• Info Terkini

    Saturday, May 17, 2014

    Ulasan Cerpen "Lentera dari Reruntuhan" Karya Netrita (FAMili Bukittinggi)

    Sumber: www.emergencyinfobc.gov.bc.ca
    Cerpen ini bercerita tentang pengalaman pahit seorang remaja bernama Satria. Tsunami yang terjadi di wilayah Sumatera Barat meluluhlantakkan tempat tinggalnya. Kedua orangtua beserta dua orang adiknya meninggal, terkubur reruntuhan rumah mereka yang berada tak jauh dari sebuah tebing.

    Bersama Nirmala, satu-satunya adik kandung yang masih hidup, Satria melanjutkan kehidupannya dengan penuh keikhlasan setelah seseorang mengangkat mereka sebagai anak. Dalam kondisi terpuruk, ia mampu bangkit. Ketabahannya membuahkan hasil yang dalam prestasinya di sekolah, hingga membuat kita belajar, bahwa sesulit apa pun ujian yang datang, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melampaui kapasitas kita.

    Beberapa koreksi menyoal EYD dan kesalahan ketik, ada pada kata "propesi", "olah raga", "pinelti", "pluit", "kumando", "sunami", "klacson", "fikiran", "orang tua", "mesjid", "kantong", "shalat", "akte", "lantera", "nasehat", "kemaren", dan "hutang". Kata-kata tersebut yang benar ditulis: "profesi", "olahraga" (digabung), "penalti", "peluit", "komando", "tsunami", "klakson", "pikiran", "orangtua" (digabung, karena dalam hal ini adalah ayah dan ibu), "masjid", "kantung", "salat", "akta", "lentera", "nasihat", "kemarin", dan "utang". 

    Sedangkan untuk kata keterangan tempat, dalam cerpen ini ditemukan kesalahan tulis, seperti "disamping", "dimana", serta "diantara", yang semestinya ditulis: "di samping", "di mana", serta "di antara". Beda dengan "di bawa" yang seharusnya menjadi "dibawa", karena satu kata ini merupakan kata kerja pasif.

    Terus berkarya dan tetap tebarkan nilai positif lewat tulisan Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    LANTERA DARI RERUNTUHAN
    Oleh : NETRITA ID FAM1553U

    Cuaca mendung di sore hari  tidak menghalangi keinginan aku dan anak-anak kampung turun ke lapangan  untuk mengolah si kulit bundar melawan tim dari kecamatan tetangga. Posisi aku sebagai penjaga gawang memang kurang seimbang dengan postur tubuh yang aku miliki.

    Pelatih yang berpropesi sebagai guru olah raga menempatkan aku sebagai penjaga gawang dikarenakan kelincahan dan keberanianku menangkap bola di areal kotak pinelti. Aku tidak menolak posisi itu. Selama ini hobiku disamping sepak bola aku juga bermain basket yang telah mengasah keterampilanku untuk menagkap bola-bola sambil berlari dan melompat . 

    Ukuran gawang  sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh FIFA, hanya saja pada bagian atas sedikit berbeda karena lenturan beban kayu pohon pinang yang dipergunakan sebagai tiang gawang. 

    Posisi gol  1 – 0 untuk keunggulan tim kami berlangsung sampai lima menit menjelang babak pertama berakhir. Pemain lawan tidak henti-hentinya menggempur kami untuk mencetak gol untuk menyamakan posisi angka. Serangan balik yang dilakukannya ke arah gawang yang aku jaga berlangsung cepat sekali. Pemain andalan lawan yang bertubuh mungil bergerak lincah menggiring bola melewati lapangan tengah setelah mendapat umpan dari  belakang, larinya cepat sekali, dua orang temanku yang mencoba menghalangi dapat dilewatinya. Beberapa langkah menjelang kotak penelti akau merasakan kuda-kuda kakiku tidak stabil, badan terasa bergoyang seperti ada tenaga yang mendorong dari belakang. Pemain lawan yang sedang menggiring bola dengan kecepatan tinggi langsung terjatuh sehingga bola yang ada di kakinya lepas dan bergulir menuju pinngir lapangan.

    ” Gempa....., awas ada gempa....” , terdengar suara teriakan penonton.

    Sejenak permainan terhenti sekalipun wasit tidak meniup pluit, goncangan terasa semakin keras. Dari jarak yang tidak begitu jauh salah seorang pemain tanpa sengaja melihat air laut yang di belakang tiang gawang  bergerak tinggi sekali. Tidak biasanya ombak meninggi seperti itu. Teriakan keras ” awas sunami”  terdengar saling bersahutan. Tanpa ada kumando orang-orang lari pontang panting menjauh dari bibir pantai untuk menyelamatkan diri.

    Jalan-jalan mulai ramai dipenuhi oleh orang- orang berlari  untuk mencari tempat yang lebih tinggi agar bisa terhindar dari dahsyatnya hantaman ombak laut yang bernama sunami. Terbayang kejadian mengerikan yang melanda Aceh beberapa waktu yang lalu. Air laut mengamuk menghantam apa saja yang ada di depannya tanpa ampun. Daratan Negeri Serambi Mekah itu sejenak rata dengan lautan tanpa ada yang bisa menghentikan. Ratusan ribu korban bergelimpangan tanpa nyawa di setiap pojok negeri. Ribuan rumah, kantor dan fasilitas lainnya roboh, rata dengan tanah.

    Tanpa terasa aku sudah berlari jauh sekali ke arah Barat menuju daerah perbukitan.  Seakan berpacu dengan mobil dan motor yang juga ikut melarikan anggota keluarganya untuk menjauh dari pinggir laut. Suara klacson mobil dan motor memekakkan telinga menambah kepanikan di senja menjelang magrib. Aku tidak sanggup lagi untuk berlari, tenagaku benar-benar terkuras habis, aku terjatuh dan kepalaku terasa membentur benda keras. Penglihatanku terasa berkunang-kunang, aku merasakan ada cairan mengalir di kening dan meleleh ke pipiku. Perasaan pasrah tiba-tiba muncul, mungkin hidupku akan berakhir sampai di sini.  Tiba-tiba ada tangan yang menarik kakiku, sesaat kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. 

    Fikiranku tidak pernah terbebas dari bayangan ayah, ibu dan tiga orang adik perempuanku akan nasibnya. Apakah mereka sempat menyelamatkan diri atau tidak. Apakah mereka sekarang ada berkumpul atau mereka kocar- kacir karena takut dihantam sunami, atau adik-adiku juga pergi lari jauh dan ikut orang lain seperti aku. Bayangan itu selalu mengusik kepala. Rumahku yang terletak tidak jauh dari tebing yang menjulang tinggi, apakah masih utuh atau rumah dan keluargaku dikubur oleh tebing yang runtuh., atau ...., semoga Tuhan menyelamatkan mereka.

    Keesokan harinya  bagai disambar petir, aku tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depan mata, lokasi dimana rumah sederhana tempat aku berkumpul bersama ayah, ibu dan adik-adiku hilang tertimbun tanah tebing . Entah dimana ayah, ibu dan adiku berada sekarang, apakah mereka terkubur bersama reruntuhan rumah atau mereka bisa lari, yang jelas aku tidak melihat mereka di tengah-tengah kerumanan orang yang menyaksikan bencana. Aku mencoba mencari mereka dengan menyelip-nyelip di tengah kerumunan orang, tapi aku tidak menemukan salah seorang dari mereka. Teriakan suaraku yang berkali-keli memanggil ayah, ibu dan adiku percuma melayang di bawa angin, satupun diantara mereka tidak ada yang menjawab. Aku berlutut dan bersimpuh sambil berdo’a di atas tanah .

    ” Ya Allah, tunjukanlah kepadaku dimana orang tuaku dan adik-adiku sekarang, apakah mereka telah terkubur, selamatkanlah  mereka Ya Allah.”

    ” Kamu sabar ya Satria, nanti kita coba mencari informasi tentang keberadaan keluarga kamu. Mudah-mudahan mereka selamat.”, ucap Pak Yudi orang yang membantu menyelamatkanku mengangkat tubuhku dari belakang.

    ” Ayah, Ibu dan adik-adiku terkubur dalam tanah ini Pak.”

    ” Belum tentu Satria, mungkin mereka sempat lari dari rumah kemarin.”

    ” Tapi dimana mereka Pak, mengapa mereka tidak ada di sini.?”

    Pak Yudi mengajak aku untuk mendatangi mesjid dan sekolah-sekolah yang masih utuh yang dijadikan tempat pengungsian oleh penduduk. Beberapa tempat yang sudah kami datangi tapi aku tidak menemukan satu pun  anggota keluargaku. Hatiku semakin luluh, badan terasa letih sekali melihat rumah-rumah di sepanjang jalan yang kami lewati banyak yang runtuh. 

    Sa’at aku hendak menaiki mobil Pak Yudi untuk mencari keberadaan keluargaku di tempat lain, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan anak kecil memanggil-manggil namaku.

     ” Uda....., Uda Satria.”

    Tubuhku tersentak mendengar suara itu dan aku menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Sambil menangis Nirmala adikku berlari ka arahku  dan langsung memeluk tubuhku erat sekali.

    ”  Mala ikut Uda, jangan tinggalkan Mala Da.” 

    Air mata Nirmala tidak tertahankan, tumpah membasahi bajuku, kami berangkulan erat sekali. 

    ” Ayah dan Ibu mana Mala?”

    ” Mala tidak tahu Da, ayah dan ada ibu dimana.”

    Nirmala masih dengan jilbab yang dipakai untuk mengaji terlihat kumal, aku gendong Nirmala naik ke atas mobil Pak Yudi. Sambil menangis Nirmala menceritakan semua yang dilaminya saat gempa datang. 

    Saat itu Nirmala berada di surau tempat mengaji. Bersama teman-temannya Nirmala lari untuk menyelamatkan diri karena ada teriakan akan datang sunami. Nirmala tidak lari pulang tapi ikut  orang-orang yang berusaha lari mencari tempat yang  dianggap aman.

    Nirmala   merasa lapar sekali karena belum makan dari kemarin sore, baju dan jilbab yang dipakainya kotor oleh tanah dan lumpur jalanan. Istri Pak Yudi memberikan makanan kepada Nirmala yang masih terisak menangis..

    Dua hari pasca gempa aku masih belum mendapat khabar berita tentang keberadaan ayah, ibu dan dua orang adikku. Ditemani  Pak Yudi, aku menyaksikan tim SAR dan tim relawan membongkar timbunan tanah dekat rumahku dengan bantuan alat berat. Bau busuk menyengat mulai tercium dari tumpukan tanah yang menimbun beberapa rumah yang dibongkar. Aku semakin yakin ayah, ibu dan dua rang adikku juga ikut tertimbun.  Tim bekerja sangat hati-hati sekali mengingat mayat-mayat yang tertimbun berada di bawah reruntuhan bangunan. Sore menjelang malam barulah aku mendapat kepastian tentang keberadaan ayah, ibu dan dua orang adiku. Mereka sudah meninggal tertimbun rerunthan tebing yang menimpa rumah. Mereka ditemukan dekat tangga rumah dengan posisi saling berpegangan, berkemungkinan mereka hendak keluar rumah secara bersamaan untuk menyelamatkan diri. Tapi saat yang bersamaan tanah tebing sudah lebih dulu menghentikan langkah mereka.

     Aku dan Nirmala hanya bisa tertunduk lesu menangisi empat mayat orang-orang yang kami sayangi dimasukkan ke dalam kantong mayat dan dibawa ke atas mobil ambulan yang sudah disiapkan. 

    ” Uda..., ayah dan ibu sudah meninggal, kita tinggal sama siapa lagi?”

    Nirmala tidak mau lepas sedikitpun dari dekapanku, tangannya melingkar erat di tubuhku seakan tidak mau lepas lagi. Aku cium keningnya dengan penuh kasih sayang.

    ” Uda akan menjga Nirmala terus, kita tidak akan berpisah lagi.”

    Sungguh di luar dugaan, Allah Maha Kuasa, orang tua dan adik-adikku harus meninggal dengan sangat mengerikan. Aku harus menyaksikan pemakaman masal untuk orang-orang yang selama ini menyayangi dan membeasrkanku. Pemakaman sendiri-sendiri sangat tidak memungkinkan mnengingat banyaknya korban yang meninggal. 

    Iring-iringan jenazah digotong secara bersama-sama  oleh warga bersama tim relawan dari TNI dan yang lainnya menuju pemakaman masal setelah terlebih dahulu dishalatkan di Mesjid.  Lubang besar yang dibuat dengan menggunakan alat berat sudah dipersiapkan untuk peristirahatan terakhir bagi tiga puluh -an jenazah. Dua unit alat berat didatangkan dari kabupaten untuk menggali dan menimbun kuburan masal sedalam lebih kurang dua meter. 

    Isak tangis semua keluarga yang ditinggalkan tidak terbendung lagi saat alat berat mulai beroperasi mengangkat tanah untuk menimbun lubang besar. Dengan penuh rasa iba dan kasih sayang aku gendong Nirmala yang dari pagi tidak henti-hentinya menangis memanggil-manggil ayah dan ibu. Lantunan do’a  dengan pengeras suara terdengar di lokasi kuburan masal. Pak Haji Mahmud memimpin langsung doa dalam proses pemakaman.

    ” Uda, sekarang kita pulang kemana, rumah kita tidak ada lagi, kita tinggal di mana Da?”

    Mendengar isakan gadis kecil yatim piatu itu Pak Yudi langsung menggendong Nirmala untuk diajak kembali ke mobil dan pulang ke rumahnya.

    ”  Nirmala dan Satria tinggal bersama Bapak sekarang, mulai saat ini anggaplah Bapak dan isteri Bapak sebagai orang tua kalian, kalian berdua tinggal bersama kami,” kata Pak Yudi.

    ” Terima kasih Pak,” jawabku sambil bersujud di bawah kaki Pak Yudi.

    Dua hari setelah pemakaman masal sedikit demi sedikit tumpukan tanah yang menimbun bagian rumah kucoba untuk menyingkirkannya. Puing-puing atap dan kayu yang masih bagus disusun untuk dapat dimanfaatkan kembali. Untungnya cuaca cukup cerah sehingga kami bisa bekerja secara maksimal. Sasaran galian aku arahkan pada bagian kamar orangtuaku dimana terdapat lemari tua yang beisi surat-surat penting dan Lantera Antik peninggalan kakek. Aku yakin dalam lemari itu Ibu juga menyimpan perhiasan yang dibelikan ayah setelah menjual sapi beberapa waktu yang lalu. 

    Lemari kaca model lama akhirnya ditemukan dengan posisi tertelungkup. Atas kuasa Tuhan, satu pun kaca lemari itu tidak ada yang pecah karena jatuh pada bagian tumpukan kain dan sajadah shalat. Pada bagian kayu belakang lemari juga terhalang oleh balok loteng rumah yang runtuh. 

    Benar dugaanku, dalam lemari model lama itu ditemukan surat-surat berharga, Ijazah SD ku, Akte kelahiran, sertifikat tanah dan surat-surat penting lainnya. Lantera peninggalan kakek dan kalung emas milik ibu juga tersimpan dalam lemari itu.

    Ayah mempunyai manajemen yang rapi, sekalipun beliau seorang petani kampung. Dalam buku tulis yang terdapat di dalam lemari banyak catatan penting dan bukti peminjaman uang oleh beberapa orang yang sudah cukup lama. Ayah tidak pernah bercerita tentang itu kepada kami. Beberapa bukti peminjaman itu lengkap dengan tanda tangan peminjamnya sekitar tujuh tahun yang lalu. 

    ” Kamu simpan baik-baik buku catatan ayah Kamu itu Satria!”

    ” Iya Pak, nanti akan aku tanyakan nama-nama ini kepada teman-teman ayah”

    Begitu selesai makan siang bersama, Pak Yudi mengingatkan aku untuk tetap selalu mengurus beasiswa aku dan Nirmala. Beasiswa yang diberikan pemerintah untuk anak-anak korban gempa sangat membantu untuk kelancaran sekolah kami demi menggapai masa depan yang dicita-citakan.

    Aku tidak pernah tersinggung dengan nasehat Pak Yudi. Semua nasehat dan saran yang diberikan oleh orangtua angkatku itu merupakan yang terbaik buat aku dan Nirmala.

    ” O ya Pak, kemaren aku dapat alamat salah seorang nama orang yang meminjam uang ayah, ini alamatnya, orang itu namanya Pak Gindo, tinggal di Lubuk Alung.”

    ” Lalu apa rencana kamu?”

    ” Aku akan menemui orang itu Pak, tapi menurut Bapak bagaimana bagusnya?”

    ” Kalau begitu biar Bapak yang temani kamu menemui orang itu. Bapak tidak mau kamu tidak bisa mengendalikan emosi nanti jika orang itu tidak mengakui hutangnya.”

    Tidak begitu sulit bagi Pak Yudi menemukan alamat Pak Gindo di Lubuk Alung. Sebelum aku memperlihatkan catatan dan bukti peminjaman uang Pak Gindo kepada ayah sekitar tujuh tahun yang lalu, Pak Gindo lebih dulu mengakui hutangnya. 

    ”  Maafkan Bapak Satria, Bapak bukan hanya punya hutang uang dengan Pak Hasyim ayah kamu, tapi Bapak juga banyak berhutang budi dengan beliau.”

    ” Sayangnya ayah tidak pernah bercerita tentang semua ini kepada kami anak-anaknya.” 

    ” Itulah kelebihan ayahmu Satria, dia tidak pernah menceritakan kepada orang lain jika sudah membantu atau berbuat baik kepada orang lain, dia hanya ingin Tuhan yang tahu kalau dia sudah berbuat baik, biarlah Tuhan yang akan membalas semua itu.”

    Pak Gindo membuka tas kecil terbuat dari kulit yang baru saja diambilnya dari lemari kamar  lalu mengeluarkan beberapa ikat uang lima puluh ribuan.

    ” Uang ini sengaja Bapak pisahkan dari uang –uang yang lainnya semenjak Bapak tidak bisa bertemu dengan ahli waris Pak Hasyim, Bapak takut uang ini akan terpakai lagi untuk usaha. Bapak tidak mau  memakan yang bukan hak Bapak, apalagi memakan harta anak yatim. 

    Pak Gindo menyerahkan semua ikatan uang itu kepadaku.

    ” Terima kasih Pak, uang ini akan aku gunakan untuk biaya sekolah aku dan adikku ini.”

    ” Bapak yang seharusnya berterima kasih kepada kamu, jika kamu ada masalah atau ada kesulitan datanglah ke sini Sat, Bapak berjanji akan membantu kalian sebagaimana ayah kamu membantu Bapak dulu.” 

    Semenjak ayah meninggal aku lebih cepat dewasa dari wktunya. Aku menjadi semakin yakin, orang sabar dan ulet akan diangkat derajatnya oleh Allah, akan menjadi contoh bagi orang-orang lemah dan suka putus asa, karena orang-orang sabar dan uletlah yang akan menjdi contoh bagi mereka.

    Tujuh bulan berlalu dari peristiwa yang sangat memilukan aku dapat menyelesaikan pendidikan di SMP berkat asuhan keluarga Pak Yudi.  

    Pukul 12,30 WIB masing-masing siswa sudah mendapatkan amplop berisi surat pengumuman kelulusan. Alhamdulillahirabbil’alamin, aku  berhasil lulus, begitu juga dengan Naisya gadis cantik yang selama ini bermain di hatiku.

    ” Kamu mau kemana Sat, apa langsung pulang,” Naisya mendekati aku.

    ” Tidak Naisya, aku mau ke makam orangtuaku dulu, aku ingin berdo’a di atas makam orangtuaku, aku ingin memberitahu mereka tentang keberhasilan aku ini. Pasti beliau akan senang mendengarnya.”

    Naisya tertegun mendengar kata-kataku, dia tersadar kalau kedua orangtuaku sudah meninggal. Naisya ikut menemani aku ke lokasi kuburan masal tempat kelurgaku  dimakmkan.

    Di atas kuburan ayah, ibu dan adik-adiku aku bersimpuh dan bersujud memanjatkan do’a kepada Tuhan. Aku berhasil melangkah semenjak mereka pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. 

    ” Ayah, Ibu..., Satria datang untuk menyampaikan berita gembira. Satria berhasil lulus sekolah. Ayah, Ibu pasti senang mendengar berita ini. Lantera keluarga kita akan tetap menyala Ayah.”

    Air mata mengiringi kata-demi kata yang aku ucapkan di atas kuburan masal.        

    (Bukittinggi,  Agustus  2011.)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Lentera dari Reruntuhan" Karya Netrita (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top