• Info Terkini

    Tuesday, April 8, 2014

    Pengumuman 200 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

    Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” malam ini mengumumkan 200 Nominator dari 620 naskah puisi peserta lomba. Ke-200 nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurutkan berdasarkan Abjad):

    1. Negeriku Diuji (Arif Hidayatullah, Padang)
    2. Tubuh Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
    3. Lanskap Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
    4. Ibu Kota (Aditya Arif Setiawan, Depok-Jawa Barat)
    5. Di Pucuk Januari (Aziz Muzaqi, Semarang)
    6. Rambut Gundul (Aria Winardi, Mojokerto)
    7. Adikku Yang Terlarut Kabut (Alvin Khautsar, Palembang-Sumatera Selatan)
    8. Tetesan Itu Beharga (Anggi Diah Pitaloka, Mojokerto)
    9. Kembalilah Negeriku (Ari Kusdiyanto, Pontianak)
    10. Tenggelam, Terbenam, dan Tersiram (Agus Santoso, Gresik-Jawa Timur)
    11. Asap Berulah, Siapa Yang Salah (Ahmad Kafil Mawaidz, Lamongan)
    12. Bumi dan Tuhan (Ahmad Muarif, Serang-Banten)
    13. Seperti Seharusnya (Ayu Sulistiowati, Jakarta)
    14. Segumpal Asa Kelud (Aisyah Nurfiani, Pasuruan-Jawa Timur)
    15. Hujan Telanjangi Kota (Andik Trio Widodo, Nganjuk-Jawa Timur)
    16. Bukan Cerita Pelari (Anggi Irma Ardianingrum, Kuningan-Jawa Barat)
    17. Alergi dengan Tuhan (Andi Nurul Afiah, Makassar)
    18. Kabar Dari Sinabung (Ahmad Rusaidi, Bantaeng-Sulawesi Selatan)
    19. Antara Awan dan Bumi (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
    20. Berhutbah Pada Tanah (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
    21. Dari Denyut Sebuah Hari (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
    22. Orang-Orang Kemarin (Agnestia Suci Prabandari, Kersan-Yogyakarta)
    23. Dunia Menangis, Negeriku Bersedih (Arief Rahman Hakim, Surabaya)
    24. Ratapan Korban Bencana Gunung Sinabung (Anita Syafitri, Medan-Sumatera Utara)
    25. Tuhan, Selamtkan Aku, Alam, Saudaraku (Audia Jasmin Armanda, Tangerang)
    26. Ketika Hujan Menjawab (Ahmad Fachrurozi, Parung-Bogor)
    27. Bencana Melanda Negeriku Merana (Angga Brian Fernandi, Demak-Jawa Tengah)
    28. Kemurkaan Tuhan (Angga Juniardo, Bekasi-Jawa Barat)
    29. Setitik Cahaya dalam Kelam (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
    30. Jagat Arena (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
    31. Saat Isrofil Melirik ‘Arsy (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
    32. Bencana Alam (Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah)
    33. Menanti Rinai Malaikat Mikail (Beben T, Palembang-Sumatera Selatan)
    34. Di Balik Kelud (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
    35. Menyambung Hidup di Sinabung (Budianto Sutrisno, Jakarta)
    36. Kemelut Kelud (Budianto Sutrisno, Jakarta)
    37. Derita Kami (Chania Maulidina Widyasari, Malang)
    38. Maaf Tuhan (Cahya Yustika Rani, Yogyakarta)
    39. Mereka Datang (Cut Vivia Talitha, Bireuen-Aceh)
    40. Bumi, Kami dan Mereka (Diana Kusuma Astuti, Kebumen-Jawa Tengah)
    41. Alam Mulai Enggan (D.A. Akhyar, Palembang)
    42. Tentang Kebesaran Tuhan (D.A. Akhyar, Palembang)
    43. Seseorang Yang Mendekap Tuhan (Dewi Putri Anggi, Pekanbaru)
    44. Air (Danang Alfriandi Legowo, Tangerang)
    45. Jeritan Alam (Deni Ainur Rokhim, Sidoarjo)
    46. Tadah Bumi Pada Langit (Dodi Saputra, Padang)
    47. Bumi Menangis (Dewi Sartieka Putri, OKI-Sumatera Selatan)
    48. Ketika Tuhan Berbicara (Dany Firmansyah, OKI-Sumatera Selatan)
    49. Duka di Tanah Karo Semalem (Dian Ayu Bindriati, Tulungagung-Jawa Timur)
    50. Apa Banjir Tidak Takut Presiden? (Diah Wahyuningtyas, Tulungagung-Jawa Timur)
    51. Tolong (Dadang Asmanaf, Palembang-Sumatera Selatan)
    52. Pesan Hujan (Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat)
    53. Bagaimana Lagi Caranya Menangis, Ya Rabb (Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat)
    54. Buah Rindu-Nya (Desy Listhiana Anggraini, Bandar Lampung-Lampung)
    55. Bangunlah (Dewi Lestari, Kudus-Jawa Tengah)
    56. Gemuruh (Dewi Lestari, Kudus-Jawa Tengah)
    57. Pilah Alam Yang Tak Tersapa (Elsa Febriani, Pesisir Selatan-Sumatera Barat)
    58. Surat Klasik Tak Bertepi, Munajah Korban Bencana (Eka Nadya Rahmania, Palembang)
    59. Aku Dibungkus Asap (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
    60. Tak Kusihir (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
    61. Bencana Ini; Kabar Gembira (Erna Susilowati, Kudus-Jawa Tengah)
    62. Mencekik Ibu Kota (Eko Agus Triswanto, Surabaya-Jawa Timur)
    63. CM (Eka Putri Irianti, DKI Jakarta)
    64. Sumbang (Eka Putri Irianti, DKI Jakarta)
    65. Di Pelukan Ibu (Elyada Putri Christanti, Malag-Jawa Timur)
    66. Perkara Asap (Ervi Yuhdwiyani Siregar, Jambi)
    67. Kota Mulai Mati Karya (Feli Natar, Lampung Selatan)
    68. Puisi Tuhan (Faisoel El Amin, Ciamis-Jawa Barat)
    69. Etsa Wajah Semesta (Farida Sundari, Medan)
    70. Nurani Berkisah Fragmen Alam (Fita Lustina, Purwokerto-Jawa Tengah)
    71. Gunung Meletus (Firzon Oktriadi, Kayuagung-Sumatera Selatan)
    72. Bencana (Gebby Adytia Putra, Jambi)
    73. Tuhan Masih Sayang (Hilal Ahmad, Serang-Banten)
    74. Duka Semesta (Henny Puspitasari, Banyumas-Jawa Tengah)
    75. Ibu Pertiwi Menangis (Hanif Rahma, Magelang-Jawa Tengah)
    76. Jejak Sang Monster (Heri Sutrisno, Kudus-Jawa Tengah)
    77. Bukan Kutukan (Hasan, Gowa-Sulawesi Selatan)
    78. Negeri Wayang Luka (Isfajar Mustiqa Ardhi, Semarang-Jawa Tengah)
    79. Dukaku (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
    80. Penunggu Lautan (Ika Surya Wandita, Bandung)
    81. Sang Penghantar Surat Isyarat (Ikhsan Satria Irianto, Curup-Bengkulu)
    82. Butir-Butir Penegur Kalbu (Intan Lestari, Cirebon-Jawa Barat)
    83. Gerhana Buana (I Wayan Juniartawan, Bali)
    84. Tanah Air (Mata) (Ikhsan Hasbi, Aceh)
    85. Varian Bencana (Isfaroh, Lamongan-Jawa Timur)
    86. Hitam (Irma Yolanda, Langkat-Sumatera Utara)
    87. Doa Buat Ia (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
    88. Epilog (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
    89. Apa Yang Kudengar (Irianto P. Binsardo, Bandung)
    90. Laksana Hidup Kami (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
    91. Sejarah Tanah Persegi (Junaidah Munawarah, Aceh)
    92. Nelangsa Sinabung (Juni Purnama Hasibuan, Cikampak-Sumatera Utara)
    93. Sebuah Kisah Dari Lereng Vulkanik (Kartika Indriarini, Trenggalek)
    94. Doa Seorang Ibu yang Kehilangan Anaknya (Ken Hanggara, Surabaya)
    95. Kisah Tentang Negeriku (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
    96. Surat Anak Kecil Yang Menceritakan Negerinya (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
    97. Aku dan Partikel Tuhan (Kukuh Septio Aji, Demak-Jawa Tengah)
    98. Bandang Madya (Kania Nurul Rozak Karnama, Bandung-Jawa Barat)
    99. Suara Belukar (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
    100. Seringai Sampah (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
    101. Penegur (Lailatul Musa’adah, Lamongan-Jawa Timur)
    102. Meditasi Pasca Bencana (Lipul El Pupaka, Bengkulu)
    103. Dunia Sunyi (Laily Alfi Nuktah, Purbalingga-Jawa Tengah)
    104. Karena Akukah Ini, Ibu? (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
    105. Balada Si Yang Terbuang (Lina Latifah, Bandung)
    106. Air (Lina Latifah, Bandung)
    107. Empat Kilomater (Lenny Widyawati, Semarang-Jawa Tengah)
    108. Mengulang Maaf (Maulidan Rahman Siregar, Padang Pariaman, Sumbar)
    109. Air Mata Bumi (Malisa Ladini, Semarang)
    110. Demi Masa (Maulidiyah Nurma Alfiyanti, Denpasar-Bali)
    111. Pelajaran Paling Berharga dari Riwayat Bencana (Marheni, Kutai Kartanegara-Kalimantan Timur)
    112. Ini Salah Siapa (M. Nailurrohman, Pasuruan-Jawa Timur)
    113. Tanah (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
    114. Alam Berkata (Muhammad Septiazis Haditama, Kayuagung-Sumatera Selatan)
    115. Cubitan Tuhan Berupa Bencana (Muhammad Pajri, Mataram-Nusa Tenggara Barat)
    116. Tanah Yang Tak Pernah Kembali (Mohammad Kholili, Sumenep-Jawa Timur)
    117. Pecah! (Tanah Karo) (Mareza Sutan A, Medan)
    118. Ilhafa (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
    119. Denyar Lara (Mutiara Indah, Banda Aceh)
    120. Bahagia Pasti Masih Ada (M. Fitrah Alfian R.S, Tangerang)
    121. Bencana Kubah Cinta (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
    122. Alam Manusia (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
    123. Dunia Penuh Keluhan (Muamanati Yuliati Rahmawati, Jayapura-Papua)
    124. Mencabik Benda Kaku (Machmudan, Bengkulu)
    125. Indonesia Menangis (Maftuhatus Sa’diyah, Lamongan-Jawa Timur)
    126. Tafakur Senja (Maftuhatus Sa’diyah, Lamongan-Jawa Timur)
    127. Le dan Mak (Meka Nitrit Kawasari, Semarang-Jawa Tengah)
    128. Pesta Ketipung Alam (Naela Khusna Faela Shufa, Kudus-Jawa Tengah)
    129. Simfoni Hujan Hitam (Nella Dwigusni Yayu, Padang-Sumatera Barat)
    130. Riau Yang Risau (Novy Noorhayati Syahfida, Tangerang)
    131. Alam Pun Gundah (Naila Syafitri, Bogor)
    132. Puing-Puing Duka (Nilla Novita Sari, Padang)
    133. Bencana di Bumi Tuhan (Nurtiti Hayati, Medan)
    134. Kabar Semesta (Nazri Zuliansyah, Aceh Utara)
    135. Merangkul Alam (Novita, Sumedang-Jawa Barat)
    136. Pemimpin Bergelimang Bencana (Nilla Novita Sari, Padang)
    137. Tamu Istimewa (Nuryani, Yogyakarta)
    138. Kelud (Nira Hermawanti, Bandung)
    139. Bencana di Negeriku (Nalsal Suciati Bangun, Torgamba-Sumatera Utara)
    140. Penghapus Dosa Kami (Oty Kiki Mandasari, Malang)
    141. Menadah Derita (Oty Kiki Mandasari, Malang)
    142. Du(k)a (Okti Dwi Hartatik, Tegal-Jawa Tengah)
    143. Pedang Merah (Patrick Prasetyo, Jawa Timur)
    144. Jerebu (Prasuta Hacesthiwara, Bukittinggi-Sumatera Barat)
    145. Nyanyian Merpati (Ridhamadina Rachmaniar, Malang)
    146. Masih Dipikirkan (Rahmat Basori Lubis, Gresik)
    147. Masih Inginkah Kita (Rezky Esa Putri, Makssar)
    148. Ketika Alam Telah Bertindak (Ridhamadina Rachmaniar, Blitar-Jawa Timur)
    149. Ia Datang (Bencana) (Rachmat Wijaya, Ogan Ilir- Sumatera Selatan)
    150. Kisah Dari Negeri Dua Musim (Rosi Rosdiani, Bandung)
    151. Sederhana Cinta (Roni Nugraha Syafroni, Cimahi-Jawa Barat)
    152. Patung Abu (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
    153. Bukan Laut (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
    154. Kelud Menyapa di Remang Malam (Rosi Rosdiani, Bandung)
    155. Duka Ini adalah Cinta-Nya (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
    156. Kidung Duka (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
    157. Wajah Muram Ibu Kota (Rizki Fajar Sodiq, Tulungagung-Jawa Timur)
    158. Lukisan Tubuh Nusantara (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)
    159. Pulau Asap (Rori Eni Sativa, Bojonegoro-Jawa Timur)
    160. Musim Mengabu (Rahmadyah Kusuma Putri, Medan-Sumatera Utara)
    161. Hijaumu Sunyi(Siti Zulaikah, Tulungagung-Jawa Timur)
    162. Dzikir Dari Barak (Seruni, Solo)
    163. Gunung Berceloteh (Sri Wahyuni, Bandung)
    164. Ketika Gunung Berbicara (Sudariyah, Kendal-Jawa Tengah)
    165. Sisa Surga Nusantara (Sifa Afidati, Bantul-Yogyakarta)
    166. Banjir di Atas Meja (Syarif Hidayatullah, Barito Kuala-Kalimantan Selatan)
    167. Bencana Lagi, Lagi-Lagi Bencana (Suheli Karyadi, Cilegon)
    168. Pertanda-Mu (Sika Indriyawati, Tuban-Jawa Timur)
    169. Madras Nanar (Sinta Novia Siswanti, Sukabumi-Jawa Barat)
    170. Kenangan Pahit di Kota Kediri (Suciani Asrotuzyahria, Tulungagung-Jawa Timur)
    171. Liar (Sika Indriyawati, Tuban-Jawa Timur)
    172. Kabut Tak Lagi Tipis (Sulastri, Padang)
    173. Bumi Menangis, Manusia Tertawa (Subektiningsih, Yogyakarta)
    174. Khatulistiwa Bersalju (Tri Yani, Bukittinggi-Sumatera Barat)
    175. Rasa Sayang (Tommy Alexander Tambunan, Bengkulu)
    176. Doa Tetes Embun (Ulis Sa’diyah, Kudus-Jawa Tengah)
    177. Sebuah Makna di Sebalik Bencana (Ulli Arlita Dewi, Aceh)
    178. Dahiat-Mu, Tuhan (Vivi Puji Wihartanti, Bukittinggi-Sumatera Barat)
    179. Jika Hari Ini (Windi Ariesti Anggraeni, Garut-Jawa Barat)
    180. Ujian Tuhan (Windy Febriani, Bogor)
    181. Suara dan Kata (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
    182. Senja Harapan (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
    183. Ratapan Duka (Wisnu Arya, Cikampak-Sumatera Utara)
    184. Pelangi dalam Luka (Wilda Khoirina, Jakarta Selatan)
    185. Kala Kelud Menyapa (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
    186. Kala Tuhan Merindukan Mantra-Mantra Suci HambaNya (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
    187. Riauku Sayang, Riauku Malang (Wulan Rahmadani Fitria N, Pekanbaru-Riau)
    188. Terima Kasih Tuhan (Yuliza Azella, Banda Aceh)
    189. Debu dan Air Mata (Yumailia Veronika, Padang-Sumatera Barat)
    190. Akhir (Yoga Aditama Ika Nanda, Samarinda)
    191. Halimun Menagih Rindu (Yudi Muchtar, Pekanbaru-Riau)
    192. Langkah Perjalanan Anak Adam (Yuni Ningtyas, Malang)
    193. Cukuplah Kelabu Milik Langit (Yulhamsidar, Makassar)
    194. Harapku (Yuan Yunita, Bangka Tengah)
    195. Ancala Murka (Yudha Hari Wardhana, Surabaya)
    196. Pak Tua di Sudut Jambur Sederhana (Yenuri Wanto, Tulungagung-Jawa Timur)
    197. Guyuran Abumu (Zainal Abidin, Nganjuk)
    198. Negeriku Menangis (Zuraini, Yogyakarta)
    199. Dialog Sang Makhluk (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)
    200. Lihatlah (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)

    Selamat kepada para peserta yang masuk di tahapan ini. Dari 200 naskah Nominator, akan disaring kembali menjadi 100 nominator. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

    Salam santun, salam karya.

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pengumuman 200 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top