulis yang bukunya akan diluncurkan, para pendukung acara dan simpatisan FAM Indonesia yang memberikan dukungan untuk terwujudnya syukuran milad ini. Semoga dapat memakluminya.

    FAM juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh FAMili, Tim FAM, Koordinator cabang dan pengurus di beberapa daerah, anggota FAM yang telah mengantongi nomor ID, para penulis yang menerbitkan buku di FAM Publishing, media massa yang selama ini bekerjasama, dan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan secara sukarela. Semoga kebaikan Anda semua mendapatkan balasan dari Allah Swt. Mohon maaf jika selama ini FAM belum bisa memberikan yang terbaik, dan baru sebatas mengajak untuk tetap menggelorakan semangat dalam berkarya. Semoga di masa mendatang, kita semakin baik dan aktif dalam berbagi ilmu dan menghasilkan karya yang benar-benar bermanfaat bagi sesama. Amiin.

    Salam sukses untuk kita bersama!

    Pare, 2 Maret 2014

    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Dua Tahun FAM Indonesia, Semakin Dekat di Hati Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top