• Info Terkini

    Friday, May 23, 2014

    Ulasan Cerpen "Belokan dan Jalan Tol" Karya Mimin Umini (FAMili Majalengka)

    Sumber ilustrasi: qousa.wordpress.com
    Cerpen ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda yang hendak mendatangi sebuah kantor untuk memenuhi undangan interview. Ia berharap, suatu saat nanti, hidupnya bisa semulus jalan tol, tak ada hambatan berarti, karena saat ini ia harus bersusah payah berjuang demi meraih kesuksesan.

    Namun sayang, ending dari cerpen ini terasa anti-klimaks. Tidak ada kejelasan atau tidak ada sangkut paut, antara bagian awal cerita dengan beberapa kalimat dialog di akhir. Padahal dialog tersebut menyampaikan pesan utuh dari cerpen ini. Alangkah baiknya bila penulis memberi tambahan "kejadian" sebelum akhir cerita, yakni dengan menggiring pertemuan tokoh utama dengan sosok "pencerah" yang sengaja dikirim Tuhan untuk menegurnya dari suatu kesalahan. Misalnya sosok tersebut bisa berupa seorang cleaning service atau mungkin satpam berwajah bersajaha--di mana setting tempat terakhir dari jalan cerita ini berada memungkinkan adanya tokoh pembantu tersebut; sebuah kantor. Dengan begitu, beberapa kalimat dialog di akhir tidak terasa janggal keberadaannya dan lebih "nyambung" dengan jalan cerita.

    Beberapa koreksi dari Tim FAM, pertama soal penggunaan tanda baca. Paling kentara adalah tanda titik yang terkadang tidak perlu, malah diadakan, atau bahkan "digandakan". Penulisan beberapa kalimat dialog plus tanda bacanya juga kurang rapi. Diharapkan untuk ke depan agar penulis mengoreksi dan mengedit tulisannya terlebih dulu sebelum dipublikasikan.

    Untuk EYD, beberapa kata berikut ini kurang tepat: "berharaf", "pres", "menghafal", "flat", "sekedarnya", "nafas", "sedikitpun", dan "itupun". Yang benar adalah: "berharap", "fresh (bahasa Inggris yang berarti segar, maka ditulis dengan huruf miring)", "menghapal", "plat", "sekadarnya", "napas", "sedikit pun", dan "itu pun". Sedangkan untuk kata keterangan tempat; "dihari" dan "dikedua kakinya", seharusnya ditulis: "di hari" dan "di kedua kakinya". Dan untuk penulisan judul cerpen, sebaiknya tidak menggunakan huruf kapital untuk semua hurufnya (kecuali huruf paling depan pada setiap kata (tidak termasuk kata "di", "pada", "dalam", "tentang", "yang", "si", "sang", "untuk", dan "antara")).

    Pesan dari Tim FAM untuk penulis agar teruslah berlatih. Jadilah editor pertama untuk tulisan Anda dan selingi kegiatan menulis dengan membaca. Tetap semangat berkarya.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    BELOKAN DAN JALAN TOL
    Oleh Mimin Umini (ID FAM1080U)

    Dalam do`a-do`a yang selalu dipanjatkan Juli berharaf jalan kehidupannya dilalui bak jalan tol, lurus, tak macet, datar dan KM demi KM dilalui dengan waktu yang pasti. Dengan begitu rencana pencapaian dihari tua terwujud. Mengejar mimpi masuk jalan tol diakui tidak mudah. Uang untuk tiket, premium, konsumsi dan obat-obatan. Kendaraan harus beroda empat, yang merupakan persiapan termahal bagi Juli. Entah harus berapa lama menabung. Pengeluaran tiap bulannya mencapai enam macam; pulsa, listrik, PAM, sampah, keamanan dan dapur. Sementara pengeluaran mendadak di luar rencana selalu ada menghampiri. Yang bisa jadi lebih besar daripada pengeluaran  bulanan pasti. Kadang jika itu terjadi Juli senyum sendiri. Jika saja peristiwa yang selama ini terjadi ditempelkan, mungkin banyak sudah pernik tertempel, kalau bagus dan unik kan dapat dijual, he….

    Empat belokan lagi Juli sampai pada tujuan. Terik mentari di siang hari, peluh bercucuran, diam-diam dahaga-pun menyelinap bertandang ke dalam tubuh, menambah haru biru perjalanan. “Demi jalan tol, semoga interviewku lancar dan diterima kerja”. Juli melihat jam di tangannya, masih ada waktu 2 jam lagi. Juli melap peluhnya agar kelihatan pres. “Ikhlas berpanas-panasan, nan penting hati tetap dingin”, gumamnya dalam hati, mencairkan kelu saat melihat orang lain mengendarai BMW mengkilap melesat menyalip dia dengan mudahnya. Juli menghafal flat nomornya, “Mudah-mudahan suatu hari nanti bertemu, maka akan  balik ku salip dia”.

    Belokan pertama kebetulan jalannya agak turun, Juli pasang rem dikedua kakinya agar tidak bablas melewati belokan tersebut. Lampu merah menyapa menabur beberapa orang ke tengah jalan, mengadu nasib untuk sesuap nasi. Menguji iba  dari orang berada. “Tolong untuk makan bang…”, seorang kakek menghampiri dan menengadahkan tangannya. “Ini hanya sekedarnya kek”. “Terima kasih”. “Oya kek do`ain agar Aku lancar interviewnya dan diterima kerja”, pintanya pada si kakek yang cuma manggut-manggut saja. Beberapa menit setelah itu, Juli tertegun merenungi apa yang telah terjadi. Benarkah apa yang hamba lakukan tadi, memberi tapi minta imbalan, meski itu hanya do`a. Ikhlaskah?.

    Juli melangkahkan kembali kakinya. Enjoy berjalan menelusuri trotoar yang ramai. Tiba-tiba mata Juli melihat pemandangan….tangan menyelinap ke dalam tas, dan kini dompet tiu telah berpindah tangan ke orang yang dengan sengaja mendorong si ibu pemilik dompet. Juli hanya diam dan diam, sampai menghilangnya si pengambil dompet di belokan yang akan dilaluinya pula. “Kenapa..padahal benar adanya  telah terjadi pencopetan, tinggal teriak copet apa susahnya, pengecutkah diriku?”. Lalu Juli mendamaikan hatinya yang tengah bergejolak oleh rasa bersalah dengan menarik nafas dalam-dalam dan duduk di halte. Juli terkejut di samping kanannya seseorang duduk dengan pakaian sama dengan empunya tangan pengambil dompet tadi. Senyumnya menyapa tolehan Juli, yang lagi-lagi melihat pemandangan, kurang lebih sepuluh orang anak menghampiri dia. Semuanya mendapat bagian uang. Wajah-wajah berpeluh dan kusam, seketika berubah  ceria penuh tawa. Juli tak ingin hanya diam dan diam, tapi laki-laki itu sudah tak disampingnya lagi. Telah pergi menerobos hiruk pikuk para pejalan kaki.

    Perjalanan Juli semakin semangat, bukan hanya karena dua belokan lagi. Namun karena kini terbersit tiket belokan demi belokan harus dipersiapkan pula.

    Tak terasa belokan ke tigapun sudah di depan mata,. Lelahnya minta ampun. Sementara Juli tak membawa makanan sedikitpun, uang di dompet tipis pula. Itupun  persiapan bila kamalaman pulangnya naik bis. Terpaksa Dia istirahat di bawah pohon. “Ya Robb mudah-mudahan kuat sampai pada tujuan”, selorohnya.. Juli menghitung uangnya, sebab keroncongan tak dapat diajak kompromi lagi. “Bang lapar..”. Tak kuasa melahap roti satunya lagi. “Makasih bang..”. Tanpa ada rasa malu sedikitpun, roti itu langsung di makannya. Hanya sekilas kini telah berpindah ke perut. Ada perasaan sejuk menyelinap ke dasar hati, seperginya anak itu dengan senyuman tersungging di bibirnya.

    Walau tak begitu deras, titik demi titik, air membasahi bumi. Cuaca memang akhir-akhir ini sulit diprediksi. Kadang pagi hujan, siang panas. Sebaliknya pagi panas, siang hujan. Beruntung belum basah kuyup ketika sampai di belokan ke empat di gedung berlantai delapan. “Alhamdulillah masih ada waktu 15 menit lagi untuk interview’, mengiring langkah menuju lantai lima seperti yang ditunjukan oleh recepsionist.

    Seuntai kata ucapan selamat menghampiri via sms, entah dari siapa. Juli tak  begitu menghiraukannya, sebab lagi fokus mencari kartu nama yang hilang dari dompet. Anehnya hanya kartu nama yang diambil.

    “Bagaimanapun  juga, niat baik harus dengan cara baik pula”.                                                                                        
    “Iya bang saya mengerti”.

    “Langkah awal kita yaitu ngasih kail, bukan ikannya langsung. Bagaimana jika sekarang kita mencarinya. Mau masing-masing atau berdua?”.

    “Maaf Bang menurut saya lebih baik berdua. Jika ada sesuatu dapat dibicarakan langsung”.

    “Oke juga pendapatmu, mari berbasmallah!”.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Belokan dan Jalan Tol" Karya Mimin Umini (FAMili Majalengka) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top