• Info Terkini

    Thursday, May 22, 2014

    Ulasan Cerpen "Demi Sejuta Cinta" Karya Suyati (FAMili Pasaman)

    Sumber: kesehatan.kompasiana.com
    Cerpen ini bercerita tentang Nida, seorang gadis agamis yang menyukai Kiki. Mereka bertemu dan saling mengenal ketika sama-sama menjadi peserta dalam sebuah event MTQ. Namun, karena situasi yang kurang mendukung, keduanya terpisah tanpa sempat Nida memastikan perkenalannya dengan Kiki berjalan lebih jauh.

    Hari demi hari Nida jalani dengan penyesalan, karena merasa bahwa detik ini Kiki mulai menghilang dari kehidupannya. Padahal, sosok itu terus terbayang di benaknya. Berbagai usaha dilakukannya untuk dapat menemukan pemuda itu tapi gagal. Hingga pada akhirnya Nida sadar, bahwa apa yang ia lakukan tidak semestinya dilakukan. Ia sadar, menjaga hati bagi seorang muslimah itu lebih baik, ketimbang menjerumuskan diri di dalam sebuah kisah cinta tanpa beriring ridha dari-Nya.

    Cerpen ini ditulis dengan begitu sederhana. Pesannya jelas dan tersampaikan. Tapi sayang, pada bagian akhir kurang kita temui solusi yang lebih detail dan runtun. Hendaknya sebuah cerpen difokuskan dalam satu persoalan utama (yang sudah penulis hadirkan), lantas ditutup dengan baik oleh penyelesaian yang lengkap (tidak seketika menjadi "semudah itu", yakni dengan menghadirkan proses menuju ke sana).

    Beberapa catatan mengenai EYD ada pada kata "menghantarkan ku", "ku kenal", "pada ku", "telephone", "mengkoreksi", "fikirku", "kesana", "kerumah", "itupun", "menelfon", "topic", dan "merubah". Yang benar ditulis: "mengantarkanku", "kukenal", "padaku", "telepon", "mengoreksi", "pikirku", "ke sana", "ke rumah", "itu pun", "menelepon", "topik", dan "mengubah".

    Sementara untuk kata keterangan tempat/waktu seperti "ditempat", "disebuah", "dihadapan", "disana", "dimana", dan "disaat", yang benar seharusnya ditulis: "di tempat", "di sebuah", "di hadapan", "di sana", "di mana", dan "di saat". Sedangkan untuk kata kerja pasif "di lahirkan", semestinya ditulis "dilahirkan".

    Terakhir, kata-kata yang bukan merupakan bahasa Indonesia baku seperti "sharing", "image", dan "official", sebaiknya diketik dengan huruf miring. Dan untuk penulisan judul cerpen, sebaiknya tidak menggunakan huruf kapital untuk semua hurufnya (kecuali huruf paling depan pada setiap kata (tidak termasuk kata "di", "pada", "dalam", "tentang", "yang", "si", "sang", "untuk", dan "antara"))

    Pesan untuk penulis agar terus berkarya. Perdalam kekuatan cerita Anda dan selingi kegiatan menulis dengan banyak membaca.

    Tetap semangat.
    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    DEMI SEJUTA CINTA
    Suyati ID FAM1559M

    Kehidupan memang tidak akan pernah bosan menjamu manusia umtuk tetap menikmati setiap derita. Kehidupan juga selalu memberikan kesempatan untuk menghisap manisnya bahagia. Dari hari ke hari, kehidupan berubah menjadi sosok penjaja yang senantiasa menawarkan waktu untuk terus dirangkul. 

    Dan waktu telah menghantarkan ku di tempat ini. Ditempat ini aku akan di lahirkan sebagai pemenang. Menjadi salah satu khafilah disebuah event MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) yang tentunya menjadi sebuah kebanggaan. Aku bertemu dengan orang-orang yang baru ku kenal. Meskipun ada juga yang sudah ku kenal sebelumnya karena satu sekolah. Dan perhatianku teralihkan dengan kedatangan seseorang yang aku kenal di event MTQ sebelumnya, tepatnya dua tahum yang lalu. Dia adalah Kiki. Sosok tampan berkulit putih yang benar-benar menguras perhatianku saat itu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau dia ikut dalam MTQ tahun ini lewat perbincangan pelatihku via Telephone, namun aku menganggapnya biasa saja. 

    Kami tinggal disebuah rumah milik salah seorang penduduk di kampung itu, yang biasa disebut pemondokan khafilah. Tentu saja pemondokan khafilah putra dipisahkan dari khafilah putri. Meskipun jarak keduanya hanya beberapa meter saja, yang membuat aku dapat dengan mudah bertemu dengan Kiki. Ini bukan karena aku kecentilan yang dengan sengaja mendatangi pemondokan putra, tapi karena pelatihku berada di pemondokan itu yang memintaku untuk berlatih setiap hari. Sebelum hari perlombaan cabang Khat yang aku tekuni tiba, aku pun harus berlatih dengan serius dan sesering mungkin. Nah, keadaan inilah yang memaksaku untuk datang mengkoreksi tulisan ke pemondokan putra. Alhasil, pertemuan itu tak dapat dielakkan lagi. Dan semuanya berjalan sangat biasa, karena tidak ada kata “jaga image” bagiku saat itu dihadapan nya. Aku tetap bisa tertawa lepas dan bicara dengan apa adanya, bukan ada apanya. Aku juga sharing informasi tentang kaligrafi dengannya hanya untuk berbagi informasi, tanpa sedikit pun niat untuk dekat dengannya. Harus diakui memang, tulisannya lebih rapi dan berkarakter di banding tulisanku, karena dia pernah jadi pemenang pertama MTQ tahun 2011 disalah satu cabang Khat, Hiasan Mushaf . Meskipun tulisanku tidak lebih bagus darinya, namun itu sama sekali tidak membuatku patah semangat untuk terus berkarya.

    ***

    Hari perlombaaan itu pun datang. Dengan penuh ketidaksiapan aku mulai hari ini dengan penuh pengharapan kemudahan dari-Nya. Hari ini, official yang dengan senang hati siap siaga menghantarkan kami ke lokasi perlombaan Khat, menaruh banyak harapan agar kami pulang sebagai pemenang yang akan mengharumkan nama kecamatan yang kami bawa, Kinali. Dengan mobil avanza milik Bapak KUA, kami berangkat dengan tekad menjadi yang terbaik. Perlombaan di mulai pukul 08.35. aku dan Kiki mengikuti cabang perlombaan yang sama, Naskhah, yang mengharuskan kami duduk berdekatan. Aku ingin duduk di dekatnya karena hanya dia satu-satunya orang yang aku kenal dalam ruangan itu. Harapanku semoga kami bisa saling membantu ketika mengalami kesusahan. Detik demi detik berlalu tanpa sepengetahuan ku, dan sampailah kami di penghujung hari untuk menyerahkan karya kepada Dewan Hakim.

    Hari yang begitun penat fikirku. Setelah selesai mandi dan berkemas, aku memutuskan untuk pulang ke rumah jika ada yang mengantakan. Waktuku sudah habis untuk berada di pemondokan ini, fikirku.Yang ada di benak ku saat itu bagaimana aku bisa secepatnya sampai ke Batusangkar esok untuk mengikuti kuliah yang sudah hampir aku lupakan. Perjalanan kesana bukan waktu yang singkat, karena aku harus menikmati 6 jam perjalanan yang melelahkan. “Nida.. mana yang namanya Nida? Ada yang memanggil dari pemondokan putra”. Suara itupun membuyarkan lamunanku, ternyata pemilik pemondokan yang memanggilku seraya menyampaikan pesan seseorang agar aku segera menemuinya. “siapa pak?” jawabku dengan penuh rasa penasaran. “bapak juga kurang tahu, Nak. Coba datangi saja” pintanya. Dengan penuh rasa penasaran aku datang kesana sekaligus ingin meminta izin pulang kepada official.  Hari ini keberuntungan berpihak pada ku. Ada mobil yang siap aku tumpangi untuk pulang kerumah. Mobil ayah Arfa, salah satu kafilah cabang Tilawah. Tanpa fikir panjang aku langsung menuju ke sana bersama Uli yang juga ingin pulang secepatnya.”Siapa yang memanggil Nida tadi?” seru ku penuh dengan tanda tanya. Ada tangan yang muncul di balik rerumpun bunga yang menghalangi pandanganku. Ternyata ada sosok Kiki disana. Untuk menghindari pertemuan yang dilarang, burdua-duan, aku langsung ajak Uli untuk bersama mendekatinya. Sikapnya yang membuatku penasaran, langsung mengajukan pertanyaan, “ada apa,Ki?” tanpa aku beri ia kesempatan untuk bicara. Aku langsung bartanya di mana official sekarang? Aku langsung minta dia untuk menelfon beliau agar Aku dan Uli bisa pulang secepatnya. Dan benar saja dia tak sempat bercerita apa pun, apalagi bertukar nomor HP, karena aku harus segera berlalu darinya.Dalam perajalan pulang kerumah, namanya masih menjadi topic yang hangat untuk dikenang setelah peristiwa yang tak biasa sore tadi hingga lamunanku berakhir di dunia mampi.

    ***

    Perkuliahan babak baru akan segera dimulai setelah hampir seminggu aku melupakannnya. Tiada penyesalan meski aku harus tertinggal banyak mata kuliah, karena aku berhasil menjadi yang terbaik dengan meraih juara satu. Namun itu semua tak merubah keadaan, tutur lembut sosok Kiki masih saja menari-nari di pelupuk mata. Astagfirullah, segera aku mohon ampun.

     Hari-hari ku terasa sepi dan tiada semangat ketika hatiku menyebut namanya lagi. Penyeselan serasa menghimpit setiap kebahagiaan yang datang. Seandainya saja aku tak pulang saat itu dan membiarkan waktu memberikan kesempatannya menyatukan hati kami, mungkin aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Ketika rindu benar-benar menyelimuti hati ini, aku sempat menangisi nama itu, sampai aku terlihat seperti orang bodoh karena cinta. Aku telah jatuh cinta.

     Rara sahabatku adalah orang yang pertama kali menyruhku untuk mencari nomor HP nya karena tidak tega melihatku yang terlihat seperti orang yang akan mati esok karena rindu. Rara satu-satunya orang yang tahu kerinduan ini setelah Aku cukup lelah untuk mengadu pada-Nya. Awalnya, aku sangat setuju dengan permintaan Rara untuk menghubungi salah satu teman di pemondokan dulu. Tanpa fikir panjang Aku langsung mengetik sebuah pesan untuk Fia, khafilah yang sudah lama kenal Kiki. “Assalamu’alaikum.. Fia, punya nomor HP Kiki kan? Boleh aku minta tidak? Aku ada perlu dengannya” tanpa fikir panjang aku kirim pesan itu. Menit dan jam pun berlalu, membiarkan aku menanti jawaban dari pesan yang sedang merindu tersebut namun hasilnya nihil. Facebook juga menjadi tempatku menemukan sebuah profil dengan nama Kiki, namun aku juga tak menemukannya. Ki, dimana kamu sekarang? Berhari-hari aku larut dalam penantian bertemu dengannya lagi, Kiki. Mungkin Allah tidak mengizinkan aku untuk kembali mengotori hati yang sudah mulai aku bersihkan perlahan. Aku harus belajar lagi diam dalam mencintai dan merindui disaat yang tak pasti. Hanya satu harapanku dalam lantunan doa, aku ingin bertemu dengan nya dalam sejuta cinta penuh kebahagiaan, cinta suci dalam pernikahan. 

    Sumber ilustrasi: kesehatan.kompasiana.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Demi Sejuta Cinta" Karya Suyati (FAMili Pasaman) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top