• Info Terkini

    Tuesday, April 1, 2014

    Kenangan Bersama Pendiri FAM Indonesia

    Oleh Makhyatul Fikriyah

    Sore itu Kamis, 14 November 2013 adalah sore yang begitu indah. Bagaimana tidak? Saat itu kami (siswa sanggar menulis) dapat bertemu langsung dengan Jurnalis sekaligus novelis best seller “Rinai Kabut Singgalang” yang sekaligus Ketum FAM dalam acara Diskusi Menulis di Kantor Pusat FAM yang bertempat di Pare. Walaupun dengan sedikit perjuangan untuk sampai ke sana, namun tidak sia-sia. Saat itu Pare sedang diguyur hujan lebat diiringi petir yang seakan siap menikam. Ibuku sempat melarangku untuk keluar rumah. Apalagi tidak ada motor untuk dikendarai. Namun, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Sampai setengah lima sore hujan sedikit bersahabat, aku kuatkan kakiku untuk mengayuh sepeda, menantang angin.

    Bersama adikku Naela kami sampai di Kantor FAM. Ternyata acara diskusi yang diisi Bapak Muhammad Subhan dan Umi Aliya Nurlela, sudah berlangsung. Semua peserta diskusi sudah hadir dan menyimak. Kami disambut hangat. ''Wah, kita sudah sampai di Surabaya nih, ini masih Pare saja" ucap Pak Subhan. Aku tertawa geli, memang saat itu kami sangat terlambat. Aku sangat malu. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak samasekali. Saat masuk, kami mengisi daftar hadir dan mendapat snack serta air minum dari panitia.

    Senang sekali saat itu. Biasanya kami hanya mendengar cerita tentang Pak Subhan dari Umi Aliya atau sosial media. Sekjen FAM, Aliya Nurlela (yang kupanggil Umi) selalu menyampaikan pada setiap acara diskusi menulis rutin, “besok-besok kalian harus ikut juga acara diskusi menulis yang diisi Pak Subhan, agar ilmu bertambah.” Karena aku datang terlambat sehingga tertinggal banyak materi. Namun hal itu tak mengurangi semangatku. Materi yang disampaikan begitu padat, beda, dan inspiratif. Apalagi ditemani camilan serta air minum menambah asyik acara diskusi sore itu. Pesertanya dari berbagai sekolah di Pare mulai dari MTsN 1 Model, MA Hasanuddin, SMK Bhakti Mulia, SMAN 1, SMAN 2, Sanggar Bocah Dolanan, serta para guru. Senang sekali rasanya, bisa mengikuti diskusi menulis yang langsung diisi oleh dua orang pendiri FAM. Sebagai anggota FAM aku jadi termotivasi untuk meniru jejak mereka.

    Dalam diskusi itu kita dalam menulis disarankan untuk  fokus dan serius. Carilah masalah untuk membuat tulisan. “Bukan membuat masalah lho ya?” begitu kata Pak Subhan.  Materi yang disampaikan, mulai dari belajar menulis hingga proses dan tips untuk diterbitkan. Selain itu, ada pesan-pesan motivasi yang memacu semangat kami untuk terus menulis. Contohnya,  kutipan “hidup adalah rangkaian masalah, maka  Hadapi, Hayati, dan Nikmati.” Alhamdulillah banyak sekali materi bagus yang kami dapatkan selama mengikuti diskusi. Bahkan, usai diskusi kami memiliki kesempatan ngobrol akrab dengan kedua pendiri. Kesempatan itu kami gunakan untuk bertanya-tanya seputar masalah yang dihadapi saat menulis.

    Pada akhir acara aku mendapat doorprize buku dari FAM yang berjudul “Kunang-kunang di Sarang Tikus”. Buku ini adalah kumpulan cerpen dari para pemenang Lomba Menulis Cerpen untuk pelajar dan mahasiswa tingkat nasional. Hadiah itu kudapat bukan tanpa alasan, melainkan hadiah itu kudapat karena aku telah khatam membaca Novel “Rinai Kabut Singgalang”. Selain itu semua peserta juga mendapatkan sertifikat karena telah mengikuti diskusi ini. Acara diakhiri dengan foto bersama. Sore yang indah dan bermakna.

    *) Makhyatul Fikriyah, anggota FAM Indonesia dari Kediri (Siswa SMA)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kenangan Bersama Pendiri FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top