• Info Terkini

    Sunday, March 2, 2014

    Ulasan Artikel "Mengenal Apa Itu Sharism" Karya Suandri Ansah (FAMili Jakarta)

    Dalam artikel ini penulis mengupas salah satu hal menarik yang tumbuh dari kemajuan teknologi komunikasi. Internet--begitulah kita mengenalnya--telah menjadi media atau sarana berbagi informasi yang menyenangkan. Begitu banyak di antara kita yang memanfaatkan internet dengan "media sosial"-nya sebagai tempat menuangkan isi hati, ide-ide brilian, ataupun sekadar aktivitas sehari-hari.

    Yang menjadi subyek utama dalam artikel ini adalah internet sebagai sarana menulis sekaligus "sharism"--yang disebut-sebut oleh Isaac Moc dalam salah satu esainya. Istilah "sharism" lahir dari kata "share" dalam bahasa Inggris yang berarti berbagi. Tentu akan sangat mudah kita pahami ketika sesuatu hal menarik di mata kita, sementara tak ada hal lain yang lebih "menyenangkan" selain menginformasikan hal tersebut ke siapa saja. Maka timbullah hasrat untuk "membagi" sesuatu tadi lewat media sosial. Penting atau tidak penting, tak jadi soal. Menariknya, dari waktu ke waktu, sadar ataupun tidak, kita pun dapat menerjunkan diri menjadi bagian dari aktivitas "membagi" ini, seiring dengan semakin mudahnya mengakses internet, di mana pun, kapan pun.

    Dari segi penulisan, penulis sudah cukup baik. Dengan terus berlatih, akan semakin bertambah baik tentunya. Sedikit saja catatan untuk penulis mengenai EYD, yakni "didepan" dan "dimana", semestinya "di depan" dan "di mana". Kedua kata ini bukan kata kerja pasif, melainkan kata keterangan tempat, sehingga penulisan kata depan "di-" harus terpisah dengan kata tempat. Kemudian "tau", "mempengaruhi", dan "aktifitas", yang benar "tahu", "memengaruhi", dan "aktivitas". Kesalahan ketik ada pada "penyalah gunaan" dan "teteap" yang seharusnya ditulis "penyalahgunaan" dan "tetap". Kepada penulis diharapkan ke depan agar lebih teliti dalam mengoreksi tulisan Anda sebelum dipublikasikan.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT TULISAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Mengenal Apa Itu Sharism

    Suandri Ansah ID FAM1635M

    Di era modern dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, merasuk ke setiap sisi kehidupan manusia dan membuat segala sesuatunya menjadi dekat dan cepat. Kemudahan yang paling terasa salah satunya terjadi pada dunia telekomunikasi. Jika zaman dahulu kita harus jauh-jauh pergi ke kampung sebelah untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, zaman ini hanya dengan duduk manis didepan ‘kotak ajaib’ yang disebut  televisi, jangankan kampung sebelah, pertandingan sepakbola di Afrika yang nun jauh di mato pun kita dapat menyaksikannya. Jika dulu nenek-kakek kita harus menunggu seminggu untuk tau kabar kita di kampung orang, sekarang hanya dalam sentuhan jempol kita bisa panjang lebar saling sapa walau lautan, dan pegunungan memisahkan.

    Inilah yang dialami peradaban dunia sekarang. Setelah melewati beberapa fase zaman, dari zaman batu, zaman besi, zaman perunggu. Sekarang saatnya dunia memasuki era digitalisasi dan automasi. Era dimana setiap detiknya kita dapat berpindah dan berkomunikasi dengan cepat dan serba otomatis, menyaksikan setiap perubahan kehidupan di sudut-sudut bumi dengan akurat. Isaac Mao, seorang co-founder of CNBlog.org dan Direktur Social Brain Foundatin menggambarkan dalam essainya Sharism : A Mind Revolution, “With the People of the World Wide Web communicating more fully and freely in Social Media while rallying a Web 2.0 content boom, the inner dynamics of such a creative explosion must be studied more closely. What motivates those who join this movement and what future will they create?.”)

    Abad World Wide Web yang sedang kita alami sekarang telah banyak mengubah cara hidup manusia. Dengan berbagai kemudahan akses ke dunia digital, berselancar di lautan informasi, juga telah mempengaruhi cara pandang manusia atas berbagai hal. Jika dulu manusia hanya menerima segala sesuatunya begitu saja tanpa timbal balik yang berarti, sekarang kondisi itu berubah. Manusia menjadi semakin aktif untuk merespon dan berbagi atau biasa disebut sharism terhadap segala sesuatunya, segala informasi yang diketahui dan yang dialaminya, dari yang remeh-temeh sampai yang menghebohkan. “You might need something to spur you on, to keep you from quitting and returning to a closed mindset. Here's an idea: put a sticky note on your desk that says, "What do you want to share today?" (Isaac Mao, 2012).

    Sahrism, istilah ini tentu berasal dari kata share dalam bahasa inggris yang memiliki arti berbagi. Dalam dunia kepenulisan, share yang dimaksud adalah kegiatan menulis yang kemudian hasil tulisannya dibagikan kepada orang banyak, dengan media blog misalnya. Kegiatan share ini tidak mutlak harus penulis professional, tetapi lebih banyak warga biasa dan media yang digunakan biasanya bersifat “indie” ( independent), contoh yang lebih mudah adalah media blog pribadi seperti blogspot, wordpress, blogdetik, dan sebagainya, atau juga blog keroyokan seperti kompasiana.

    Aktifitas blogging yang mulai booming di tahun 2000-an, membuat aktfitas sharism menjadi semakin popular dan digandrungi. People made a quick and easy transition from reading blogs, to leaving comments and taking part in online conversations, and then to the sudden realization that they should become bloggers themselves. (Isaac Mao,2012). Isaac Mao juga menyatakan bahwa berbagi merupakan spirit dari abad World Wide 2.0. “The key motivator of Social Media and the core spirit of Web 2.0 is a mind switch called Sharism”, Seorang Shareos- Share Heroes- katanya, secara natural akan menjadi pemimpin opini bagi media sosial-media digital.

    Tanda-tanda lahirnya sebuah kekuatan baru dalam dunia media semakin terlihat. Pepih Nugraha, seorang wartawan senior kompas menuliskan dalam bukunya Citizen Journalism, “Technorati, lembaga penelususr blog, mendapati kenyataan jumlah blog bertambah dua kali lipat setiap bulannya. Blog kini 30 kali lebih banyak dari tiga tahun lalu. Setiap hari tercipta 70.000 blog baru di seluruh dunia. Sampai oktober 2005 Technorati, sebagaimana dikemukakan Shayne Bowman dan Chris Willis dalam Jurnal Nieman Harvard University, mencatat hadirnya 20,1 juta blog.” (Pepih Nugraha, 2012). Dan akhirnya, dengan akses media yang sebegitu mudahnya, penyalah gunaan media, pengendalian dan propaganda opini oleh masyarakat biasa bukan saja tidak mungkin dilakukan. Selektif dalam melahap informasi yang masuk menjadi kunci utama untuk teteap menjaga keharmonisan kehidupan bernegara.

    Sumber ilustrasi: teknologi.teraspos.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel "Mengenal Apa Itu Sharism" Karya Suandri Ansah (FAMili Jakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top