• Info Terkini

    Tuesday, May 13, 2014

    Ulasan Cerpen "Penantian Sebuah Keajaiban" Karya Erika Hime (FAMili Yogyakarta)

    Sumber ilustrasi: www.langitberita.com
    Cerpen ini bercerita tentang Ririn, seorang penyanyi kafe yang menyukai musik-musik Jepang. Kedua orangtuanya sudah meninggal dan ia tinggal bersama neneknya. Suatu waktu, ia mengalami kecelakaan hingga tangan kirinya mengalami kelumpuhan. Padahal selama ini, dengan tangan kirinyalah, dia bisa memainkan nada-nada indah dalam nyanyiannya. Dan, dengan tangan kiri itu pulalah, dia bekerja. Keputusan operasi nyatanya tidak jua membuahkan hasil. Ia hampir putus asa karena hanya bisa menyanyi tanpa bisa bermain gitar lagi.

    Beruntung, dalam keadaan yang demikian, seorang sutradara program musik-musik Jepang di sebuah stasiun TV "menemukannya". Ia tertarik dengan penampilan Ririn dan langsung menindaklanjuti niatnya mengorbitkan gadis itu menjadi seorang penyanyi profesional.

    Cerpen ini mengandung pesan yang baik, bahwa tidak semestinya kita menyerah dalam setiap keadaan. Sebab, sesulit apa pun situasinya, tidak ada cobaan yang melampaui batas kemampuan manusia. Terus berjuang, berdoa, dan bersabar adalah kunci pemecahan setiap masalah.

    Sayangnya, dalam cerpen ini ditemukan banyak sekali kekurangan dari segi EYD dan ketelitian. Untuk kata-kata "didepan", "disela", "dikota", "disekitarnya", "dipinggir", "dimana", "disini", "diatas", dan masih banyak lagi kesalahan serupa, semestinya ditulis: "di depan", "di sela", "di kota", "di sekitarnya", "di pinggir", "di mana", "di sini", dan "di atas". Perhatikan perbedaan antara kata keterangan tempat dan kata kerja pasif. Penulisan "di-" boleh disatukan dengan kata sesudahnya, kecuali bila kata tersebut merupakan kata kerja, hingga terbentuklah kata kerja pasif (contoh: dipukul, dimakan, dan sebagainya). Selain itu, kata-kata penunjuk tempat (seperti rumah, kantor, depan, samping, dan sebagainya), juga kata-kata penunjuk waktu (seperti pagi, siang, malam), penulisan "di-" harus terpisah dengan kata sesudahnya.
    .
    Kemudian "kemana", "kerumah", dan "keruang", yang benar adalah "ke mana", "ke rumah", dan "ke ruang". Kata "tau", "kariawan", "stock", "syaraf", "orang tua", dan "telpon", yang benar: "tahu", "karyawan", "stok", "saraf", "orangtua", "dan "telepon". Antara kata "orang" dan "tua" yang benar digabung, sebab apabila kedua kata tersebut terpisah, pengertiannya akan menjadi lain. "Orangtua" (gabung) adalah sosok ayah dan ibu yang menjadikan kita lahir di dunia ini, sedang beliau berdua belum tentu sudah tua atau renta, bukan? Nah, beda dengan "orang tua" (terpisah), yang jelas-jelas pengertiannya akan merujuk pada orang yang sudah tua atau orang yang sudah berusia lanjut. Dan tentunya orang yang berusia lanjut belum tentu "ayah-ibu" kita, bukan? Perhatikan perbedaannya.

    Lalu, penulisan kata "cafe", cukup "kafe" atau bila tetap menggunakan "cafe", tulislah dengan huruf miring. Penulisan "anda" sebagai kata panggilan untuk seseorang baiknya diawali dengan huruf besar.

    Untuk kata-kata yang bukan berasal dari bahasa Indonesia baku, seperti "make-up", "gak", "elo", "boyband", "mikirin", "aja", "tuh", "nimbrung", dan "crew" sebaiknya diketik dengan huruf miring.

    Ada beberapa kesalahan ketik yang Tim FAM temukan dalam cerpen ini, seperti: "liryc" yang seharusnya "lirik", "mebikmatinya" yang seharusnya "menikmatinya", "meyembuhkan" yang seharusnya "menyembuhkan", "bahawa" yang seharusnya "bahwa", "keaadan" yang seharusnya "keadaan", "lekasi" yang seharusnya "lekas", serta masih banyak lagi.

    Kesalahan berikutnya ada pada tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, dan tanda seru. Penggunaan tanda baca, meski terkesan sepele, sangatlah perlu untuk kita perhatikan. Kalimat mana yang diakhiri dengan tanda titik, kalimat mana yang dipenggal menjadi beberapa bagian oleh tanda koma, pun kalimat mana saja yang diakhiri tanda tanya atau seru sesuai dengan maknanya—mesti bisa kita bedakan sehingga tidak terjadi kekeliruan pembubuhan tanda baca.

    Penulisan nama orang/tokoh juga wajib diawali dengan huruf besar (termasuk untuk memanggil seseorang dengan sebutan "Nek" atau "Nak", sebab kedua kata panggilan tersebut bila dalam sebuah dialog berperan sebagai subyek, bukan obyek). Tidak hanya itu, pada setiap awal kalimat—baik itu kalimat dialog atau narasi—juga wajib diawali dengan huruf kapital. Pada banyak bagian kami menemukan penulis kurang memerhatikan hal ini. Diharapkan untuk ke depannya, sebelum mempublikasikan karya Anda, editlah tulisan itu terlebih dahulu dengan rapi, berulang-ulang, demi meminimalisir kesalahan ketik. Bukankah sebuah tulisan akan lebih nyaman dibaca jika ditulis dengan baik dan benar? Sedangkan jika tulisan tersebut kurang rapi, meski isinya bagus sekalipun, terkadang pembaca menjadi agak malas membaca tulisan kita. Tentunya kita tidak mau, bukan, bila terjadi demikian?

    Terakhir, untuk penulisan judul, sebaiknya tidak perlu memakai tanda kurung buka dan kurung tutup. Saran dari kami agar penulis terus berlatih dan berlatih. Iringi aktivitas menulis Anda dengan membaca.

    Tetap semangat berkarya.
    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    (Penantian Sebuah Keajaiban)

    oleh: Erika hime IDFAM1190M

    Dia masih terpaku didepan jendela, memandangi rintikan hujan yang perlahan-lahan turun membasahi bumi. Lalu ia keluarkan tangan kirinya melalui sela-sela jendela dan menangkap rintikan hujan. “ Tuhan, dapatkah aku merasakan jernihnya air hujan dengan tangan ini lagi?”. Dan dirinya pun masih terpaku dengan kebisuan yang ada, mencari sebuah kepastian yang tak pernah ia tau jawabannya.

    ***

    Siang itu ketika terik matahari makin panas dan membuat segelintir orang untuk beristirahat dari pekerjaan meraka, tapi tidak untuk satu orang ini yang sedang sibuk dengan rutinitasnya disela-sela waktu istirahat. Ya seorang gadis dengan penampilan sederhana tanpa make-up  diwajahnya dan tak pernah menggunakan  sebuah rok dalam setiap aktvitasnya, sedikit tomboy tapi ia tak memangkas rambut indahnya yang  sekarang makin panjang sebahu.

    “ Rin.. gak istirahat ?”

    salah satu teman kerjanya tiba-tiba mengejutkan ririn, gadis tomboy yang sedang asik memainkan gitarnya dan bernyanyi dengan suara sangat pelan

    “ Eh elo da, iya nih masih melanjutkan liryc lagu yang kubuat kemarin, belum selesai he he..”

    “ Aku duluan yah makannya, mau dibawain apa? Jam istirahat mau habis kamu belum makan apa-apa dari tadi” tanya rida teman satu kerjanya yang suka bawel dengan urusan makan ririn.

    Ririn pun tersenyum.

    “ apa aja deh, yang penting kenyang”

    “ Oke deh, pergi dulu yah” Rida pun pergi dengan semangat. Karena Rida adalah orang yang suka sekali makan.

    Ririn pun melanjutkan konsentrasinya melanjutkan lyric lagu yang belum ia selesaikan.dengan tampang yang sangat serius ia tak menyadari bahwa bosnya sedang memperhatikannya sejak tadi. Bosnya juga tersenyum kecil melihat kelakuan Ririn yang tak perduli dengan sekitarnya dikarenakan telah bertemu dengan gitar yang selalu ia bawa kemana-mana.

    “ Rin, sebentar lagi tamu-tamu akan segera datang. Segera bersiap-siap ya? ucap bu Lara, wanita dengan satu anak ini adalah atasan Ririn yang sangat ramah dengan kariawannya termasuk Ririn.

    “Oh ya bu, saya siap” Ririn pun bergegas merapikan diri dan menyimpan gitarnya dalam lemari karyawan.

    Ririn menaiki panggung kecil yang ada di cafe, ya Ririn bekerja di cafe karena tak melanjutkan kuliah . Dengan keterampilannya memainkan gitar ditambah dengan suaranya didengar orang sangat merdu, ia melamar pekerjaan di cafe yang bernuansa Jepang dikota kelahirannya di Samarinda . Dan dari sinilah ia mulai belajar bahasa jepang dan membuat lagu menggunakan bahasa Jepang. Terkadang lagu yang ia ciptakan sering ia nyanyikan ketika ia tampil di cafe jika pelanggan meminta lagu yang lain, karena Ririn sering menyanyikan lagu idolanya YUI  penyanyi asal Jepang.

    “Irasshaimase... hari ini saya akan membawakan lagu ciptaan saya sendiri, semoga para penggunjung terhibur dengan lagu yang saya bawakan” Ririn pun menyanyikan lagu ciptaannya dengan sangat tenang dan merdu, para pengunjung pun mebikmatinya.

    Setelah ia selesai menyelesaikan beberapa lagu, Ririn pun turun dari panggung dan pergi menuju ruang karyawan dan memakan makanan yang telah Rida bawakan sejak tadi. “ syukurlah jika pengunjung menyukai lagu ciptaanku” ucapnya dengan wajah berseri-seri.

    Karena waktu menunjukkan pukul lima sore, Ririn merapikan pakaiannya dan bersiap pulang kerumah. Karena jam kerjanya sudah habis hanya sampai sore, cafe tempat ia bekerja tidak membuka jam malam dan akan tutup pada pukul lima sore. Ririn pun pamit kepada bosnya dan teman-temannya.

    ***

    hageshiku kimi wo najitte mitari, utagattari
    kakehikide shika erenai
    tiny proof ni kachi wa nai
    senobi shite hajimatta kankei datta kedo
    toushindai de yatto omoeru To you
    ima mo KISU dake ga, kawaranai mama de

    Diperjalanan pulang Ririn mendendangkan lagu U-kiss salah satu boyband korea yang liryc lagunya menggunakan bahasa jepang. Ia sungguh sangat menikmatinya hingga orang yang berada disekitarnya hanya tersenyum melihat seorang gadis bernyanyi begitu merdunya. Karena jarak rumah dari tempat kerjanya tidak begitu jauh maka ia cukup berjalan kaki saja. Tapi ketika ia hendak menyebrang tiba-tiba saja ada pengendara motor yang melaju dengan sangat kencang dan, BRUKK...!!

    Ririn tergeletak dipinggir trotoar dengan bersimbah darah. Gitar yang ia bawa pun terlempar jauh dari sisinya. Orang-orang pun langsung membawanya  ke rumah sakit terdekat, semuanya tidak menyangka gadis bersuara merdu itu  tertabrak oleh motor

    ***

    “Bagaimana dok keadaan cucu saya?” tanya wanita paruh baya, yang tak lain adalah neneknya Ririn.

    “Cucu anda kehilangan banyak darah, sampai sekarang ia belum sadarkan diri. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin” dokter berusaha menenangkan  si nenek ,karena Ririn adalah cucu satu-satunya.

    “ Iya dokter, tolong selamatkan cucu saya”

    “ Iya nek, insyaallah Ririn tidak kenapa-kenapa, dokter berusaha meyembuhkan Ririn nek” Rida menenangkan nenek Amah yang sejak tadi sangat kawatir dengan keadaan Ririn.

    Satu jam kemudian Ririn tersadar dari efek kecelakaan yang menimpanya tadi, ia merasa pusing untuk membuka matanya, dan hanya bisa mengucapkan dengan lirih“Aku dimana?” Rida dan nenek yang sejak tadi menunggu Ririn dirumah sakit merasa senang, akhirnya Ririn terbangun juga.

    “ Rin , kamu udah bangun, ini aku Rida, ini ada nenekmu juga”

    “ Aku dimana da?” perlahan-lahan Ririn membuka matanya.

    “ Jangan terlalu dipaksakan Rin, kamu istirahat saja dulu, tadi kamu habis tertabrak motor dan banyak kehilangan darah. Untung saja rumah sakit ini banyak stock darah yang sesuai dengan darahmu.”

    “ Gitar ku mana da?”

    “ Kamu ini sakit-sakit masih mikirin gitar, tenang aja gitar mu gak kujual kok” jawab Rida dengan memanyunkan bibirnya.

    “Yasudah istirahat saja dulu ya Rin, aku pulang dulu, aku pulang dulu ya nek” sambil mencium tangan nenek Amah.

    “Iya , hati-hati dijalan ya nak, salam buat orang tuamu” ucap nenek dengan lemah lembut

    “ Nenek kok disini? Nenek pulang saja, Ririn sudah tak apa-apa” Ririn mencoba untuk duduk dan berusaha tak membuat neneknya kawatir.

    “ Tidak mau, nenek mau disini saja sampai keadaanmu membaik”

    Tok..tok..tok..

    Ririn dan nenek menoleh kearah pintu, dan ternyata yang mengetuk adalah dokter yang menangani Ririn. “ Bagaimana keadaanmu Ririn? Tanya dokter sambil memeriksa denyut nadi Ririn di pergelangan tangannya.

    “ Masih sedikit pusing dok, kapan saya boleh pulang dok?”

    “ Keadaanmu belum sehat total kok ingin pulang ckckck, ya kalau sudah agak sehat baru boleh pulang. Ohya apakah hanya pusing, tak ada keluhan lain Rin?”

    “  Gak dok, suma pusing saja”

    “ Umm, Ok, saya pergi dulu, jangan lupa diminum obatnya” Dokter pun berlalu dari hadapan Ririn dan neneknya.

    ***

    Lima hari telah berlalu, keaadaan Ririn semakin membaik. Dan ia telah kembali bekerja lagi di cafe seperti biasanya. Para pengunjung sangat banyak, Ririn berusaha menghibur dengan permainan gitar dan suaranya yang merdu. Tapi, Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya,  ia merasakan kekakuan pada tangan kirinya dan merasa nyeri ketika memegang kunci gitar. Deg.. “ kenapa disaat begini tanganku merasa nyeri” bisiknya dalam hati, Rida yang memperhatikan Ririn sejak tadi juga merasakan keanehan, lalu Rida pun menhampiri Ririn diatas panggung,

    “Kenapa Rin, pengunjung sudah menunggu nyanyianmu tuh. “

    “ Entahlah da, tangan kiriku kaku sekali, sepertinya aku gak bisa memainkan gitarnya”

    “ Kalau begitu kamu menyanyi saja yah, biar Eko yang bermain gitarnya” Rida memberikan solusinya, karena pengunjung sudah tak sabar menunggu penampilan Ririn.

    “Ok deh, maaf yah”

    Ririn menyanyikan beberapa lagu dengan diiringi permainan gitar Eko salah satu teman kerjanya yang juga anak band. Setelah penampilan mereka berdua selesai, Ririn dan Eko kembali keruang istirahat karyawan.

    “ Keadaanmu bagaimana Rin, tumben banget susah main gitar” ucap Eko menyelidik

    “ Gak tau kenapa, tiba-tiba aja rasanya nyeri tanganku”

    “ Kita periksakan aja ke dokter yok Rin, siapa tau itu efek kecelakaanmu kemarin” tiba-tiba saja Rida ikut nimbrung obrolan Ririn dan Eko

    “ Gak ah, mungkin sebentar lagi sembuh” Ririn meyakinkan teman-temannya bahawa dia dalam keadaan yang baik.

    ***

    Malam hari yang begitu tenang dengan cahaya bulan yang menerangi kegelapan malam itu menjadi sangat indah. Ririn yang sedang duduk diberanda rumah dengan  ditemani gitar kesayangannya, mencoba mengingat kembali perasaan aneh ketika berada diatas panggung tadi, tangan kirinya yang begitu sangat nyeri ketika akan memainkan gitar. Dan ia mencoba kembali memainkan gitarnya perlahan, hasilnya pun tetap sama ia tak bisa memegang kunci gitar dengan baik, suara petikan yang dihasilkan sangat sumbang tak semerdu biasanya. Dan itu terjadi berhari-hari ia masih saja tak bisa memainkan gitarnya dengan baik, sehingga di cafe ia hanya bisa bernyanyi tanpa memainkan gitarnya. Keaadan aneh ini mulai dicurigai Rida, dan Rida berinisiatif untuk membawa Ririn pergi ke dokter.

    “ Aku tidak apa-apa da,” Ririn berusaha menolak ajakan Rida untuk pergi kerumah sakit.

    “ Ayolah Rin, diperiksakan saja dulu, kalau tidak kenapa-kenapa ya Alhamdulillah” Rida berusaha merayu Ririn yang sejak tadi menolak ajakannya.

    Dan akhirnya Ririn mau mendengarkan perkataan Rida dan mereka berdua pergi ke rumah sakit setelah jam kerja selesai. Sesampainya di rumah sakit Rida dan Ririn menceritakan keluhannya kepada Dokter Ardi, dokter yang menangani kecelakaan Ririn sebelumnya. Dokter Ardi pun segera memeriksanya.

    “ Bagaimana dok keadaan tangan Ririn?” tanya Rida dengan sangat kawatir, karena ekspresi dokter Ardi berubah sangat aneh ketika selesai memeriksa tangan Ririn.

    “ Tangan kirinya mengalami sedikit masalah, sepertinya efek dari kecelakaan yang mengakibatkan indra perabanya mengalami gangguan, dan ini sudah menyerang langsung ke syarafnya, “

    “ A..apa dok?”  wajah Ririn pucat pasi ketika mendengar penjelasaan dokter Ardi

    “ Tapi masih bisa disembuhkan dok?” tanya Rida

    “ Ya jalan satu-satunya adalah dengan di oprasi, lebih cepat lebih baik, karena saya takut akan menjalar kesyaraf yang lain. Tapi untuk kesembuhan total pada tangan ini saya tak bisa menjamin, karena akan memakan waktu yang lama agar tangan ini bisa memainkan gitar lagi”

    Ririn yang mendengar penjelasan itu hanya bisa terdiam dan tak menyangka tidak akan bisa memainkan gitar kesayangannya lagi. Setelah dokter memberi resep pengurang rasa sakit, Rida membawa Ririn pulang kerumah.

    “ Rin, kamu yang sabar yah, kalau sudah dioperasi insyaallah akan sembuh” Rida berusaha meyakinkan dan menghibur Ririn yang sejak tadi masih saja terdiam

    “ Aku gak bisa main gitar lagi da, gak bisa “ tangisnya pecah. Rida memeluk Ririn yang sedang menangis, ia sangat paham kesedihan temannya itu, karena selama ini gitar yang selalu dibawa Ririn adalah pemberian orang tuanya sebelum orang tuanya mengalami kecelakan dan merenggut nyawa mereka. Karena gitar itulah sahabat yang menemaninya dalam susah dan senang, penghibur Ririn ketika sedih hingga ia mampu menulis berlembar-lembar lyric lagu.

    “ Rin, kita pulang saja yah, nanti obatnya kutebus sendiri dan kuantar ketempatmu, kamu istrahat di rumah saja ya” Ririn hanya bisa mengangguk kecil,

    Seminggu kemudian Ririn memutuskan untuk menjalankan oprasi tangan kirinya, walaupun dengan harapan yang sangat kecil dalam memyembuhkan tangan tersebut. Tetapi Ririn percaya suatu saat tangan tersebut akan sembuh dari cedera walaupun dalam memainkan gitar tidak sesempurna sebelum tangannya tersebut cidera.

    ***


    “Ririn...bangun nak” seorang wanita paruh baya membangunkannya dalam mimpi indahnya.

    “ ya Bun, masih ngantuk nih”

    “ Bunda dan Ayah mau pergi dulu, ayo cepatan bangun, gadis kok bangunnya siang terus”  ucap wanita yang tak lain adalah bundanya

    “ Ayah punya sesuatu buat kamu nak, ayo lekasi bangun dulu” sambung ayah Ririn

    “ Ya Ayah,” Ririn langsung sigap, dan pegi mandi lalu mendatangi ayah dan bundanya di ruang tamu

    “ Happy birtday, ini hadiah dari Ayah dan Bunda “ ucap mereka bersamaan

    Ririn yang tak menyangka akan dikejutkan dengan ucapan ulang tahun dari kedua orang tuanya dan mendapatkan hadiah yang memang sangat ia inginkan dari dulu, ya sebuah gitar yang selau ia impikan sejak bangku SMP, setelah Ayah dan Bundanya memberikan hadiah tersebut mereka beranjak pergi akan keluar kota. Tetapi setelah satu jam berlalu telpon rumah berdering dan dari pihak kepolisian mengabarkan kedua orang tua Ririn mengalami kecelakaan. Dan sejak itulah gitar pemberian orang tuanya menjadi teman yang sangat berharga yang  selalu ia bawa kemana-mana.

    ***

    Berhari-hari Ririn hanya bisa bernyanyi tanpa menggunakan gitar, tetapi ia tak pernah menyerah untuk berlatih dengan memainkan gitar setelah operasi tangan kirinya. Nenek Amah yang menyadari hal itu hanya bisa mengelus dada melihat keadaan cucu semata wayangnya, tapi beliau tak pernah henti-hentinya menyemangati cucunya itu untuk tidak menyerah dengan keadaan yang akan membuatnya semakin lemah.

    Rintikan hujan mewakili perasaannya saat itu, tatkala mewakili air matanya yang tak bisa ia teteskan dalam real actionnya karena akan menambah sedih nenek dan teman-teman yang selalu mendukungnya. Sekali lagi ia tatap tangan kirinya yang menjadi pijakan kunci-kunci gitar dengan seksama, akankah tangan tersebut bisa kembali normal seperti biasanya, memainkan nada-nada merdu yang mampu membuat semua orang yang mendengar bahagia.

    Enam bulan sudah lamanya Ririn habiskan waktunya menunggu keajaiban datang padanya, dan dalam enam bulan itu ia hanya mengandalkan suaranya untuk tampil didepan para pengunjung cafe, dibalik penantiannya akan keajaiban yang ia impikan seorang sutradara sekaligus pengamat musik J-Pop diam-diam memperhatikan penampilan Ririn diatas panggung.

    “ Permisi, apakah bisa bicara sebentar?” tanya sutradara kepada Ririn yang baru selesai menyanyi

    “ Ya pak, ada apa?” tanya ririn menyelidik

    “ Saya sering datang ke cafe ini, dan sering sekali memperhatikan penampilan dek Ririn, saya sangat suka sekali. Ini kartu nama saya, saya adalah sutradara dari siaran televisi J-Pop. Kami selalu mencari bakat anak dalam negeri yang dapat membawakan lagu-lagu dari negeri sakura, Jika berminat nanti datang saja ke studio “ Handoko nama sutradara ini, ia menyerahkan kartu namanya kepada Ririn

    Ririn hanya bisa diam, ia bingung dengan tiba-tiba saja ada sesorang yang memberinya kartu nama. Sedangakan bos dan teman-temannya merasa sangat senang melihat kejadian itu, karena mereka tahu itu adalah peluang untuk Ririn.

    “ Woi jangan bengong Rin, dikasih kartu nama kok malah bengong gitu” Rida memukul pundak Ririn yang masih terdiam dan bingung setelah Pak Handoko pergi dari hadapannya.

    “ Maksudnya apa ya, ke studio apaan”

    “ Parah ni anak, coba dibaca betul-betul kartunya, pak Handoko itu seorang pencari bakat. Nah ini kesempatanmu untuk menjadi penyanyi Rin, kamu kan pintar menyanyi apalagi lagu-lagu J-Pop” jelas Rida panjang lebar.

    Ririn hanya bisa tersenyum, dan guratkesedihan dalam wajahnya pun sedikit demi sedikit tak terlihat dari wajahnya.

    Keesokan harinya Ririn mencoba datang ke dtudio yang tertera dalam kartu nama pak Handoko, disana ia bertemu dengan pak Handoko dan para crew yang ada distudio. Pak Handoko meminta Ririn untuk menyanyikan lagu yang telah ia ciptakan selama ini, dan para crew yang hadir disana terkesima dengan suara Ririn yang merdu, dan pada hari itu juga pak handoko memutuskan untuk mengorbitkan Ririn menjadi penyanyi. awalnya Ririn hanya bernyanyi di studio dan penampilannya akan ditayangkan di televisi, perlahan tapi pasti Ririn akhirnya bisa membuat sebuah album, dan penjualan dari albumnya pun meledak di pasaran, lagu-lagunya tidak hanya disukai oleh para penikmat musik dalam negeri tetapi hingga ke negeri sakura.

    “ Wah selamat ya Rin, albummu meledak di pasaran, gosipnya ni kamu bakalan ke Jepang dan promosi disana, wah enaknya jalan-jalan keluar negeri. Sekalian aja duet ma idolamu YUI, tapi aku ikut yah.yah..” Eko tak mau kalah ributnya mengucapkan selamat kepada Ririn.

    “ Iya terimakasih, ini juga berkat kalian, tanpa kalian aku bukan apa-apa . terimakasih ya selama ini Eko yang selalu setia mengiringi aku menyanyi di panggung. Kalau bukan karena tangan ini cidera aku gak bakalin merepotkan Eko ” Ririn tersenyum kepada Eko yang masih udik dengan banyaknya orang yang ingin minta tanda tangan Ririn saat itu.

    “ Hidari no te,  “ bisik Ririn pada angin.***

    Hidari no te : tangan kiriku
    Irassaimase: selamat datang (diucapkan ketika menyambut tamu)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Penantian Sebuah Keajaiban" Karya Erika Hime (FAMili Yogyakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top