• Info Terkini

    Monday, May 12, 2014

    Ulasan Cerpen "Pesan Pagi Ini" Karya Anisa Muliasari (FAMili Sukabumi)

    Sumber ilustrasi: www.dphotographer.co.uk
    Cerpen ringan ini menceritakan tentang kekonyolan dua orang sahabat: Zahra dan Putri. Pagi itu mereka hendak pergi jalan-jalan dengan naik motor berboncengan. Namun, oleh karena salah satu helm yang mereka bawa "amat buruk", jadilah mereka saling berebut untuk memakai helm terbagus.

    Pesan yang disampaikan dalam cerita ini adalah: di mana pun tempatnya, bagaimanapun kondisinya, kita harus tetap menaati segala peraturan yang ada. Gaya bahasa ringan membuat kita bisa membacanya dengan santai. Sayangnya, cerpen bagus ini tidak diiringi dengan penulisan dan pengeditan yang rapi. Ada banyak kesalahan ketik, baik itu huruf, kata-kata yang tidak sesuai dengan EYD, serta tanda baca yang keliru. Diharapkan kepada penulisnya agar ke depan mengedit tulisan Anda terlebih dulu sebelum mempubikasikan. Bila perlu lakukan editing seteliti dan serapi mungkin. Bukankah tulisan yang rapi akan membuat pembaca merasa nyaman? Sebab, sayang sekali kalau tulisan kita baik, namun karena kekurangrapian editing, bisa mengurangi nilai plus di mata pembaca.

    Beberapa contoh kesalahan EYD ada pada kata "ku tatap", "ku tekan", "shalat", "di tanya", "bagaimana pun", serta masih banyak lagi. Penulisan kata-kata tersebut yang benar adalah: "kutatap", "kutekan", "salat", "ditanya", dan "bagaimanapun". Penulisan kata-kata yang bukan merupakan bahasa baku seperti "aja", "gak", serta kata-kata gaul pada umumnya hendaknya menggunakan huruf miring.

    Baik, terus berkarya. Selingi aktivitas menulismu dengan membaca dan jangan buru-buru menerbitkan tulisan sebelum tulisan tersebut diedit dengan rapi, baik, dan benar, agar karya itu bisa benar-benar dinikmati dan bermanfaat bagi pembaca.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    PESAN PAGI INI

    Oleh: ANIS MULIASARI (ID FAM1182M)

    “Persahabatan bagai kepompong,

    Mengubah ulat menjadi kupu-kupu..” Pagi pagi sekali suara nyentrik Sinden Tosca terdengar dari handphone bututku. Dengan malas ku tatap, wajah ayu sahabatku menyapa di layar hp. Ku tekan answer sembari melawan kantuk.

    “Araaaaa, lama banget sih angkat telpon? Baru beres shalat apa belum bangun?” kurang lebih begitulah omelan Putri a.k.a Puput sahabat terbaikku saat masa ta’aruf masuk enam bulan lalu. “Ra.. Ra, kamu gk matikan?” tanyanya mengengar telpon dari sembarang san masih senyap rupanya.

    “Sialan! Iya iya.. aku baru bangun. Engak shalat ini. Ada apa sih pagi-pagi udah ganggu?! Baru jam setengah lima juga?” Ku lirik jam dinding yang di gantung di kamar, pemberian darinya September lalu. “Enggak ada tugas hari ini, minggu woy minggu.” Lanjutku bergerutu padanya. Maklum, Puput nelpon pagi-pagi kalau ada tugas aja.

    “Lah? Kamu lupa hari ini kita mau jalan?” balasnya.

    “Astagfirullah! Lupa euy put.” Logat sundaku keluar akibat kaget. Aku punya janji padanya akan keliling Kota Sukabumi, kota yang baru dia huni enam bulan silam semenjak duduk di SMA. Dia pindahan dari Medan, anak petualang korban sang Ayah pindah tugas melulu.

    “Ah kamu, woyes cepatlah siap. Aku kerumahmu jam tujuhan ya! Bye.” Tut tut tuttttt.

    ***

    “Assalamua’laikum.. Permisi.. Zahraaa” Suara Puput terdengar nyaring di depan rumah.

    “Eh neng Putri, damang geulis? Sudah disanah we simpan motorna, ibu anu jaga.” Sambut hangat ibuku padanya. Aku yakin nanti dia bertanya apa yang di tanya Ibuku. “Puuut, sini masuk. Ke kamar aja, aku pake kerudung duluu.” Teriaku dari dalam kamar.

    “Heh, aku enggak bawa helm dua, kamu adakan?” Tahu-tahu dia ada di depan mukaku.

    “Hah? Terus gimana? Pagi-pagi polisi masih oprasi. Mana belum punya SIM lagi kamu. Haduuuh..” keluhku. “kamu bukan sms dari tadi, aku curi helm kakakku yang keren itu. Ada juga yang Be-a-man.” Mataku menerawang helm butut bentuk batok yang suka di pake di acara be-a-man itu.

    “enggak apa-apa Ra, pake aja, yang penting kita selamat dari polisi. Ya!” katanya dengan penuh semangat dan tegas.

    “Ogah ah! Jelek tau Put. Bikin rusak kerudung, engak keren, nanti engak bisa ngeceng.” Tolakku.

    “Ah kamu, engak apa-apa. Kalau dasarnya cantik tetep aja cantik mau gimana pun. Kaya gue. Hahaha”

    “Ya sudah, kamu aja yang pake helm itu. DEAL.” Kataku tegas dan penuh kemenmangan.

    “Engak engak engak.” Katanya berdiri dari duduk. “Gini aja we, siapa yang bawa motor dia yang pake helm bagus? LEBIH DEAL!!”

    ***

    Bagaimana pun, yang punya motor Puput ya dia yang menang. Puput yang megang kendali si matic. Jadilah dia yang pakai helm bagus. “Put.. Aku copot dulu ya helmnya..” rengekku padanya. “Ih jangan! Nanti kalau ada polisi gimana? Aku belum punya SIM, motor masih punya nyokap. Udah masuk kawasan jalan raya Kota lagi Put.” Timpalnya engak mau kalah.

    “Gampang Put. Aku ada ide. Gini aja we kalau Pak Polisin ada. ‘Kan Pak kepala saya gatel, masa yang di garuk helm? Ya gk akan kerasa dong.’ Gimana Put, canggih kan alesannya?” Jelasku puas.

    “Hahahhaha.. dasar kamu ya ada-ada aja. Bias gitu aleswan gitu?....”

    “wiiiiw wiiiiwwwww wwwiiiiiiwwww.. Tot tot tooooottttttt” belum Puput melanjutkan ngomongnya, tiba tiba kita di kejutkan oleh suara. “ De de, de. Pake helmnya de.”

    “wusssssssssssssss” suara motor Puput melasat cepat menjauhi sumber suara. Aku kaget bukan kepalang pak Polisi mengejarku. Bayanganku akan dimarahi ibu, mamah papah Puput. Ya Allah tolong kami.. Gumanku dalam hati. Puput tak bacara sedikit pun, hanya focus menjauhi suara itu. Mendengar suara suasa sudah taka da, ku coba lirik sedikit demi sedikit kebelakang.

    “ASTAGFIRULLAAAAAH!! Hariiiiiiiiiiiiii. Sialaaaannnn” Marahku pada motor vespa di balakangku. Rupanya sumber suara tadi berasal dari dia. Maklum retro mania, motor vespa yang cantiknya baru di pasang toa. Alhamdulillah.. jantungku tak jadi copot.

    “Makasih Hari” Ucap Puput singkat dengan wajah kesal di manis-maniskan. Aku tau, dia pasti kesal sekali. “Hahaha. Sama sama Putri, Zahraa. Jangan sungkan. Hahhaa” balasnya dengan muka puas. “kalian mau kemana gitu? Makanya pake helm bukan karna takut Pak Polisi, tapi untuk keselamatan kita. Paham? Katanya sambil berlalu meninggalkan kami yang masih shock. Tak lama kami pun tertawa bersama akan kenyolan dan pesan pagi ini.



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Pesan Pagi Ini" Karya Anisa Muliasari (FAMili Sukabumi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top