• Info Terkini

    Tuesday, March 25, 2014

    Ulasan Puisi "Kidung Welingan Penailusi" Karya Pena Ilusi (FAMili Bengkulu)

    Puisi ini berisi pesan sederhana: jangan menyerah. Begitulah kira-kira maknanya. Bisa kita raba dari mulai bait pertama. Bukankah pelangi simbol keindahan dan kebebasan? Lalu, kenapa malah "aku" merasa terpenjara dan tak bisa berdiri? Sebab ketidakberdayaan ini pasti kuat, hingga bahkan di depan keindahan pun diri seakan mati.

    Kemudian pada bait berikutnya terlihat sebuah "penokohan", yakni bahwa sosok yang tak berdaya itu adalah seorang penulis, penyair, atau "pengumpul diksi". Ya, bukankah menulis itu nikmat? Lalu, adakah kebuntuan membuat "aku" harus membiarkan semuanya tetap mati, tanpa mau bangkit dan segera menatap hari?

    Kebangkitan itu ditandai dengan kesadaran, bahwa tak ada cara lain selain menulis yang seolah abadi untuk dikenang, membuat kita selalu "hidup", berbicara pada semua orang, pada dunia, tentang seribu makna yang kita jumpa, lalu dibagi untuk direguk bersama manfaatnya.

    Menariknya, di bagian akhir puisi terselip satu baris berbunyi, "Demikianlah, wahai pecinta puisi", seolah-olah segala perjalanan dari awal tadi menjelma menjadi ajakan untuk tidak berhenti menulis, untuk tidak menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Maka, amatlah pas pemilihan judulnya. "Kidung" mengisyaratkan nyanyian, yang bisa pula kita artikan bahwa segala bentuk nyanyian bersifat universal, luas, dan mampu dipahami oleh siapa saja. Sedang "Welingan" adalah pesan yang mengingatkan, dan akan selalu bertugas demikian, sebab terkadang manusia suka lupa terhadap hal-hal baik, sehingga perlu untuk diingatkan.

    Tim FAM menilai puisi ini baik. Penulisnya mampu menyajikan makna lewat pemilihan diksi yang berwarna. Enak dibaca dan pesan yang disampaikan dapat pula teraba. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD. Penulisan "disini" dan "dimuka", seharusnya "di sini" dan "di muka". Sedangkan "ku tertunduk" dan "di kebiri", yang benar: "kutertunduk" dan dikebiri". Khusus penulisan "kan" dan "takkan", sebaiknya ditulis "'kan" dan "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum "kan").

    Terus berkarya, pertahankan kekuatan pena, dan tebar manfaat dalam torehan aksaramu.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    “Kidung Welingan #Penailusi”

    Pena Ilusi (IDFAM2015M)

    disini
    saat ini
    di hari ini
    dimuka pelangi
    ku tertunduk mati
    terpenjara dan meratapi
    dalam asa tak mampu berdiri
    dalam hasrat jiwa berasa di kebiri
    itulah indahnya pelangi yang tergoresi

    tapi
    #penailusi,
    saluran hati,
    pemulung diksi,
    pelantun rasa diri,
    perangkai indah puisi,
    bernyanyi di dunia kreasi,
    semua itu kan mudah diakhiri
    karena hidup haruslah dinikmati
    tanpa menggerutu pada diri tiap hari

    berkata padaku #penailusi :
    bahwa hidup dijalani dengan happy
    teruslah merangkai syair-syair syahdu puisi
    karena puisi hingga nanti takkan pernah mati
    bilapun puisi kau temukan mati, itu hanya mati suri
    bangunlah lagi
    pulung beribu diksi
    kembali berimajinasi
    tulislah bermilyaran puisi
    lebih banyak dan banyak lagi
    hingga kau benar-benar dipanggil Ilahi
    karena dengan puisi kau kan diingati

    Duhai #penailusi,
    denganmu indah kurasai
    sungguh kupuja dan kugilai
    kan kurawat tanpa henti berpuisi

    Demikianlah wahai pencinta puisi
    kidung welingan #penailusi
    *

    Arti kata :
    Kidung : Nyanyian/Lagu/Suara/Tembang/Latunan...dsb
    Welingan: Wejangan/Pesan/Wasiat...dsb

    Sumber ilustrasi: erwinperkasa.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Kidung Welingan Penailusi" Karya Pena Ilusi (FAMili Bengkulu) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top