• Info Terkini

    Thursday, April 17, 2014

    Ulasan Artikel “Tandusnya Moralitas Guru” Karya Ady Akbar (FAMili Kendari)

    Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel ini sebagai karya yang cerdas, kritis, sebagai bentuk kepedulian penulisnya terhadap satu sisi wajah suram pendidikan di negeri ini.

    Diawali dengan melakukan analisa empiris berupa sorotan atas kasus tindakan asusila seorang oknum guru kepada muridnya, penulis menarik satu konklusi bahwa kualitas moral guru di negeri ini mengalami kemerosotan. Penulis juga memberikan paparan konsep ideal tentang sosok dan peran guru. Di bagian akhir, penulis tak lupa memberikan saran dan harapannya kepada pemerintah.

    Ada beberapa catatan dari tim FAM Indonesia terhadap artikel ini:

    1. Mengingat judul adalah daya tarik utama sebuah tulisan, maka sebuah tulisan ilmiah akan menunjukkan kesan ilmiah kalau judul tersusun dari pilihan kata yang “tidak biasa”. Untuk artikel ini, tim FAM Indonesia merekomendasikan judul “Dekadensi Moral  Guru”.

    2. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi:

    a. Paragraf 2. Kalimat Ededeh, ngerinya mi,” tanyanya. Mengingat “mi” di sini adalah menyapa nama orang, maka huruf seharusnya huruf besar.

    b. Paragraf 4. Kalimat Pendidikan kita tampaknya sedang--memasuki masa kronis stadium akhir. Tanda—pada kalimat tersebut tidak diperlukan.

    c. Paragraf 5. Terjadi salah ketik pada potongan kalimat manusia-manusia hang cerdas dan berkarakter. Kata hang disitu seharusnya yang.

    d. Paragraf 6. Penulisan nama orang Ibnu Jama,ah seharusnya Ibnu Jama’ah.

    e. Paragraf terakhir. Kalimat Namun, jika detik ini juga — tanpa ada istilah nanti dulu—guru-guru kita berani dan getol meningkatkan profesionalitas mereka maka sudah dapat dipastikan pendidikan kita akan terancam menghasilakn manusia-manusia cerdas, berakhalk mulia, dan mampu menjawab tantangan peradaban. Penggunaan kata terancam disitu tidak tepat sehingga akan lebih baik jika dihilangkan saja. Selain itu terjadi salah ketik pada kata “menghasilakn” yang seharusnya menghasilkan, kata “berakhalk” yang seharusnya “berakhlak”.

    Tim FAM Indonesia mendorong penulis untuk terus memperluas wawasan dan pengetahuannya dengan membaca literatur-literatur ilmiah serta terus berkarya sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan pada negeri ini.

    Teruslah berkarya mencerahkan dunia.

    Salam santun, salam karya,

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
    Tandusnya Moralitas Guru
    Ady Akbar IDFAM2040U

    Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 08.00. Pagi itu, saya mendapat pesan singkat (SMS) dari teman kampus yang menanyakan tentang kebenaran berita yang dimuat di salah satu surat kabar lokal.

    “Pagi Dy, benar kalau ada guru di Konawe (Salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara) perkosa siswanya? Ededeh, ngerinya mi,” tanyanya.

    Saya pun yang baru tertegap dari tempat tidur dibuat terkesiap pertanyaan via pesan singkat itu. Begitu miris kedengarannya, tetapi informasi ini benar-benar menjadi fakta saat saya menilik rubrik koran dan mendapati kalimat “Bejat, Guru gauli siswanya”, menjadi judul headline di halaman depan koran tersebut.

    Ini menjadi bukti riil rendahnya kualitas moral guru kita. Pendidikan kita tampaknya sedang — memasuki masa kronis stadium akhir. Kalau sudah begini, tentu saja, guru tidak lagi menjadi agen untuk memanusiakan manusia sebagaimana peran guru yang seharusnya.

    Guru merupakan sumber ide, pengetahuan, dan mesin pencetak manusia cerdas dan berakhlak mulia. Jika amati, guru memegang peranan vital dalam menentukan nasib bangsa ini. Kelak, baik-buruknya nasib bangsa ini tergantung pada kemampuan guru mencetak manusia-manusia hang cerdas dan berkarakter. Karena itu, seorang guru sudah sepantasnya sadar dan bangga atas tugas mulia yang diembannya.

    Salah seorang tokoh muslim yang juga ahli pendidikan, Ibnu Jama,ah mengutarakan, guru merupakan mikrokosmos manusia, dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi dan parameter makhluk terbaik.

    Tugas seorang guru tidak hanya mengajar (transfer of knowledge), tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai dasar guna membangun karakter atau akhlak murid. Kita ketahui bahwa tugas guru juga erat dengan palayanan, maka setiap guru harus memiliki integritas dan profesionalitas yang baik. Integritas inilah yang menjadi ciri bagi kepribadiannya.

    Lantas kalau sudah begini, seperti yang kita saksikan pada kasus guru di atas, pemerintah sebagai penyelanggara utama pendidikan nasional nampaknya mesti punya upaya dan gempuran khusus untuk menyelesaikan persolan pendidikan yang kian pelik ini. Pemerintah mesti punya “senjata dan saringan khusus” untuk menyaring sarjana, magister, dan seterusnya, sebelum mengangkatnya menjadi guru.

    Guru yang profesional bukanlah guru yang punya tingkat pendidikan yang tinggi. Tingkat pendidikan hanyalah sekelumit komponen kecil dari sekian banyak indikator yang harus dimiliki oleh guru. Guru yang hakiki adalah guru yang memiliki akhlak yang betul-betul dapat dijakdikan sebagai modal utama untuk menjadi seorang guru. Bukankah tugas utama guru adalah mentransfer nilai-nilai moral? Ini yang harus diupayakan oleh penyelenggara pendidikan kita, menelurkan guru-guru yang berakhlak mulia namun tetap tidak mengesampingkan kualitas dari segi pendidikan.

    Di sisi lain, pemerintah, secara terus menerus, harus punya upaya masif untuk meningkatkan kualitas akhlak kaum guru. Tak ada gunanya guru yang berpendidikan tinggi jikalau akhlaknya masih bobrok. Barangkali, ini jugalah yang menghancurkan negara yang kita cintai ini. Dewasa ini, media massa kian santer memberitakan maraknya petinggi negara yang berpendidikan tinggi namun akhirnya meringkuk di balik jeruji besi karena lamurnya akhlak mereka. Secara riil, dapat kita tarik benang merah bahwa pendidikan kita selama ini — termasuk juga guru-guru kita, telah sukses mencetak manusia-manusia yang binal, pandir, dan doyan korupsi.

    Memang, menelurkan manusia-manusia cerdas dan berakhlak mulia bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup panjang. Kita sadar: persoalan pendidikan adalah persoalan yang rumit dan pelik. Namun, jika detik ini juga — tanpa ada istilah nanti dulu — guru-guru kita berani dan getol meningkatkan profesionalitas mereka maka sudah dapat dipastikan pendidikan kita akan terancam menghasilakn manusia-manusia cerdas, berakhalk mulia, dan mampu menjawab tantangan peradaban.

    Ady Akbar, IDFAM2040U
    Kendari, Sulawesi Tenggara

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Tandusnya Moralitas Guru” Karya Ady Akbar (FAMili Kendari) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top