• Info Terkini

    Friday, May 16, 2014

    Ulasan Cerpen "Maafkan Aku" Karya Sri Sundari (FAMili Wonogiri)

    Sumber: aybela.com
    Alini mempunyai seorang pacar bernama Ardi. Hubungan mereka berjalan lancar, sampai akhirnya sesuatu yang misterius membuat Ardi harus memutuskan hubungan mereka secara mendadak. Alini kesal dan kecewa, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, sebab nyatanya jarak mereka sendiri berjauhan oleh karena tempat kuliah Ardi berada di luar kota.

    Suatu hari, kembalilah Ardi secara tiba-tiba menemui Alini. Pemuda itu bilang betapa ia masih mencintainya. Tapi Alini terlanjur sakit hati. Ia tak bisa memaafkan tindakan Ardi yang tempo hari menghentikan hubungan dekat mereka tanpa memberi penjelasan apa pun.

    Ternyata penyebab Ardi melakukan itu adalah seorang gadis bernama Elisa, penderita leukemia. Sayangnya, tidak disebutkan lebih detail siapa Elina di sini; apakah teman Alini juga, atau hanya sekadar orang lain yang tidak dikenalnya? Yang pasti Elina menyukai Ardi dan berharap sebelum kematiannya ia bisa berpacaran dengan lelaki itu.

    Tapi sayang, penjelasan Ardi tidak mempan meluluhkan hati Alini. Alini sudah menutup pintu hatinya, walau pemuda itu sejujurnya masih menyukainya. Dalam keadaan demikian, sebuah kecelakaan menimpa Ardi hingga ia menjalani masa-masa kritis sebelum akhirnya meninggal dunia. Kejadian ini sontak memukul perasaan terdalam Alini. Ia menyesal karena tidak menerima permintaan maaf lelaki yang dulu pernah dicintainya.

    Ide cerpen yang seperti ini sebetulnya sudah sering kita temui. Hanya saja perlu sebuah kreativitas agar ide yang sama di mata banyak penulis tidak menjadi penghalang bagi tulisan yang kita buat untuk terlihat berbeda. Dalam hal ini, menurut penilaian kami, cerpen ini belum cukup memiliki "sesuatu" yang berbeda itu. Namun, perlu diingat pula, bahwa untuk menuju ke sana, memang diperlukan sebuah proses yang tidak sebentar. Diharapkan dengan penulis terus berlatih, kelak dengan ide apa pun, tulisannya akan terasa mempunyai ciri khasnya sendiri.

    Mengenai EYD, ditemukan beberapa kesalahan. Penulisan kata "karna", "nafas", "pengin", "berfikir", "telp" / "telephone", "berhembus", "tau", dan "tuk", yang benar adalah: "karena", "napas", "ingin", "berpikir", "telepon", "berembus", "tahu", dan "untuk" (andaipun penulis memilih tetap memakai kata "tuk", hendaknya dibubuhkan tanda apostrof ( ' ) di depan kata tersebut (menjadi: 'tuk), sebab itu merupakan bentuk tidak utuh dari kata "untuk").

    Kemudian "ku harapkan", "ku nantikan", "ku dapatkan", dan banyak lagi pola kata-kata yang ditulis demikian di dalam cerpen ini, yang betul adalah: "kuharapkan", "kunantikan", dan "kudapatkan". Penulisan "ku-" tidak bisa terpisah dengan kata sesudahnya , atau tidak bisa berdiri sendiri.

    Lalu "apapun", akupun, dan itupun, yang benar "apa pun", "aku pun", dan "itu pun". Perhatikan lagi penggabungan partikel "pun" dalam suatu kata yang berada sebelumnya. Tidak ada kalimat mana pun yang mengehndaki kecuali dua belas kata berikut ini: "adapun", "andaipun", "ataupun", "bagaimanapun", "biarpun", "kalaupun", "kendatipun", "maupun", "meskipun", "sekalipun", "walaupun", dan "sungguhpun". Selain kedua belas pengecualian tersebut, penggunaan "pun" wajib terpisah dari kata apa pun.

    Penggunaan kata "di-" sebagai kata depan dan kata sambung juga perlu penulis perhatikan. Kata "di panggil", "di hiasi", "di tinggalkan", dan beberapa kata sejenis dengan pola yang sama, adalah bentuk kata kerja pasif, maka penulisan yang tepat digabung menjadi: "dipanggil", "dihiasi", dan "ditinggalkan". Justru kata "disana" dan "didalam" sebagai kata keterangan tempat, "di-" di sini berfungsi sebagai kata depan dan ditulis terpisah menjadi: "di sana" dan "di dalam".

    Untuk beberapa kata yang bukan bahasa baku (kebanyakan ditemukan dalam dialog), seperti "aja", "nggak", dan "gimana", sebaiknya diketik dengan huruf miring. Dan terakhir, setiap huruf yang mengawali sebuah kalimat seharusnya menggunakan huruf kapital, begitupun pada penulisan nama seseorang atau kata panggilan seperti "Kak" atau "Om"--yang dalam cerpen ini ditemukan banyak sekali yang cuma diketik dengan huruf kecil. Penggunaan tanda titik secara "berlebihan" pada beberapa bagian seharusnya tidak perlu. Bilapun membutuhkan adanya tanda elipsis (titik rangkap tiga), mesti mengikuti ketentuan, seperti misalnya ketika ada jeda/ucapan terpotong dalam sebuah dialog.

    Saran dari Tim FAM untuk penulis agar lebih giat lagi berlatih. Iringin aktivitas menulis Anda dengan banyak membaca. Selain itu, sebelum mempublikasikan tulisan, hendaknya mengedit terlebih dulu tulisan tersebut sampai rapi, agar meminimalkan kesalahan ketik agar tidak mengurangi kenyamanan pembaca dalam menikmati tulisan kita.

    Terus berkarya dan tetap semangat.
    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com


    Maafkan Aku
    Karya Sri sundari IDFAM1602U

    Al..., Alini…!

    Seru  seseorang  menghentikan  langkah  kakiku, tapi tak  berani  menoleh  karna  takut  bukan  diriku  yang  di  panggil.  Nama  kan  bisa  saja  sama, apalagi  di  kota  seramai  ini .

    “Aliniii….!” Suara  itu 

    Kini  membuatku  menoleh  terlihat  sosok  Ardi  tengah  berlari  kearah  ku.  Ingin  aku  menghindar  darinya  tapi  terlambat, Ardi  sudah  berada  di  hadapanku.  “Alini,  apa  kabar?”  tanyanya  dengan  nafas  terengah-engah.  “baik”  kataku  sambil  mengulurkan  tangan  seraya  menanyakan  keadaannya.  “Syukurlah,  bisa  kita  bicara  sebentar  sambil  minum  barangkali ?”  tutur  Ardi kepadaku  dengan  hati-hati.”  Kapan-kapan  aja deh,  sekarang  aku  buru-buru  ke  tempat  les, takut  terlambat.” jawabku  sambil  meninggalkannya.

    “Alini…. Tunggu !  kamu ada  waktu  luang  nggak,  aku  pengin  ngomong  sama  kamu ?” ucapnya  menghentikan  langkahku  dan  membuatku  berfikir.

    “Aduh….,gimana ya?!  aku sudah terlambat nih, Hm…bagaimana  kalau  aku  minta  no  telp kak  Ardi saja, nanti  aku  hubungi.” Kataku  beralasan, sambil berlari meninggalkan kak Ardi.

    ***

    Malam  ini  langit  begitu  indah   dengan  di  hiasi bintang  yang  bersinar  di  antara  gelapnya  malam, angin  yang  berhembus  pada  malam  ini  mampu  membawaku  pada  kejadian  yang  telah  lalu  dan  pertemuanku  dengan  kak  Ardi  tadi  siang  menghadirkan  luka  yang telah  lama  terpendam.

    Tiga  tahun  yang  lalu  cinta  itu  ada dan  tiga  tahun  yang  lalu…,  jauh  setelah  kak  Ardi  memutuskan  tuk  melanjutkan  study  ke  luar  kota. betapa  ku  harapkan  kehadirannya  di  tiap – tiap  malamku  dan  ku  nantikan  kabar  darinya, meski  yang  ku  dapatkan  hanyalah  kekecewaan.

    “ Al…,  aku  akan  melanjutkan  kuliah  di  Semarang  dan  ku  berharap  hubungan  kita  masih  tetap  jalan, meski  kita  jauh  tapi  aku  akan  berusaha  pulang  tuk  mengunjungimu  walau  apapun  yang  terjadi.”

    “ Tapi  kak  bagaimana  kalau  disana  ada  seseorang  yang  membuat  kak Ardi  takluk  dan  membuat  hubungan  kita  goyah ?  karena  kita  jauh  dan  sama – sama  tidak  tahu  apa  yang  akan  terjadi  nanti.” Ucapku  pelan. 

    “ Alini…, percayalah  hanya  dirimu seorang  yang  ada  didalam  hatiku  dan  selalu  kucinta,  besok  aku  kan  pergi  dengan membawa  cintamu  dan  kembali  bersama  cintamu,  tunggu aku  selalu  yach  al ?”  pintanya  dengan  memelas.

    Graha  saba  menjadi  saksi  perbincangan  kami  kala  itu  dan  kebungkamanku  penuh  dengan  keraguan  tentang  dia. ”mungkinkah  dia  tau  tentang  keresahan  hatiku  kala  itu? ah...tidak  !”kataku  dalam  hati.

    Enam  bulan  berlalu  sejak  kepergian  kak  Ardi , tapi  pikiranku  tak  pernah  lepas  darinya, berkali-kali  ku  coba  menghubunginya  via  telephone  namun  tak  pernah  di  angkat. ada  apa  dengannya  ? mungkinkah  dia  telah  lupa  padaku ?! ”Pikirku  kala  itu.  Dering  telephone  menyadarkan ku  dari  lamunan  ”Selamat  malam  bisa  bicara  dengan  Alini?”terdengar  suara  laki-laki.  “Ya…,  saya  sendiri, ini  siapa  ya?”tanyaku  dengan  penuh  tanda-tanya. 

    “Ini  aku  Al…, Ardi.”

    “ Eh kak Ardi, gimana kabarnya sekarang, aku kangen banget nih!” Sahutku tak bisa menahan perasaanku, aku tak bisa membohongi hatiku, bahwa aku kangen banget sama kak Ardi.

    “ Aku baik- baik saja, bagaimana dengan kamu?”

    “ Aku juga baik alhamdulilah.” Jawabku pelan. Aku merasakan sesuatu yang lain dari nada bicara kak Ardi.

    “Al…, kita  jalan  sendiri-sendiri  saja  ya..?jangan  pikirkan  aku  lagi, semoga  kau  dapatkan  seseorang  yang  lebih  baik  dariku  dan  ku  harap  engkau  dapat  memaafkan  aku.”

    “ Ooo…..,maksud  kak  Ardi  kita….!” tuturku  yang  mulai  mengerti  arah  pembicaraannya.”Apa  kak  ardi  sudah  tak  cinta  Alini  lagi?”

    “ Bukan  begitu  Al…,tapi  aku…!”

    “ Tapi  apa  kak…?” kataku  memotong  pembicaraan

    “ Nggak  usah  banyak  alasan  dech  kak, Alini  kecewa  dengan  kak  Ardi, Alini  benci  kak  Ardi !” tuturku  kemudian  menutup  gagang  telephone.

    Setelah  menerima  telp  dari  kak  Ardi, aku  langsung  masuk  kamar, hancur  hatiku, mendengar itu semua, aku tak percaya  telah  mendengar  itu  semua  dari  kak  Ardi. Setelah sekian  lama  aku  menunggu, tetapi  apa  yang  kudapatkan! Ternyata  hanyalah kehampaan  belaka,. uh….., kuhempaskan  tubuhku  di  atas  tempat  tidur, mataku  menerawang  jauh  teringat  aku  akan  kejadian  yang  telah  lalu  hingga  terbawa  mimpi.

    Begitu  terjaga  dari  tidur, ku  langkahkan  kakiku  menuju  arah  jendela  ku  sambut  mentari  pagi  dengan  ceria  dan  ku   putuskan  tuk  melupakan  kejadian  semalam  ku  harap   semoga  hari-hariku  kan  lebih  baik.

    Pagi  ini  ku  lalui  hariku  seperti  biasa, seolah  tak  terjadi  apa-apa  dalam  hidupku  walaupun  dalam  hatiku  ada  setitik  luka  yang  di  tinggalkan  oleh  kak  Ardi,  ingin  sekali  aku  menghampirinya  dan  bertanya  padanya  mengenai  hal  ini, ah…kenapa  hatiku  masih  saja  mengingat  kak  Ardi  padahal  kenyataannya  kami  sudah  tak  bisa  bersama  lagi.

    ***

    Tok…tok…

    “ Yaa…” sahutku  dari  dalam  kamar

    “ Ada  temanmu  Alini, tante  sudah  suruh  masuk.” Kata  tante  Nur  dari  luar.

    “ Iya  tante  makasih,  sebentar  Alini  turun”  terdengar  langkah  kaki  menjauh  segera  ku  rapikan  rambutku  dan  menyapukan  bedak  tipis  ke  muka ku,  hari  ini  ku  merasa  bahwa  aku  tidak  punya  janji  kepada  seseorang,  siapa  ya  yang  datang  mencariku ? ucapku  dalam  hati.

    Langkah  kaki ku  semakin  mendekati  sosok  yang  kini  tengah  berdiri  menghadap  ke  arah  luar  jendela,  seolah  menikmati  indahnya  taman  depan  rumah,  dengan  adanya  gemericik  air  mengalir  dan  kicauan  burung  membuat  orang  merasa  menyatu  dengan  alam. “ Maaf  siapa  ya?” kemudian  sosok  itu  berbalik  menghadap  kearah  ku dan  betapa  terkejutnya  aku  melihat  sosok  kak Ardi  yang  dulu  pernah  mengisi  ruang  hatiku  rasanya  tak  percaya  kalau  yang  tengah  berdiri  di  depanku  adalah  dia  yang  pernah  dekat  di  hatiku, tapi  ada  apa  ya  kak  Ardi  datang  ke  sini ? seolah  ada  hal   penting  yang  ingin  di  sampaikan  padaku.

    “ Alini ?” Tanya  kak  Ardi  yang  kini  tengah  ada  dihadapanku  “ maaf  Alini  aku  datang  tidak  memberi  kabar  kepada mu  sebelumnya,  Alini  sekarang  rumah  ini  sudah  berubah  ya…  banyak bangunan  yang  sudah  direnovasi  dan  halaman  depan  rumah  nampak  begitu  asri “ kata  kak  Ardi  pelan.

    “ Ya…, kak  Ardi  benar  seiring  dengan  berjalannya  waktu  banyak  hal  yang  sudah  berubah  bukannya  kak  Ardi  sendiri  juga  telah  berubah ?” kata  ku  dengan  sedikit  ketus

    “ Aku  tahu  maksud  Alini,  dan  akupun  tahu  Alini  masih  terluka  serta  kecewa  kepada  ku  tapi  Alini  harus  tahu  bahwa  aku  masih  mencintai  kamu  dan  itu  sungguh-sungguh  bahkan  sampai  sekarang.”

    Aku  tertawa  kering”simpan  saja  omong  kosong  itu ! jangan  mengobral  cinta  di  depanku  aku  sudah  tak  terpengaruh.”

    “ Elisa  mencintai  ku,  dia  mengatakan  itu  padaku  dan  ingin sekali  saja dalam  hidupnya  sempat  jalan  denganku “

    “ dengan  tak  peduli  pada  perasaanku ?”

    “ Aku  ingin  menjelaskannya  pada  Alini  tapi  tidak  ada  waktu “

    “ Apa… tak  ada  waktu ! bukannya  dalam  satu  bulan  ada  tiga  puluh  hari  dan  beberapa  minggu, tak  bisakah  engkau  menyisakan  satu  hari  saja  tuk  menjelaskan  padaku ?”kataku  memotong  pembicaraan  “kamu  egois, hanya  peduli  dengan  dirimu  sendiri!”seruku  kemudian

    “ Elisa  terkena  leukemia  Alini…,  hidupnya  tak  lama  lagi,  dia  hanya  ingin  jalan  denganku  dan  aku  ingin  membahagiakan  Elisa  di  saat-saat  terakhir  dalam  hidupnya,  ku  pikir  Alini  bisa  mengerti  dan  memahami  hal  ini.  Maaf  Alini  kalau  aku  telah  melukai  hatimu ?  kini  Elisa  telah  tiada  penyakit  yang  dideritanya  telah  merenggut  nyawanya, aku  tahu  Alini  pasti  membenciku   dan  aku  hanya  bisa  berharap  Alini  mau  memaafkan  aku, Alini  kedatanganku  kali  ini  hanya  untuk  menjelaskan  hal  ini  kalau  kamu  tidak  percaya  Alini  bisa  membaca  surat  yang  dititipkan  Elisa  kepada  ku  untuk  dirimu  itupun  kalau  Alini  mau  tahu  yang  sebenarnya,  mungkin  aku  salah  tapi  tak  apa  demi  orang  yang  kucintai  tak  masalah  bagiku  selama  ini  menanggung  kangen  sendirian “ kata  kak  Ardi  pelan.

    “ aku  hanya  bisa  diam  mendengar  kata-kata  kak  Ardi  dan  aku  tak  menyangka itu  yang  terjadi  selama  ini.”

    “ aku  pulang  Alini,  aku  sangat  menghargai  keputusanmu  tapi  satu  hal  yang  harus  kamu  ketahui  bahwa  aku  tetap  mencintai  dan  sayang  sama  kamu  selamanya  sama  seperti  waktu  itu  ketika  kita  masih  jalan.” Kata  kak  Ardi  sambil  beranjak  pergi  meninggalkan  diriku .

    kini  kak  Ardi  telah  pergi  dari  hadapanku, tapi  aku  masih  terdiam  di  tempatku  ingin  sekali  bibir  ini  berucap  tapi  semua  kata  seakan  tertahan  di  kerongkongan  tak  mampu  terlontar  ke  luar, kedatangan  kak  Ardi  ke  rumah  membuatku  tak  tenang, pikiranku  masih  saja  tertuju  padanya  dan  jujur  ku  akui  hingga  kini  aku  tak  mampu  melupakannya.

    “ Alini….,ada  telephone  dari  temanmu”suara om  rizal  menyadarkanku  dari  lamunan

    “ Ya  om…,sebentar!”teriakku  dari  teras  dan  bergegas  menghampiri  gagang  telphone

    “ selamat  malam, dengan  Alini  di  sini.”sapaku

    “ Alini…, ini  Riris  ! Al  bisakah  kamu  datang  ke  rumah  sakit  sekarang  juga?”

    “ lho…,siapa  yang  sakit  ris ?”

    “ sudah   entar  kamu  juga  tau  sendiri, pokoknya  kamu  datang  ke  sini  ya…? Ku  tunggu  di  pintu  utama!”tutur  riris  dan  sesaat  kemudian  terdengar  nada  telephone  terputus.

     Tanpa  berpikir  panjang  aku  pergi  menuju  ke  rumah  sakit, sepanjang  jalan  menuju  rumah  sakit  hatiku  bertanya-tanya  “siapa  ya  yang  sakit ? dan  ada  apa  dengan  Riris ?”  tak  terasa  aku  sudah  sampai  pada  tempat  yang  ku  tuju, segera  ku  langkahkan  kakiku  ke  dalam  dan  ku  lihat  Riris  yang  sedang  termangu  sedih. “Riris…”sapaku  padanya

    “ Alini…,kak  Ardi...”tuturnya  dengan  nada  sedih

    “ ada  apa  dengan  kak  ardi, ris…? “Kataku  memotong  pembicaraan

    “ Al, kak  Ardi  kecelakaan  dan  sekarang  sedang  berada  di  ruang  operasi “tuturnya  kemudian  sambil  berjalan  menuju  ruang  operasi, ku  lihat  di  sana  ada  keluarganya  kak  Ardi  dan  sesaat  kemudian  dokter  yang  menangani  kak  Ardi  keluar  dari  ruang  operasi  dengan  raut  wajah  sedih.

    “ Maaf  pak, bu…,kami  sudah  berusaha  tapi  ternyata  yang  di  atas  berkehendak lain” mendengar  pernyataan  dari  dokter  kami  terkejut  sekaligus  tak  percaya  rasa  bersalahku  pun  hadir  merasuki  relung-relung  jiwaku. Sesal  yang  ada  dalam  diriku  saat  ini  “maafkan  aku  kak…, bukannya  aku  tak  bisa  memaafkan  kak  Ardi  tapi…luka  dalam  hatiku  belum  juga  hilang  hingga  kini” ucapku  dalam  hati.

    (Ygy, 30  january  2003)  SM.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Maafkan Aku" Karya Sri Sundari (FAMili Wonogiri) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top