• Info Terkini

    Saturday, May 17, 2014

    Ulasan Cerpen "Jalan-Jalan Pendakian" Karya Mimin Umini (FAMili Majalengka)

    Sumber: xooplate.com
    Cerpen ini unik. Gaya bertuturnya sederhana, kadang puitis, tapi sudah mulai menunjukkan ciri khas penulisnya. Hanya tinggal melatihnya dengan rutin saja, kekuatan tulisan Anda akan semakin tampak. Cerpen ini menceritakan tentang lima orang yang melakukan sebuah pendakian ke puncak gunung. Hanya saja, salah seorang dari mereka hilang, jatuh ke sebuah jurang.

    Itulah satu-satunya konflik yang dihadirkan; singkat, jelas, dan padat. Cerpen berakhir dengan sangat baik, tidak berlebihan dan terasa mengena. Dalam cerpen ini, kita bisa menangkap pesan bahwa manusia hanya bisa berencana, sedangkan yang menentukan hanyalah Tuhan. Tidak hanya itu, pesan lain yang bisa diserap, adalah bahwa apa pun keadaannya, manusia hendaknya patut bersyukur.

    Beberapa catatan ada pada penulisan kata "nafas", "ku mampu", "ku tarik", "ku melangkah", "ku meraih", "ku dekati", "reflek", "kearah", dan "berhembus". Yang benar adalah: "napas", "kumampu", "kutarik", "kumelangkah", "kumeraih", "kudekati", "refleks", "ke arah", dan "berembus". Sedangkan untuk kata keterangan tempat seperti "dibalik" dan "diluar", semestinys ditulis "di balik" dan "di luar".

    Terakhir, untuk penulisan judul cerpen, sebaiknya tidak menggunakan huruf kapital untuk semua hurufnya (kecuali huruf paling depan pada setiap kata [tidak termasuk kata "di", "pada", "dalam", "tentang", "yang", "si", "sang", "untuk", dan "antara"]).

    Pesan dari Tim FAM untuk penulis adalah agar lebih memerhatikan EYD dan aturan penggunaan tanda baca. Editlah tulisan Anda, bila perlu berulang-ulang untuk meminimalkan kesalahan ketik. Bukankah jika tulisan kita rapi pembaca akan lebih nyaman menikmatinya?

    Terus berkarya dan tebar nilai pencerahan dalam ukiran pena Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    JALAN-JALAN PENDAKIAN
    Oleh Mimin Umini (IDFAM1080U)

    Kepiawaian menari sesuai dengan irama di panggung kehidupan merupakan keharusan. Tidak mudah tetapi juga tidak sulit. Hamparan sebagai panggung yang luas diisi bermilyar penari menjadikan kompetisi yang hebat dan seru. Manusia sering kali menangis dan kecewa jika ada hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal dibalik semua peristiwa pasti ada hikmah Tuhan berikan.

    Cahaya cerah menyelinap, menyingkap kabut yang masih sedikit tebal, melerai dedaun rimbun bak payung-payung bumi. Sesosok tubuh tengah tengkurap mencium tanah becek bukan karena tadi malam hujan saja, tetapi karena ditambah tetesan demi tetesan yang jatuh dari kedua matanya. Sesososk tubuh itu ternyata diriku, itulah yang dibisikkan angin saat itu. Beruntung Aku masih diberi nafas dan kekuatan untuk melawan lemas yang teramat sangat. Sehingga Ku mampu memalingkan wajah untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Tangan ini tak mampu meraih pohon itu, terlalu jauh. “Bagaimana Robb Aku masih ingin hidup”, pintaku dalam hati. Ku tarik nafas dalam-dalam menyalurkan oksigen ke tubuh agar timbul semangat, dan berhasil. Kini dapat menikmati indahnya pepohonan dan burung-burung yang loncat dari ranting satu ke ranting lainnya. “Diberi kesempatan untuk meraih mimpi”.

    Sesaat kemudian samar terdengar desisan mengurai teguran dalam hati. Ku lebih merapatkan telinga ke tanah untuk memastikan suara itu. Keajaiban hadir, reflek kedua tangan ini memapah tubuh untuk duduk dan bersandar di pohon menghadap kearah datangnya desisan  yang semakin jelas terdengar. Kira-kira dua meter panjangnya, belang hitam kuning kulitnya yang mengkilap, lidahnya terus menjulur-julur menambah kencang detak jantung, melumpuhkan kaki berselonjor untuk dilipat. Ku hanya diam dan diam, sambil menahan nafas sebagai jurus terakhir melawan situasi ini. Tiba-tiba angin berhembus kencang menggoyang dedaunan hingga ada yang terjatuh tepat diseberangku, mengusik ular berbalik arah, menjauh dan menjauh.

    Sang surya kian ke atas kian menghangatkan kehidupan. Perlahan tanah basah mulai mengering, seiring air mata yang disimpan untuk kelak dipersembahkan pada Robb saat berdo`a. Degupan jantung kencang, memompa darah, menimbulkan kehangatan dari dalam sampai-sampai cacing menggeliat bangun dari tidurnya dan minta jatah. “Cacing ternyata Aku tidak sendiri!, celotehku pelan sambil  mencoba dengan kayu dijadikan tongkat, memapah badan ini hingga berdiri, bersandar di pohon besar, menikmati pemandangan indah alam.

    Dengan yakin Ku melangkah kembali, walau kadang berhenti dan berhenti. Berbekal tongkat, menerobos semak belukar. Tiba-tiba sesuatu menimpa kepala, “Auw”, reflek berteriak. Tak dapat dielakkan lagi kepala menjadi pening, mata berkunang-kunang, dan....brugh tubuh ini terkulai , baring di atas rumput dan daun-daun kering. Hanya memejamkan mata yang dilakoni. Jika saja jam tangan tidak raib pasti tahu berapa lama Aku seperti itu. Di tengah kegalauan. Paksa dirimu bernafas dalam-dalam salurkan oksigen itu, diulang dan diulang. Entah berapa kali, yang pasti kini Ku meraih tongkat yang tergeletak tak jauh dariku mencari tahu gerangan apa yang menimpuk tadi. “Rupanya buah manggis hutan matang, lumayan besar, eh hampir terbelah lagi”, kataku lalu memungutnya. “Ehm..enak!”.

    “Kadal kau bagus sekali, ekormu bercabang, sebentar...ada kadal...mudah-mudahan...” Pelan terdengar gemericik membuat bulu kuduk merinding disebabkan rasa gembira meledak. Setengah berlari Ku dekati sumber suara itu. “Bening sekali, dan sumbernya masya Allah dari bawah pohon besar itu, minum ahh..”. Bukan cuma dingin menyegarkan saat melewati tenggorokan, rasa pekat karena getah buah yang dimakan hilang. Mungkin inilah jembatan menuju mimpiku.

    Puncak di depan mata kala sang dewi malam mulai menguasai bumi. Di luar perhitungan memang, seharusnya Kami bermalam di puncak untuk menikmati terbitnya fajar sidiq. Manusia hanya berencana.

    Bagaimana teman kita mempertanggungjawabkan Deni pada keluarganya, tanya nino kepada ke-tiga temannya yang lagi mempersiapkan untuk bermalam. “bagaimana lagi semuanya diluar kemampuan kita, toh sudah berusaha semaksimal mungkin mencarinya. Medan sangat terjal tidak mungkin kita mencari melalui jalan saat dia terpeleset”, jawab Rio. “Oya radio komunikasi yang kau bawa sudah mendapat frekuensinya belum”. “Sudah mudah-mudahan saja tim sar segera bergerak dan menemukan’, jawab Angga di sela kerjanya mendirikan tenda. “ Okey kalau begitu, sepertinya malam ini cerah, untuk menikmatinya dan agar tidak kedinginan, kita juga harus mempersiapkan api unggun”. “Setelah ini selesaikan?”. “Yap”.

    Kicauan burung dan kokok ayam hutan menghentikan mimpi-mimpi kami di tengah dinginnya pagi. Padahal tidur tepat di depan api unggun. “Teman, sebelum kita meneruskan perjalanan, sebaiknya kita menghangatkan tubuh dulu”.

    Jangkauan jarak pandang pagi ini dekat sekali. Melihat terbit mentari-pun seolah-olah harus menyelinap melerai kabut tebal. Bayangan itu terus menerobos seakan-akan ingin menghadiri acara raja siang, merangkak berbagi cahaya, kehangatan pada makhluk di bumi. Berjalan terus meski terseok-seok dan bila diperhatikan di sekujur tubuhnya luka. Pedih pasti rasanya. Seiring langkahnya, hangat mulai menyapa, pembakar semangat.

    “Rio, Aku dapat ayam hutan, kamu dapat apa?”. “Ya robb, jadi api unggun ini?”. “Sebentar, ini benar kamu Den?”. “Iya sobat Dio”. “Hei teman-teman, cepat kembali ada seseorang menunggu kalian...”, teriak Dio membahana memecah kesunyian. “Besar juga ayamnya Di”. “Sepertinya memang auyam ini dipersembahkan unutk kita berlima, untuk mensyukuri keajaiban yang diberikan oleh-Nya!”.

    Lumina Noer, IDFAM1080U, Majalengka-JABAR

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Jalan-Jalan Pendakian" Karya Mimin Umini (FAMili Majalengka) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top