• Info Terkini

    Tuesday, April 15, 2014

    Ulasan Artikel “Ketika Mahasiswa Menjadi Sarjana” Karya Ariyanto (FAMili Padang)

    Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel ini sebagai sebuah tulisan yang kritis, ilmiah dan aktual. Persoalan pendidikan dan output-nya memang menjadi sebuah bahasan yang selalu up to date dan menarik untuk dianalisa.

    Artikel ini ditulis secara sistematis. Dimulai dari paparan mengenai persepsi dan ekspektasi masyarakat terhadap sosok sarjana. Lalu berlanjut ke bahasan mengenai realita bahwa negeri ini banyak memproduksi sarjana namun di sisi lain angka pengangguran makin meningkat. Di bagian akhir, penulis mencoba menawarkan gagasan agar pendidikan, khususnya dunia perguruan tinggi sebagai produsen sarjana bisa menjadi solusi terhadap harapan publik dan bukan memproduksi sarjana penambah angka pengangguran.

    Namun tim FAM Indonesia memberikan beberapa catatan terhadap artikel ini, sebagai berikut:

    Mengingat judul adalah daya tarik utama sebuah tulisan, maka sebuah tulisan ilmiah akan menunjukkan kesan ilmiah kalau judul tidak terlalu panjang dan tersusun dari pilihan kata yang “tidak biasa”. Untuk artikel ini, tim FAM Indonesia merekomendasikan judul “Sarjana Sebagai Output Pendidikan”.

    Terjadi beberapa kesalahan penulisan yang perlu dikoreksi, yaitu sebagai berikut:

    Paragraf 1: Huruf “t” pada awal kalimat “ternyata tidak” setelah kalimat “Namun, apakah sekarang demikian?” seharusnya huruf besar, sehingga menjadi “Ternyata tidak.” Selain itu, penulisan kata dari pada seharusnya tidak dipisah sehingga yang benar adalah daripada.

    Paragraf 2: Terjadi kesalahan cetak. Serjana seharusnya sarjana. “Ditenggah” seharusnya “di tengah”. Huruf “I” pada kata “islam” seharusnya huruf besar. Selain itu, susunan kata pada kalimat “serjana dianggap orang-orang yang punya masa depan yang cerah dan bisa memberikan kontribusi ditenggah masyarakat yang membawa perubahan ditenggah bangsa” akan lebih baik jika sedikit diubah menjadi “sarjana dianggap sebagai orang yang punya masa depan cerah dan bisa memberikan kontribusi di tengah masyarakat yang membawa bangsa ini berubah ke arah lebih baik.”

    Paragraf 3” Seperti halnya paragraf 2, pada paragraf 3 juga masih tejadi kesalahan cetak. Selain itu, pada kalimat “Meskipun ada yang menjawab ‘jurusan sayakan bukan agama’ dalam pandangan akademis memang ada benarnya kita disiapkan untuk mampu menguasai dibidangnya namun bukan bearti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan ditenggah masyarakat agama, dan bangsa,” akan lebih baik kalau dipisahkan menjadi beberapa kalimat, sehingga menjadi: “Meskipun ada yang menjawab ‘jurusan saya kan bukan agama’, dalam pandangan akademis memang ada benarnya. Kita disiapkan untuk mampu menguasai ilmu dibidangnya. Namun bukan berarti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan di tenggah masyarakat agama, dan bangsa.”

    Tim FAM Indonesia menganjurkan kepada penulis untuk mengimbangi kegemaran menulisnya dengan banyak membaca. Dengan demikian perbendaharaan diksinya akan semakin kaya. Dengan banyak membaca juga akan memperluas wawasan yang  bisa dijadikan referensi untuk penulisan ilmiah.

    Semoga ulasan ini bisa memotivasi penulis untuk terus berjuang mencerahkan dunia dengan karya.

    Salam santun, salam karya,

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    Ketika Mahasiswa Menjadi Serjana
    Oleh: Ariyanto IDFAM2050M
    Mahasiswa Psikologi Islam

    Menjadi mahasiswa dan sarjana merupakan impian banyak orang. Pasalnya, sarjana dipandang sebagai orang berilmu dan memiliki masa depan cerah. Dengan gelar sarjana, orang akan hormat dan segan kepadanya. Namun, apakah sekarang demikian? ternyata tidak. Dewasa ini masyarakat lebih cenderung hormat pada orang yang “berduit” dari pada sarjana. Jika demikian, Sebagai mahasiswa apakah kita harus mengubah orientasi dan identitas kita yang tahu dengan peran dan fungsinya sebagai kaum intelektual menjadi pencari duit saja?

    Persepsi masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. serjana dianggap orang-orang yang punya masa depan yang cerah dan bisa memberikan kontribusi ditenggah masyarakat yang membawa perubahan ditenggah bangsa. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai kaum intelektual yang “serba bisa” dalam segala hal. Sebagai mahasiswa islam misalnya kita dipercayai mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan secara khaffah (menyeluruh) ditengah-tengah masyarakat. Maka tidak heran ketika gelar sernaja yang kita bawa pulang kekampung itu, bagi masyarakat serjan diharapkan dapat mengaplikasikan dan memberikan kontribusi dalam segala hal ditenggah masyarakat tersebut.

    Disadari atau tidak pandangan masyarakat tersebut memang seharusnya diperhatikan oleh mahasiswa. Meskipun ada yang menjawab “jurusan sayakan bukan agama” dalam pandangan akademis memang ada benarnya kita disiapkan untuk mampu menguasai dibidangnya namun bukan bearti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan ditenggah masyarakat agama, dan bangsa. Disisi lain diakui atau tidak, banyaknya pengangguran terpelajar yang memperhatinkan. pada realitanya, ada banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang  tidak memiliki keterampilan atau kreativitas. Akibatnya, setelah menyandang gelar serjana mereka menjadi pengangguran dan bingung mencari perkerjaan. Fenomena-fenomena ini bukan tidak asing lagi ditenggah dunia pekerjaan, oleh karena itu ada banyak serjana yang berkerja tidak sesuai dengan harapan mereka ketika masih menjadi mahasiswa seakan sama saja status mereka dengan para pekerja lainnya.

    Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi penganggur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja. Hal ini merupakan salah satu penyebab banyaknya pengangguran. Maka dari itu dunia Pendidikan semestinya bertanggung jawab terhadap proses mencerdaskan anak bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian.

    Karena itu, kampus sebagai pabrik pencetak sarjana harus mengambil langkah cerdas dan strategis. Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Bab XIII yang mewajibkan seluruh program studi perguruan tinggi harus terakreditasi. Artinya, dalam konteks ini mutu perguruan tinggi sangat mempengaruhi kualitas lulusannya. Namun bukan hanya itu yang perlu diperhatikan. Butuhnya kemampuan untuk menciptakan lulusan-lulusan yang siap menghadapi kemajuan zaman yang terus berkembang ini. Jadi, sudah seharusnya kampus mendongkrak kualitas pendidikannya untuk meminimalisir pengangguran terdidik. Kampus juga diharapkan mampu menghasilkan serjana yang kratif, berwirausaha dan jujur pada bangsa ini (anti korupsi) bukan serjana yang hanya dituntut menghasilkan skripsi untuk mendapatkan ijazah atau gelar serjana yang hanya bikin pusing kepala untuk mencari kerja. Selain itu, mahasiswa seharusnya mempunyai kemauan yang kuat (azzam) jangan hanya berpuas diri terhadap kondisi pendidikan sekarang. Mahasiswa harus selalu meningkatkan potensi diri, berkarya, berinovasi, dan terus belajar untuk menambah khazanah keilmuwan mereka. Dengan begitu, setidaknya pengangguran akan terkurangi.

    Dengan demikian, kesuksesan yang menjadi harapan banyak orang itu akan semakin terwujud khususnya melalui dunia pendidikan yang dapat melahirkan serjana-serjana yang berkualitas dan berguna bagi bangsa dan agama yang menciptakan dunia pekerjaan bukan menciptakan serjana penganguran. Sebagai kaum intelektual saat masih menjadi mahasiswa, jauh sebelum menjadi sarjana, ia sudah tahu arah dan tujuan yang harus ditempuh. Apakah mereka akan menjadi entrepreneur (pengusaha), ambil bagian dalam sistem birokrasi kepemerintahan, jadi intelektual (dosen, dan peneliti), menjadi penulis, atau profesi lainnya yang sifatnya unik (menciptakan profesi baru). Sebagai kampus dengan lahirnya serjana-serjana yang berkulitas tersebut tentunya menjadi tumpuan banyak orang bagaikan sebatang pohon rindang yang berbuah manis disukai banyak orang dan bermanfaat bagi orang lain.

    CATATAN: KARYA INI SUDAH PERNAH DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA KAMPUS

    Sumber ilustrasi: mahirbelajar.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Ketika Mahasiswa Menjadi Sarjana” Karya Ariyanto (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top