• Info Terkini

    Saturday, March 29, 2014

    Ulasan Puisi "Tenggelamnya Kapal Kita" Karya Maulidan (FAMili Padang)

    Puisi ini tersusun dari kata-kata sederhana, namun makna yang tersirat di dalamnya begitu besar. Di sinilah letak keunggulannya. Tim FAM menilai penulis punya ciri khas dan tidak sekadar berpuisi. Penulis dengan cerdas menyisipkan kisah keseharian seorang yang tengah jatuh cinta pada gadisnya, untuk kemudian "menampar" kita tentang betapa pentingnya iman seseorang dibanding segalanya di muka bumi.

    Perhatikan bait pertama. Ada pengakuan di sana, tentang sosok "aku" yang bukan agamis, tidak hafal 30 juz, pun tidak dekat dengan tuhannya. Perhatikan bagaimana dia memandang dirinya sendiri, lalu menyadari bahwa nyatanya ia terlalu sibuk mengejar dunia.

    Pada bagian berikutnya, semakin jelaslah pengakuannya, bahwa ia tak lebih dari sosok yang lupa; lupa pada ketentuan untuk apa dan untuk siapa dia diciptakan di dunia ini. Kekasih yang didambanya itu, yang bersifat keduniawian itu, adalah seorang yang berada beberapa tahun di bawahnya. Namun, tidak sesederhana nampaknya. Sebab, "wajib berjilbab" itu tidak sekadar peraturan di mata manusia, melainkan juga sinyal yang penulis sisipkan, bahwa nyatanya iman gadis yang tengah dikejar lebih dari yang dia bayangkan. Jelaslah, jelaslah betapa dalam sesal di hati "aku". Dunia yang hendak dikejarnya, malah terasa jauh darinya. Dan bukankah memang selamanya akan seperti itu?

    Terakhir, ada "hari yang payah" bagi "aku", yakni hari di mana tanggung jawab besar wajib dipikulnya; menjadi imam dan pemimpin bagi keluarga. Kalau sudah begini, apa mau dikata? Sosok "aku" yang tadinya jauh dari tuhannya, yang tadinya tidak hafal 30 juz, juga yang tadinya sibuk mengejar dunia, lagi-lagi harus menelan ludah penyesalan. Maka, seperti pada judul yang dipilih penulis; "tenggelamlah kapal" yang tengah dinahkodainya, sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin berjalan di depan, sedang ia sendiri buta?

    Puisi ini mengandung pesan moral yang kuat dan bermanfaat bagi kita, untuk selalu ingat kepada Allah. Dunia yang mati-matian dikejar, nyatanya malah menjauh. Penulis cerdas memilih diksi sederhana, mengolahnya sedemikian rupa lewat pemaknaan yang mendalam.

    Pesan untuk penulis agar jangan berhenti berkarya. Terus tebar manfaat lewat tulisan.

    Salam santun, salam karya!
    Tim FAM Indonesia

    Tenggelamnya Kapal Kita

    Maulidan

    Aku mana hafal juz 30
    Berat bagiku karena jarang menyembah
    Lupa Dia, karena sibuk mencari kau
    Menuntaskan bahagia yang kau pinta

    Aku mana hafal juz 30
    Perda wajib berjilbab bagi siswa, setelah ku tamat kuliah
    Mana bisa mampu, mana bisa ingat
    Lagi

    Di hari nan payah, dalam nikah
    Semoga juz 30 tidak susah
    Biar ada modal untuk pimpin jamaah
    Di rumah

    Sumber ilustrasi: evalaela.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Tenggelamnya Kapal Kita" Karya Maulidan (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top